Thursday, June 22, 2017

#RGHBJourney 14: Tying The Knot [ + MINI GIVEAWAY]


Dunia saya memasuki musim panas terik ketika lebaran. Mulai dari gangguan petasan yang selalu bikin ibu saya kaget. Kerepotan ngurusin printilan-printilan kue lebaran sampe beberes yang tiada pernah usai. Harga-harga yang melambung tinggi. Bulan puasa yang saya sia-siakan. Sampai yang paling default adalah pertanyaan-pertanyaan orang tentang kapan saya mengakhiri masa lajang. 😭😭😭


Memilih single sampai quarter life bagi perempuan kampung memang agak anomali. Tapi bukan saya kalau nggak bangga sebagai anomali. Tapi ketika pertanyaan mereka itu udah sampai level julid dan terkesan sangat ingin merangsek masuk ke dalam kehidupan pribadi, saya nggak bisa sekedar tutup telinga. Mereka pede banget ikut campur, dan merasa hidupnya paling sempurna. 🔊

Awalnya saya merasa niat mereka mulia karena mengingatkan saya bahwa siklus biologis perempuan beda dengan laki-laki. Kalau sudah lebih dari 35 tahun belum juga punya anak udah nggak sehat lagi dan sampai level bahaya untuk hamil. Endebrew... Endebrew.

Yague juga taulah yaaa soal siklus hidup, kesehatan, saya kan bukan orang yang malas cari informasi atau minimalnya info yang berhubungan sama diri sendiri. Situ udah paling oke dengan... Asudahlah.

Ada lagi yang mulutnya pengin disumpel sendal swallow banget yang bilang bahwa semakin tinggi level pendidikan seorang perempuan​ maka semakin susah dapat jodoh. Ada juga yang bilang kalau saya terlalu pemilih. Ada juga yang bilang laki-laki pada takut sama saya. Whatttt... Jadi selama ini saya nggak pernah pacaran dikira saya nggak laku, atau pilih-pilih? Atau saya kena kutukan karena memilih sekolah terus?


FYI, ketika mereka bicara seperti itu dengan makin buas dan sarkas saya tengah sibuk menata hati saya untuk menerima pacar pertama dan terakhir saya. Tsaaaah. Ya mereka tau apa sih tentang hidup saya? Pilihan saya yang buat, saya yang menjalani. Kok situ yang repot. Situ ambil peran dalam nyekolahin saya? Ikutan ngasih makan untuk memperpanjang umur saya. Ngasih saya kebebasan menerima pergaulan dan informasi demi kemerdekaan berpikir saya?

So, kalau ada yang nasibnya seperti saya sejak beberapa tahun terakhir, antepkeun weeeee. Udah anggap aja kentut lewat. Lama-lama mereka jengah kok. Menikah bukan karena cibiran tetangga atau tuntutan usia. Menikah karena sudah siap jiwa raga itu yang utama. Serahkan diri aja sama Tuhan. Kalau emang belum waktunya dikasih jodoh ya mau gimana lagi? Mau nyogok Tuhan? Semua kan udah ada dalam rencana indah-Nya, Gurl. Staikullah!!

Alhamdulillah, saya sampai pada masa dimana saya mantap melangkah dan menyudahi petualangan solo saya. Bareng HB yang nyaris lima tahun terakhir membersamai insyaa allah saya lebih percaya diri dengan yang namanya rejeki dan takdir Ilahi. 

Baca juga: Tentang Siapa HB

Perjalanan saya bersama HB sering saya tulis juga di blog ini. Kadang ada yang alay, tapi lebih banyak yang rasional. Proses pemantapan diri ini kami mulai di awal tahun 2017. Semuanya berlangsung sangat cepat. Dan lagi-lagi saya menuliskan cerita kami sebagai catatan dan kenangan untuk dibaca di kemudian hari. Di blog ini, selain di dalam dada kami masing-masing.



Saya, HB dan keluarga sepakat untuk nggak menggelar acara besar-besaran semacam royal weddingnya anak Sri Sultan. Takut jalanan macet. Enggak juga menyiarkannya di tivi-tivi nasioanal, takut pada patah hati. LOL. 

Kami hanya mengharapkan doa restu dan segala harapan baik bagi chapter kehidupan kami selanjutnya. Diantarkan dengan doa-doa itulah kami akan semakin mantap untuk tying the knot dan menempuh hidup yang happily ever after. Bahagia, sampai ke surga adalah tujuan kami. Bahagia dalam cinta dan setia.

So, dalam kesempatan ini kami ingin berbagi kebahagiaan sekaligus mengharapkan doa tulus dari kawan-kawan sekalian. Dengan menggelar giveaway buat seru-seruan, semoga nggak kalah daripada keberadaan pesta yang kami belum mampu adakan dan mengundang semua kawan-kawan sejagat raya.

Caranya gampang banget:

1. Giveaway ini digelar sampai 5 Juli 2017
2. Follow instagram dan twitter @vitarinda dan juga @winatatopan . Kasian ini pacar saya followernya baru dikit kaaaaan. (Ini harus ya)
3. kalau bersedia, pleaseeee like page saya Rinda Gusvita dan anak kami Vito Buku
4. Komentar di bawah postingan mana pun yang berlabel #RGHBJourney
5. Boleh berkomentar sebanyak-banyaknya dengan berbagai akun pun boleh. Bebas.
6. Pastikan komentar hanya yang bernada positif yaaaa. Jangan menyinggung SARA juga.
7. Pemenang akan diundi, jadi semakin banyak komentar peluang menangnya semakin banyak. Satu orang hanya berhak menang satu kali tapi yaaaa. Undiannya pakai manual aja ala ala arisan bulanan.
8. Pemenang harus punya alamat pengiriman hadiah di Indonesia.
9. Insyaa Allah pemenang akan diumumkan pada 17 Juli 2017.

Gampang kan rulesnya? Intinya di sini kita hepi-hepi aja sih. Lemesin aja shay.

Hadiahnya apa dong?

Ada sih, tapi nggak banyak 😂
❤ 2 pulsa @50.000
❤ 1 sendal Eiger
❤ 1 Buku Kado Pernikahan  untuk Istriku
❤ Hiasan dinding etnik Lampung

Sementara yang ada itu dulu sih. Belum sempat belanja-belanja. Nanti kalau peminatnya banyak siapa tau saya lebih semangat beli hadiahnya. Hehehe. Anaknya butuh endurance banget.

Last but not least, saya dan HB mohon doa dari kawan-kawan semua agar rencana kami lancar dan berkah, kami bisa melalui kehidupan baru bersama-sama ini dengan sebaik-baiknya. Mulai satu Juli dua ribu tujuh belas ini kami saling belajar, saling support dan saling membahagiakan serta menebarkan kebahagiaan juga bagi semesta.

... dan boleh banget kalau mau share info ini di media sosial kamu dengan men-tag saya dan HB serta minimal 3 orang temanmu. Jangan lupa gunakan tagar #RGHBJourney. Pernikahan harus disebarluaskan yakan? 😍

Ayo dooong pada ikutaaaan! Ditunggu partisipasinya yaaaaa. ❤❤❤

With love,
Calon Penganten

#RGHBJourney 13: Petualangan Jiwa Mencari Mahar Bibit Pohon Jati


Tiap weekend, HB selalu beredar nyari penyedia bibit pohon jati yang bisa dibeli dalam jumlah sedikit. Hal ini karena ya mereka cuma menyediakan bibit untuk partai besar. Minimal 50 batang. Bahkan ada yang cuma melayani untuk 1000 batang.
 
Sebelumnya: Tentang Mahar Bibit Pohon Jati dan Emas
 
Awalnya HB nyari di nursery di sekitar kantornya sambil istirahat atau mampir setelah pulang kantor. Tapi ya nggak ada penjual yang bisa ngasih kepastian. Nggak enak loh digantung-gantung gitu tanpa kepastian. Eh.

Akhirnya dia nemu di seputaran Pemkot Cimahi. Tapi adanya cuma lima batang. Tanpa ba bi bu lagi, langsung diangkatlah itu kelima-limanya. Harga perbatangnya Rp. 30.000 dengan ukuran udah 40 sentian.

Nah, masih kurang empat batang lagi kan? HB balik lagi nyari ke seputaran Lembang. Sebelumnya juga dia udah pernah kesana. Eh, ternyata yang ini di PHP-in doang. Padahal awalnya janji mau ngasih dengan harga Rp. 25.000.

Yaudah, akhirnya saya ikutan nyari. Tapi sama juga. Zonk. Di sini mereka jualannya partai besar.

Sempat keidean untuk ketemu dengan salah satu mantan kepala balai di sini yang sekarang udah pindah tugas ke Jambi atau Aceh gitu deh. Beliau sering bagi-bagi bibit. Ya agak tengsin sih, buat mahar kok minta. Tapi ya mau gimana lagi.

Rencana lainnya saya mau ke Taman Nasional Bukit Barisan (TNBBS) Rabu ini. Kami mau mampir ke beberapa tempat yang mungkin menyediakan bibit pohon itu. Sekalian minta bibit pohon cempaka. Saya juga jatuh cinta sama pohon cempaka FYI.

Tapi karena orang yang akan kami temui di taman nasional mendadak pergi ke Jakarta malam rabu, jadi kami batal deh pergi ke sana. Ternyata beliau mendapat promosi jabatan dan akan pindah tugas juga dari Lampung. Wah, ternyata promosi jabatan juga bisa dadakan ya. Bukan cuma tahu bulat aja yang digoreng dadakan.

Saya bingung 

Akhirnya saya PM beberapa kawan untuk cari tau. NIHIL.

Hopeless sih. Cuma emang kadang di saat hopeless itulah muncul kekuatan dan keajaiban. 

Saya posting di grup 1 Minggu 1 Cerita bahwa saya lagi cari penjual bibit yang bisa dibeli bijian. Dan akhirnya Tuhan mengirimkan jawaban lewat Bu Annis. Salah satu member 1 Minggu 1 Cerita yang tinggal di Bogor. Beliau punya teman yang ngurus kebun pembibitan.

Masyaa allah, Bu Annis ini baik banget pemirsa. Beliau dalam kondisi baru sembuh dari sakit rela menempuh 13 km perjalanan dari rumahnya ke kebun demi ngebantuin saya dan HB. Sempat terbersit perasaan nggak enak sih. Tapi gimana lagi.
Beliau membeli bibit dari Jati Inti. Harganya Rp. 15.000 per batang. Awalnya malah mau dikasih aja karena mereka biasanya mainnya ribuan batang dalam sekali transaksi. Cuma Bu Annis bilang bahwa ini untuk mahar, jadi supaya lega aja ya harus beli dong. Hehe. Konon jati yang mereka kembangkan ini adalah yang terbaik. Yang terkuat saat ini. Semoga bisa jadi doa juga bagi hubungan kami ya Bu.

Bu Annis bahkan merawat bayi-bayi jati kami di rumahnya. Bareng-bareng dengan tanaman lain yang ternyata cukup banyak juga. Usahanya luar biasa. Sampe dilindungi karena konon di rumahnya banyak belalang. Saya sampai terharu banget. Nggak bisa berkata-kata.

Belum lagi adiknya bakal bawa bibit itu ke Bandung. Jadi HB nanti bisa langsung ambil ke Bandung. Ke rumah orangtuanya Bu Annis. Masyaa allah. Semoga kehidupan Bu Annis sekeluarga disirami keberkahan, ya Bu.

Ada lagi yang bikin saya merinding syahdu. Nasehat pernikahan yang cukup berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Ini saya copy-paste dari chatroom WA Bu Annis ya:

Semoga masing2 memasuki mahligai rumah tangga dengan kesiapan menghadapi segala keseruan. Keseruan dari haram jadi halal. Monggo nikmati sebulan pertama. Ingat aja prinsip kesetimbangan, dan kesadaran bahwa akad nikah itu bukan akhir tapi awal dari sebuah perjalanan bersama yang penuh kesetimbangan, keberpasangan.

Ada kiri ada kanan
Ada laki2 ada perempuan
Ada suka, diterima, so, jangan tolak dukanya.
Ada super bahagia, dinikmati. So, jangan hindari saat datang super sedihnya.

Ini perjalanan panjang. Dan selalu bergerak ke kesetimbangan, ke titik stabil.
Karenanya,

Gak perlu riya saat bahagia, dan sebaliknya gak perlu buru2 mikir cerai saat ada masalah. 
Seiring waktu, semua akan kembali normal. Dan semakin tahun berlalu, kita masing2 akan semakin pandai mendekat ke kesetimbangan, pun bisa lebih cepat.

Enjoy every single moment.

Maksud kalimat "sebulan pertama" bukan berarti yang itu cuma utk sebulan ya.
Cuma, pada umumnya, disitu biasanya cuma ada surga. Setelah itu, surga tetap ada, dan tetep ada sampai sekarang saya sudah 23 tahun juga, cuma biasanya mulai kelihatan ngoroknyalah, atau naro handuk sembarangannyalah... something yg butuh didiskusikan dulu sebelum dinikmati, hehe.

Kalo surga pertama, biasanya malah gak sempet diskusi dulu. 藍

Dan yang nggak kalah bikin saya mewek adalah bagian ini:

Kemarin, dari mulai milih2 pohon, sampai memasukkan ke mobil, sahabat saya banyak bicara kepada ke-10 bibit ini, sambil mengusap helai demi helai daunnya. Kurang lebih intinya...
Luar biasa, kalian dipilih Allah menjadi pembeda. Penghalal yang semula haram. Pengantar kebahagiaan dunia akhirat sepasang kekasih. Tugas berat, tapi mulia.

Makanya dipilih yang termulus, tersegar, terbaik dari ribuan bibit yang ada.


Terima kasih Bu Annis, terima kasih Bu Juita dari Kebun Inti Jati. Barakallah fiikum. 珞

NANTIKAN MINI GIVEAWAY DI BLOG INI BESOK, YA!

Monday, June 19, 2017

#RGHBJourney 12: Tentang Mahar Bibit Pohon Jati dan Emas



Wacana untuk meminta mahar bibit pohon ini sebenarnya muncul bertahun-tahun silam. Sejak saya ketemu HB, sejak saya berpikir untuk memilih menikah sebagai jalan hidup. Awalnya pengin banget minta mahar yang banyak. Buat ditanam di bukit, dibagikan ke orang-orang juga. Nah kalau sekarang sih mikirnya perjalanan HB dan keluarga ke Lampung aja udah butuh modal besar, apalagi untuk beli dan distribusi bibit dalam jumlah banyak. Selain itu kalau dibagikan justru takut nggak diurus sama orang. Malah saya jadi sedih nantinya.


Jadi oke, akhirnya saya putuskan untuk meminta 81 batang bibit pohon. Tapi ternyata ini kebanyakan juga. Mau ditanam dimana sementara di rumah saya udah banyak pohon. Di rumah HB nggak ada tanah tersisa. Ya namanya juga di kota.

Akhirnya mengerucutlah jadi 27 batang bibit pohon yang rencananya​ akan kami tanam di tanah yang baru dibeli dengan cara mencicil. Kebetulan tanah itu dekat dengan tol, jadi pohon bisa sedikit menyerap polusinya. Juga sebagai catchment area karena wilayahnya lumayan gersang dan air bisa dengan mudah mengalir tanpa tertahan. Sebagian lagi ya di tanam di rumah orang tua sebagai monumen kami.
Tapi kemudian jumlah ini mengerucut lagi setelah HB sedikit berharap supaya saya meminta mahar emas juga. Supaya terkesan agak mewahlah. Alasannya supaya Bapak Ibu saya nggak malu. Masak calon mantunya cuma ngasih bibit pohon. Sedikit pula. LOL.

Akhirnya disepakati bahwa saya meminta 9 batang bibit pohon jati dan emas 9 gram. Fix.

Baca juga: Perjalanan Jiwa Mencari Bibit Jati

Lalu kenapa harus 9? Karena 9 adalah kesempurnaan. Angka paling tinggi di jajarannya. Saya senang dengan angka ini sejak saya berkunjung ke House of Sampoerna di Surabaya. Waktu itu saya ikut Sampoerna Best Student Visit bersama dengan mahasiswa lain perwakilan kampus-kampus di Indonesia. Awalnya saya minta 81. Ini kalau dijumlahkan 8+1=9, akar 81 juga 9. Lalu turun jadi 27 batang, 2+7=9

Saya berharap kesempurnaan hidup aja sih. Bukannya saya percaya fengsui atau ramalan, tapi logika saya bahwa 9 adalah yang tertinggi dari deretan angka-angka. Begitu aja. Sesederhana itu.

Oke, terus kenapa emas? Emas kan barang tambang. Merusak lingkungan.

Kalau kata HB, filosofinya adalah bukan memilih bibit pohon hanya karena freak terhadap isu lingkungan hidup. Jati adalah barang mahal kelak. Sepuluh tahun yang akan datang mungkin bibit pohon yang kami tanam baru akan memberikan hasil nyata berupa harta. Tapi dalam prosesnya, ada keteduhan dari rimbun daun-daun lebarnya. Ada kesegaran dari air tanah yang ditangkapnya. Dan seperti juga emas, jati ini sangat berharga. Berharga dan kuat. Kokoh. Harapannya, masa depan saya dan HB kelak juga sekokoh itu dan memberikan makna yang dalam bagi sekitar.

Saturday, June 17, 2017

[REVIEW] Buku Penanganan Limbah Industri Peternakan




Judul              : Penanganan Limbah Industri Peternakan
Penulis          : Suharjono Triatmojo, Yuny Erwanto, Nanung Agus Fitriyanti
Korektor        : Ratna
Desain Sampul: endi
Tata Letak     : Imamah
Penerbit        : Gadjah Mada University Press
Ukuran          : 15,5 x 23 cm
Jumlah Halaman : xiv +192
ISBN               : 978-602-386-122-4
Cetakan         : Pertama Oktober 2016
Harga             : Rp. 62.000

Sunday, June 11, 2017

#RGHBJourney 11: Pentingnya Rencana Anggaran Belanja




Well, hari minggu gini harusnya santei-santei menikmati bulan ramadhan dengan penuh ibadah sunnah malah didera deadline bertubi-tubi. Fiuh. Awalnya nggak ada niat buat setoran #1M1C minggu ini karena terkendala pada tema. Tapi akhirnya yaaa ... daripada gue bete dengan segala kebosanan mata melototin angka dan huruf yang tiada tara yaudah setor ajalah yaaaa. Itung-itung mengugurkan kewajiban dan sekalian curhat.

Sunday, June 4, 2017

Lampung Banana Foster, Bukan Sekedar Plagiasi Tanpa Inovasi







Bananas Foster is a dessert made from bananas and vanilla ice cream, with a sauce made from butter, brown sugar, cinnamon, dark rum, and banana liqueur. The butter, sugar and bananas are cooked, and then alcohol is added and ignited. The bananas and sauce are then served over the ice cream. Popular toppings also include whipped cream and different types of nuts (pecans, walnuts, etc.) – Wikipedia