Tuesday, January 18, 2011

Inauguration Memory 17012011

SIANG ITU BERSAMA RATU SERIOSA VANBERG

Adzan dzuhur berkumandang. Tiba – tiba teman saya tampak seperti mendapat gangguan jin atau apalah semacamnya. Saya bantu dia dengan membaca Alquran. Lama – kelamaan saya jadi sulit sekali membaca Al Quran. Selain tulisannya jadi kecil – kecil, hafalan saya tiba – tiba hilang. Badan saya sekonyong – konyong menjadi sakit.kepala saya pusing. Saya tidak kuat lagi untuk meneruskan bacaan. Perut saya mual. Saya paksa konsentrasi saya pada Al Quran yang memang tulisannya kecil – kecil itu.
Kondisi tubuh saya yang lemah karena lelah dan kurang istirahat membuat pertahanan tubuh saya runtuh. Ketika menghadiri seminar usul penelitian mahasiswa magister kemarin, tubuh saya tiba – tiba sakit. Sakitnya berpindah – pindah. Ketika saya meminta bantuan teman saya untuk membacakan ayat - ayat Al quran, seketika itu pula tubuh saya bertambah lemah. Saya kesakitan luar biasa.

Lantaran kondisi saya belum begitu pulih, saya harus berhadapan dengan teman saya yang mendapatkan gangguan jin lagi. Saya hanya meyakinkan bahwa saya bisa. Meski kondisi saya sendiri belum cukup kuat. Teman saya mengaduh – aduh. Saya juga kesakitan.

“Nama saya Seriosa Vanberg,” ujarnya terbata – bata. Diucapkannya nama itu berkali – kali sambil sesekali mengaduh kesakitan selama saya membaca Al Quran dan Al ma’tsurat mengalun dari mp3 player ponsel. Nama itu mengingatkan saya dengan novel Bumi Cinta yang sarat akan nama- nama semacam itu.

“Nama saya seriosaVanberg. Ibu saya dari Italia dan ayah saya dari Jerman. Saya adalah ratu dikerajaan itu.segera bawa dia (teman saya,red) pergi dari rumah itu,”

“apa hak kamu ingin dia pergi dari rumah itu? Itu kan rumahnya!!” hardikku.

“Rumah itu kerajaan kami. Kami datang kesini tahun 1514 dan membangun kerajaan disana (pekarangan rumah teman saya, red).

Tiba – tiba teman saya itu tampak seperti ketakutan. Sangat ketakutan. Tapi lucu. Ternyata dia takut dengan keong kecil yang mempunyai panjang tubuh tidah lebih dari 1 cm. Sulit saya membedakan antara perkataan teman saya atau “si ratu” itu. Namun teman saya pastinya tidak sekonyol itu. Bertingkah seperti anak kecil yang ketakutan akan sesuatu yang berbahaya, padahal itu hanyalah seekor keong kecil. Saya ambil keong tersebut dan saya dekatkan ke tangan teman saya. Dia mengelak. Berkali – kali dia mengeluarkan kat – kata aneh yang saya tidak mengerti. Saya ingin tertawa. Saya mencoba fokus terhadap bacaan – bacaan saya.

Mrs. Vanberg selalu mencoba mengalihkan perhatian saya. Dia menunjuk – nunjuk seseorang yang sedang menuju parkiran mobil dia menertawai orang tersebut.
“Kasihan orang itu,” ucapnya lirih sambil kemudian terkekeh – kekeh.
Tiba – tiba dia mengaduh.

“Hentikan bacaan – bacaan itu!! Kamu menyakiti saya,”

“Kalau kamu mau keluar dari tubuh teman saya ini, dan bertobat kepada Allah, saya akan menghentikan bacaan saya. Tapi kalau kamu masih bandel juga, saya akan terus menyiksa kamu!!” saya mulai marah.

“Nggak mau!! Bawa dia pergi dari rumah. Atau saya akan terus menyiksa dia. Saya akan hancurkan masa depan dia!!!”

“Bagaimana bisa kamu menghancurkan masa depan dia?!”

“Iya, saya akan buat dia merasa depresi, lama – lama dia akan gila!!!” katanya sambil terkekeh – kekeh.

“Kehidupan kita berbeda. Tolong jangan ganggu teman saya. Bertobatlah kepada Allah,” saya melemah.

“Siapa itu Allah,”dia bertanya seperti anak kecil yang polos dan tidak tahu apa - apa.

“Allah itu yang berkuasa atas kita. Allah yang menciptakan kita,”

“Bukannya yesus?” dia nampak penasaran.

“Yesus itu siapa? Isa bukan?”

“Iya,”

“Isa adalah nabi Allah. Isa juga ciptaan Allah. Isa juga sama seperti manusia pada umumnya,”

“ooohhh...” dia terdiam beberapa saat.

“Tapi dia (teman saya, red) sudah membuat kami tidak makan. Saya kesal sama dia. Kerja sama dia ini susah. Capek.,”

“Kenapa kalian bisa tidak makan? Memangnya kalian makan apa?”

“Kami makan apa yang dimakan oleh dia. Tapi setiap dia mau makan, dia selalu baca – baca apa itu, jadi kami kelaparan. Jadinya kami buat dia memuntahkan semua makanannya supaya dia juga tidak makan. Sama seperti kami. Supaya tubuhnya lemah,”

“Kalian jahat!!!” Aku berkata seperti anak kecil yangmengatai – ngatai orang yang nakal terhadap dia.

“Kalian lebih jahat. Kalian sudah membunuh ribuan tentara kami. Sekarang tubuh saya luka – luka akibat perbuatan kalian,”

“Biar saja kamu luka – luka. Saya akan menyiksa kamu sampai kamu mati, sama seperti tentara – tentara kamu !!!”

“Aku tidak akan mati. Aku kuat!!!”

“Kamu pasti akan mati!!! Lihat, sekarang saja kamu sudah luka – luka dan lemah,” aku menemukan keberanian.

“Kamu jangan sakiti kami atau tentara- tentara kami akan mengganggumu!!!” Ancamnya.

“Saya juga bersama tentara – tentara Allah yang kuat. Yang akan dengan sangat mudahnya membunuh dan memusnahkan kalian. Tentara – tentara Allah akan mengirimkan kalian ke neraka!!!” seperti di film – film saja.

“Jangan. Jangan. Bawa saja temanmu ini pergi dari rumahnya. Kerajaan kami tidak tenang dengan adanya dia,”

“Kenapa bisa begitu?”

“Dia selalu baca – bacaan itu (Al Quran dan doa – doa, red). Membuat kami sakit dan tentara – tentara saya mati. Dia selalu shalat,”

“karena memang itu sudah menjadi kewajiban hamba Allah. Manusia diperintahkan untuk beribadah kepada Allah. Dia hanya menjalankan kewajibannya.”

Tiba – tiba dia terkekeh sembari menunjuk kepada seseorang diparkiran lagi. Rupanya
orag tersebut adalah temannya. Orang tersebut tidak shalat. Dia sangat senang sekali tampaknya.

Aku mendesah. Tak habis pikir. Kami masih terus bertanya jawab. Sampai- sampai ada beberapa hal yang membuat saya ngeri. Tapi saya selalu mencoba mengumpulkan keberanian untuk terus mendesak dia. Sampai – sampai ketika saya dan teman saya akan shalat dzuhur, kaki teman saya tidak bisa digerakkan. Saya mencoba untuk memapahnya. Tapi tetap saja tidak bisa.

“Biarin. Biar nggak bisa shalat.”

Berkali – kali dia tertawa dan mengucapkan kata – kata itu tapi saya tidak peduli. Saya terus menyeret teman saya menuju ketoilet. Saya bimbing teman saya membaca doa memasuki toilet. Dia tampak kesakitan. Kondisi teman saya melemah. Saya bimbing teman saya untuk berwudhu. Setelah itu kami menuju mushola. Teman saya tampak ketakutan. Dia bertingkah seperti anak kecil yang benar – benar ketakutan. Saya makin senang. Saya paksa teman saya untuk melangkah ke mushola.

Usai mengimami sholat, tiba – tiba badan saya lemas. Sampai saya tidak sadarkan diri entah berapa lama, namun sepertinya hanya sebentar. Badan saya sakit semua. Bibir saya kelu untuk memunajatkan doa – doa. Entahlah, saya paksakan untuk tidak terbuai dengan hasutan syeitan. Saya terus berdoa dan itu membuat saya makin sakit. Saya tengok teman saya yang tampak (benar – benar) teman saya, bukan Serosa Vanberg. Dia tampak menghawatirkan saya. Tapi saya meyakinkan dia bahwa saya baik – baik saja.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<