Saturday, January 15, 2011

Jadilah Polisi Bagi Diri Sendiri

Siang itu ketika saya sedang menunggu teman saya di halte kampus, saya dihampiri oleh seorang anak berusia kurang lebih 4 tahun. Namanya Adi “ tak gendong” katanya. Dia menarik – narik jilbab dan baju saya ketika saya sedang menulis pada sebuah buku. Meski agak kesal dengan caranya mengajak kenalan tersebut, saya menyambutnya dengan senyum dan mengajaknya bercerita. Intinya, saya welcome saja dengan tingkahnya yang masih sangat wajar bagi anak seusianya. Dia menanyai saya berbagai hal dan kami sepertinya sangat akrab. Tiba – tiba dia menarik paksa buku saya. Belum habis keterkejutan saya, dia merampas pena dari tangan kanan saya. Tanpa butuh banyak berpikir panjang, ia memberikan goresan – goresan yang maksudnya tidak dapat saya mengerti karena lebih menyerupai benang kusut. Saya berusaha ikhlas meski notes kecil kesayangan itu menjadi bulan – bulanannya. Dia membuka lembar demi lembar buku yang dihiasi dengan gambar beruang teddy dengan berbagai pose. Sepertinya dia tertarik dengan Teddy, sama sepertiku. Bibir kecilnya tidak pernah berhenti bertanya dan bercerita. Wah, anak yang cerdas kupikir. Namun sayangnya, dia belum fasih memegang pena dan berhitung. Saya mengajarinya berhitung dan memegang pena. Padahal menurut pengalaman saya, adik saya sudah pandai menulis pada usia 4 tahun.


Teman saya datang dan menertawakan saya yang sedang sibuk dengan anak tersebut dan dikerumuni oleh anak – anak SMK yang baru saja bagi rapor. Spontan saja si adi “tak gendong” yang ibunya sedang sibuk melayani pembeli memberondong teman saya itu. dan dia tidak kalah antusias dengan langsung membopongnya dan menciumnya. Adi memang anak manis yang sangat aktif. Sepertinya mereka sudah sangat akrab dan adi melupakan saya. Dia menghujani teman saya dengan pertanyaan – pertanyaan konyol khas anak kecil. Dia merebut benda apapun yang kami pegang. Mulai dari tas, handphone, buku, sampai kunci motor hingga teman saya memberikan gantungan kunci motornya kepada si adi yang menggemaskan meski sedikit menyebalkan itu. Ia terus meronta dan meminta dengan paksa snack ayng ada didalam tas saya. Dan ternyata dia tidak suka keju. Wah, gimana mau maju ni, keju nggak suka, susu nggak suka, jadi penasaran makanan sehari – harinya apa?! Si adi “tak gendong” terus bercanda bersama kali sampai tidak terasa kami sudah hampir 3 jam berada di halte itu. Tiga jam bersama si bocah halte.

Hal yang begitu saya ingat adalah ketika adi selalu merajuk dan merampas apapun yang kami punya, sang ibu hanya berteriak – teriak tanpa melakukan suatu tindakan semisal mendatangi anaknya yang sedang sibuk bersama kami. Begitu berulang – ulang sehingga dapat kusimpulkan bahwa si adi merupakan salah seorang anak yang kurang perhatian orang tua. Sang ibu begitu sibuk berjualan hingga tidak sempat memperhatikan anaknya. Sepertinya itu pula sebabnya adi belum mampu mengenal dunia tulis – menulis. Sungguh malang. Padahal dia sedang berada pada tahap periode emas pertumbuhan otaknya. Seharusnya dapat dimanfaatkan sebaik mungkin momen yang tidak dapat kembali itu untuk menciptakan generasi – generasi yang tangguh, cerdas, dan pastinya dapat berkontribusi pada kemajuan negara. Wah, besok – besok lagi, kita belajar membaca ya adik kecil…!!! Tetaplah ceria menatap masa depanmu yang cerah!!!

Lain Adi, lain pula Doni yang kutemui beberapa hari sebelumnya. Doni adalah seorang anak piatu berusia 13 tahun dan tinggal bersama ayah dan kakak perempuannya disebuah rumah tumpangan tak jauh dari kampusku. Ia terpaksa putus sekolah ketika duduk dikelas 5 SD. Ayahnya yang menderita diabetes akut tidak mampu membiayai Doni dan kakaknya bersekolah. Kakak Doni bekerja sebagai pelayan disebuah warung makan agak jauh dari rumahnya, sehingga ia pulang satu minggu sekali. Doni mempunya adik perempuan, namun nasib adiknya sedikit lebih baik dibawah asuhan orang tua asuhnya. Setiap hari Doni mencari uang untuk membeli makanan bagi Dia dan ayahnya dengan berjualan Koran. Dulu ia sempat menjalani profesi sebagai tukang semir sepatu. Namun sangat jarang sekali orang yang membutuhkan jasa semir sepatu dan hanya sedikit yang bersepatu hitam. Bahkan ia pernah tidak mendapatkan uang sama sekali. Lantas ia berjualan Koran dan ternyata pekerjaan barunya ini lebih menjanjikan.

Tidak ada gurat kesedihanpun diwajahnya. Doni memaparkan kisah hidupnya dengan datar dan tenang sepertihalnya orang dewasa. Perawakan yang kecil, hitam, dan wajah yang sedikit imut membuat orang tidak percaya bahwa ia telah berusia 13 tahun. Tingkahnya tidak menggambarkan bahwa ia anak cengeng dan suka mengeluh. Ia bercerita mengenai hidupnya dengan tenang, saya mendengarkan dengan hati yang sedikit teriris. Setiap hari ia menjajakan Koran, keluar masuk gedung, diusir satpam, dimarah agen karena korannya rusak atau tidak laku. Pahit getir jalan hidupnya rupanya telah membuatnya lebih dewasa dari usianya. bukan dewasa ‘karbitan’.

Ia juga menyatakan keinginannya untuk dapat bersekolah lagi. Tapi meski ada berbagai jenis bantuan dan program yang ditawarkan oleh pemerintah, tetap saja tidak mengizinkan seorang Doni untuk dapat mengenyam pendidikan dan menikmati dunia kanak – kanaknya selayaknya anak – anak lain yang bernasib sedikit lebih baik dari pada Doni. Jika ia bersekolah, maka itu berarti ia tidak dapat makan dan membeli obat ‘alakadarnya’ bagi ayahnya. Ia harus menjajakan Koran dari pagi sampai sore hari. Sehingga ia hanya dapat memperhatikan teman – teman sebayanya berjalan dengan riang menuju kesekolah.

“ Ayo Doni, dimakan burger nya!!! Dihabisin ya!!!” dengan lahap Doni menyantap burger itu karena seharian ini perutnya belum terisi sesuap nasi pun.

Maraknya kasus kriminal yang dilakukan oleh anak dibawah usia tidak lepas dari masalah klasik di negeri kita ini. Tingginya jumlah keluarga miskin memberikan banyak dampak pada perkembangan negara itu sendiri. Makin merajalelanya gepeng, anjal, dan kasus – kasus kejahatan berujung tombak pada masalah ekonomi. Begitu pula dengan pendidikan anak. Sangat erat kaitannya antara pendidikan anak, tingkat ekonomi, dan kesempatan yang tersedia. Semua hal itu merupaka suatu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan dalam pelaksanaan gerakan pengentasan kemiskinan dan peningkatan taraf hidup masyarakat. Karena masalah ekonomi, para orangtua bekerja keras mencari nafkah hingga tidak mempunyai waktu untuk mengurus anak dan memberikan pendidikan kepada anak – anak mereka.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<