Monday, March 5, 2012

Rain Over Me: Eien No Ai


Tiba-tiba hujan mempertontonkan kontemplasi album lalu bersamamu. Mengirimkan senandung yang kerap kau sanjungkan melalui wangi debu yang tersapu rintik dari langit. Pada rintik yang jatuh satu-satu, ada senyum yang selalu kau untai dalam setiap sapa. Desir angin yang membelai lembut wajahku,menampilkan larik-larik puisimu. Kemudian aku menggigil dan menyerah pada hujan yang serta merta datang serombongan.

“Kita berpisah bukan karena panasnya matahari,”katamu disenja itu.“Bukan pula lantaran badai yang datang menghadang,” aku menyimakmu dengan sepenuh hatiku.“Tapi yakinlah, jarak akan mengumpulkan rinduku yang kelak akan meluap dan membuncahkannya padamu suatu saat nanti,” Aku tercekat, aku anggap itu sebuah janji.

Bukan janji yang pertama tentunya. Tapi janji yang nyaris selalu kau ucapkan seiring bergantinya jingga menjadi pekat malam. Tak perlu berharap terlalu dalam, hiburku pada sebongkah daging penuh racun dalam rongga perutku.

Pada jarak dan waktu yang memisahkan kita terpahat ceritera. Ada deret kata-kata yang terukir menyulam syair yang menjadi tabir. Pada jarak dan waktu yang memisahkan kita terlukis cahaya yang menyiratkan warna-warna. Seumpama senja pada kaki langit yang merona. Dimana selalu kau tambatkan seutas senyum yang memberikan nyawa baru pada dermagaku.

Kini ku hilang dalam kelam. Juga rintik hujan yang selalu menjadi penghalang untuk kita menikmati pesona langit malam. Padahal sesekali kaupun menjelma menjadi pelangi. Selepas hujan seperti sore tadi. Meski tiada kau sadari.

Masih tertancap lekat dalam benak. Bagaimana kau merangkai malam-malamku tanpa ada penat atas rutinitasku seharian. Seolah kau datang dan mengusap peluh. Kemudian menyapaku dengan senyuman. Mengganti lara menjadi ceria. Lantas kau seduhkan untukku secangkir cappuccino. Kita menikmatinya berdua. Sembari menikmati langit malam. Menyunggingkan senyuman pada godaan bintang-bintang.

“Usah kau anggap kerlingan benda-benda dilangit sana,” katamu tiba-tiba sembari menggamit tanganku,”dia tidak lebih memberi arti padaku dibanding dirimu. Kaulah bintang pada kelamnya hidupku,” aku tersipu, namun sayangnya tidak tergoda. Sudah terlalu biasa kau ucapkan hal sewarna.

Terkadang aku menganggapmu seperti hantu. Kau datang tiba-tiba tanpa perlu kupanggil. Lalu duduk bersamaku, bercerita tentang kisah kita sehari ini. Lalu kita saling menasehati. Kita saling berpendapat. Terkadang terselip kecewa yang tersirat. Namun selalu dapat tertutupi pada bahagia yang tercipta karena hadirmu.

“Terimakasih untuk apa, sayang?” tanyaku saat kau tiba-tiba berterimaksih padaku. “Untuk apa berterimakasih padaku yang tak mampu menemanimu melawan ganasnya mentari siang tadi?!”kataku sendu.

Thank’s for being my inspiration.” Katamu dengan seutas senyum yang guratnya tak pernah kulupa.

Dilain waktu, kau datang membawa semangat pada hampaku. Dengan tergopoh-gopoh kau menyambangiku. Lagi-lagi kau berikan senyum pada baris syair sarat rindu. Kau menjelma menjadi pahlawanku. Dan lagi-lagi kita menghabiskan waktu pada istana fiksi yang kita bangun sendiri. Ditemani irama lagu senada suasana hati, kita nikmati malam meski tanpa pendar cahaya rembulan.

“Seandainya kau tak membisu, tentu dengan mudah aku meraihmu,” katamu pada suatu penghujung malam bersama tetesan embun.

“Lupakan. Kisah kita hanya ilusi,”kataku seraya mengusap air mata yang berderai tak terkira.

Seketika aku melangkah pergi. Dibawah derasnya hujan dan kilatan petir aku mempercepat langkahku. Dalam duka aku memuja keindahan dunia. Sementara lukaku mengukir karya sejati. Hingga tiada seorang pun kan tahu, bahwa aku kecewa pada kisah yang membawa perih. Bahkan aku telah menyerah pada luka yang tak akan pernah kering. Pada kerasnya kehancuran yang tak sanggup kujalani sendiri. Aku patah. Aku mati. Meski aku sudah terbiasa dengan duka.

Pun saat ini, aku pasrah pada musikalisasi hujan dan malam yang membuka lembar-lembar kenangan singkat bersamamu. Ya, singkat, namun teramat dalam kurasa. Satu yang kuyakini adalah bahwa kau akan datang dan memenuhi semua ucapanmu. Tanpa kuda berpelana emas. Tanpa sayap-sayapmu yang telah patah. Tanpa wujud ksatria yang selalu kau tampakkan padaku. Bukan deretan lagu-lagu penuh sanjung dan puja serta rindu. Bukan pula setumpuk syair tanpa makna. Hanya dirimu yang sesungguhnya yang ‘kan menjadikan segalanya menjadi sempurna.

Kalianda, March, 4th 2012 10:26 PM

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<