Monday, May 21, 2012

Sepercik Cerita Sang Preman



“Kalo orang tua kami orang kaya, mungkin kami juga sudah jadi polisi!!!” Kelakar Fahrudin.

Wajah ketiga ‘preman’itu tertunduk lesu seiring semakin banyaknya sorotan kamera reporter yang mengarah kepada mereka. Sesekali mereka mencoba menutupi wajah dengan tangan dan menghindar dari kamera.


Muhamad Nur yang mengaku tinggal di Jagabaya tertangkap saat sedang mengobrol dengan rekan – rekannya, termasuk Manto yang mengaku warga Raja Basa. Sementara Fahrudin, bapak dua anak yang tinggal di Kelurahan Kelapa Tiga dibekuk saat sedang tidur disalah satu sudut. Ketiganya terjaring dalam razia premanisme Polresta Bandar Lampung di Bawah Ramayana, Jumat (24/2).

Tim yang dipimpin oleh M. Ginting melakukan razia tahunan sejak sore harikemarin mulai dari Terminal Raja Basa, Jalan Kopi, Pasar Bawah Ramayana, dan Pasar Seni Enggal. Tim yang tersebut hanya dapat menjaring tiga preman di Pasar Bawah Ramayana. Menurut Ginting, biasanya mereka memergoki para preman sedang melakukan aksi kejahatan tertentu di TKP.

Tapi kali ini mereka terjaring lantaran berada ditempat yang ditengarai sebagai sarang persembunyian copet, pemalak, dan sebagainya. Selain itu mereka juga tidak membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP).

“Menurut laporan warga dan anggota kami, tempat itu sering dijadikan tempat ‘mabuk lem’ oleh anak – anak jalanan,” kata Ginting.

Lebih lanjut Ginting memaparkan, razia preman adalah kegiatan rutin dua kali setahun. Meski demikian, pihaknya akan melakukan razia apabila ada laporan dari warga. Razia kali ini merupakan yang pertamakalinya dalam tahun 2012.

Setelah menjalani pemeriksaan, sidik jari, dan foto, ketiga ‘preman’ diperbolehkan pulang kerumah masing – masing. Namun alih – alih menuju rumah mereka, ketiganya malah kembali lagi ke Pasar Bawah Ramayana.
“Memang dalam razia semacam ini, jika tidak ditemukan bukti – bukti bahwa mereka merupakan pelaku tindak kejahatan, mereka hanya akan menjalani pembinaan, kemudian diperbolehkan pulang,” kata Ginting.
M. Nur (35) dan Wanto (30) mengaku sehari – hari ia menjual duku di seputaran Pasar Bawah Ramayana. Namun kali ini memang dia sedang tidak berjualan. Dia dan beberapa temannya hanya ingin beristirahat sejenak.

Sementara Fahrudin (35) mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap. Terkadang dia berjulan asongan. Tapi tidak jarang juga menjadi tukang semir. Pria bertato dengan rambut flamboyan ini merupakan single parent bagi anak laki - lakinya yang saat ini duduk dikelas dua Sekolah dasar dan putrinya yang baru berusia empat tahun.

Untuk dapat menghidupi kedua anaknya, Fahrudin masih menerima bantuan dari mertuanya. Ayah mertuanya merupakan seorang penjual sayuran di Kelapa Tiga.

“Sering banget mereka itu razia di Pasar Bawah. Banyak juga temen – temen yang ditangkap. Bahkan ada dari mereka memang bukan orang jahat,” Fahrudin tertunduk lesu.

Fahrudin menyayangkan begitu mudahnya polisi melakukan razia dan membekuk orang – orang susah sepertinya. Sedangkan menurutnya koruptor saja begitu sulit ditaklukan oleh hukum. Orang – orang sepertinya hanya membutuhkan rang utuk mencari nafkah untuk dapat menyambung hidup mereka sehari saja. Mereka belum berpikir mau makan apa esok. Tapi yang jelas hari ini dia dan anak – anaknya tidak kelaparan. (Rinda Gusvita, Dipublikasikan di Harian Tribun Lampung 25/2/2012)






















“Kami ini orang susah, mau cari makan susah, wajar kalau kami numpang istirahat ditempat kumuh kayak gitu (Bawah Ramayana),”Ujar Fahrudin lirih.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<