Tuesday, June 5, 2012

Green Lifestyle, Kuncinya adalah kemauan



Dengan dampak perubahan iklim yang terjadi secara global, sekarang dan di masa depan, semua orang perlu menjadi bagian dari upaya pencarian solusi dan penyelamatan bumi. Saat ini telah banyak sosialisasi gaya hidup hijau (Green lifestyle) yang menjadi pilihan positif sebagai tren baru. Masing – masing orang dapat memilih untuk bertindak dengan mengubah gaya hidup mereka atau melakukan upaya lain sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan iklim.

Mengurangi dampak dari emisi Gas Rumah Kaca (GRK/Green House Gas) dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup rendah karbon atau biasa disebut green lifestyle/gaya hidup hijau.  Jika masyarakat telah sadar akan dampak emisi GRK dan menerapkan gaya hidup hijau, secara langsung maupun tidak langsung akan tercipta tekanan public terhadap penyumbang emisi dalam jumlah besar seperti perusahaan di Lampung untuk melakukan tindakan nyata terhadap perubahan iklim.

GRK merupakan gas-gas pada atmosfer yang teremisi, menyerap dan memancarkan kembali radiasi inframerah dan menyebabkan efek rumah kaca. GRK dapat berbentuk gas Karbondioksida (CO2), Metana (CH4), Nitrogen Oksida (N2O), dan gas – gas lain yang mengandung fluor (HFC, PFC, dan SF6). Jika GRK ini terlepas ke atmosfer, akan meningkatkan suhu permukaan bumi yang menyebabkan pemanasan global, yang akhirnya mengakibatkan perubahan iklim yang sangat ekstrem di bumi.

Pemerintah telah mengeluarkan aturan mengenai pengurangan emisi GRK sebagaimana telah tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 61 tahun 2011 tentang Penyusunan Rencana Aksi Nasional penurunan emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK). Perpres ini dikeluarkan sebagai pedoman untuk menyusun upaya dan langkah-langkah penurunan emisi GRK. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk dapat menurunkan emisi GRK sebesar 26% dengan usaha sendiri atau 41% dengan bantuan internasional pada 2020.

Di tingkat propinsi, Gubernur harus menyusun Rencana Aksi Daerah penurunan emisi GRK (RAD-GRK) yang mengacu pada RAN-GRK, dan disesuaikan dengan prioritas daerah, paling lambat 12 bulan sejak Perpres diterbitkan.  Pemerintah Daerah Provinsi Lampung yang dimotori oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) juga telah membentuk Tim Penyusunan RAD-GRK Provinsi Lampung.

RAD-GRK adalah dokumen yang menyediakan arahan bagi pemerintah daerah untuk melaksanakan berbagai kegiatan penurunan emisi, baik berupa kegiatan yang secara langsung dan tidak langsung menurunkan emisi GRK dalam kurun waktu tertentu. Selanjutnya rancangan tersebut menjadi masukan dan dasar penyusunan dokumen-dokumen rencana strategis daerah.

RAD-GRK berisi upaya-upaya penurunan emisi GRK yang bersifat multi sektor dengan mempertimbangkan karakteristik, potensi, dan kewenangan, serta terintregasi dengan rencana pembangunan daerah. Kegiatan-kegiatan untuk penurunan emisi GRK yang dilakukan atau difasilitasi oleh pemerintah bersifat partisipatif dan menggunakan referensi yang tersedia di tingkat nasional. RAD-GRK sangat dinamis dan disesuaikan  dengan kebutuhan dan potensi daerah dan nasional serta perkembangan yang ada.

Beberapa isu yang dianggap berpotensi tinggi sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca di Lampung adalah deforestasi hutan, gas buang kendaraan bermotor, limbah industri, emisi yang dikeluarkan oleh mesin produksi dan rumah tangga, serta sistem pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga.

Dalam penyusunan RAD-GRK, dibentuk enam kelompok kerja (Pokja) yang membidangi aspek berbeda dengan target pengurangan emisi Bidang Pertanian 0,27 persen, Bidang Kehutanan dan Lahan Gambut 22,78 persen, Bidang Industri 0,03 persen, dan Bidang Limbah 1,63 persen, Bidang Energi dan Transportasi 1,29 persen,

Berbagai dampak perubahan iklim tidak terlepas dari perilaku manusia dalam menjalankan aktivitas pembangunan ekonomi. Kebijakan pembangunan yang terintegrasi dengan penanganan dampak perubahan iklim saat ini sangat diperlukan. Dengan demikian pembangunan perekonomian dapat berjalan selaras dan seimbang dengan pelestarian lingkungan hidup.

Sebagaimana kita ketahui, manusia hidup berdampingan dan berhubungan dengan berbagai macam makhluk hidup atau lingkungan biologis. Hubungan akan terjalin dengan baik apabila manusia dan lingkungan disekitar hidup secara harmonis.

Oleh karena itu diperlukan tindakan nyata ( real action ) untuk mencegah terjadinya permasalahan ekologi. Permasalahan ekologi hendaklah disikapi secara serius. Jika tidak, permaslahan ini akan menimbulkan krisis ekologi yang lebih kompleks lagi. Permasalahan ekologi merupakan permasalahan global yang tidak dapat diatasi oleh perorangan, kelompok, satu negara, tetapi permasalahan ekologi ini harus kita atasi bersama.

Disamping penyusunan RAN dan RAD GRK oleh pemerintah bersama – sama dengan para pihak yang terkait, kita juga harus melakukan tindakan nyata untuk mengurangi emisi GRK sebagai upaya pencegahan permasalahan krisi ekologi. Hal ini dapat dilakukan dengan menyadarkan masyarakat untuk menyadari perubahan iklim. Dengan demikian perlahan masyarakat akan mengubah gaya hidup mereka. Masyarakat didaerah rawan dapat memberikan kesaksian terhadap dampak perubahan iklim. Misalnya saja kenaikan permukaan air laut, hilangnya beberapa flora dan fauna, cuaca yang tidak menentu, dan sebagainya.

Jika kita tidak dapat mengurangi polusi yang diracunkan oleh manusia kepada bumi, paling tidak kita tidak menambahnya. Selain mengurangi emisi yang dikeluarkan dari knalpot kendaraan bermotor, berjalan kaki atau bersepeda tentu saja baik untuk kesehatan.

Bersepeda bisa menjadi bagian gaya hidup go green. Tapi untuk dapat bepergian dengan bersepeda bukanlah hal mudah. Manusia jaman sekarang dituntut untuk dinamis dengan mobilitas tinggi. Selain jarak dan medan yang ditempuh, waktu juga jadi pertimbangan dalam pemilihan alat transportasi. Bike to work atau bike to school mungkin akan baik diaplikasikan untuk jarak dan waktu tempuh yang relatif pendek. Namun jika belum bisa bike to work, paling tidak bike to warung, bike to rumah tetangga, instead of naik motor.

Selain mengurangi emisi gas buang kendaraan bermotor, dengan tidak menggunakan kendaraan pribadi dan memilih menggunakan angkutan umum juga merupakan bagian dari upaya penghematan energi. Dengan demikian tidak perlu lagi mempermasalahkan bahan bakar yang harganya melambung, atau pencabutan subsidi bahan bakar.

Namun tidak dapat dipungkiri memang infrastruktur juga menentukan apakah masyarakat akan memilih gaya hidup ini atau tidak. Di Bandar Lampung saja, alih – alih tersedia jalan khusus pesepeda, ketersediaan trotoar bagi pejalan kaki juga sangat minim. Jikapun ada, trotoar yang berukuran sempit (standar minimal 1,2 meter) mengalami kerusakan disana sini sehingga membahayakan pejalan kaki. Selain itu banyak pedagang yang memilih berjualan ditrotoar. Bahkan kondisi trotoar yang memang sudah sangat memprihatinkan malah dibangun shelter bus yang tentu saja mengganggu kenyamanan dan keamanan pejalan kaki. Belum lagi kemacetan lalu lintas pada jam sibuk mennyebabkan pengendara sepeda motor yang nakal dan tidak sabaran untuk melewati trotoar. Tentu saja hal ini berbahaya bagi pejalan kaki, bahkan bagi pengendara sepeda motor itu sendiri.

Selain itu juga fasilitas kendaraan umum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Angkutan umum dapat diterapkan untuk mengurangi kemacetan, polusi, dan kebutuhan bahan bakar. Namun masyarakat yang masih memilih menggunakan kendaraan pribadi juga pasti punya alasan tersendiri mengapa mereka tidak menggunakan angkutan umum. Selain dinilai lebih cepat dan nyaman, penggunaan kendaraan pribadi masih dinilai sebagai solusi. Disamping mudah mendapatkan kredit kendaraan bermotor, masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi karena masih terjangkaunya bahan bakar, ketersediaan lahan parkir yang memadai dengan biaya parkir masih sangat murah.

Gaya hidup hijau erat kaitannya dengan menjaga kesehatan. Kesehatan tubuh kita ini tergantung sekali dengan apa yang kita makan. Tidak cukup makan empat sehat lima sempurna, tapi perlu diperhatikan juga bagaimana asal usul makanan itu. Jaman sekarang hidup kita dilingkupi pencemaran dalam berbagai aspek kehidupan. Air yang kita minum, tanaman pertanian, juga hewan ternak, semuanya adalah bisa saja menjadi racun yang menjadi sumber berbagai penyakit dalam tubuh kita.

Bayangkan, pestisida apa saja yang disemprotkan untuk mencegah tanaman dimakan hama. Penggunaan pupuk urea pada tanaman juga melepaskan gas keatmosfer. Zat kimia apa saja yang disuntikkan pada binatang ternak supaya bisa lekas disembelih dan dikonsumsi. Segala zat yang digunakan untuk mendukung budi daya tanaman dan ternak itu mau tidak mau akan ikut masuk ke dalam tubuh kita, pada saat kita menkonsumsinya.

Hidup organik adalah hidup menjauhkan diri dari segala zat kimia rekayasa untuk pertanian tanaman pangan dan peternakan. Sayur dan buah organik saat ini bisa didapatkan. Lebih baik lagi jika kita bisa menanam sendiri di sekitar rumah kita. Berkebun dirumah juga akan menambah keasrian lingkungan sekitar rumah. Banyak pilihan metode berkebun yang saat ini marak dikembangkan, seperti vertikultur atau hidroponik untuk lahan sempit. Sampah organik juga bisa dijadikan pupuk, daripada dibuang sia-sia. Sampah organik jika dibiarkan menumpuk dan tidak diolah secara bijak juga akan menghasilkan gas metan yang juga merupakan salah satu GRK.

Permasalahan sampah sepertinya tidak akan pernah ada habisnya selama manusia masih saja menggunakan barang sekali pakai seperti plastik. Selain menimbulkan permasalahan dalam hal pengelolaan sampahnya, penggunaan plastik juga tidak baik bagi kesehatan. Terlebih plastik yang kontak langsung dengan makanan yang kita makan. Bahan kimia dalam plastik akan terurai dan bermigrasi kedalam makanan.

Untuk itu, mulailah melakukan penghematan penggunaan kantong plastik. Membawa tas pakai ulang ketika berbelanja dapat mengurangi pemakaian tas kresek. Pernahkah memperhatikan sedotan dan tutup plastik pada minuman di gerai makan cepat saji? Jika kita minum dan makan ditempat, mengapa harus memakai tutup dan sedotan? Begitu juga dengan kemasan air minum sekali pakai. Bukankah lebih baik membawa tumbler yang dapat dipakai berkali – kali tanpa menimbulkan sampah.

Pernahkah memperhatikan bahwa kita telah berlaku boros dalam penggunaan air dengan membuka keran sampai maksimal ketika mencuci tangan? Hemat penggunaan air dengan tidak membuka keran air sampai maksimal. Berbagai masalah kesulitan air bersih di Bandar Lampung dapat diatasi jika kita bijak dalam penggunaan air bersih.

Suplai air dari PDAM telah dimaksimalkan dengan membuka mata air baru seperti yang dilakukan di kelurahan Keteguhan. Juga dengan membuka tender untuk dapat dapat menyuplai air bersih dari Bendungan Argoguruh. Namun masih saja ada wilayah yang tidak kebagian air, atau bahkan sampai satu bulan masyarakat kesulitan mendapatkan suplai air bersih dalam jumlah yang cukup dari PDAM.  

Kurangnya debit air yang disuplai PDAM salah satunya karena kondisi wilayah resapan air tanah atau catchment area tidak lagi seperti dulu. Tutupan lahan sudah berkurang, hutan banyak dialihfungsikan untuk kepentingan lainnya yang lebih bernilai ekonomis. Hal ini menyebabkan kemampuan tanah untuk menagkap dan menyimpan air tanah juga berkurang.

Seluruh masyarakat tentunya memiliki itikad baik untuk merangkul semua pihak agar bersama-sama mewujudkan Lampung lestari demi masa depan yang lebih baik. Momen peringatan hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni ini tentunya sangat baik jika diisi dengan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada pembiasaan gaya hidup ramah lingkungan.

Going green is not that simple, memang. Kuncinya sebenarnya cuma satu: kemauan. Dengan adanya kemauan itulah kita bisa melakukan (meski awalnya sedikit terpaksa) sesuatu yang amat sulit kita lakukan. Memulai gaya hidup go green bagi kita yang terbiasa abai tentu bukan hal mudah. Bagi yang sudah menerapkannya, patut diacungi jempol dan ditiru. Bagi yang belum, mari kita coba secara perlahan. Meski belum bisa memulai aksi yang besar, tapi paling tidak kita mulai dari diri sendiri dan dari hal yang kecil. Pasti bisa!!!

Do it, then fix it as you go!!! Pay it forward to others around you, teruskan kepada yang lain disekitarmu. Salam Adil dan Lestari!!!

Rinda Gusvita

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<