Monday, August 13, 2012

Cita Itu [Semakin] Dekat


Gimana sich kalau kamu dibuat down sebelum bertanding? Diyakinkan bahwa kamu nggak akan menang melawan nasib buruk yang emang sudah melekat hebat?! Kemudian dicemooh seolah kamu hanya seorang pemimpi disiang hari.

Bah, setidaknya itulah yang kualami menjelang ujian masuk Pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM). Awalnya aku merasa biasa saja, yakin seyakin yakinnya atas izin Allah aku pasti bisa lulus. Kuliah dikampus berprestasi, dengan lingkungan yang mendukungku untuk berkembang. Kemudian dukungan dari Kementrian Pendidikan Tinggi mengalir kepadaku berupa support biaya kuliah dan kesempatan langka yang tak datang dua kali.


Tapi kemudian harapan itu sedikit tergoyahkan ketika kedengan berbagai hoax mengenai sulitnya mendapatkan beasiswa, bagaimana perjuangan masuk ke UGM, dan lain sebagainya.

Awalnya yang paling membuatku gentar adalah ketika ada seorang peserta beasiswa yang sama menyatakan bahwa dia telah mengikuti tes PAPs dan AcEPT. Untuk PAPs, dia mendapatkan nilai yang lebih dari cukup. Semantara  dia berpikir bahwa AcEPT sangat sulit, dia belum berhasil melampaui target yang telah ditentukan.

Dia mengajakku mengikuti kursus selama dua bulan dengan biaya Rp. 3000.000. Bukan biaya yang sedikit menurutku. Selain itu juga aku masih mempunyai beberapa tanggungjawab di Lampung, sehingga aku belum bisa pergi ke Jogja.

Kemudian dia memberikan info workshop AcEPT selama seminggu dengan biaya Rp. 130.000. Lumayan terjangkau juga. Tapi lagi-lagi aku belum bisa meninggalkan Lampung. Hingga pada akhirnya aku tidak mengikuti kursus ataupun workshop apapun.

Aku hanya berusaha menumbuhkan keyakinan dalam diriku bahwa dengan segenap usaha dan jerih payahku, aku pasti berhasil. Aku mempelajari beberapa referensi soal TOEFL dan AcEPT. Aku juga latihan mengerjakan soal – soal Tes Potensi Akademik (TPA) dan PAPs.

Meski sedikit waktu yang kumiliki, aku berusaha focus. Aku terus berlatih. Beruntung, salah seorang rekan yang juga mendaftar untuk beasiswa ini memberitahu bahwa dia mempunyai contoh soal yang lebih spesifik. Dia mendapatkannya dari kakaknya yang sudah lebih dulu menjadi mahasiswa pascasarjana di UGM. Kakaknya juga memberikan sedikit pencerahan kepada kami mengenai PAPs. Namun ketakutan yang ada pada diriku tidak juga hilang. Justru bertambah seiring dengan waktu tes yang semakin dekat.

Malam hari sebelum tes, rumah kos sepupuku dibuat heboh dengan segala persiapan. Ada yang meminjamkan alat tulis cadangan, setrika, sampai rebut mengenai bekal makanan yang akan kubawa esok harinya. Hingga menjelang pukul Sembilan malam, ketika perasaanku makin tak karuan dan degub jantungku makin tak beraturan, aku diperintahkan untuk tidur. Aku menurut saja.

Pagi hari rumah oranye Sendowo G 25 dibuat heboh lagi. Aku berangkat pukul tujuh pagi. Berbekal doa dan semangat dari semua orang yang kusayangi, aku melangkah pasti menuju Fakultas Kehutanan ruang kuliah V.

Sampai disana, nyaliku menciut melihat wajah – wajah tegang namun penuh keyakinan. Tapi aku tak mau kalah, aku kembali mengatur napas, kemudian berusaha menormalkan detak jantungku.

Memasuki ruang kelas, tidak kusangka aku mendapatkan bangku paling belakang. Nomor urut 22 (dua puluh dua), ya, ini pasti bangkuku, pikirku. Selama ini aku belum pernah ujian duduk dibangku paling belakang.

Ujian pertama, PAPs, dimulai pukul delapan dan diakhiri pukul sepuluh. Biasa saja, menurutku. Soalnya tidak seekstrim apa yang dicontohkan oleh kakak rekanku itu. Tapi tetap saja aku merasakan adanya jebakan disana sini. Soal yang tampak mudah itu penuh jebakan sodara – sodara!!!

Tepat pukul sepuluh, ujian PAPs berakhir. Kami diberikan kesempatan untuk beristirahat selama kurang lebih satu jam. Waktu itu kumanfaatkan untuk menenangkan diri. Mengobrol dengan sesame peserta tanpa sedikitpun menyinggung pembicaraan tentang ujian ternyata asyik juga. Teman baruku itu dari Malang, mengambil Master Ilmu Gizi. Guess what!!! Kami bertukar pendapat mengenai fenomena “My best friend is my boy friend”. Topic yang nggak pernah ada basinya untuk dibahas.

Kemudian pukul sebelas kami kembali memasuki ruang ujian. Sesi pertama dimulai. Aku mengerjakan soal listening tanpa ada keluhan sedikitpun. Ah, sayang, listeningnya hanya dua puluh soal. Kemudian sesi dua, tiga, dan empat kurasakan makin berat. Aku mulai melakukan pengacakan soal yang akan kukerjakan. Tentu saja aku kehabisan waktu.

Kondisi ini diperparah dengan tanganku yang basah. Benar – benar mempersulitku. Lembar jawabanku basah, dan aku merasa tidak nyaman. Entah bosan atau mulai stuck, sulit kubedakan. Sampai akhirnya pada sesi soal kelima aku benar – benar menyerah.

Aku merasa untuk membaca soalnya saja tidak cukup waktuku setengah menit. Aku mulai kacau. Kukerjakan soal mulai dari belakang. Tapi waktunya lumayan panjang, seperti tidak ada warning bahwa waktunya sudah hampir habis. Aku membaca sekilas – sekilas saja soal persoal. Aku berusaha meyakinkan diriku bahwa jawabanku benar.  Aku kembali melakukan pengacakan untuk mengerjakan soal sesuai dengan mood-ku.

Aahhh…sial!! Masih saja ada bayangan ‘dia’ dan ‘kamu’ di booklet soalku. Apa – apaan ini?!! Aku berusaha mengahalau bayang – bayang itu. Alih – alih kembali mendapatkan konsentrasiku, bayangan itu malah berangsur – angsur saling kait mengait antar peristiwa. Seperti ada sebuah kontemplasi diatas booklet soalku. Malah seperti nonton film jadinya. Hihihiii... stress alert!!!

Selesai mengerjakan soal, eh bukan dhink, karena waktunya habis, aku berhenti mengerjakan soal. Kemudian aku keluar ruangan dengan gontai. Aku langsung menuju toilet, membuang sisa – sisa rasa nervous-ku dan membenahi diri. Kemudian aku bertelepon dengan beberapa orang teman dan berusaha sedikit melupakan kegelisahan terhadaphasil tes yang baru saja membuatku (nyaris) gila.

Aku berjalan menyusuri jalanan sepi yang rimbun oleh naungan pohon – pohon besar. Sejuk. Tanpa terasa, aku berjalan sampai sisi Jalan Kaliurang. Aku bersyukur tidak ada tes lanjutan untuk di fakultas, dan Pak Wagiman mengurungkan jadwalnya untuk bertemu denganku. Sehingga aku bisa menggalau sendirian. Banyak pelajaran hidup dijalanan yang membuatku sedikit melupakan rasa tidak karuan akibat tes dan menutupinya dengan rasa syukur tak terhingga.

Sampai dirumah kontrakan, hanya ada Kakak Maya yang sedang belajar. Dia bertanya ini-itu tentang tesku dan memberikan sedikit support dan membangun harapan dalam diriku. Sampai akhirnya aku memilih untuk masuk kedalam kamar dan memutar playlist “galau”. SMS-mu tak terbalas, karena aku tertidur sampai sepupuku pulang.

Malam hari, sepupuku mengajakku untuk menghabiskan satnite diluar. Karena suasana hati sedang buruk, aku memilih pergi ke Ambarukmo Plaza. Malam itu ada midnite sale disana, plus pertunjukkan musik jazz yang membuat hati jadi adem.

Keesokan harinya, aku pergi dari Sendowo dengan memesan taxi pukul tujuh pagi. Aku turut serta rombongan Forum Keluarga dan Anak Cinta Lingkungan (FOKAL) Yogyakarta dan Sahabat Lingkungan Peduli Bencana Walhi Yogyakarta. Kami mengunjungi Kabupaten Kulon Progo, tepatnya di pusat budidaya umbi lokal.

Seperti mendapatkan semangat baru dari keluarga baru di kota yang sarat budaya. Keceriaan dan keakraban bersama teman – teman baru dan lingkungan baru yang menyumbangkan pengalaman baru. Rekan – rekan FOKAL dan Shalink PB Walhi Jogja serta masyarakat lokal di Kulon Progo seperti menjadi obat ‘anti-galau pasca ujian’ dihari sebelumnya. Belum lagi pertemuanku dengan Diah, SF Jogja, yang terasa begitu singkat namun berkesan mendalam. Sate sapi dan wedang ronde menemani kami bercengkrama di Lapangan Karang hingga pukul sembilan malam. Alhamdulillah, semuanya memberikan pelajaran baru bagiku.
Rabu pagi aku meluncur bersama Lodaya pagi si ular besi menuju Bandung. Pemandangan dan suasana kereta jarak pertama (seorang diri) sepanjang perjalanan aku nikmati dengan tak henti mengucap syukur dan mengagumi Illahi rabbi. Insya Allah aku mengikhlaskan semua hasil tes-ku beberapa hari sebelumnya. Terlebih setelah dikuatkan oleh mamah dan bapak Teh Nia. Akupun dengan tegar melangkah (seorang diri) menuju Lampung, mulang tiyuh.

Hari demi hari, aku lewatkan tanpa lupa memanjatkan doa dan meminta doa restu dari orang – orang disekitarku agar aku dapat meraih apa yang aku cita-citakan. Sedikit melupakan kegalauan, aku berencana menonton konser Mocca yang bertajuk ‘Dear Friends’ di Bandung (30/7). Aku berangkat Jumat malam setelah bertemu dengan Ahmed, rekan mahasiswa berprestasi 2010 dari STBA Teknokrat. Doa dan semangat dari Ahmed dan teman – temannya pun berhasil aku kantongi. Aku bertolak menuju Bandung sekitar pukul sepuluh malam.

Diperjalanan, aku mendapat SMS dari Nindi, rekan sesama pelamar Beasiswa Unggulan di Universitas Gajah Mada. Seketika itu pula aku membuka web UGM, dan alhamdulillah, ada namaku disana dan dinyatakan lulus secara akademik tanpa syarat.  Sungguh berita itu merupakan kebahagiaan tak terhingga untukku. Terlebih skor-ku jauh diatas skor minimal yang disyaratkan oleh pihak UGM. Dengan tak henti – hentinya mengucap syukur, aku melangkah dengan riang menuju konser Dear Friends yang sudah aku nanti – nantikan.

Kembali aku terngiang kata – kata sarat motivasi yang selalu mampu membangkitkan semangat juangku : Kalau kita berkata bahwa kita sudah tidak lagi punya harapan, itu berarti aku telah membanting pintu didepan Allah. Sementara Allah selalu baik terhadap umatnya, oleh karena itu kita harus selalu berprasangka baik kepada Allah. Insya Allah, apapun yang Allah berikan atas segala daya upaya kita, itulah yang terbaik untuk kita. Semangat!!!

Hari – hariku berikutnya dipenuhi dengan harapan bahwa aku harus lulus seleksi beasiswa unggulan atau aku harus bekerja keras untuk dapat melanjutkan kuliahku. Sudah kepalang tanggung, perjuangan dan pengorbananku bukan hanya sedikit. Dengan atau tanpa beasiswa, aku harus tetap kuliah. Ditambah komitmen dari orangtua yang tetap merestuiku untuk kuliah meski tanpa beasiswa. Tentu saja dengan segala konsekuensi yang tidak mudah. Insyaallah ada jalan, demikian keyakinan yang kupegang teguh.
Minggu keempat Bulan Juli, seperti yang tertera dalam jadwal tahapan seleksi beasiswa unggulan, tidak kunjung ada kabar baik mengenai studiku. Lagi – lagi aku hanya bisa berharap dan terus memupuk kepercayaan diri. Tidak sedikit orang yang meremehkan aku dan tidak yakin aku akan berhasil. Jangankan untuk mendapatkan beasiswa, untuk lulus seleksi di UGM punrasanya mereka tidak percaya. Setiap hari aku terus membuka web Dikti dan UGM, tapi pengumuman itu tidak juga muncul.

Daripada terus menunggu sesuatu yang belum pasti, aku tetap mengisi hariku dengan padatnya kegiatan. Aksi penolakan TUKS dan stockpile batubara PT Sumatera Bahtera Raya, aksi simpatik konflik agraria masyarakat dan PTPN VII di Sumsel, pengumpulan data Taman Hutan kota, dan sederat rutinitas lainnya membuatku sedikit meyakinkan diriku bahwa aku mempunyai peran dimasyarakat. Sekarang aku mungkin buka apa – apa, tapi dari aku yang bukan apa – apa ini kelak aku akan menghasilkan karya.

Menjelang daftar ulang UGM dan pembayaran semester, pengumuman hasil seleksi beasiswa belum juga muncul. Karena tekadku begitu kuat untuk tetap kuliah, aku memutuskan untuk mendaftar ulang dengan biaya sendiri. Tentu saja dengan keikhlasan orang tua. Kebetulan Mocca menggelar mini konser yang bertajuk ‘secretgigmocca’ yang dikemas seperti semacam konser rahasia (secret show) (4/8). Aku berangkat menuju Bandung sekitar pukul sembilan malam. Setelah mendapatkan semangat dari Mocca dan swingging friends, aku bertolak menuju Jogjakarta dengan ular besi Lodaya Pagi dihari berikutnya.

Di jogja, aku tinggal di asrama mahasiswi Lampung (Amila) bersama mbak Asnani, mantan staff Watala yang sedang mengambil program pascasarjana Sosiologi. Dari beliau aku juga banyak mendapatkan endurance. Alhamdulillah, jika kita berteman dengan penjual parfum, kita juga akan terkena wangi parfumnya. Jika kita berteman dan menjalin silaturahmi dengan orang – orang inspiratif, orang – orang sukses, insyaallah citra diri kita juga akan baik, bahkan kita dapat mengambil pelajaran dan motivasi dari orang – orang tersebut.

Sayangnya, tahun ini asrama tersebut tidak menerima mahasiswa S2. Penghuni asrama hanya sebatas mahasiswa S1 dari semester 3-8. Sementara cari tempat kos yang sesuai keinginan sulit sekali. Rata – rata sudah di tempat oleh mahasiswa bari S1. Alhasil aku belum mendapatkan tempat tinggal di Jogja.

Selasa sore (7/8) setelah menyelesaikan urusan daftar ulang di jurusan, aku bertolak menggunakan Garuda si burung besi menuju Batam. Entah seperti apa kondisi kota yang industrialis itu. Yang jelas ini kali pertamaku datang ke Batam.

Aku mengikuti pelatihan litigator kasus lingkungan yang diadakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup. Aku tidak sendirian, ada Kak Nopi juga yang menjadi utusanWalhi Lampung menggantikan Kak Hendra. Hanya saja dia berangkat duluan dari Lampung. Kami tinggal di hotel bintang empat, Pacific Palace Hotel. Hotel besar yang penuh dengan ornamen kapal. Bentuk bangunannya pun mirip kapal. Aku menempati ruangan besar seorang diri. Sulit tidur, itu yang aku rasakan.

Hari pertama pelatihan digelar sampai pukul 16.30 WIB. Aku langsung menuju kamar untuk beristirahat. Karena aku tidak bisa lepas dari dunia maya, aku membuka facebook. Di wall-ku ada ucapan selamat dari Mr. Wahyu “Selamat buat Rinda.... yang diterima di UGM, semoga....” lho, pengumumannya kan sudah lama, kenapa si mister baru ngucapin sekarang? Itu pertanyaan yang timbul dibenakku. Kemudian aku ‘pergi’ ke news feed, ada ucapan senada di wall Kak Tia yang ditulis oleh Kak Novi. Hatiku berdebar seketika. Langsung aku telepon Nindi yang saat itu berada di Jogja. Dan saat itu Nindi and the gank juga sedang sibuk men-download pengumuman beasiswa unggulan.

Bahagia tak terkira saat itu ketikan Nindi bilang bahwa namaku ada disana sebagai penerima beasiswa unggulan. Tidak begitu saja percaya, aku men-dowbnload pengumumandari laman dikti. Subhanallah. Aku langsung memanjatkan syukur dan mengabari keluarga dan sahabat – sahabatku. Beragam respon yang aku dapatkan via SMS antara lain :

“Alhamdulillah, saya ikut senang. Saya doakan sukses. Salam untuk mister wagiman. Saya akan cek kemajuan via mr. Wagiman,” (Pak Tanto),

 “Alhamdulillah, peluukkk..ciuummmm...barakallah sayaaangg, aku main aah ke Jogja”(Ima)

“Congratulation!!! *berpelukan gaya teletubies” (Una)

“Hehehe...iya maaf maaf maaf banget, sekali lagi selamet selamet selamet... u’re gret woman in the world” (Shikamaru)

“ Alhamdulillah...congratulation nduuuuuuttttt..peyuuuuk aaaahhhh”  (Bintun)

“Semoga rinda bisa makin meningkatkan derajatnya dimata Allahkarena ilmu dan takwanya. Jadi wanita sholihah ya say” (Mbak Ria)

...dan berbagai ekspresi via telepon lainnya. Bahagia tak terkira. Alhamdulillah. Semoga barakah dan dilancarkan jalanku mencari ilmu oleh Allah SWT. Tidak selamanya pandangan rendah orang lain akan menyurutkan niat kita. Bahkan terkadang, kesangsian orang lain terhadap potensi diri kita merupakan dukungan yang teramat dahsyat bagi kemajuan diri kita.

Bismillah, aku punya status sekarang, bahagianya... I AM A STUDENT NOW!!! \(^_^)/

Particularly thank’s to : My lovely family, sahabat – sahabat-ku, kakak – kakak di Walhi Lampung, Mocca , Swinging Friends, Sendowo G 25 (Mbak Rani, Kak Vyani, Kak Maya), Tiwi, Mbak ErliNindy (dan Abangnya), Mr. Wahyu, Mbak Emi, Udin Sensei, Pak Tanto, Mr. Wagiman, Pak Wahyu, Tukang ojeg-ku, Om Che, Bu Ning, dan rekan2 Walhi Jogja lainnya.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<