Friday, August 2, 2013

Lagi, Pesisir Bandar Lampung Diserang HABs


Beberapa waktu lalu, nelayan tradisional di Bandar Lampung tidak dapat melaut untuk sementara waktu karena adanya red tide atau pasang merah yang menutupi sebagian perairan Teluk Lampung. Selain itu, kejadian yang acapkali terjadi di Teluk Lampung ini juga merrugikan pembudidaya ikan keramba. Kejadian serupa terjadi terakhir kalinya pada bulan Oktober hingga Februari 2013 setelah tahun 2002-2003 perairan Teluk Lampung pernah dilanda blooming alga pyrodinium bahamense.
Timbulnya blooming algae pada umumnya disebabkan oleh beberapa faktor antara lain tingginya nutrien (nitrogen atau fosfor), cahaya dan kondisi fisik perairan (turbulensi kolom air).  Kombinasi dari ketiga faktor tersebut dapat memicu terjadinya bloom algae dan hilangnya salah satu faktor tersebut menyebabkan gagalnya pembentukan bloom.  Pada perairan pesisir yang terpengaruhi oleh limbah domestik perkotaan atau budidaya perikanan seperti  Teluk Jakarta, Teluk Banten dan Teluk Lampung, ketersediaan makanan (nutrien) adalah memadai untuk terjadinya bloom.  Hal ini kemudian didukung oleh ketersediaan cahaya matahari yang selalu melimpah yang kemudian dipicu oleh ada tidaknya turbulensi kolom air.   Jika air dalam kondisi tenang, lebih dari 6 jam saja, maka potensi terjadinya bloom menjadi besar. 
Kondisi perairan Teluk Lampung memang sangat memprihatinkan. Tumpukan sampah-sampah menutupi tepian pantai. Bahkan dibeberapa titik, sampah plastic tampak seperti upaya reklamasi pantai sehingga diragukan pembiaran atas pencemaran ini apakah suatu kesengajaan atau benar-benar terjadi secara alami. Para nelayan bahkan Nampak sudah membiasakan diri dekat keberadaan sampah plastic dan hidup dipantai dengan tumpukan sampah disekelilingnya. Selain itu, kondisi rumah yang berhimpitan satu sama lain dan tidak beraturan seperti menjadi ciri khas perkampungan nelayan di pesisir pantai Teluk Bandar Lampung ini.





Selain masalah sampah, ancaman kelestarian ekosistem di Teluk Lampung ini adalah kerusakan terumbu karang dan hutan mangrove. Seyogyanya pemerintah daerah di Lampung lebih serius mempertahankan keberadaan hutan bakau tersisa. Menurut data yang dilansir dari Republika (2011), lebih dari 70 persen hutan bakau di Lampung rusak parah. Dari 160 ribu hektare hutan bakau, lebih dari 136 ribu hekatare telah rusak parah. Hutan bakau yang tersisa diperkirakan hanya 1.700 ha, namun nasib hutan mangrove yang tersisa itu juga terancam.Sebagaimana pernah dilaporkan oleh KBR Antara, menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Lampung, Untung Sugiyatno penyebab utama kematian terumbu karang di kawasan perairan Teluk Lampung itu umumnya adalah karena bom-bom ikan yang digunakan para nelayan. Terumbu karang di Teluk Lampung kini luasnya hanya sekitar 11 ha, yang tersebar di Pulau Condo (47 ha), Pulau Tegal (98 ha), Pulau Kelagian (435 ha), Pulau Pahawang (694 ha), Pulau Legundi (1.742 ha), Pulau Sebuku (1.646 ha), Pulau Sebesi (2.620 ha) dan Pulau Balak (32 ha).

Kerusakan lingkungan ini merupakan tantangan ditengah gegap gempita kampanye gemar makan ikan dan target Pemerintah Provinsi Lampung untuk menjadikan wilayahnya sebagai salah satu penghasil utama ikan nasional. Kejadian blooming algae seperti di Teluk Lampung menjadi semakin sering terjadi dan ini terkait dengan semakin melimpahnya ketersediaan nutrien yang disumbangkan oleh aktifitas manusia di sekitar periran tersebut. Selain menimbulkan kematian ikan, alga bloom juga menjadikan estetika perairan menjadi rusak dan menurunkan nilai kegunaan perairan tersebut.

Moore et al., (2008) menyatakan bahwa anthropogenic yang muncul akibat peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer telah terlibat dalam perubahan iklim baru-baru ini, berpotensi dalam perubahan iklim pada skala global di masa depan. Untuk ekosistem laut dan air tawar, meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca diperkirakan terjadi dengan meningkatnya suhu permukaan, pH yang rendah, dan menyebabkan perubahan pencampuran vertikal, upwelling, curah hujan, dan pola penguapan. Konsekuensi potensial dari perubahan ini untuk ganggang berbahaya (HABs) telah menjadi perhatian yang relatif sedikit dan tidak dipahami dengan baik. Peningkatan HABs di seluruh dunia dan potensi masalah yang lebih besar sebagai akibat dari perubahan iklim dan pengasaman laut, penelitian besar diperlukan untuk mengevaluasi asosiasi langsung dan tidak langsung antara HABs, perubahan iklim, pengasaman laut, dan kesehatan manusia. Penelitian ini akan memerlukan pendekatan multidisiplin yang memanfaatkan keahlian dalam klimatologi, oseanografi, biologi, epidemiologi, dan disiplin ilmu lainnya.

Spesies HA hanya merupakan komponen kecil dari komunitas fitoplankton, dan tanggapan masing-masing untuk variasi dan perubahan iklim dapat berbeda dari komunitas fitoplankton secara keseluruhan. Di laut, HA yang merupakan hal yang penting bagi sindrom keracunan yang melanda masyarakat adalah diatom dari genus Pseudo-Nitzschia (amnesia), dan spesies dinoflagellata dari Alexandrium genera, Pyrodinium, dan Gymnodinium (paralitik), Karenia (neurotoksik, dan aerosol Florida red tide sindrom pernapasan), Dinophysis dan Prorocentrum (diarrhetic), dan Gambierdiscus (keracunan ikan ciguatera). Pada air tawar, HABs paling penting disebabkan oleh beberapa spesies cyanobacteria (ganggang hijau biru) dari genus Anabaena, Microcystis, dan Aphanizomenon (keracunan cyanobacterial) (Kite-Powel et al., 2008). Dalam kedua laut dan sistem air tawar, bagi manusia dan hewan lain, paparan racun HA hasil dari makan ikan atau kerang yang terkontaminasi, minum air yang terkontaminasi, menghirup aerosol yang terkontaminasi, atau dengan menghubungi air yang terkontaminasi.

Selama bulan Agustus dan September 2007, Chesapeake Bay di Amerika dan anak-anak sungainya mengalami blooming Cochlodinium polykrikoides (> 104 sel per mililiter) yang berlangsung hingga menembus ke Samudra Atlantik. Terjadinya blooming bertepatan dengan periode curah hujan yang intens dan limpasan stormwater setelah periode kekeringan musim panas berlarut-larut. Bukti genetik menunjukkan spesies ini berbeda dari banyak strain Asia, tetapi mirip dengan strain Amerika Utara lainnya. Populasi didominasi oleh C. polykrikoides mengambil berbagai senyawa nitrogen untuk mendukung pertumbuhan mereka dan mampu memobilisasi tambahan sumber nutrisi organik melalui hidrolisis peptida. Bioassay menetapkan bahwa C. polykrikoides berpengaruh pada ikan dan kerang remaja, menyebabkan 100% kematian ikan remaja (Cyprinodon variegates) dalam waktu kurang dari 24 jam dan kematian 20% di Amerika tiram remaja (~ 21 mm, Crassostrea virginica) dalam waktu 72 jam (Mulholland et al., 2009).

Migrasi vertikal diurnal Cochlodinium polykrikoides juga menyebabkan pasang merah di pesisir perairan Laut Timur Korea/Laut Jepang pada bulan September 2003. Kejadian ini kemudian diperiksa dengan menentukan perubahan waktu yang tergantung pada kepadatan hidup
sel dalam kaitannya dengan kedalaman kolom air kedalaman 1400 – 1500 m. Hasil ini menunjukkan bahwa konsumsi nutrient terkait dengan proliferasi C. polykrikoides selama pasang merah lebih banyak dipengaruhi oleh sumber daya nitrogen anorganik daripada senyawa fosfor (Kim, 2010).

Pertumbuhan penduduk telah mengakibatkan peningkatan jumlah total limbah yang dihasilkan. Akibatnya, kebocoran dan meluap tangki septik telah menjadi sumber utama kelebihan nutrien. Nutrisi septictank dapat larut ke dalam air tanah dan mengalir ke badan air yang secara drastis meningkatkan fosfor dan tingkat nitrogen (Barile, 2004). Dengan merenovasi, mengganti dan memperbaiki septic tank dan memperbaiki kualitas sungai, tingkat gizi dapat dibatasi dalam badan air yang pada gilirannya juga akan mengurangi HABs.

Bryan W. Brooks (2012) profesor ilmu lingkungan dan studi biomedis di Baylor dan direktur program pascasarjana ilmu lingkungan dan program ilmu kesehatan lingkungan, dan tim risetnya menemukan bahwa tingkat pH netral mencegah pengembangan blooming ganggang dan toksisitas ganggang itu sangat berkurang. Para peneliti sekarang dapat mengidentifikasi kapan dan di mana blooming berbahaya mungkin terjadi dan mengembangkan solusi untuk meminimalkan dampak dari ganggang emas. Menurut Brooks, blooming  ganggang emas tampaknya berasal di teluk-teluk kecil yang mengalami arus masuk lebih rendah dari aliran waduk utama, teluk-teluk kecil dapat mewakili unit manajemen yang lebih masuk akal untuk menciptakan habitat dan berpotensi mendahului pembentukan blooming.

Secara khusus, upaya penelitian masa depan harus fokus pada pengembangan empiris, teoritis, dan numerik model simulasi untuk mengintegrasikan pengamatan, pengujian dan memvalidasi hipotesis, dan membuat perkiraan risiko kejadian HAB dan dampaknya terhadap kesehatan manusia. Model tersebut akan memerlukan pengukuran simultan parameter lingkungan fisik dan biologis yang dibuat melalui pemantauan rutin dan konsisten, dan identifikasi endpoint kesehatan masyarakat dan lingkungan. Untuk meneliti potensi ini konsekuensi dari perubahan iklim, tipe baru gabungan penelitian oseanografi-epidemiologi yang membahas rentang waktu yang sangat lama dan skala geografis yang luas akan dibutuhkan (Moore et al., 2008).

Hal ini layak diperjuangkan mengingat besarnya potensi di Provinsi Lampung dan pesatnya perkembangan industri perikanan di Lampung. Disamping itu, perkembangan industri disekitar Teluk Lampung juga merupakan ancaman. Pelaku pencemaran lingkungan ‘disandung’ dengan Undang-Undang No. 45 Tahun 2009 Tentang Perikanan dan Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup. Disepanjang Teluk Lampung terdapat setidaknya dua belas perusahaan. Disadari atau tidak, perkembangan industry diwilayah pesisir juga berkontribusi dalam pencemaran diwilayah Lampung. Selain itu pencemaran dapat juga disebabkan oleh empat belas sungai yang bermuara di Teluk Lampung. Kelemahannya adalah, kadar pencemaran dan kalkulasi pertanggungjawaban perusahaan-perusahaan tersebut seperti apa seharusnya. Perusahaan-perusahaan tersebut juga sangat perlu menaati aturan Instalasi Pembangunan Air Limbah (IPAL) yang baik.

Ganggang berfotosintesis dan menyerap karbon. Hal ini terkiat dengan pemanasan global yang disebabkan oleh peningkatan tingkat karbon dioksida dapat memiliki efek buruk pada ekosistem global dan manusia. Pemanasan global yang tidak terkendali tentu saja membutuhkan pemecahan sebagaimana terus dilakukan oleh orang-orang diberbagai belahan dunia. Sebelum pemerintah berkomitmen untuk mendorong upaya melawan HABs, manfaat dan biaya penanggulangan pemanasan global harus diperhitungkan. HABs dapat menyebabkan hipoksia, kematian, dan membunuh ikan di lingkungan laut dan sulit bagi ekosistem untuk pulih dari bencana ekologis. Sementara itu, global warming adalah masalah pada skala sekian gigaton karbon dioksida. HABs tidak memiliki cukup biomassa untuk mengurangi efek berbahaya dari Pemanasan Global dalam kapasitas yang signifikan. Sebagai kerusakan ekosistem lokal melebihi manfaat bagi ekosistem global, HABs harus dicegah untuk meningkatkan kesehatan lingkungan global.

Pendanaan untuk pemantauan HAB dan program peramalan harus ditingkatkan dalam rangka untuk peringatan dini dan menghindari kerusakan bioakumulasi neurotoksin dalam makanan laut. Salah satu caranya aja menghindari nutrisi yang berlebihan. Apakah mungkin bahwa petani tidak akan menggunakan pupuk kimia buatan karena dikhawatirkan akan menghasilkan hasil panen pertanian dan perkebunan yang lebih rendah dan harga komoditas lebih tinggi. Membatasi penggunaan pupuk juga akan secara signifikan merugikan industri agrichemical, namun hal ini menjadi solusi untuk HABs.

Memelihara dan penanaman kembali hutan dan lahan basah akan menjadi upaya yang nampaknya layak untuk mengendalian nutrisi. Ekosistem ini menyerap nutrisi, memulihkan lingkungan, dan menyediakan habitat bagi satwa liar. Sementara limpasan air yang bernutrisi juga berasal dari peternakan dan pabrik. Sehingga perlu dilaukan penciptaan model untuk memprediksi dan memantau HABs dan dengan mempertahankan ekosistem alam serta membatasi aliran nutrisi ke badan air, dengan demikian dampak ekonomi HABs dapat dihindari.

Teluk Lampung tidak hanya besar karena di dalam Teluk Lampung ini juga terdapat teluk-teluk kecil yang  tersebar banyak pada bagian barat, sepeti Teluk Ratai, Teluk Punduh, dan Teluk Pidada.  Selain itu juga, Teluk Lampung merupakan satu-satunya teluk yang dimiliki Provinsi Lampung yang hingga kini masih bertahan karena harus menopang segala perikehidupan masyarakat Lampung dengan segala perilaku dan kebiasaan hidup yang cenderung banyak merugikan bagi lingkungan Teluk Lampung.  Di sepanjang wilayah perairan Teluk Lampung ini merupakan pusat segala kegiatan masyarakat di Provinsi Lampung, baik kegiatan dari rumah tangga, industri, perdagangan, dan perikanan yang mau tidak mau akan memberikan kontribusi besar terhadap penurunan kualitas perairan Teluk Lampung. Sampai kapankah Teluk Lampung mampu bertahan terhadap aktivitas masyarakat yang cenderung merusak tersebut?





Satu hal yang masih saya yakini adalah bahwa segala sesuatu yang tidak baik pasti dapat diubah menjadi baik, yang terpenting haruslah ada niat dan upaya untuk memperbaikinya. Angan untuk memiliki pantai yang bersih, rapi, dan sehat juga akan menghindarkan kita dari bahaya yang disebabkan oleh bencana ekologis. Demikian juga dengan kondisi sungai-sungai yang bermuara kelaut. Saya ingat betul bagaimana kondisi pantai ketika saya melakukan ‘blusukan’ pantai di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Setidaknya kondisinya masih jauh lebih baik dan potensi wisata masih terus digalakkan, khususnya membidik wisatawan mancanegara yang hobi berselancar. Belum lagi ketika saya menginjakkan kaki di Pantai Selatan Pulau Jawa, khususnya Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Ada kebanggaan dan kepuasan tersendiri melihat ikan-ikan berenang bebas dan pasir pantai yang bersih meski harus melewati tebing-tebing karst dan semak-semak untuk mencapainya. 
Impian ini mungkin agak sulit lantaran berkenaan dengan masalah sosiologi dan lingkungan. Masyarakat pesisir sudah terbiasa hidup sedemikian rupa dan memiliki pola pikir yang sangat sulit diubah. Hal ini menyangkut budaya masyarakat yang belum mampu menghadirkan kesadaran untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Gerakan massal digadang-gadangkan mampu mengubah pola hidup seperti ini. Hal ini sudah pernah dilakukan oleh teman-teman aktivis lingkungan hidup yang melakukan program di tiga belas kelurahan di Pesisir yang bekerjasama dengan Pemerintah Kota Bandar Lampung. Sesekali kami masih saja memergoki adanya masyarakat kampong nelayan yang membuang sampah kelaut. Hal ini juga didukung oleh posisi rumah yang membelakangi laut sehingga mereka kurang aware terhadap kondisi laut disekitar rumahnya. Masyarakat juga cenderung matrealis sehingga dibutuhkan dukungan materi selain daripada upaya turun tangan dari berbagai elemen masyarat. 
Selain itu juga masyarakat pantas berharap kepada perusahaan-perusahaan untuk dapat ambil bagian sebagai bentuk tanggungjawab mereka terhadap aktivitas perusahaan yang sedikit banyak berpengaruh terhadap penurunan kualitas lingkungan. Masih lekat dalam ingatan saya ketika saya pernah mengikuti kegiatan kunjungan mahasiswa terbaik yang disponsori oleh salah satu perusahaan. Disana kami melakukan penanaman mangrove, memunguti sampah dipantai, dan mendapatkan edukasi dari pihak perusahaan. Terlepas dari niat untuk pencitraan perusahaan, saya piker hal itu patut dicontoh oleh perusahaan-perusahaan lain. Tentu saja hal ini tidak luput dari peran masyarakat, terutama masyarakat pesisir sebagai komunitas terdekat dari pantai.




Referensi:
Barile, Peter J. "Evidence Of Anthropogenic Nitrogen Enrichment Of The Littoral Waters Of East Central Florida." Journal Of Coastal Research 20 (2004): 1237-245.
Baylor University (2012, December 20). Low Ph Levels Can Eliminate Harmful Blooms Of Golden Algae, One Cause Of Massive Fish Kills. Sciencedaily. Retrieved July 16, 2013, From Http://Www.Sciencedaily.Com­ /Releases/2012/12/121220161753.Htm
Kim Young Sug, Chang Su Jeong, Gi Tak Seong, In Sung Han And Young Sik Lee2. 2010. Diurnal Vertical Migration Of Cochlodinium Polykrikoides During The Red Tide In Korean Coastal Sea Waters Journal Of Environmental Biology September 2010, 31(5) 687-693. Triveni Enterprises, Lucknow (India)
Kite-Powell H, Fleming LE, Backer L, Faustman E, Hoagland P, Tsuchiya A, Younglove  L:Linking The Oceans To Public Health: What Is The "Human Health" In OHH. Environ Health 2008, 7(Suppl 2):S6. Http://Www.Ncbi.Nlm.Nih.Gov/Pubmed/19025677?Dopt=Abstract&Holding=F1000,F1000m,Isrctn
Moore et al. 2008. Impacts Of Climate Variability And Future Climate Change On Harmful Algal Blooms And Human Health. Proceedings Of The Centers For Oceans And Human Health Investigators Meeting. Http://Www.Ehjournal.Net/Content/7/S2/S4
Mulholland, Margaret R. & Ryan E. Morse & George E. Boneillo & Peter W. Bernhardt
&Katherine C. Filippino & Leo A. Procise & Jose L. Blanco-Garcia & Harold G. Marshall & Todd A. Egerton & William S. Hunley & Kenneth A. Moore & Dianna L. Berry & Christopher J. Gobler. Estuaries And Coasts. Understanding Causes And Impacts Of The Dinoflagellate, Cochlodinium Polykrikoides, Blooms In The Chesapeake Bay. DOI 10.1007/S12237-009-9169-5

Sunset di Dermaga Boom Kalianda


Pelelangan Ikan Dermaga Boom, Kalianda


Pantai Sapenan, Kalianda
















Dermaga Boom, Kalianda : Pantai bersih, sehat, masyarakat sehat  sejahtera
Pantai Teluk Kiluan

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<