Sunday, September 1, 2013

Transportasi Umum Di Jogja (Belum) Berhati Nyaman

Udah lama banget sebenarnya saya pengen curhat tentang transportasi, tapi selalu ada aja alasannya ini-itu. Sekarang saya terinspirasi dari kerjaannya temen-temen Riset AngkotDay dan teteh kece ini yang menulis curhatannya tentang Angkot. Meski sampe sekarang saya belum sempat untuk kopi darat, tapi jujur doi dan teman-temannya sangat mengisnpirasi. Semoga someday kita bisa ketemu dan 'berbuat sesuatu' , ya, teh :)

Bercerita tentang angkot, saya sebenarnya agak kaget sekaligus sedih karena setibanya saya di Jogja dan harus stay dikota ini kurang lebih selama dua tahun, saya harus mengakui bahwa dikota ini saya tidak mudah mendapatkan angkot. Di Lampung, khususnya Kota Bandar Lampung, dengan mudah saya bisa naik angkot kemanapun saya pergi. Sewaktu jaman kuliah, sampai lulus dan berkegiatan di Walhi Lampung, bahkan sampai saya (sempat) bekerja sebagai reporter, saya tetap menggunakan angkot.
Selain angkot di Lampung tersedia dalam jumlah yang sangat mencukupi, apalagi ditambah angkutan Trans Bandar Lampung, sangat mudah untuk memanfaatkan sarana transportasi umum. Meski terkadang angkotnya ugal-ugalan, terkadang malah saya meng-update lagu-lagu terkini didalam angkot. Mungkin banyak yang tahu, meskipun make over body angkot di Lampung nggak seheboh angkot di Kota Padang, tapi di Bandar Lampung kebanyakan angkot dilengkapi dengan soundsystem canggih yang sebenarnya memakan tempat.  Tapi inilah yang justru menariknya angkot di Kota Tapis Berseri ini. 

Saya tinggal bersama nenek saya di Kabupaten Pesawaran sehingga untuk pergi ke Bandar Lampung (kampus atau kantor Walhi) saya harus menempuh perjalanan sejauh dua puluhan kilometer. Jika tidak naik angkot, saya bisa naik bus dengan fasilitas yang sama (full music). Dengan dua pilihan jenis angkutan umum ini, saya tentu tidak perlu berpikir panjang untuk naik angkutan umum kemanapun saya pergi. Dengan jarak tempuh sejauh itu, saya bisa memanfaatkan waktu sekitar hampir satu jam (belum termasuk ngetem dan dioper angkutan) dengan tidur, membaca buku, atau sekedar mensyukuri nikmat Ilahi. 

Banyak pelajaran yang saya dapatkan selama saya naik angkutan umum. Mulai dari kecopetan ketika saya akan membayar SPP yang membuat tas baru saya yang berwarna biru itu robek, Al Quran dan kotak pensil berhamburan keluar, namun alhamdulillah uang SPP terselamatkan. Berikutnya banyak yang bisa saya lakukan untuk orang lain, misalnya membantu orang menaikkan barang bawaan, memberikan tempat duduk untuk orang tua dan difabel, atau sekedar mendengarkan curhatan orang lain. Tidak jarang juga saya mendapat teman baru ketika naik angkutan umum. Alhamdulillah beberapa dari teman dadakan saya itu masih terjaga silaturahminya hingga kini. Semoga memperpanjang usia dan rejeki :)

Berbeda dengan kondisi ketika saya baru datang di Jogja untuk tinggal cukup lama. Pertanyaan kawan-kawan yang muncul adalah "Kamu bawa motor, Nda?", "Gimana kalau mau kesana kemari, urus ini-itu kalau nggak punya motor?" dan masih banyak lagi. Semua itu membuat saya pesisimis dan berpikir "seberapa parah, sih, sarana transportasi di Jogja?" Ternyata benar saja, saya harus memesan taksi, ojeg, atau berjalan cukup jauh untuk mendapatkan angkutan umum, atau menunggu lama karena angkutannya ngetem. Itupun angkutan yang tersedia berupa elf atau bus dengan kondisi yang memprihatinkan. Selain kurang nyaman, asapnya juga nggak nahan. Ada sih Bus Trans Jogja yang dilengkapi dengan AC sejenis Bus Trans Bandar Lampung atau Trans Metro Bandung, atau Trans Jakarta mini, tapi itu juga shelter-nya sulit dijangkau (menurut tujuan saya bepergian).

Untuk mengantisapasi kesulitan transportasi, saya juga menerapkan prinsip @nebengers namun ternyata itu juga sulit karena aktivitas saya dan teman-teman tidak sama. Karena saya kuliah dibantu oleh beasiswa, maka ketika beasiswa saya masuk kerekening dibulan kedua saya kuliah (16 Oktober  2012) saya langsung membeli sepeda. Saya membeli sepeda lipat, dengan alasan jika saya bersepeda jarak jauh dan saya kecapean, saya bisa melipatnya untuk memudahkan diangkut kedalam bus atau taksi. Hal ini juga karena jalur bus hanya di beberapa jalan besar saja, sehingga saya tetap membutuhkan sepeda daripada berjalan kaki. Mungkin kawan-kawan sudah pernah nonton film Premium Rush , nah saya merasa seksi nih kalau sudah bercucuran keringat setelah bersepeda. Hihihiii...

Di Jogja juga banyak komunitas dan kegiatan bersepeda seperti yang ada setiap Jumat malam pada akhir bulan, ada yang namanya Jogja Last Friday Ride (JLFR). Dalam aksi yang tidak pernah diumumkan secara resmi namun mampu menghadirkan ribuan sepeda (saya pikir) ini saya bisa 'balas dendam' kepada para pengendara sepeda motor atau mobil yang biasa menyerobot jalan khusus sepeda. Bersepeda dikota ini membuat saya was-was. Kalau cuma dari kos ke kampus sih nggak masalah, tapi kalau sudah dijalan raya, benar-benar kalah oleh kendaraan bermotor rasanya.

Saya kembali menghafal plat nomor polisi kendaraan bermotor dari berbagai daerah yang lengkap semuanya ada disini. Dari yang memang pembalap sampai yang mendadak naik motor karena butuh dan punya, meski belum mahir. Ada yang melaju dengan kencang tanpa hambatan, ada pula yang bunyinya masih dit...ditttt...diiiiitt...karena masih belum lunas kredit. Semuanya ada disini. Bikin penuh, sumpek, (menjelang) macet dan tentu saja polusi. Sampai berbagai kebijakan kampus (UGM) terus bergant untuk mengatasi hal ini. Mulai dari pemberlakuan KIK sampai mencantumkan butir kesanggupan tidak akan membawa kendaraan bermotor bagi mahasiswa baru pun tetap diabaikan. Parkiran tetap saja penuh. Miris.

Saya ingat sewaktu pagi-pagi saya akan pergi kekampus setelah menginap di mess Walhi Jogja, saya menunggu bus di Shelter Trans Jogja. Cukup lama saya menunggu sehingga saya sempat mengobrol cukup banyak dengan seorang pensiunan pejabat UGM. Beliau bercerita bagaimana kondisi kondusifnya Jogja pada masa lalu. Beliau mengumpat ketidakseriusan pemerintah setempat dalam mengantisipasi masalah transportasi ini. Beliau terlihat sedih sekali.

Memang benar, semua harus dimulai dari diri sendiri. Kesadaran akan pentingnya keberadaan dan pemanfaatan sarana transportasi umum juga tidak lepas dari peran pengelola daerah. Semoga Jogja segera bangun dari tidur dan melakukan upaya pencegahan agar tidak seperti Jakarta atau macetnya Bandung diakhir pekan. Semoga Jogja benar-benar membuktikan bahwa ia berhati nyaman. Saat ini belum nyaman wong saya masih homesick dan nggak betah di Jogja. Namun pasti nanti kalau saya sudah lulus dan jauh dari Jogja, saya akan kangen Jogja dan kenangan yang tercipta. Hehe... Semoga.

2 comments:

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<