Thursday, September 12, 2013

Aku Istimewa

I am not that smart, rich, nor that beautiful. I am just an ordinary girl with THAT LUCK!!!

Aku manusia paling lemah dan tidak berdaya. Aku makhluk fana yang hanya punya vagina dan payudara. Aku bahkan hanya bisa menunggu, tanpa bisa berseru. Aku juga tidak punya cairan yang bisa membuatku tampak perkasa. Aku beginilah adanya.

Terlahir dengan kulit putih dan mata sipit yang kemudian berubah drastis lantaran kesenanganku bermain bersama matahari. Aku lupa entah sejak kapan kulitku jadi gelap permanen. Mata belok, hidung mancung kedalam, alis berantakan, rambut awut-awutan akibat dulu terlalu sering bersentuhan dengan hair spray. Kupikir dengan cairan yang selalu disemprotkan kerambutku oleh penata rias kampung itulah syarat mutlak mendapatkan riasan rambut terbaik pada masa itu.

Dengan gambaran seperti diatas pun semua orang sudah tahu kalau aku ini tidak cantik. Bahkan aku pun tidak fotogenik. Bibir tebal dan gigi menonjol akibat terlalu bandel dimasa lalu. Aku ingat bagaimana orang tuaku bercerita tentang aku yang tidak lepas dari ngenyot botol susu dan sulit diatur ketika ada gigi yang tanggal. Tapi paling tidak aku punya rencana, pergi ke dokter ortho untuk membenahi rahangku. Setidaknya agar efek buruknya tidak sampai mengganggu kerja dan susunan saraf. Tapi apa boleh buat, tabunganku belum pernah bertahan sampai lebih dari enam bulan.

Aku juga tidak pintar. Terfasilitasi dengan sarana yang minim karena hidup dikampung membuat kedua orangtuaku berpikir keras agar aku tidak lantas menjadi terbelakang dan kampungan. Les Bahasa Inggris yang kuikuti tiap hari minggu aku tempuh dengan bersepeda. Kemudian Bapak harus mengantar dan menungguiku les matematika seminggu dua kali sampai malam. 

Aku juga beruntung  tinggal didepan Pondok Pesantren. Aku bisa bebas bergaul dengan para santri. Menjadi murid termuda sekaligus berprestasi dikelas madrasah. Mendapat juara tiga hafalan kitab aku juga sudah bangga. Aku harus menahan malu jika sampai tengah malam aku masih mempersiapkan imtihan, semacam ujian kenaikan kelas, karena aku sering dijemput oleh bapak atau ibu sebelum jam ujian berakhir.

Aku juga sering bolos sekolah. Dengan alasan liburan kerumah nenek yang bisa diperpanjang sampai beberapa hari. Bolos atau memotong rute lari jarak pendek ketika pelajaran olahraga. Atau mendebat guru karena tidak sepaham denganku. Aku bukan pintar. Aku hanya beruntung. Beruntung ada kesempatan.

Orangtuaku juga tidak kaya. Bahkan kami dulu pernah tinggal diperumahan inventaris sekolah. Oh, iya, orangtuaku adalah guru sekolah dasar yang ditugaskan didaerah cukup terpelosok. Kami tidak punya saudara kecuali orang yang berbaik hati mau menjadi saudara kami hingga kini. Jauh sejak belum ada aku. Setelah aku masuk TK, kami baru pindah kerumah baru milik orangtuaku sendiri. Rumah geribik yang nyaman. Ada pohon jambu air didepan rumah. Bapak juga menanam pohon belimbing, jambu air, srikaya, mangga, dan lain-lain. Bapak juga membuatkan kami sebuah miniatur gunung yang dibuat dari gundukan tanah yang ditutup rumput jepang, dihias bunga-bunga dan bonsai. Ada juga pohon cemara. Rumah kami sejuk dan nyaman. Ibu juga sering menanam beberapa jenis tanaman sayur. Bahkan sempat ada yang sampai bisa dijual kewarung. Lumayan bisa untuk membeli jajan kami. 

Aku bukan dibesarkan dalam keluarga yang bermewah-mewahan. Kami harus berhemat segalanya. Kami harus menekan keinginan untuk mempunyai TV dengan layar besar. Cukup TV 14 inch yang ditonton bersama tetangga kami. Aku juga tidak berlangganan majalah anak-anak. Bapak dan ibu sering membawakan majalah dan buku-buku yang dipinjam dari sekolah. Aku juga mendapat majalah bekas baca dari sepupu yang berlangganan. Kami tidak pernah ketinggalan informasi. Sampai akhirnya aku bisa membeli majalah sendiri.

Karena itulah aku seirng krisis kepercayaan diri. Sudah tidak cantik, tidak pintar, tidak kaya, hidup lagi! Hih!

Aku sering iri melihat penampilan mereka. Lantas apa yang bisa kuperbuat? Untuk beli krim pemutih aku belum mampu. Beli yang murah? Aku tidak mau menanggung resiko. Rambut juga jadi rusak akibat riasan jaman kecil ketika menari. Dulu sempat dicoba beberapa alternatif herbal, tapi ternyata tidak mempan. Beruntung Allah menyuruhku berhijab. Jadi tertutup, deh. 

Ups, belum lagi kelar masalah penampilan dengan tertutupnya rambut. Sekarang banyak sekali modifikasi hijab. Tentunya itu juga cocok tidak cocok dengan relief wajah dan warna kulit. Sialnya aku, kan, makhluk nihil!

Lalu kenapa cantik selalu jadi primadona. Perempuan-perempuan diluaran sana yang terkutuk jadi cantik bisa dengan mudah mendapatkan segalanya. Kesempatan, prestasi, teman, pacar, pekerjaan. Oh, dunia terasa makin tidak adil. Ada yang sudah cantik, pintar, kaya, fashionable, punya pacar keren, solehah, baik, hidup damai, bahagia, sejahtera!

Alangkah mulusnya hidup mereka. Tapi menurutku, cantik itu bisa diusahakan. Kalau punya duit, tentunya. Banyak perempuan yang sebenernya enggak banget kalau harus dibilang cantik, tapi karena dia berduit, makanya bisa kelihatan cantik. Dia bisa beli kosmetik yang harganya setinggi langit, beli behel, beli pelangsing, beli baju bagus, tas dan sepatu yang trendi, juga tongkrongan keren. Meski begitu mereka akan selalu dipertahankan, pacarnya nggak akan berani bilang cantik kepada perempuan lain. Atau mengomentari kalau perempuan lain lucu dan menggemaskan. Karena pacarnya sudah cukup sempurna segala-galanya meski mengada-ada.

Tapi masa iya lantas aku tidak patut dipertahankan?! Banyak perempuan sempurna diluaran sana. Tapi aku juga tahu, pasti ada perempuan-perempuan yang ingin menjadi aku. Dengan segala keberuntunganku. Aku cukup menjadi istimewa. Itu saja. Ya, jadi cantik juga mau sih suatu hari nanti. Asal tidak melawan takdir dan mengubah pemberian dari Allah.Yang penting, aku istimewa, beda, dan berbahaya!



No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<