Monday, November 11, 2013

Bersama Pulihkan Bumi


“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar Rhum : 41)


Berbagai dampak perubahan iklim tidak terlepas dari perilaku manusia. Oleh karena itu diperlukan tindakan nyata untuk mencegah terjadinya permasalahan ekologi. Jika tidak segera diatasi, permasalahan ini akan menimbulkan krisis ekologi yang lebih kompleks lagi. Permasalahan ekologi merupakan permasalahan global yang tidak dapat diatasi oleh perorangan, kelompok, tetapi permasalahan ekologi ini harus kita atasi bersama.


Gaya hidup go green dengan bersepeda, misalnya. Manusia jaman sekarang dituntut untuk dinamis dengan mobilitas tinggi. Selain jarak dan medan yang ditempuh, waktu juga jadi pertimbangkan dalam pemilihan alat transportasi. Bike to work atau bike to school mungkin akan baik diaplikasikan untuk jarak dan waktu tempuh yang relatif pendek. Namun jika belum bisa, paling tidak bike to warung, bike to tetangga instead of naik motor.


 Bike to campus dan sekitarnya

Selain mengurangi emisi gas buang kendaraan bermotor, dengan tidak menggunakan kendaraan pribadi dan memilih menggunakan angkutan umum juga merupakan bagian dari upaya penghematan energi. Dengan demikian tidak perlu lagi mempermasalahkan bahan bakar yang harganya melambung, atau pencabutan subsidi bahan bakar.

Disamping itu, anak kos seperti saya cenderung memilih apapun yang simpel. Dengan semakin mudahnya pemenuhan kebutuhan saat ini, ancaman sampah menjadi semakin nyata. Malas masak dirumah, beli makan diwarung dan dibawa pulang. Jika pembeli tidak menggunakan misting (wadah makan) tentu memerlukan pembungkus makan yang kemudian menjadi sampah. Banyak juga kawan yang selalu membawa goodie bag atau tas pakai ulang lainnya kemanapun ia pergi sehingga tidak perlu memasukkan belanjaan kedalam kantong plastic.

Dengan alasan kepraktisan dan penampilan, saat ini bermunculan restoran yang identik dengan bungkus plastik atau styrofoam. Selain menimbulkan permasalahan pengelolaan sampahnya, penggunaannya juga tidak baik bagi kesehatan. Terlebih plastik yang kontak langsung dengan makanan yang kita makan. Bahan kimia dalam plastik akan terurai dan bermigrasi kedalam makanan. Untuk itu, saya melakukan penghematan penggunaan kantong plastik. Jika kita minum ditempat, mengapa harus memakai sedotan? Begitu juga dengan kemasan air minum sekali pakai. Bukankah lebih baik membawa tumbler (wadah air minum) yang dapat dipakai ulang?

Hidup seorang diri membuat keperluan juga sedikit. Tidak jarang orang lebih senang membeli produk dalam kemasan kecil. Tentu akan lebih bijak jika kita membeli produk yang dapat diisi ulang (refill). Harganya juga biasanya lebih murah jika membeli produk dalam kemasan lebih besar. Dalam UU Nomor 18 tahun 2008 telah jelas bahwa kita harus mengurangi sampah dari awalnya. Menurut saya, sampah kemasan adalah tanggungjawab dari produsen. Konsumen tidak membeli kemasannya, tapi hanya membeli isinya. Berbagai upaya dari berbagai pihak sebenarnya telah banyak sekali dilakukan untuk mengatasi permasalah ini. Upaya tersebut terkadang kurang sustain atau yang terkesan jalan ditempat dan hanya menyentuh pihak tertentu saja. Prodesen dituntut untuk tidak hanya focus terhadap konsumen (people) dan profit saja, melainkan profit, people, and planet.

            Green lifestyle juga erat kaitannya dengan menjaga kesehatan. Tidak cukup makan empat sehat lima sempurna, tapi perlu diperhatikan juga bagaimana asal usul makanan itu. Air yang kita minum, tanaman pertanian, juga hewan ternak, semuanya adalah bisa saja menjadi racun yang menjadi sumber berbagai penyakit dalam tubuh kita. Lebih baik lagi jika kita bisa menanam sendiri di sekitar rumah kita. Berkebun dirumah juga akan menambah keasrian lingkungan. Banyak pilihan metode berkebun yang saat ini marak dikembangkan, seperti vertikultur atau hidroponik untuk lahan sempit. Sampah organik juga bisa dijadikan pupuk, daripada dibuang sia-sia. Sampah organik jika dibiarkan menumpuk dan tidak diolah secara bijak juga akan menghasilkan gas metan yang juga merupakan salah satu Gas Rumah Kaca (GRK). Saya menggunakan sisa cabai, tomat, dan lain-lain dari dapur untuk ditanam didalam pot dari plastik dan botol bekas.
  

Menanam sayur mayur didepan kamar kos memanfaatkan sampah




Malas mencuci, dimasukkan saja ke laundry. Laundry terkadang menggunakan deterjen yang bersifat ‘keras’ sehingga berbahaya untuk si konsumen dan juga lingkungan. Untuk itu, sebagai konsumen, saya juga harus berhati-hati. Pemerintah juga harus memperketat pengawasan terhadap pembuangan air limbah. 

Going green is not that simple, memang. Kuncinya hanya tekad. Jika kita tidak dapat mengurangi polusi yang diracunkan oleh manusia kepada bumi, paling tidak kita tidak menambahnya. Meski belum bisa memulai aksi yang besar, tapi paling tidak kita mulai dari diri sendiri dan dari hal yang kecil untuk memulihkan bumi kita.




Tulisan ini diikutsertakan dalam Give Away Launching Buku Rumah Bersih Alami yang diadakan oleh Limbah Rumah Bersih.

4 comments:

  1. Hebat juga anak kos mau nanem sayur :). Manfaatkan sampah untuk menanam itu ide bagus. Jadi gak usah selalu beli pot baru, ya? :D

    ReplyDelete
  2. Benar sekali, ini ada beberapa pot tanaman cabai yg sudah mau berbuah :)

    Pot memanfaatkan sampah yg dihasilkan oleh para tamu yg suka datang bawa air mineral :D

    ReplyDelete
  3. Mbak, mksh udah berpartisipasi di acara LRB ini :). Saya tunggu alamat lengkap dan nomor HP dikirim ke limbahrumahbersih@yahoo.co.id. Nanti ada hadiah untuk Mbak ;). Tunggu pengumuman pemenang utama di blog LRB tanggal 21 Desember nanti ;).

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<