Monday, November 25, 2013

First Day of Struggle

Bukan benar-benar hari pertama riset sebenarnya. Hanya saja ini hari pertama memulai riset dengan rencana kerja yang semakin kompleks dan suasana baru. Risetku sendiri telah kumulai sejak Juni lalu bersama dua adik tingkat S1 yang satu tim program denganku, dan satu lagi beda program namun tetap satu tema. Kami senang bekerja bersama. Hingga akhirnya aku (dan dosen-dosen pembimbingku) mulai menemukan alur yang tepat. Juga metode kerja yang sulit. Hmm... aku tidak bisa melakukan penelitian ini di gedung fakultasku. Aku melakukannya digedung lain. Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi lumayan karena harus melewati jalanan kota  yang semakin runyam. 

Kau tahu bukan, aku  tidak pernah suka lalulalang kendaraan yang semakin hari semakin padat dan 'ngawur' dikota ini?! Itu membuatku stress juga flu karena emisinya. 


Sebenarnya juga ini bukan hari pertamaku lantaran aku sudah sering bolak-balik kegedung ini. Sejak dua bulan lalu tepatnya. Ketika aku mendapatkan deadline harus menyelesaikan laporan keuangan tanggal 27 September dan baru diberi tahu dua hari sebelumnya. Itupun ketika aku (dosen dan adik-adik) tengah menjadi panitia seminar internasional. Agak gila dan nekat memang. 


Sebetulnya tidak ada yang salah dengan gedung itu. Ya normalnya gedung milik kampus tertua di Indonesia. Kesan pertama yang kudapat dulu adalah: Angker. Kembali aku meyakinkan diriku berulang kali: "Bener lo mau riset disitu? Dari pagi buta sampe matahari udah pulang lagi elo masih mau ndekem disitu?" Tapi ya mau bagaimana lagi.  Aku sebenarnya mengutuk kampus tua yang membuatku serba kesusahan. Aku mencoba melupakan kesulitan-kesulitan terkecuali tesisku. Tapi untuk ini, aku harus benar-benar berjuang. Mondar-mandir dibeberapa lab dengan hasil nihil dalam pencarian alat dan bahan riset itu sudah biasa buatku. Setidaknya aku perlahan membuatnya biasa.

Pagi hari aku tiba di lab pukul delapan. Sambil membawa plastik besar berisi empat buah jerigen, lap, bahan, dan sebagainya serta backpack. Aku melangkah dengan riang karena aku telah mempersiapkan hariku ini sejak bebrapa minggu sebelumnya.  Terlebih persiapan ekstra kemarin. Termasuk aku pun telah meyakinkan bahwa alat yang akan aku gunakan telah benar-benar siap dan tinggal-pakai.

Aku memarkir Wimmy (sepedaku) didepan gedung. Orang yang pertama kali menyapaku adalah satpam berbadan sedikit bongkok tapi tetap terlihat atletis. Nah lo. 
"Nggak dikunci, mbak?"
"Oh...enggak. Kuncinya ilang, pak. Nggak akan kenapa-kenapa, kan, pak? Jagain, ya, pak!" Kataku sembari berlalu.

Kemudian aku memasuki lab dimana aku akan banyak bekerja. Aku menyapa dengan riang seorang ibu bertubuh sedikit besar namun dagingnya kendur. Ia sedang membaca koran. Dia salah satu teknisi di lab itu. Kemudian aku memasuki pintu lain diruangan kecil itu. Setelah melewati wastafel aku berbelok kekanan melewati lorong kamar-kamar yang suram dengan bunyi-bunyian mesin yang bising.

Aku berlalu dan menyapa seorang  lelaki yang kutaksir usianya sudah lewat angka emas. Dia juga sedang membaca koran.
"Selamat pagiiiii, pak!" Aku melongok kedalam ruangannya yang penuh dengan glassware.
"Pagi!" Katanya sambil membetulkan letak kacamata-(plus, maybe)-nya.

Ruangan yang kupakai berada diujung lorong itu. Cahaya matahari bisa masuk melalui pintu kaca yang terkunci disebelah utara. Aku bekerja disamping pintu itu.  Aku memilihnya karena seperti ada kehidupan disana. Bukan hanya ruang kosong, senyap, lembab dan angker yang dihuni tikus, serangga, dan entah apa lagi.

Diruang tempatku bekerja ada sekelompok mahasiswa yang sedang membuat pakan tikus. Pantas saja ruangan itu pengap dan bau. Rupanya diruangan itu banyak bahan-bahan pangan bernutrisi tinggi yang tentu saja digemari oleh segala jenis hewan disana. 

Kesan kedua yang kudapat setelah angker adalah: JOROK!

Aku menghela napas panjang. Panjang sekali. Kemudian aku mulai bekerja. Sembari membeli akuades, aku meyakinkan kembali kepada teknisi bahwa alat yang akan kupai telah siap. Aku mulai melakukan pengenceran asam sulfat dengan menyebut nama tuhan dan meminta pertolongan serta penjagaan. Setelah itu aku memotong kecil-kecil rumput laut yang telah kurendam selama 24 jam. Sembari aku menimbang dan memasukkan masing-masing 10 gram rumput laut yang tampak seperti kristal-kristal bening kecil itu kedalam erlenmeyer 100 ml, aku meminta teknisi untuk memanaskan shaker waterbath. 

Pertama, aku disuruh membersihkan sebuah waterbath yang kutahu tanpa shaker. Benda itu tampak kuno sekali. Usianya mungkin hampir sama denganku (lebay). Didalamnya banyak sekali benda berbentuk agak lonjong berukuran kurang dari satu sentimeter dan berwarna hitam. Bau sekali! Belakangan aku tahu bahwa itu adalah sisa dari pencernaan tikus. Terlalu. 
Ternyata aku benar, alat yang akan kupakai bukan itu karena itu tidak ber-shaker. Aku melenguh. Kudapati alat lainnya yang kuyakin lengkap dengan shaker dan suhunya bisa mencapai 100 derajat selsius. Kondisinya sedikit lebih baik daripada alat yang pertama. Namun masalahnya adalah tidak terdapat pengait didalamnya. Aku membutuhkan pengait erlenmeyer-ku yang bervolume 100 ml. Didalam alat itu hanya terdapat empat buah pengait untuk erlenmeyer 50 ml. Aku diminta menunggu seorang teknisi laki-laki yang berperawakan seram dan berkumis serta berjenggot. Kulitnya berwarna dan tatapan matanya dalam. aku tidak suka orang itu. 

Dia tidak berhasil menyediakan alat seperti yang aku butuhkan. Smentara hari semakin siang, hampir dzuhur. Aku diminta oleh ibu yang bertubuh tidak tinggi tadi untuk meminjam dari lab mikrobiologi dilantai dua. 

Setelah berbincang dengan teknisinya, kami berdua mencari alat yang kumaksud kesegala penjuru lab. Dia baik hati, tubuhnya ramping dan tidak terlalu tinggi. Dia memakai kemeja batik dan celana bahan yang kedododoran, kulitnya juga berwarna. Selalu tersungging senyum dan nampaknya dia orang Jogja asli. Kami menemukan beberapa buah alat, namun tidak lengkap. Hanya tersedia 3 buah skrup untuk 11 alat. Aku langsung turun kebawah dan melaporkan kepada ibu teknisi yang sedang membaca koran sembari mengobrol dengan ibu-ibu lain yang juga mengenakan jilbab, tapi badannya lebih ramping dan tinggi. Aku disuruhnya meminta bantuan bapak tua yang merupakan kepala lab itu. Bapak itu baik. Hanya terkesan cool saja. Jika membantu dia juga tidak berhenti tersenyum. Tapi terkadang aku harus melebarkan telingaku jika dia berbicara. Ia juga sepertinya orang Jogja asli.

Kami mengotak-atik alat itu sampai aku harus bolak-balik kelantai dua karena keterbatasan alat. Hitung-hitung latihan karena dalam proses penelitian, aku akan menggunakan tiga lab yang masing-masing terletak dilantai yang berbeda. Naasnya, tidak ada lift, sekalipun aku harus membawa benyak sampel dalam alat gelas.

Pukul 13.30 status alat siap digunakan. Hanya ada empat pengait yang terpasang, artinya aku harus menggilir sampel empat-empat hingga genap delapan puluh satu sampel. Tuhaaaaannnn.... Setelah dicoba, suhu tidak juga naik hingga satu jam. Mentok pada suhu 30 derajat selsius. Aku mulai gusar sementara sampel telah siap dihidrolisis.

Aku memberanikan diri untuk menghidrolisis waktu terlama yaitu 90 menit. Sampai pukul 15.30 WIB, alat terus menerus mati setelah goyang selama kurang lebih dua menit dan baru bisa diaktifkan lagi dua menit kemudian. Aku kembali mengelus dada karena sampelku tidak juga berubah warna setelah hidrolisis selama 90 menit. Aku pikir aku tahu kenapa, karena suhu air selalu naik turun. Tidak konstan 80 derajat selsius. Aku pasrah. Aku membereskan alat, bahan, dan sampah. Kemudian aku ingin menyimpan bahan yang belum kupakai kedalam cool room. Menurut ibu teknisi, aku harus naik kelantai 3 karena cool room berada disana.

Sampai dilantai 3, tepatnya Lab Kimia dan Biokimia, aku diberi arahan oleh teknisi untuk mengambil kunci dan pergi ke cool room sendiri. Lelaki tengah baya ini baik hati, tubuhnya pendek dan tidak terlalu ramping. Kumis tipis berwarna agak perak menghias senyum ramahnya.

Aku tidak keberatan untuk menyusuri lorong sesuai petunjuknya. Ruangan yang dimaksud berada dibalik gedung yang menghadap ketimur. Lorong itu lebih tampak seperti gudang barang bekas. Rak-rak dan kursi bodol berserakan dimana-mana. Sepertinya tidak pernah dibersihkan dan tidak akan pernah dibersihkan. Sarang laba-laba dan debu dimana-mana. Aku sedikit kebingungan. Mungkinkah ruangan sepenting cool room terletak digudang angker dan kotor seperti itu? Tapi aku tidak salah ketika aku harus memiringkan badan melewati seonggok meja rusak dan menemukan ruangan berwarna abu-abu. Segera kubuka pintu yang tampak seperti brankas itu. Bau anyir dan busuk menyeruak dari dalam seiring angin dingin yang berhembus. Mirip seperti ada dipabrik pembekuan udang kupikir. Dengan tirai-tirai serupa cool room dipabrik pembekuan udang. Segera aku menaruh bahanku disana dan langsung kututup pintu kuat-kuat. Aku tidak ingin berlama-lama disana.

Pukul empat sore dan aku menyadari perutku berbunyi-bunyi dengan nada tak menentu sewaktu sholat ashar. Aku segera memutuskan pulang, makan, membereskan bekalku yang tak tersentuh (mana mungkin aku bisa makan dalam ruangan diantara kotoran tikus dan bau pengap seperti itu), dan menyiapkan mental untuk esok hari pukul setengah tujuh. Semoga besok penelitianku sukseeeeeeeeess dan aku betah disana!!! \(>.<)/

2 comments:

  1. Hey anonim, gimana bisa enjoy setelah terus menerus (seperti) dipermainkan. Semoga esok jauh lebih baik, target tercapai. Aamiin.

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<