Monday, November 11, 2013

Proyek Monumental : Pendirian Toko Buku Murah Dengan Akses Mudah

Aku masih ingat betul tugas dari Dosen Mata Kuliah Kewirausahaan jaman S1 dulu. Beliau memerintahkan kami (mahasiswanya) untuk menuliskan 100 impian. Sebagai seorang pemimpi yang kala itu sangat merasa 'dikompori' oleh Andrea Hirata dengan Tetralogi Laskar Pelangi-nya, aku serius menuliskan mimpi-mimpiku. Bukan sekedar untuk pemenuhan tugas kuliah semata. 

Perlahan tapi pasti, mimpi-mimpi itu berangsur-angsur 'terstabilo' karena sudah tercapai. Harusnya aku berterimakasih dengan dosenku itu karena telah membuatku menuliskan impian dan 'terpaksa' harus bertanggungjawab mewujudkannya. Demikian juga dengan Pakde Cholik yang menantangku untuk berani mengungkapkan mimpi sekaligus berazzam untuk mewujudkan pada satu tahun kedepan. 

Dari sekian banyak mimpiku, aku sangat ingin berperan dalam peningkatan minat baca masyarakat. Khususnya masyarakat didaerahku. Selain ingin meninggalkan karya berupa buku dan tulisan-tulisan yang membangun, aku ingin mempunyai toko buku. Sebagai informasi, aku tinggal disalah satu desa dengan ketersediaan infrastruktur jalan dan akses teknologi yang cukup buruk. Aku sebagai anak muda yang merantau, tentunya harus kembali dengan secercah cahaya untuk (paling tidak) daerahku. 

Orangtuaku adalah guru SD yang ditugaskan didesa tersebut sejak tahun 1980, jauh sebelum aku ada dan diniatkan ada. Setidaknya aku paham dari cerita mereka bagaimana kehidupan masyarakat desa yang dahulunya mash berupa rawa itu. Bagaimana pula pola pikir mereka. Aku sendiri sudah merancang dan membangun ancang-ancang sejak aku masih bersekolah disana.

Waktu itu aku masih SD, aku banyak mendapatkan buku-buku bacaan dari sekolah. Selain itu aku juga kerap diajak ketoko buku yang letaknya jauh dikota ketika liburan sekaligus berlibur dirumah nenek. Kami harus menabung untuk membeli semua itu. Aku juga mendapatkan banyak buku-buku dan majalah dari sepupuku yang berlangganan. Aku masih ingat bacaanku dulu adalah Bobo, Ina, Andaka, kemudian meningkat hingga Kawanku dan Gadis. Aku juga sering membaca Femina atau Kartini milik Ibu. Bahkan ketika SD aku juga sudah membaca Tempo dan beberapa bacaan yang lain milik Bapak. Pendeknya, aksesku terhadap buku-buku dan majalah jauh lebih baik daripada kawan-kawanku didesa kala itu. Tidak heran jika aku merasa iba dan berniat membantu mereka.
Resolusi Tahun Baru-ku

Aku cinta buku, kopi, dan kamu ...

Hingga aku beranjak dewasa, aku keukeuh ingin membuat perpustakaan didesa. Itu mengapa aku sengaja mengumpulkan buku-buku koleksi sejak aku kecil. Tapi kemudian anganku berkembang, ketika kuliah di ibu kota propinsi pun aku mengalami kesulitan mencari beberapa literasi. Toko buku dikota kami hanya ada tiga dengan jenis buku yang sangat umum. Dengan demikian aku ingin membangun toko buku murah dikota itu.

Lalu bagaimana aku bisa membantu desaku jika aku membangun toko buku dikota? Akses mereka sangat jauh kekota. Itulah yang sedang aku pikirkan. Kemudian aku berencana untuk membuat sub-sub toko didesa, semacam internet kecamatan itu. Jadi mereka tetap berinduk pada toko bukuku dikota dengan kebutuhan bacaan yang lebih pasti dan banyak peminatnya. Kemudian sub-sub toko tersebut nantinya dapat meng-order buku yang belum ada. Tidak hanya menyediakan buku baru, toko buku ini juga menyediakan buku bekas sehingga lebih terjangkau harganya tanpa mengurangi manfaatnya.

Lalu dananya darimana? Untuk membangun satu toko buku saja sudah kuwalahan. Aku kembali mengurut kening dan memutar otak. Aku melakukan brainstorming dengan beberapa kawan muda yang berpengalaman dibidang ini. Satu catatanku, jika aku hanya mengharapkan keuntungan dari proyek ini, tentu aku tidak akan bisa. Untuk itu aku kembali meluruskan niatku. Berulang kali aku meluruskan niat, berkali-kali juga patah arang. Tapi keyakinanku adalah tidak ada yang mustahil didunia ini kecuali kemustahilan itu sendiri.

Aku tetap berpegang teguh pada niatku untuk meningkatkan minat baca masyarakat didaerahku. Untuk mengembalikan atau melipatgandakan modal, aku sudah mempunyai skema usaha lainnya yang tidak dapat dipisahkan juga dari adanya toko buku ini. Perlahan tapi pasti, aku mulai langkah kedua setelah niat ini dengan menulis proposal. kemudian aku akan menawarkan proposal tersebut kepada kawan-kawan yang memungkinkan. Semoga proyekku ini dapat terwujud ditahun 2014 nanti. Semoga tesisku juga lancar jaya sehingga studiku cepat selesai. Sekembalinya aku kedaerah dengan gelar baru dan pengalaman baru, tentunya aku harus memberikan kiprah baru untuk memajukan daerahku. Dengan demikian, akan ada Pendirian Toko Buku Murah dengan Akses Mudah   yang terstabilo dari 100 impianku. Impian logis yang tidak muluk-muluk. Aamiin yaa rabb... 

Ayooooo...adakah warga yang mau ikut membantuuuuu...???!!! Cuuuunggg!!!

12 comments:

  1. Semoga proyek monumentalnya bisa menjadi realita ya

    sukses kontesnya

    ReplyDelete
  2. Aamiin yaa rabb...
    Harus jadi nyata, dong! Time bound-nya 2014 :)

    ReplyDelete
  3. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Proyek Monumental Tahun 2014
    Akan saya catat sebagai peserta
    Keep blogging
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  4. Aamiin Yaa Rabb... terimakasih Mbak Titis, Sukses untuk kita semua!

    ReplyDelete
  5. Ayoooo...pakdeee... semoga menang, yaaa!!! :D

    ReplyDelete
  6. Wah proyeknya keren, buka toko buku :D semoga segera terealisasi ya...

    ReplyDelete
  7. Aahahahhaaaa... Amiiin.... aamiin... terimakasih, mbak. Ayo dibantu :p

    ReplyDelete
  8. Kunjungan Perdana..setelah menjelajah kota yogya beberapa hari lalu.. ane hanya bisa membantu mendoakan amiiiinnnn...smoga sgala impian bisa terealisasikan

    Semangggaaaaat ^_^

    ReplyDelete
  9. Aamiin yaa rabb... SEMANGAT juga buat Siti!!! Ayo kita bertualang lagiiii!!!!

    ReplyDelete
  10. Semangat ya, semoga saya bisa bantu :)

    ReplyDelete
  11. Asssiiiikkkk... ini terbaca seperti kesepakatan kerjasama :)))

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<