Saturday, November 16, 2013

Sehari Tanpa Gadget: MERDEKA!!!



"Manusia dapat bertahan hidup empat puluh hari tanpa makan, tiga hari tanpa air, delapan menit tanpa udara. Tapi hanya satu detik tanpa harapan"

- Hal Lindsey -

Bener nggak, sih, statement itu?! Tapi kenapa nggak dibilang satu hari tanpa gadget manusia masih bertahan hidup?!

Gadget dalam pemahaman saya adalah alat bantu. Benda berbentuk alat apapun yang dapat membantu meringankan aktivitas saya, saya sebut dia gadget. Terserah wikipedia mau bilang apa, saya berhak untuk memberikan definisi sendiri. Bukannya egois atau tidak menerima kenyataan bahwa banyak yang bilang gadet adalah alat elektronik portable yang selalu inovatif. Tidak salah memang. Pengertian yang saya buat, kan, lebih luas maknanya. Anggap saja kita sepaham. Toh intinya sharing ide, tho? Warga WB cinta damai!
Reddy dan kopi : teman yang asik

Keberadaan gadget tidak dapat dipungkiri dapat memudahkan hidup dan membuat kita cerdas. Namun tetap saja penggunaannya harus dibatasi. Hal ini terkait dengan beberapa hasil penelitian yang menyatakan bahwa konon gadget (elektronik) dapat menjadi penyebab timbulnya penyakit-penyakit mematikan. Whattttt.... ??!!! Sebut saja kanker dan tumor pada kepala, telinga, kulit, dan tangan.


Selain itu, kecanduan terhadap Gadget tanpa kendali menyebabkan kita kehilangan quality time bersama keluarga, teman-teman, atau pacar. Bahkan menurut pengalaman saya, penyakit-yang-menganggap-gadget-adalah-belahan-jiwanya ini dapat menyebabkan orang kehilangan banyak kesempatan. Misalnya, kesempatan untuk mendapatkan teman, relasi bisnis, bahkan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan dan beasiswa. Wah, kalau ini lebih dalam lagi pemaparannya bisa ditendang sama empunya GA kalau kepanjangan.

Satu hal yang sangat tidak saya suka adalah cibiran yang menyangkut kata ‘autis’ yang sering disematkan ketika seseorang selalu lengket dan freak terhadap gadget-nya. Mungkin lebih tepatnya, katakan saja orang itu mangkir dari takdir sebagai makhluk sosial. Orang itu bukan autis. Penyandang autis memiliki potensi yang tinggi jika dioptimalkan. Mereka istimewa dan bukan untuk dijadikan bahan ejekan. #StopBullyingAutism

Oke, kembali kepada tantangan sehari tanpa gadget. Tanpa gadet kita terbebas dari desakan ini-itu. Bebaskan pikiran dari rutinitas dan berbagai tuntutan. Ketika kita meluangkan weekend untuk mematikan gagdet pikiran kita akan lebih bebas dan merdeka. Saya sendiri akan langsung menegok dan melahap habis novel-novel yang sudah menunggu untuk dituntaskan. Sesekali beralih untuk membuat kerajinan. Hal itu bisa berupa hiasan dinding, membuat kolase, menyulam, menggunting dan menempel gambar, dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan itu akan mengasah kreatifitas kita yang tertelan deadline, target bisnis, penelitian, tugas kampus, and so on...

Seperti  malam ini misalnya, saya terbebas dari smartphone karena kekasih hati saya sedikit tidak enak badan dan butuh segera tidur. Diakui atau tidak, dia dan saya butuh sesekali waktu untuk berekspresi sendirian. Telinga kami juga butuh istirahat sepertihalnya smartphone yang kini kudengar ia bernapas lega dan tersenyum bahagia. Meskipun saya tetap berpaling kepada netbuk tua ini yang tetap saja berjenis kelamin gadget. Ah, nasib #LDR (baca: Long Distance Relationsick yang artinya Lelah Disiksa Rindu). Tapi setidaknya, saya merdeka dari telpon dengan bahasan picisan, bisnis, target, gosip, dan sebagainya untuk menuangkan kreatifitas saya dalam bentuk tulisan ini. Are you sure you’re creative enough... ?! Hell ...yeah!!!

Siapa yang mau mengapresiasi kreatifitas dan kebebasan pikiran saya kalau bukan saya sendiri?

Shortly, banyak hal yang bisa kita lakukan tanpa gadget sehari saja. Kalau bisa nambah, deh. Selain hal-hal yang sudah saya sampaikan diatas, saya sering lebih survive tanpa gadget ketika saya berada dirumah orangtua, bukan dikamar kos nan sempit, pengap, dan muram ini. Disana saya bisa membersihkan kebun, bereksperimen didapur, mencuci pakaian, dan yang lebih penting lagi menikmati kebersamaan dengan keluarga.

Ditempat kos saya juga berkebun, lho. Saya menanam cabai, tomat, dan sayuran dalam pot yang  memanfaatkan sampah plastik serta botol air mineral. Saya juga sering bersepeda ketoko buku, atau sekedar hang out bersama teman-teman. Saya juga merdeka jika pembimbing tidak meneror saya dengan target laporan penelitian tesis. Ssst... jangan disampaikan, ya!

Kebun di Kerajaan Kecilku


Tulisan ini ikutan GA keren Sehari Tanpa Gadget di Blog Keajaiban Senyuman lhooooo...!

2 comments:

  1. dia dan saya butuh sesekali waktu untuk berekspresi sendirian ...

    Setuju ...
    bahkan suami istri pun butuh waktu sendiri ...

    (asal jangan keseringan aja ...)

    Salam saya

    ReplyDelete
  2. Hehe... terimakasih om telah berkunjung :)
    Betul sekali, terkadang inspirasi muncul disaat sendiri, tapi sayangnya biasanya malah jadi homesick yang makin terasa hihihi

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<