Friday, December 6, 2013

Setia Seperti Pelangi

Menanti seperti pelangi, setia menunggu hujan reda
 Aku selalu suka 
Sehabis hujan di Bulan Desember,
Sampai nanti 

Ketika hujan tak lagi 
Meneteskan duka meretas luka
Sampai hujan memulihkan luka
(Efek Rumah Kaca)


Aku suka sekali memandangi tiap tetes air yang jatuh kebumi dikala hujan. Membaui aroma tanah yang pasrah basah. Merengkuh angin dingin yang mendesir dibalik tengkuk. 


Namun tidak kali ini. Sore pukul empat hujan turun tanpa ampun disertai angin kencang. Aku berada disudut ruangan laboratorium yang sudah gelap sebagian besar ruangannya. Tinggal ruanganku saja yang lampunya masih menyala.  Tidak ada satupun teknisi yang tinggal. Benar-benar aku sendiri dan derik-derik water bath shaker yang terus bergoyang perlahan.

Sialnya lagi, lab ini miskin koneksi GSM. Aku tidak bisa berkutik, menelepon apalagi berselancar didunia maya. Aku sekedar menikmati hujan dan memuhasabah diri. Mengapa perjalananku ini begitu berat. 

Ya, hujan terkadang memunculkan kegalauan yang terpendam. Beruntung tak ada lagi tangis seperti tadi pagi. Mungkin benar sedekahku kurang, mungkin juga benar aku menjauh dari Tuhan. Lalu apa urusanmu? Bantulah aku setidaknya dengan doa dan tranfer semangat!

Pagi tadi aku datang meleset dari rencanaku. Awalnya aku berniat datang ke lab pukul setengah tujuh. Apa boleh buat jika disminor sudah menyerang. Aku pasrah pada keadaan, menelan dua butir tablet pahit itu lagi. Kemudian meringkuk dikasur.

Pukull sembilan lewat aku baru sampai di lab. Dua orang teknisi yang sekarang sudah kuhafal namanya sedang membuat pakan tikus bersama seorang mahasiswa. 

"Hari senin besok mau dipake orang, lho, alatnya!" kata Pak Juli yang berkulit legam, seram, dan berbadan gempal.

"Lho, saya kan belum selesai, pak. Seja rusak kemarin saya baru mau pakai hari ini!" protesku.

"Ya, saya sudah bilang keorangnya kalau senin bisa dipakai!"

"Siapa yang mau pakai?" aku mulai berada dalam posisi defensif dan menahan emosi.

....................

Bagaimana aku tidak emosi?! Sejak aku menyatakan akan memakai alat itu, tidak ada instruksi, tidak ada peringatan, dan tidak ada tutorial. Parah. Sampai alatnya korsleting setelah aku pakai selama satu setengah jam, aku yang disalahkan dan disudutkan. Setiap aku bertanya apakah alat tersebut sudah diperbaiki, jawabannya selalu tidak mengenakkan. Ah, kapan, sih, cara bicara mereka itu tertatar?!


Water Bath Shaker
Air mataku meleleh. Aku ngambek tapi aku tahu itu tidak akan berguna. Kemudian aku melanjutkan pekerjaanku. Konsekuensinya, esok sabtu aku harus lembur. SEMANGAT!!!

Sudah tidak semangat menyaring lagi, lihat saja, metodenya salah!
Ah, lupakan keluh kesah. Saatnya aku berbagi pengalaman bapak tukang ojeg yang kutumpangi dan mengantarku pulang. Simak baik-baik!

Berawal dari menanyakan asal daerahku, tukang ojeg yang belum sempat bertukar nama dan nomor telepon denganku ini pada akhirnya curhat. Konon menurut orangtuanya, ketika masih bayi, ia dibawa orangtuanya merantau ke Bambu Kuning, Tanjung Karang. Entah tahun berapa itu persisnya, dia tidak menceritakan detailnya. Kemudian setelah dia berumur empat tahun, keluarganya membawa dia kembali ke Kota Gudeg.

Lalu entah berkenalan dimana, dia berpacaran dengan gadis dari Kecamatan Negeri Katon, Pesawaran. Mereka pacaran selama tiga tahun. Amazing! Gadis itulah yang perlahan mengubah kebiasaan buruk si bapak-tukang-ojeg-yang-belum-sempat-bertukar-nama-denganku itu. Dulu dia yang merupakan seorang pemabuk berat dan 'nakal' diajari dengan sabar oleh si gadis untuk bertaubat. Hingga akhirnya kini dia kembali mampu menjaga sholatnya. Masyaallah... Gadis itu... 

Kemudian pada sekitar Juli 2006, Indah, nama Gadis baik itu mengirimkan pesan singkat kepada si bapak-tukang-ojeg-yang-belum-sempat-bertukar-nama-denganku itu. Bunyinya kira-kira begini:

"Mas, nggak usah lagi cari-cari aku, ya,...."

... dan Indah pun benar-benar menghilang meninggalkan kesan indah dibenak si bapak-tukang-ojeg-yang-belum-sempat-bertukar-nama-denganku itu. Dia pun menabung sampai pada 19 Agustus 2006, sehari sebelum ulang tahunku (ini penting!) si bapak-tukang-ojeg-yang-belum-sempat-bertukar-nama-denganku itu pergi ke Lampung. Berbekal nama ayah si Indah dan alamat, dia memberanikan diri mencari sang pujaan hati. 

Sampai diperempatan (entah perempatan mana), si bapak-tukang-ojeg-yang-belum-sempat-bertukar-nama-denganku itu bertemu dengan tukang ojeg dan menanyakan alamat tersebut. Si ojeg dengan senang hati mengantarnya kealamat. 

"Sampean mau kondangan, ya, Mas tempat Pak Timbul?" tanya si tukang ojeg.

Si bapak-tukang-ojeg-yang-belum-sempat-bertukar-nama-denganku itu kaget. Dia sudah berpikiran yang bukan-bukan. Hingga pukul sebelas tepat ia tiba didepan rumah yang dituju disambut dengan janur kuning yang melengkung. Melihat Arjuna-nya datang, indah datang menghambur kepada si bapak-tukang-ojeg-yang-belum-sempat-bertukar-nama-denganku itu. Dia kebingungan. Indah mengajaknya kabur. Dia tidak mau. Mereka galau.

Usut punya usut, Indah pujaan hatinya dijodohkan dengan seorang lelaki tua. Ah, bak kisah Siti Nurbaya. 

Si bapak-tukang-ojeg-yang-belum-sempat-bertukar-nama-denganku akhirnya pulang ke Jawa membawa bongkahan hatinya yang hancur. Dia benar-benar kehilangan semangat hidup. Dia akhirnya mampir ke Pantai Marina di Kalianda yang dia tahu terkenal angker. Aku pikir dia ingin mengakhiri hidupnya disana.

Namun ternyata dia masih cukup waras. Dia pulang ke Jawa dan melanjutkan hidupnya. Hingga akhirnya dia menikah dengan seorang perempuan Jawa. Namun karena perbedaan keyakinan, pernikahannya yang seumur jagung pun berakhir. Dia masih mengharapkan kehadiran pujaan hatinya. Sementara aku, hanya bisa mengucapkan terimakasih atas jasanya mengantarku dan kisah malangnya. Juga kusematkan sekuntum doa, semoga si bapak-tukang-ojeg-yang-belum-sempat-bertukar-nama-denganku itu bahagia dan mendapatkan takdir terbaiknya.

Selalu ada yang bernyanyi dan berelegi 
Dibalik awan hitam 
Smoga ada yang menerangi sisi gelap ini, 
Menanti.. 
Seperti pelangi setia menunggu hujan reda


3 comments:

  1. ooh, jadi mba rinda sama bapak tukang ojey yg belum sempet tukeran nama dan nomor telepon itu sama2 DILEMA ? :)))

    ReplyDelete
  2. Yoyooiiiiii...sama2 menanti indahnya pelangi setelah hujan reda (puas, lo, Konaaaaamiiiiii?) :p

    ReplyDelete
  3. HAHAHA
    Sante mba sante. Ngajak ribut nih ? haha. Mending ngajak kite2 ke jogja lagi !!

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<