Sunday, January 5, 2014

Mati Muda

:Indra

setelah genap setahun kamu pergi
hanya ini yang bisa kubagi:

di subuh yang dingin, di balik selimut
semangatmu tak kunjung surut
aku melihat kamu hidup

menyembunyikan senyum pada bibir pucat pasi

di pagi berikutnya selepas hujan semalaman

aku masih mendengarmu bicara dengan suara tertahan
mengeja keriangan yang hampir hilang
meyakinkan bahwa kamu mampu bertahan 


tak ada yang lebih kita rindukan selain kehidupan
yang membosankan
juga dada yang berdenyut tak beraturan


kamu mengajariku tentang hidup
meski
ragamu telah mati

mungkin kamu tidak pernah tahu
lembar demi lembar kenangan yang menyeretmu
melucuti mataku

jasadmu telah dikubur
tapi aku tahu sepi tak dapat diukur
andai kamu dengar
dikepalaku ada ceracau sesal yang hingar bingar

betapa Tuhan begitu ingin memelukmu
sementara aku belum pernah mengunjungi pusaramu
sekedar menitipkan rindu pada gundukan tanahmu
menaburkan bunga basah dan doa untuk menemanimu
menanti binar senyum pada wajahmu
yang melunturkan sesak di paru-parumu
dan hujan yang menyapu dosa-dosamu

aku bahkan tak sempat menyusun adegan pertemuan ulang
hingga kita harus dipisahkan
pada sepotong sabtu siang

(Setahun kepergiannya; 5 Januari 2012-5 Januari 2013; semoga kelak Tuhan mengumpulkan kami di jannah-Nya)
Rumah Masa Depan


وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن 
“Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr : 10) 

Siapa yang tahu kalau kelak aku mati membawa iman di dada? Apa mungkin Tuhan akan membiarkanku hidup hingga tua? Aku bertanya pada cermin. Seperti halnya Indra yang mati muda. Yang kutahu, masih banyak orang hidup yang menyayanginya. Mengiriminya doa-doa. Membersihkan pusaranya dan memayunginya dengan kamboja.

Aku bertanya pada tumpukan buku-buku: adakah kelak kalian memberikan syafa’at kepadaku? Air mataku tumpah mengingat sumpah serapah yang menganggapku sampah. Gadget yang kuperjuangkan dengan susah payah malah terkekeh.


“Aku justru senang jika kamu mati,” matanya menyeringai, “aku akan beristirahat dan tak perlu kau paksa aku bekerja lagi”.


Kemudian aku mengadu pada pakaian-pakaian yang kubeli dengan alasan mereka cukup trendi. 


“Jika kamu mati, kami cukup bersenang hati. Karena kami tak lagi menemanimu mengejar urusan duniawi!”
 
Sungguh aku tak bisa lari dari Tuhanku. Aku juga tak bisa lari dari manusia-manusia lain. Karena saat ini aku hidup, dan suatu saat pasti mati. Jika aku terus begini, siapa kelak yang akan memandikan mayatku? Siapa yang akan menyolatkanku? adakah orang yang akan menangisi kepergianku? Bahkan aku tak bisa berjalan sendiri ke pemakaman. Aku juga tak bisa membiarkan jasadku tergolek di jalanan dan membiarkan ruh-ku bertemu Tuhan. Kemudian terkalung sesal dan meminta ampunan sementara nyawa telah lepas dari badan. Na’udzubillah... 

2 comments:

  1. rest in peace....pedih membaca puisimu...dan semoga kita kelak menjadi penghuni surga-Nya

    ReplyDelete
  2. Aamiin yaa rabb... sebagai bagian dari zikrul maut, mbak. Kita tinggalmenunggu giliran :)

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<