Tuesday, January 14, 2014

My Leader To Be

I would swim over the deepest ocean, 
The deepest ocean to be by your side.
But the sea is wide and I can't swim over 
And neither have I wings to fly
I wish I could find me a handy boatman 
To ferry me over to my love and die
(Ronan Keating) 

Awalnya saya kehabisan ide ingin bercerita apa tentang masa pencarian saya yang biasa saja. Hingga tadi malam saya gelisah, tidur setelah tilawah sekitar pukul sebelas malam. Pukul satu dini hari saya terbangun akibat suara berisik seekor tikus yang terjebak dalam plastik ditempat sampah. Setelah tikus tersebut lolos dari jerat kerakusannya karena mencari makan ditempat sampah, saya kembali mencoba tidur setelah shalat lail. 

Ini semacam pertanda atau mungkin miracle karena saya gelisah, dikejar target penelitian dan bayang-bayang UAS, serta jatah bulanan beasiswa yang tak kunjung turun. Saya memilih memasrahkan diri pada Allah dan beranjak tidur. Lalu saya bermimpi, saya bersama lelaki saya sedang berada ditempat yang berbeda. Namun dalam mimpi itu, saya seperti sudah terikat halal dengan lelaki saya itu. Kami berdua saling menyemangati untuk tidak sekedar mengejar target #OneDayOneJuz tapi juga harus memaknai ayat demi ayat yang kami baca. Dia (lelaki saya) itu nampak ngemong saya. 

Dia membimbing saya dan 'memarahi' saya jika berbuat salah. Kami saling mengingatkan dan berlomba dalam kebaikan. Meskipun kami berjauhan, kami tidak pernah merasa kekurangan. Hal itu konon disebabkan karena kami selalu bersyukur dan berusaha selalu menjalankan perintah Allah dengan baik. Kami juga tidak pernah kehilangan komunikasi meski kami berjauhan dan kesibukan kami berbeda. Dalam hal materi, kami juga tidak pernah kekurangan. Dia juga selalu mengajarkan saya agar selalu bersedekah.

Masyaallah... mimpi yang sangat indah. Saya yakin mimpi itu datangnya dari Allah. Semoga mimpi itu menjadi kenyataan, namun saya tidak ingin terpisahkan jarak seperti itu. 
Sebenarnya sewaktu kecil hingga remaja, saya tidak berkeinginan menikah. Hal itu sempat saya utarakan kepada Ibu. Tapi yang ada saya malah diceramahi habis-habisan. Saya bukan takut menikah, saya hanya tidak ingin terikat. Itu saja. Jadi ibu itu repot, sementara saya menginginkan kebebasan. Cita-cita saya sewaktu kecil adalah menjadi duta besar atau apapun yang selalu bisa berkeliling dunia. Tidak untuk diam dirumah mengurus anak, memasak, dan bertindak seperti asisten rumah tangga. Atau bekerja setengah hari kemudian kembali kepada fitrahnya. 

Pergaulan menjelang dewasa mempertemukan saya dengan berbagai jenis manusia. Saya juga terkadang 'dipaksa' paham tentang problematika hidup. Saya harus mendengar cerita atau menyaksikan perpisahan, anak-anak yang kekurangan kasih sayang, dan himpitan keterbatasan kemampuan finansial. Saya ngeri dengan semua itu. Hingga saya memutuskan untuk semakin MANTAP TIDAK AKAN MENIKAH. 

Namun dunia saya tiba-tiba terbalik dikala saya harus 'menerima' apapun keputusanNya. Saya belum berhasil meraih cita-cita. Dari situ saya sadar akan perbedaan antara KEBUTUHAN dan KEINGINAN. Bahwa Allah selalu memfasilitasi apa-apa yang saya butuhkan. Maka nikmat Tuhan yang manakah yang akan saya dustakan (lagi)? Maka kemudian saya bertekad SAYA AKAN MENIKAH (dengan laki-laki tulen).

Orang-orang terdekat saya juga semakin hari semakin tidak bisa tinggal diam. Entah itu care atau sekedar KEPO. Sampai-sampai saya enggan bertemu mereka dan pertanyaan-pertanyaan tabu yang menikam saya perlahan-lahan. Lebih sakit perlahan, kan, daripada ditebas atau ditikam sekalian?

Masa Pengembaraan

Orang tua saya tetap diplomatis dan tidak pernah protes. Kenapa malah orang lain yang gelisah? Percaya saja, janji Allah itu pasti.

Usaha, dong! Ya, saya usaha. Usaha untuk mencari ilmu demi martabat yang lebih dan kesejahteraan yang lebih. 

So, hanya itu tujuanmu? Pendeknya, mengejar karier, bukan? Bukan! Salah sama sekali. Karier kelak akan mengikuti. Toh rejeki sudah diatur dan tak akan tertukar. Begitu juga jodoh. Gitu aja, kok, repot (Pinjam istilahnya Gusdur).

Dulu, sewaktu saya masih mahasiswa semester awal S1, ada seseorang yang sudah jauh lebih tua daripada saya. Katanya, dia mau meminta saya menikahinya. What?! Saya katakan "gila". Umuran segitu saya masih sangat bau kencur dan takut dengan laki-laki. So, apakah tidak ada cara yang lebih elegan untuk "meminta" seorang bau kencur? Jangan langsung diajak bicara nikah, dong! Jelas saja saya ketakutan.

Memasuki masa-masa kuliah semester akhir, ada lagi yang datang kepada saya dan menanyakan "Kapan kakak bisa ketemu orang tua, Nda?" Tentu pertanyaan saya selanjutnya adalah: untuk apa? Sementara selama tahap perkenalan dan tahap "haha..hihi..." saja dia mulai menunjukkan bahwa dirinya sangat 'wah' seolah hanya dialah lelaki didunia ini yang 'suami-able'. Saya lebih senang dengan lelaki yang down to earth, friendly, namun tidak lemah. Bukan lelaki yang serba memamerkan pencapaiannya. Nah ini, bukan siapa-siapa saya tapi melarang ini-itu. Langsung saja saya coret dia dari daftar kandidat My Leader To Be. Alhamdulillah saat ini dia sudah menikah dan (sepertinya) bahagia.

Ada juga seorang laki-laki yang baik pengalaman organisasinya, begitu pula Insyaa Allah agamanya. Saya mengenalnya melalui media organisasi juga. Datang kepada saya dari Pulau Jawa untuk kemudian mengajak saya pergi ke pulau lainnya. Kala itu saya juga masih kuliah dan belum ingin berkelana ke pulau tersebut. Alhamdulillah saat ini juga beliau sudah menikah.

Saya bukan tidak percaya dengan mekanisme ta'aruf dan 'percaya' pada pimpinan. Tapi saya akan lebih yakin jika saya mencari tahu sendiri seperti apakah kandidat yang kelak dicalonkan kepada saya. Terlebih saya kerap mendapati lelaki yang kehilangan 'kelelaki-lelakiannya'. Wah, kok bisa? Bisa saja. Beberapa diantara mereka bertindak sok alim, menjaga pandangan, tapi dibelakang mereka ber-haha-hihi dengan wanita melalui telepon entah pagi, siang, sore, ataupun malam. Bahkan ada yang mengadakan pertemuan diam-diam. Saya tidak ingin kelak lelaki saya masih mengintai wanita lain sekalipun diam-diam, men-stalk akun media sosial wanita masa lalunya, atau wanita cantik dan luar biasa yang baru dikenalnya. Kandidat-kandidat jenis ini juga langsung saya blacklist.
No true relationship of love is for you. Love is about the person you love…

Apalagi setelah ada fakta bahwa seorang wanita dinikahkan dengan lelaki yang ternyata bukan lelaki sepenuhnya. Mereka bercerai pada hari kedua pernikahannya karena sang suami lebih memilih pria, daripada istrinya yang cantik jelita. See! Saya harus lebih berhati-hati.

The Characteristics
 
Dari sekelumit cerita saya, apakah tampak bahwa saya pemilih? Rajin menyeleksi deretan nama pria-pria dan segenap pencapaiannya, gelar akademisnya, hartanya, atau bahkan ketampanannya? Big no no!!! Ini adalah mengenai sebuah perjanjian yang kuat. Yang kita cari bukan hanya jodoh di dunia, melainkan juga pendamping kita sampai di akhirat kelak. Yang kita cari adalah pendamping yang dapat membawa kita dan selalu bersama-sama dengan kita hingga ke jannah-Nya.

Saya tidak pernah mengagung-agungkan pendidikan formal. Sekalipun itu memang sangat penting bagi saya. Oleh karena itu saya juga sedang menuntut ilmu yang lebih tinggi dari sebelumnya saat ini. Allah pun akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Meskipun ilmu bisa kita dapatkan dimanapun. Kita bisa belajar melalui apapun. Karena setiap apa-apa yang ada disekitar kita adalah pelajaran bagi orang-orang yang berpikir.

Jadi muslim harus kaya. Itu prinsip. Dengan demikian  kita dapat membantu orang lain, dan mengangkat hidup orang lain. Dengan mempunyai harta kita juga bisa pergi haji dan menghajikan orang lain. Dengan harta juga bisa membuka usaha yang bisa menyerap tenaga kerja dan menghidupi orang banyak. Dengan harta juga bisa membantu orang lain untuk mencapai pendidikan yang layak. Saya juga tidak ingin menikahi laki-laki yang suka buang-buang uang. Contoh kecil saja, merokok. Selain buang uang, dia juga tidak care dengan kesehatan. Jika kesehatan sendiri saja tidak dipikirkan, bagaimana menjaga saya, anak-anak, apalagi lingkungan?

Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itu masuk akal juga. Pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang laki-laki dan perempuan. Lebih dari itu, dua keluarga besar, bahkan mungkin dua masyarakat besar. Hal itu akan sulit dilakukan dan sulit mencapai harmonisasi jika tidak ada kesamaan. Meskipun kata Gie: "Kita begitu berbeda, kecuali dalam cinta." Ini bukan masalah krusial sebenarnya. Untuk apa saya merisaukan peribahasa "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" jika ternyata saya mendapatkan buah yang tidak pernah jatuh. Matang di pohon, gitu :)

Karakteristik lelaki idaman yang suami-able sebenarnya adalah pada kepribadiannya. Bagaimana dia dengan kharisma kepemimpinannya mampu membimbing saya dan anak-anak saya kelak. Pemimpin, bukan bos! Bukan hanya itu, dia juga harus mampu menempatkan diri di masyarakat. Tidak boleh kuper dan 'gagal gaul'. Karena sejatinya dakwah itu dimana-mana. Sehingga dimanapun kita berada, kita harus bisa mengambil posisi. berdakwah melalui apapun. Entah itu musik, tulisan, ucapan...atau apapun. Oh...man... Musician! They just make me want to melt!


Seperti di mimpi saya yang sangat indah itu, saya ingin bersama-sama dengan imam saya mengaji Al Quran dan As Sunah. Bacaan tajwid saya kurang bagus, suara saya juga kurang indah didengar. Silahkan tertawa. Sehingga saya ingin mendengarkan tilawah syahdu merdu mendayunya dalam setiap hari-hari kami. Membangunkan saya tanpa mengguyur dengan seember air dingin di sepertiga malam. Mengingatkan saya akan pentingnya berpuasa. Dan mendidik anak-anak kami dengan penuh kehangatan dan kelembutan dengan tetap berkharisma.

Saya tidak pernah khawatir dengan janji Allah. Kematian, rejeki, maupun jodoh itu pasti. Saya berusaha dan berdoa. Saya wanita, menunggu dan menua. Selain itu, saat ini saya hanya perlu memantaskan diri.

Shortly,
Means of the beginning, middle and end followed never the same because adventure is the spice and taste of romantic life here. Many yet live romantic life because the pleasure is exotic ever! 


8 comments:

  1. hmmmmm...
    bagus, jdi terenyuh dan banyak berfikir ulang..

    ReplyDelete
  2. sebelum baca kirain tentang calon presiden, ternyata calon suami to,, hihiihihiihihii
    Stuju sama nda cari laki - laki yang tidak kehilangan kelaki - lakiannya,, walaupun tidak seperti Rosulullah SAW setidaknya yang mencontoh Rosulullah SAW..
    #GoodJob :D

    ReplyDelete
  3. Jimbron, kebanyakan mikir nanti keburu disamber orang. Meskipun sekarang statement "Sebelum janur kuning melengkung" sudah tidak berlaku, tapi "sebelum jasad berkalang tanah" masih berlaku :p

    ReplyDelete
  4. Jana, awas hati2... banyak laki-laki kehilangan kelelaki-lakiannya dan wanita yang tidak kalah bejatnya. Be aware! Thanks for reading ya :)

    ReplyDelete
  5. Semoga segera menemukan kandidat terbaik ya. Terimakasih sudah ikut GA saya :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kembali kasih, mbak. Semoga berkenan, ini hanya cuplikan dari persepsi saya :)

      Delete
  6. ternyata setelah di baca bolak balik, di urut tiap kata, tiap kalimat.
    tu rasanya JLEBBB!!!! banget ...

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<