Thursday, January 16, 2014

Petunjuk Jalan Kebenaran

Hidayah tidak dapat diminta, tapi bisa saja ditolak. Tapi masak iya, pemberian ditolak?! Dengan Berbagai cara Allah memberikan hidayah bagi umatnya. Ada yang harus melalui masa lalu kelam, ada yang memang sudah ditatar untuk menjadi anak soleh dan solehah sejak dalam kandungan. Pun tidak menjamin anak seorang ustadz kenamaan mempu menempuh jalan hidup sesuai tuntunan Alquran dan hadist. Who knows...?! Allah selalu punya hak preogatif.

Seperti kisah seorang kawan yang baru saja saya kenal beberapa hari. Memang kami baru kenal beberapa hari, namun intensitas komunikasi kami cukup tinggi. Saya salut dengan beliau. Menjadi bagian dari kaum minoritas di Hongkong selama delapan tahun lamanya. Bahkan hidayah itu datang di negara tersebut. Bukan di Indonesia dengan mayoritas muslimnya. Tapi Allah berhak memilih siapa saja hambanya yang beruntung akan sebuah hidayah dan dengan cara apa.



28:56 
Artinya “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Alloh memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Alloh lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS Al Qashash: 56).

Mbak R, inisialnya. Ia datang ke Hongkong sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Selama delapan tahun (2006-2013), menurutnya akhir tahun 2013 adalah yang paling membawa berkah. Sebagai seorang nanny (pengasuh anak), ia mendapatkan hidayah yang memutar pola pikirnya mengenai akhlak seorang muslimah.

Ia bekerja selama 6 (enam) hari dalam seminggu, ia hanya mengingat Allah ketika dirundung masalah saja. Hari liburnya diisi dengan kegiatan modelling, atau sekedar konkow bersama dengan crew hip hop dance-nya, window shopping, atau kegiatan lain yang bersifat duniawi semata.

Hidayah itu datang melalui seorang pria yang bermaksud ingin mengenal lebih dekat (ta’aruf) dengannya. Kala itu orang tuanya di Surabaya tidak merestui niatnya untuk membina rumah tangga bersama pria tersebut. Masalahnya pria tersebut tinggal di negara berbeda dan tidak ingin menetap di Indonesia. Sebagai warga negara yang baik, Mbak R tentu sudah sangat cinta terhadap tanah airnya dan ingin kembali ke Indonesia suatu saat nanti.

“Anda Islam?” tanya pria itu.

“Iya,” jawab Mbak R mantap.

‘Bukankah Islam mewajibkan unutk berhijab? Dan anda akan terlihat lebih indah sebagai wanita kalau berhijab,” Mbak R meresapi kata-kata sarat makna yang diucapkan pria itu.

Lambat laun ia menangis mengingat ke-Islam-KTP-annya selama ini. Ia menyadari bahwa kehidupannya sangat jauh dari ajaran Rasulullah SAW. Bergaul dengan lawan jenis tanpa mahram (khalwat), cinta dunia (hubuddunya), dan kufur nikmat.

Alhamdulillah ... meskipun Mbak R hanya dipertemukan sesaat dengan pria itu, tapi yang paling penting adalah Allah mengirimkan hidayah kepadanya melalui pria itu. Cinta Mbak R kepada Allah tetap tak lekang, bahkan terus bertumbuh seiring waktu. Awalnya pria itu berpikir bahwa Mbak R berhijab karena dirinya. Namun Mbak R menegaskan bahwa meskipun mereka tak berjodoh, bukan berarti ia akan kembali lagi ke jalan yang salah.

 “There is no way to turn back for a such a way in my life anymore, ever and never,” katanya pada pria itu.

Mbak R kini menemukan kehidupan baru dan saudara-saudara baru. Ia sadar keputusan besarnya ini akan membuat teman-teman lamanya menjauh, tapi ada yang lebih penting dari sekedar dunia modelling dan hura-hura. Ada yang tertanam dalam hatinya kini. Ya, IMAN, yang selalu mengatakan bahwa perjuangan hidup ini akan berhenti pada satu stasiun akhir. Akhirat. Dunia hanya ladang untuk mencari bekal ke akhirat sampai kematian digariskan olehNya.

Barakallahu fiikum ...
Semoga bermanfaat, saya hanya menyampaikan suatu yang haq ,soal hidayah dan taufiq hanya Allah yang berhak memberi kepada hambaNya lewat jalan dan kondisi yang sedemikian rupa.

*Seperti diceritakan Mbak R kepada Rinda Gusvita

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<