Thursday, January 2, 2014

Rindu dan Tanda Seru

Rindu adalah dua suku kata yang terus menggebu dalam kalbuku. Setidaknya tulisan Tentang Rindu dan Kita mampu mewakili rasaku juga. Ketika berada dalam persimpangan arah mana yang akan dituju terkadang membuat pilu. Mengikuti perasaan rindu dan membuncahkannya seketika namun menemui sesuatu yang masih "tabu". Atau berjalan sendiri menggapai sesuatu yang juga belum pasti.

Tiga bulan tidak pulang mungkin biasa bagi beberapa orang. Namun tidak bagiku. Setidaknya selama tiga semester disini, aku pulang enam kali pada semester satu, empat kali pada semester dua, dan hanya dua kali pada semester tiga. Bukan karena aku kuat menahan rindu. Bahkan aku sangat ingin minum susu sebelum tidur dan menonton TV sambil membaca novel. Semua itu hanya bisa kulakukan dirumah. Tidak di kamar kos pengap berukuran 3x4 ini. 

Namun kepulanganku terkadang menghadirkan hal yang tabu. Beberapa pertanyaan yang terkadang saru. Atau sekedar sindiran tajam yang menikam. 

"Si anu sudah mau nikah, lho,...bla...bla...," kata saudara yang A.

"Eh, anaknya si itu lucu, kapan ya bla... bla...bla...," tanya saudara B.

"Kamu sekolah terus, lha kapan... bla... bla...,"tagih saudara C.

... dan beragam pertanyaan-pertanyaan tabu lainnya.

Disisi lain, saya sepakat dengan statement ini:
"... bahwa kenangan tak pernah bisa untuk dibunuh. Mungkin, dalam masa yang singkat hati bisa melupakan saat-saat itu. Tetapi tak bisa dikhianati, dalam masa-masa tertentu, kenangan itu datang menyapa hati dan memori. "

Sebab rindu yang terpagari ribuan tanda seru, saya juga pernah menuliskan ini:

Jika bintang-bintang sudah tidak dapat lagi menemani
Biarlah ku nikmati kesunyian ini

Sajak tak lagi dapat mewakili rasa
Maka biarkan aku menikmati hampa
Dan juga air mata
mungkin lebih bermakna daripada tawa
Penuh dusta

Pada batas antara rindu dan duka
Hati yang mati suri tiba - tiba terjaga
Tersadar bahwa kau masih ada
dan takkan ada gantinya

Begitu keras kumencoba
Tuk sekedar menghapus luka

Haruskah kita menyerah pada keadaan
Perkenalan
Pertemuan
Kerinduan

-BersamaSayupSuaraDanRenyahTawamuYangMasihTerngiang-
5 Juli 2012

 "Kita, adalah rangkaian kata antara aku dan kamu. Antara dua hati yang begitu dekat meskipun raga terpisah jauh. Antara dua hati yang saling memendam cinta untuk cinta yang sesungguhnya. Antara dua hati yang selalu diam namun bersapa dalam bisu. Untuk dua hati yang takut, bukan pengecut tapi senantisa sadar, bahwa ini bukanlah saat yang tepat. Antara dua hati yang rindu, menanti waktu berbuka untuk sebuah puasa yang panjang."

Rindu. Mungkin memang masih harus dipagari ribuan tanda seru. Hingga kelak, takdir membuka jalannya, untuk hati saling bertaut dan fisik saling mematut. Rindu adalah urusan kalbu yang memaksa kita selalu menunggu, hingga tak pernah bosan mengadu. Ada isyarat yang mampu sampai meski tanpa bahasa. Itulah mahadaya cinta. Jarak hanyalah bilangan yang tak berarti apa-apa ketika isyarat dalam dada begitu menggelora.

***

Mengenai rekomendasi buku, saya sebenarnya agak mengalami kesulitan untuk mengerucutkan dari sekian banyak buku-buku berkesan. Namun ketika berbicara mengenai tekat dan keberanian, saya sangat menyukai "Amba: Sebuah Novel" karya Laksmi Pamuntjak yang diterbit setahun silam. 

Awalnya saya banyak membaca tentang pulau buru melalui Tetralogi Buru-nya Pramoedya Ananta Toer. PKI, Orde Baru, tahanan politik, ya itulah isi dari legenda Pulau Buru. Sementara Amba memberikan pelajaran yang lebih detail lagi mengenai Pulau Buru. Gejolak, suasana, bahkan rindu.

"Selalu ada yang membuat terlena dan tak berdaya pada hujan, pada rintik dan aromanya, pada bunyi dan melankolinya, pada caranya yang pelan sekaligus brutal dalam memetik kenangan yang tak diinginkan” 

Laksmi Pamuntjak mampu menggambarkan suasana desa, adat, tata krama, sampai budaya pada masa silam. Novel ini mampu memberikan pelajaran kepada saya tentang Serat Centhini, tembang-tembang, budaya kejawen, sampai kisah Mahabharata. Hingga Sang Tokoh utama, Amba beranjak dewasa, penggambaran mengenai keadaan sosial-politik paska meletusnya G/30/S/PKI di Kediri dan Yogyakarta. Hingga akhirnya cerita beralih setting ke Jakarta dan tentu saja Pulau Buru.

 “Laut seperti ibu. Dalam dan menunggu.”
 
Novel ini memberikan gambaran bahwa pernah ada penghianatan kemanusiaan ketika masa Orde Baru. Manusia-manusia yang melawan sejarah, meski pada akhirnya kalah.
Amba; novel terbaru karya Laksmi Pamuntjak, akan terbit 27 September 2012.Sinopsis: Dalam epik ini, kisah Amba dan Bhisma dalam Mahabharata bertaut (dan bertabrakan) dengan kisah hidup dua orang Indonesia dengan latar kekerasan tahun 1965. Amba anak sulung seorang guru di Kadipura, Jawa Tengah. Ia meninggalkan kota kecilnya, belajar sastra Inggris di UGM dan bertunangan dengan Salwa Munir, seorang dosen ilmu pendidikan yang mencintainya. Pada suatu hari di Kediri, ia bertemu dengan Bhisma Rashad, seorang dokter muda lulusan Universitas Leipzig yang bekerja di sebuah rumah sakit.
Percintaan mereka yang intens terputus mendadak di tahun 1965, di tengah ketegangan dan kekerasan politik setelah Peristiwa G30S di Kediri dan Yogya.
Bhisma tiba-tiba hilang—-ketika Amba hamil.
Beberapa tahun kemudian, setelah Amba menikah dengan seorang peneliti keturunan Jerman, datang kabar bahwa Bhisma meninggal. Ia meninggal di Pulau Buru.
Rupanya selama itu, sejak sebuah bentrokan di Yogya, Bhisma, dijebloskan dalam tahanan di Jawa, dan sejak akhir 1971 dibuang ke pulau itu, bersama 7000 orang yang dituduh ‘komunis’ oleh pemerintahan Suharto.
Amba, yang tak pernah berhenti mencintainya, datang ke pulau itu dengan ditemani seorang bekas tapol, seorang lelaki Ambon. Ia berhasil menemukan surat-surat Bhisma yang selama bertahun-tahun ditulisnya untuk dia—tetapi tak pernah dikirimkan, hanya disimpan di bawah sebatang pohon.
Dari surat-surat yang selama bertahun-tahun disembunyikan ini terungkap bukan saja kenangan kuat Bhisma tentang Amba, tetapi juga tentang pelbagai peristiwa—yang kejam dan yang mengharukan—dalam kehidupan para tahanan di kamp Pulau Buru.
Melalui penelitian bertahun-tahun, melalui puluhan interview dan kunjungan ke Pulau Buru, Laksmi menampilkan sejarah Indonesia yang bengis, tetapi justru dengan manusia-manusia yang mencintai. Dalam sepucuk suratnya kepada ayahnya Amba menulis:
Adalah Bapak yang menunjukkan bagaimana Centhini sirna pada malam pengantin… Adalah Bapak yang mengajariku untuk tidak mewarnai duniaku hanya Hitam dan Putih, juga untuk tidak serta-merta menilai dan menghakimi. Hitam adalah warna cahaya. Sirna adalah pertanda kelahiran kembali.

* Ukuran : 15 x 23 cm* Tebal : 496 halaman* Harga : Rp. 69.000,-* Cover : Softcover* ISBN : 978-979-22-8879-2— Jika ingin mendapatkan novel Amba edisi khusus bertanda tangan penulis, pre order online di http://www.gramedia.com/book/detail/9789792288792 —


Buku kedua: Simplify Your Life by Elaine St. James. Sayang sekali saya dulu hanya meminjamnya sehingga tidak punya dokumentasi. Seperti judulnya, buku ini mengajarkan kita untuk menyederhanakan hidup kita agar tidak terlalu kompleks.  Saya pikir buku ini penuh dengan ide-ide besar dan tips untuk tidak hanya membantu menyederhanakan kehidupan yang hectic, tetapi juga belajar untuk lebih menikmati hidup dan menyediakan lebih banyak waktu untuk diri sendiri dan keluarga.

Membaca buku ini akan memberikan rasa kebebasan baru dan membantu menyadari bahwa banyak hal yang menurut kita penting saat ini benar-benar tidak diperlukan untuk hidup, karir, atau hubungan dengan sesama manusia. Untuk itulah, buku ini mengajarkan kita untuk membuang benda-benda yang tidak bermanfaat dalam hidup kita. Apapun.

***

Toko online sudah semakin menjamur akhir-akhir ini. Kalaupun ada offline-nya, pelaku usaha juga sudah mulai mengembangkan internet marketing melalui berbagai media. Untuk itu, merintis suatu toko online membutuhkan pemikiran yang sangat matang terkait:
1. Persediaan barang/produk (inventory)
2. Pelayanan yang real time
3. Kemudahan bertransaksi
4. Kemudahan dalam memilih dan menemukan produk yang dicari oleh konsumen

Hal-hal tersebut diatas menurut saya dapat didukung oleh media yang digunakan untuk berdagang, misalnya, blog, facebook, twitter, dan lain sebagainya. Setelah  berkunjung ke http://www.senyumgadget.com/ sebagai calon pelanggan saya merasa sedikit kebingungan. Pasalnya saya tidak diberikan penjelasan mengenai produk yang dijual (spesifikasi produk). Ada kalanya calon pembeli membutuhkan pertimbangan antara produk yang satu dengan yang lain. Baik untuk menentukan skala prioritas mengenai produk mana yang akan dibeli ataupun produk mana yang dipilih dibandingkan dengan produk lainnya tentunya membutuhkan pertimbangan. Misalnya dari keutamaan salah satu produk dibandingkan dengan produk sejenis dengan merek yang berbeda.

Disamping itu penjelasan mengenai cara pemesanan menurut saya kurang lengkap. Ada baiknya penjelasan dimulai dari bagaimana konsumen memilih barang, cara bertransaksi, proses pengiriman barang, dan garansi. Saya pikir hal ini perlu dijelaskan dengan sangat rinci. Apalagi untuk toko gadget yang rentan cacat. 

Hal yang tidak kalah penting adalah pengelompokan produk. Power bank, ipod, dan lain sebagainya dikelompokkan masing-masing sehingga konsumen tidak mengalami kesulitan. Bukan hanya dengan label, tapi juga pada tampilan awal yang berisi foto-foto dan harga.

Dalam hal penampilan blog, saya pribadi sebagai konsumen on line lebih suka tampilan sederhana dengan warna atau corak yang tidak terlalu ramai. Persis seperti blog Senyum Gadget. Hal yang paling penting adalah kelengkapan informasi dan kemudahan pencarian produk. Jika saya akan berbelanja namun saya malah bingung, saya akan lekas berpindah ke toko yang lain. Toko tidak hanya menjual barang, tapi juga jasa/pelayanan. 

2 comments:

  1. terimakasih sudah ikutan, terdaftar sebagai peserta ke sebelas :)

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<