Wednesday, January 15, 2014

Rindu Tak Terperi

Hari Ini, Islam Jadi Agama Terbesar di Dunia, begitulah tajuk rubrik Khazanah Republika On Line hari ini (14/1/14). Dikatakan bahwa jumlah penduduk dunia (2013) adalah 7.021.836.029. Sebaran menurut agama adalah: Islam 22.43%, Kristen Katolik 16.83%, Kristen Protestan 6.08%, Orthodok 4.03%, Anglikan 1.26%, Hindu 13.78%, Buddhist 7.13%, Sikh 0.36%, Jewish 0.21%, Baha’i 0.11%, Lainnya 11.17%, Non Agama 9.42%, dan Atheists 2.04%. 
Namun hingga saat ini kesalahpahaman tentang Islam dan Muslim masih menjadi pekerjaan rumah komunitas Muslim minoritas di beberapa negara. Untuk itu, mereka coba memanfaatkan iklan komersial guna mengedukasi publik melalui pemaparan teladan Rasulullah Muhammad SAW. Lalu bagaimana dengan Suriah, Palestina, Rohingya (Myanmar), bahkan Indonesia sendiri dengan mayoritas penduduk beragama Islam. Padahal Allah SWT berfirman

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 128).

Disatu sisi, saya bangga menjadi bagian dari kelompok mayoritas agama terbesar di dunia. Disisi lain, saya sedih karena belum bisa berbuat apapun untuk kejayaan dien ini. Saya masih terus berkutat dengan kepentingan diri sendiri. Saya belum mampu memberikan sumbangsih untuk umat.

Sementara Rasulullah SAW bahkan sangat bersedih ketika melihat umatnya dalam keadaan yang susah. Beliau juga sedih jika ada umatnya yang disiksa di neraka. Perlu dipahami, bahwa kata “umat Rasulullah SAW.” tidak hanya meliputi orang yang beriman saja. Tapi meliputi semua orang yang hidup setelah beliau diangkat sebagai nabi dan rasul. Sehingga orang Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lain-lain adalah umat Rasulullah SAW. juga. Beliau merasa sedih jika orang-orang itu tidak masuk Islam.
Kesedihan Rasulullah SAW ketika melihat ada umatnya masuk neraka, digambarkan dalam sebuah hadits:
“Perumpaanku adalah seperti seseorang yang menyalakan api unggun. Setelah api menyala, banyak binatang (laron) yang berhamburan menghinggapinya. Orang itu menghalau binatang-binatang itu agar tidak masuk ke dalam api. Tapi binatang-binatang itu mau dihalau, dan tetap ingin masuk api. Maka akhirnya mereka masuk api. Demikianlah, aku menghalau kalian dari masuk api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beliau sama sekali tidak pernah marah dan menghardik. Dalam sebuah hadits disebutkan:
“Sungguh Rasulullah saw. tidak pernah memukul sesuatupun dengan tangannya. Tidak isterinya, pembantunya, kecuali jika sedang berjihad di jalan Allah swt. Ketika beliau disakiti, beliau tidak pernah membalas dendam kepada orang yang melakukannya. Kecuali jika yang dilanggar adalah kemuliaan Allah swt., maka beliau akan membalasnya karena Allah swt.

Sebab inilah yang membuat beliau berjuang sedemikian rupa demi umatnya mendapatkan hidayah dari Allah SWT. Beliau rela dihina, dikucilkan, disiksa, dan sebagainya demi umatnya mendapatkan kebaikan. Bisa dibayangkan beliau berbuat baik kepada mereka, tapi sebaliknya mereka berbuat keburukan kepada Rasulullah saw. Walaupun begitu, beliau tetap berdakwah dengan penuh rasa sayang. Tidak berubah sama sekali. Sebuah kesabaran yang sangat besar. Semua hal yang baik pasti telah beliau perintahkan; dan semua keburukan pasti telah beliau larang. Semua itu adalah demi kebaikan umatnya.

Beliau tidak mau umatnya dibinasakan karena menolak dakwah Rasulullah SAW. Padahal umat-umat terdahulu semuanya binasa ketika mereka menolak dakwah para nabi. Misalnya kaum nabi Nuh as. dibinasakan dengan banjir, kaum nabi Luth as. dengan hujan batu, dan sebagainya. Sedangkan hal seperti itu tidak berlaku untuk umat Islam. Saya bertanya pada diri sendiri, sumbangan apa yang dapat mereka bagikan kepada kemanusiaan, sebelum saya berani menuntut dunia untuk menghormati saya.

Bagaimanapun penderitaan yang beliau rasakan dari umatnya, beliau tetap bersikap baik kepada mereka. Dalam sebuah hadits disebutkan:
“Beliau dipukuli kaumnya hingga berdarah. Namun sambil menghapus darah dari wajahnya, beliau berdoa, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari).

Dear Rasulullah, We Miss You
Beliau tidak mau umatnya dibinasakan karena menolak dakwah Rasulullah SAW. Padahal umat-umat terdahulu semuanya binasa ketika mereka menolak dakwah para nabi. Misalnya kaum nabi Nuh AS, dibinasakan dengan banjir. Kaum nabi Luth AS dengan hujan batu, dan sebagainya. Sedangkan hal seperti itu tidak berlaku untuk umat Islam. Bagaimanapun penderitaan yang beliau rasakan dari umatnya, beliau tetap bersikap baik kepada mereka.

Bahkan hingga menjelang ajalnya, Beliau selalu memikirkan umatnya. Ummati... ummatii... ummati... bukan hartaku, istriku, atau anakku...

Aku umatmu! Ya, aku... yang selalu sibuk dengan masalah duniawi. Aku yang selalu membenci tempat ini. Aku yang selalu ingin pulang kepangkuan ibu. Aku yang selalu berpikir agar trendi. Aku yang selalu ingin ... ah, terlalu banyak keinginanku. 

Masyaallah... Malu diri ini jika bercermin dari Rasulullah SAW. Saya pengagum hardcore Rasulullah. Seperti layaknya seorang pengagum, saya ingin bertemu, menghadiri kajian dengan narasumber Rasulullah SAW. Saya sungguh ingin dikumpulkan bersama The Best Role Model Of Muslim. Sangat ingin dipertemukan dengan Rasul Allah yang ketampanannya bahkan kalah tersohor dibandingkan kharismanya. Sungguh Rasulullah bagaikan matahari dimana saya tidak sanggup memandangnya berlama-lama dengan kedua mata saya. Saya cukup merasakan kehangatan dan pancaran sinar hidayahnya. Rindu ini sungguh tak terperi, yaa rasul...
Allahumma Shalli Alaa Sayyidina Muhammad Wa alihi Washahbihi Wasallim
 

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<