Tuesday, February 4, 2014

Yogyakarta Never Ending Asiknya #6 : Kota Gede

Tidak sedikit orang yang melewatkan Kota Gede dari daftar kota yang harus dikunjungi ketika berwisata ke Yogyakarta. Saya sendiri belum pernah benar-benar tuntas mengeksplorasi Kota Gede, meskipun sering bermalam di salah satu kantor NGO disana. Baru beberapa hari lalu ketika saya dan seorang kawan hendak membeli seperangkat perhiasan perak untuk kawan kami di Lampung, saya baru sedikit menjelajah Kota Gede. Yap, wilayah ini memang dikenal dengan kerajinan peraknya. Padahal, menurut saya Kota Gede menyimpan keunikan sosiologis yang berpadu dengan antropologisnya. 

Kota Gede merupakan bagian dari Kesultanan Surakarta yang merupakan Ibukota Kesultanan Mataram. Hingga pada akhirnya kerajaan itu terpecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Maka dari itu, kota ini menyimpan heritage yang sangat mengagumkan dan masih dijaga hingga kini oleh masyarakat setempat.


Bagus Bagus Silver

Dengan mengendarai sepeda motor dari Sleman, saya dan seorang kawan berniat mengunjungi salah satu toko perak yang direkomendasikan oleh  kawan saya yang merupakan penduduk pribumi. Berbekal google map, kami menelusuri Kota Gede di sore hari selepas hujan. Tanpa kami sangka sebelumnya, ternyata lokasi toko yang dimaksud berdekatan dengan kantor yang sering saya sambangi. Toko ini terletak diseberang Omah Dhuwur dan tidak jauh dari HS Silver. Keduanya merupakan tempat yang sudah banyak dikenal. 

Bagus-Bagus Silver menyediakan berbagai perhiasan dan benda-benda kerajinan yang terbuat dari perak. Harganya cukup miring, ditambah dengan ramahnya pelayanan merupakan nilai lebih dari toko ini. Beberapa toko yang pernah saya sambangi mematok harga yang lebih tinggi. Selain itu disini kita bisa memesan desain custom dengan harga sama dengan desain yang sudah ada. Tergantung berat dan kerumitannya.

Di Kota Gede juga tersebar beberapa showroom perak yang juga menyediakan paket belajar membuat kerajinan perak. Jadi komplit, mau jalan-jalan dan looking around aja, atau memborong sampai belajar menjadi pengrajin perak, Kota Gede adalah tempat yang tepat.



Contoh set perhiasan perak dengan rate IDR 500k - 1,500k
Peta lokasi : dapat dilihat disini

Komplek Makam Kerajaan Mataram
Setelah berputar-putar dibeberapa lokasi toko perak, saya mengajak bertualang kawan saya yang belum pernah berkunjung ke Kota Gede. Meskipun saya sudah beberapa kali kesini, tapi tetap saja nyasar. Tapi justru karena tersesat itulah saya banyak menemukan hal baru. Maka jargon petualangan sore itu adalah "Malu bertanya akhirnya jalan-jalan". 
Kami mengunjungi Komplek Raja-Raja Mataram. Biasanya, saya sendiri enggan untuk masuk dan menginjakkan kaki di dalam komplek yang terkesan gothic ini. Namun entah mengapa, kali ini saya memberanikan diri untuk memarkir si kuda besi dan mengajak kawan saya masuk. Tapi karena diharuskan memakai kemben jika ingin masuk lebih jauh, maka kami urung mengeksplorasi tempat ini.

Kami hanya melihat-lihat sekitaran Masjid Gede yang dibangun pada dua era pemerintahan Sultan Mataram. Masing-masing meninggalkan ciri yang berbeda pada bentuk tiang-kubah, dan tempat imamnya. Karena adanya larangan bersemedi dan semacam di lokasi ini, maka banyak orang yang bermalam atau sekedar beristirahat melepaskan penat di tempat yang telah disediakan (bukan di dalam masjid).




Selain itu di komplek ini terdapat sekitar 670 makam yang tercatat oleh pihak pengurus komplek. Konon masih banyak makam yang tidak tercatat baik itu karena sudah rusak, maupun karena memang tidak ada penanda makam. Komplek makam ini selanjutnya dipindahkan ke daerah Imogiri oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo pada waktu beliau memerintah disana. 




Peta lokasi dapat dilihat disini 
Cokelat Monggo dan Pasar Legi
Keluar dari Komplek Makam Raja-Raja Mataram kearah kanan, kita akan mendapati salah satu perusahaan cokelat kenamaan di Kota Gede. Untuk mengenalnya lebih jauh silahkan kunjungi chocolatemonggo.com. Bukan hanya untuk mendapatkan produknya tentu saja, karena produk cokelat monggo dapat kita beli di beberapa toko di Yogyakarta. Lebih dari itu, kita bisa menikmati interior etnik Jawa dan mencicipi aneka rasa cokelat yang tersedia. Kita juga bisa menyaksikan proses produksi dan belajar bagaimana menghasilkan produk yang sangat higienis dan terjaga kualitasnya. kemasan Cokelat Monggo yang menggunakan bahan kertas daur ulang, merupakan bukti tinggi kreativitas sekaligus awareness pihak perusahaan terhadap lingkungan.

Peta lokasi Cokelat Monggo dapat dilihat disini

Dari lokasi pabrik Cokelat Monggo, kita akan mendapati suasana pasar tradisional yang disebut Pasar Legi. Konon disini dujual aneka kudapan yang sudah dikenal sejak zaman baheula. Tapi sayangnya kami datang terlalu sore dan hampir maghrib ketika kami tiba dipasar ini sehingga jajanan yang dimaksud sudah habis.

Warung Bakmi Jowo Mbah Gito
Honestly saya belum pernah cocok dengan makanan berjender "bakmi". Entah apa alasan pastinya, yang jelas mulut hingga perut saya sulit menerimanya. Mungkin karena teksturnya, mungkin juga bau khasnya yang kurang sedap. Saya pikir makanan di Yogyakarta ini mempunyai aroma khas yang sebenarnya kurang bisa saya terima.
Tapi kali ini saya tertarik dengan eksterior sebuah warung bakmi yang berada disudut perempatan Jalan Nyi Ageng Nis, Rejowinangun, Kota Gede. Saya menemukannya (lagi-lagi) karena tersesat. Entah sudah berapa kali saya tersesat diperempatan itu, namun baru kali ini saya benar-benar ingin singgah sebentar sekedar memenuhi rasa ingin tahu.


Furnitur di dalam warung ini terbuat dari bilah-bilah bambu besar yang terkesan etnik dan klasik. Begitu juga hiburan yang disediakan di sini setiap sabtu malam. Mereka menggelar karawitan dari sudut warung. Menurut salah seorang karyawan, setiap malam minggu warung tersebut selalu ramai, bahkan sampai antri. Rupanya warung ini juga sempat disinggahi oleh beberapa orang penting. Hal itu terbukti dari beberapa foto yang menghiasi dinding bagian dalam warung.



Spot lain yang tidak boleh dilewatkan di Kota Gede adalah Sate Sapi di Lapangan Karang, Kebun Binatang Gembira Loka, dan Jalan Kemasan yang merupakan sentra produksi dan penjualan perak.





3 comments:

  1. wuuaaaaaa jalan2 teyus ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya tuh ....
      huhuhu

      Delete
    2. Ah pengennnn yaaaa...? Ayo berkunjung ke Jogja manise :D

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<