Saturday, March 8, 2014

Balada Rindu

Cinta tanpa kebersamaan hanya meninggalkan bayangan. Ya, kenangan itulah yang memunculkan sisi paranoid di kepalaku. Ia akan mengikuti kemana pun kita pergi. Kamu tahu cinta platonis? Seperti itulah kira-kira takdir bayang-bayang, tak terengkuh namun dia ada. Aku tak sebaik bayang-bayang itu. Aku kalah. Aku lemah. Ketakutan-ketakutan itu yang menuntun jemariku menuliskan kalimat-kalimat lancang sebelum ini.
 
Terlebih dikala  duniaku terlalu ramai oleh rindu yang meraung-raung. Rindu yang naas. Rindu yang tak mampu mengenyahkan jarak antara aku dan kamu. Kemudian kecerdasan emosimu yang lagi-lagi meluluhkanku.


Aku memimpikan malam-malam kita yang lengang kelak. Kita melepaskan pandangan menatap langit. Kita bercerita tentang keriuhan dunia masing-masing seharian tadi. Sesekali kita menggumam tentang mimpi dan harapan. Kemudian kita berimajinasi tentang sesuatu yang tak pernah bisa kita duga.

Aku merindukan kehangatan malam. Secangkir kopi dengan sedikit sekali gula untukmu, dan cokelat hangat untukku. Kemudian aku sekedar mencicip kopimu hingga tetes terakhir dari cangkir kita. Matamu melotot, tawamu meledak hingga barisan gigi-gigimu kering. Kita bertukar kehangatan.

Di lain kesempatan aku melamunkan tentang kita yang berjalan di pematang. Menengok padi yang telah berisi. Seperti cintaku padamu yang telah ranum. 

Kemudian kita bersepeda. Sesekali jemari kita bersentuhan, tawa kita membuncah, mata kita berpandangan. Hingga rumput dan pepohonan merunduk malu, dan bunga-bunga merekah diiringi tiupan bayu.

Seindah itulah aku merindukanmu. Aku semakin merindukan saat-saat itu. 

Maafkan jika kesabaranku tak seluas cakrawala. Hingga selalu terlontarkan kata tanya: kapan dan bagaimana aku akan mencium punggung tanganmu sepulangnya kamu dari masjid. Kemudian aku berupaya menyuguhkan segelas kopi terbaik versiku. Saat itulah kamu benar-benar menjadi rumahku sekaligus pemimpinku. Hanya untukku.

Pada jarak yang membentang ini, izinkan aku merinduimu. Menikmati sisa-sisa aromamu sembari aku terus belajar untuk memberikan cinta terbaikku, meski bukan yang pertama untukmu.

Pada jarak yang membentang ini, izinkan rinduku luruh dalam puisi, yang tak pernah sanggup kutuliskan satu persatu. Hanya dalam benakku.

Pada jarak yang belum berpihak aku merengkuhmu dalam doa dan pelukan.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<