Sunday, March 23, 2014

Kepulangan yang Kekal

Kabar kematian semakin akrab saja ditelinga. Bayang-bayang kepulangan ke rumah yang sesungguhnya semakin nyata adanya. Semasa SD yang kutahu hanya dua orang baik yang sangat sayang padaku meninggalkan dunia ini dalam dua tahun berselang. Ya, ketika itu aku belum paham kenapa Bapak meraung-raung ketika sampai di depan rumah Mbah Bandar (panggilan untuk orang tua Bapak). Mbah Kakung yang sakit, tapi malah Mbah Putri yang pergi lebih dulu. 

Ketika itu aku sedih karena aku tahu tidak akan ada lagi yang tiba-tiba ada di depan rumah, bermain bersamaku sembari membersihkan rumput diatas gunung-gunungan. Mereka sudah tiada lama sekali sebelum aku paham apa itu kematian. 


Ketika SMP aku mendapati adik Bapak juga pergi meninggalkan suami dan anak laki-lakinya. Aku juga belum paham penyakit apa yang merenggutnya. Aku hanya bisa diam menyadari bahwa yang tersisa hanya adik ipar dan adik Bapak satu-satunya. Baru kemudian aku merasa kehilangan.

Tahun 2005 aku menggugat kepada Tuhan, kenapa Ia memanggil Mbah Kakung saat aku akan mengikuti English Competition? Mbah Kakung sangat tidak pengertian, pikirku. Bapak dan Ibu harus disibukkan oleh acara pulang kampung dengan berurai air mata tanpa memberikan dukungan kepadaku yang akan berlomba. Aku juga dipaksa ikut ke rumah Mbah Tataan (sebutan untuk orang tua Ibu) sementara aku sedang on fire menghafalkan teks pidato yang kususun dengan susah payah. Aku benci kenapa Mbah Kakung pergi tanpa kompromi dan menentukan tanggal baik.

Dan empat puluh hari yang lalu, Mbah Putri yang tersisa juga menghembuskan napas terakhirnya pukul dua siang ketika aku berada di laboratorium. Beliau memang sakit sejak enam bulan silam, tapi sakitnya kadang-kadang. Ketika dirasa badan sudah tak mampu lagi menahan lara, sebenarnya sudah sejak awal tahun kemarin Mbah Putri mengikhlaskan hidupnya. 

"Aku sebenarnya ya sudah ikhlas kalau mau 'diambil' sekarang, tapi kok Rinda lagi ujian di Jogja sana," katanya kepada seorang Bude.

Ucapannya seketika membuatku pilu bukan kepalang. Cepat-cepat aku menyusun rencana untuk melanjutkan penelitian di Lampung. Di sini aku bisa mengobati aneka macam sakit hati yang kupendam diperantauan. Pulang kampung adalah ide terbaik untuk memberikan jawaban kenapa berat badanku susut hingga sepuluh kilogram.

Seminggu lamanya aku tidur bersama Mbah Putri yang napasnya tersengal-sengal. Badannya sangat tipis seperti menempel dengan kasur. Kulitnya keriput tanpa daging. Wajahnya kuyu, tapi dia masih mampu berjalan. Ke kamar mandi sendirian kemudian beristirahat sejenak dan duduk dikursi mengatur napas. Sesekali memperhatikan dan mengomentari aku yang sedang mencuci baju. Atau mengomentariku yang berangkat ke lab pukul setengah tujuh pagi dan kembali pukul setengah tujuh malam. Masih seperti dulu, hanya bedanya aku tidak lagi pulang pukul sembilan malam, bahkan pukul dua pagi sehabis turun lapang. 

Mbah Putri tidak mampu lagi membuatkanku segelas susu dan sarapan. Ada Bude yang menggantikan. Mbah Putri juga tidak lagi menungguku pulang, matanya terpejam kapanpun dia mau.

Malam minggu pukul dua belas kurang sedikit tiba-tiba napas Mbah Putri tersengal. Tubuhnya mengejang sesekali. Sakit. Sangat sangat sakit hingga tangannya tak pernah melepaskan genggamanku. Pagi hari baru kutahu bahwa tubuhnya mengalami stroke sebagian. Organ badan sebelah kirinya lunglai seperti tak bertulang dan tak mampu digerakkan. Mulutnya juga tak bisa lagi berucap. Wajahnya pucat pasi. Ketika itulah aku menangis, bukan karena aku sadar hidupnya takkan lama lagi. Tapi aku tidak ingin Mbah Putri mengalami penderitaan. Hidup seperti tak mungkin, meninggal pun tidak. Hidupnya telah sarat dengan derita. Aku tidak rela jika menjelang ajalnya ia harus menderita pula. Aku merasakan sakitnya. 

Dua hari berikutnya ia di vonis koma. Sehari kemudian selang oksigen dicabut dari hidungnya karena sudah tidak dapat direspon lagi oleh tubuhnya. Selama itu pula aku tidak pergi ke laboratorium. Dan dihari berikutnya aku pergi ke lab karena mengkhawatirkan sampelku. Aku pun diizinkan pergi oleh Ibu yang selalu ada disamping Mbah Putri.

Aku sedang menangani begitu banyak sampel di meja, dan berita duka itu pun datang pada waktu yang tidak tepat. Lagi-lagi aku marah kepada Mbah Putri, kenapa harus pergi ketika aku tidak berada di rumah? Kenapa pergi ketika sampelku menanti untuk dianalisis. Ketika Ibu dan Widi sudah tiga hari tidak pergi kesekolah. Ketika Bapak sudah ada disana sejak sehari yang lalu, tanpa Ratri yang sedang menghadapi ujian di sekolahnya. 

Aku berusaha meraba semua perih tapi aku tidak menangis. Aku juga tidak meraung. Aku dengan santai mengambil motor diparkiran dan menjemput Adi di kampusnya. Kami tidak menangis, tapi hati kami tersayat. Ketika itu aku berpikir aku tidak perlu lagi terburu-buru, karena Mbah Putri sudah pergi. Mbah Putri sudah tidak mungkin lagi mendengar keluhku. Aku juga tidak mampu mencegah malaikat yang merenggutnya dari kami. Kami hanya bisa berpasrah dan mendoakan. Maka aku pulang dengan mengendarai sepeda motor pelan-pelan.

Malam ini, empat puluh hari kepergian Mbah Putri. Ada rindu yang terselip, ada doa yang terus mengalir. Ketika seluruh keluarga telah berkumpul untuk berdoa bersama-sama, aku tengah kisruh dalam pelatihan disebuah hotel berbintang. Aku pun pulang, bukan untuk melakukan perayaan empat puluh harian, tapi untuk bertemu keluarga dan mengambil baju ganti. Aku pulang untuk bersama-sama tertawa renyah mengakrabkan diri satu sama lain. Aku pulang tanpa tangis duka lara, karena Mbah Putri telah tenang berada di rumahnya. Disisi Tuhan yang begitu menyayanginya. Pulang ke sisi Tuhan adalah pilihan terbaik, karena dunia hanyalah tempat untuk patah hati.


No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<