Sunday, March 30, 2014

Tertindas, Berharap, dan Masih Menunggu



Sejak kecil saya tinggal di sebuah desa yang jauh dari kota. Desa yang  menyimpan kenangan masa kecil saya itu bernama Desa Bumirestu yang terletak di ujung Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan. Dulu orang tua saya berencana pindah dari sana, tapi semua itu tinggalah rencana karena sampai saat ini kami masih tinggal disana.
Masyarakat asli desa kami kebanyakan adalah buruh tani. Banyak juga yang mempunyai lahan pertanian sendiri. Masyarakat pendatang rata-rata berprofesi sebagai guru dan petugas kesehatan.
Desa kami mampu menghasilkan berton-ton padi dan jagung. Itu sebabnya banyak truk berseliweran disaat panen. Mereka akan mengangkut hasil pertanian ke kota. Sayangnya, jalanan di sana tidak dibuat sesuai peruntukannya. Alhasil, aspalnya cepat sekali rusak.

Saya ingat betul kapan terakhir kalinya kami menikmati jalanan bagus. Kalau tidak salah sekitar tahun 2003. Waktu itu saya masih SMP dan bersekolah mengendarai sepeda jenki. Ketika jalan raya selesai diperbaiki, saya dan kawan-kawan beradu kecepatan bersepeda ketika pulang sekolah. Maklum saja, kami memang sudah terbiasa menikmati aspal jalanan yang rusak. Jadi kami keheranan dan senang sekali jalanan desa kami diperbaiki.
Desa kami berada sekitar dua puluh kilometer dari Jalan Lintas Sumatera. Wajar saja kami sangat terisolir. Tidak ada angkutan umum yang mau masuk daerah kami. Selain masyarakat kami jarang bepergian jauh, jalan rusak juga menjadi penghambat masuknya akses angkutan massal. Akibatnya kami harus mempunyai kendaraan sendiri. Dalam satu rumah, biasanya masyarakat desa kami mempunyai dua buah sepeda motor. Kebanyakan dari mereka membelinya secara kredit, menggunakan sepeda motor tua atau sepeda motor bodong.
Kondisi jalan di desa kami
Selain untuk pergi ke sawah dan mengangkut hasil panen, sepeda motor sangat dibutuhkan oleh anak-anak untuk pergi ke sekolah yang jaraknya  jauh dari rumah. Meski di depan rumah saya juga terdapat Madrasah Aliyah dan SMA, tapi saya dan beberapa kawan memilih melanjutkan SMA di Ibu Kota Kabupaten. Untuk mencapai sekolah, kami harus menaiki sepeda motor dan menempuh jarak lebih kurang dua puluh lima kilometer. Adik saya pergi ke sekolah di Kota dengan mengendarai sepeda motor dari rumah kemudian menitipkan motornya di desa yang sudah ada akses angkutan pedesaan. Tidak jarang juga kawan-kawan yang mengontrak kamar di sekitar sekolah atau kampus mereka agar tidak terlalu capek dan memakan biaya. Jika hujan turun, kami harus melawan hujan dan bobroknya jalan. Jika musim kemarau datang, kami harus kenyang menghisap debu, mengucek mata, sekaligus menyedot emisi dari kendaraan-kendaraan tua yang sebenarnya sudah tidak layak jalan lagi.
Jangankan aspal jalan di desa, Jalan Lintas Sumatera yang harus kami tempuh jika kami akan ke pelabuhan, bandara, dan Kota Bandar Lampung saja kondisinya rusak parah. Terlebih jika hujan melanda, kubangan air seperti danau dimana-mana. Tentu saja hal ini menghambat distribusi berbagai komoditas dan membahayakan pengendara. 


Jalan Lintas Sumatera
Aspal jalanan yang rusak merupakan keluhan masyarakat yang utama. Infrastruktur jalan merupakan kebutuhan pokok bagi terlaksananya berbagai macam aktivitas, baik ekonomi, pendidikan, maupun sosial. Sudah tak terhitung lagi banyaknya pihak yang menanamkan harapan palsu bagi masyarakat desa kami. Sayangnya, Presiden SBY, Jokowi, dan  para pengurus negara ini tidak pernah menginjakkan kaki di Bandar Lampung melalui jalur laut. Sehingga mereka tidak merasakan tubuh pegal, kendaraan rusak, bahkan menjadi saksi atau mengalami kecelakaan ketika melewati Jalan Lintas Sumatera. Apalagi menikmati nyamannya jalanan di desa kami.
Masyarakat kami sudah apatis dengan buaian janji ini-itu. Padahal di desa kami ada satu orang anggota DPRD Propinsi yang kini telah mengundurkan diri. Kami kurang tahu alasan pengunduran dirinya apa. Ada juga anggota DPRD Kabupaten yang saat ini mencalonkan diri kembali. Masyarakat tidak mau tahu mereka duduk di komisi mana di gedung DPR. Masyarakat terlanjur menaruh harapan. Setidaknya mereka mampu memperjuangkan apa-apa yang menjadi hak warganya. Karena masyarakat pula mereka terpilih dan bisa duduk sebagai anggota dewan yang terhormat.
Alih-alih memperhatikan keluhan dan peka terhadap masyarakat desa kami, cara-cara yang arif dalam berkampanye juga nampaknya tidak dipedulikan. Banyak sekali pelanggaran yang dilakukan oleh tim sukses pemenangan para calon legislatif (Caleg). Seharusnya mereka mampu mengedukasi tim suksesnya untuk tidak melanggar aturan yang berlaku.
Pohon-pohon yang tersakiti
Di depan rumah saya di tanam beberapa pohon palm. Harapannya jalanan desa kami yang rata rusaknya dapat diperbaiki pemandangan dan keasriannya oleh pohon-pohon dipinggir jalan tersebut. Tapi mereka yang tidak menanam malah memaku pohon-pohon itu dan menempelkan atribut kampanye yang menampilkan wajah para Caleg bak model cover majalah. Selain tidak izin dalam melakukan pemasangan, mereka juga telah melakukan pelanggaran aturan kampanye dan eco-terorism tree spiking. Mereka jahat. Dengan pohon saja jahat apalagi dengan manusia. 
Atribut kampanye di lingkungan pondok pesantren


Pemandangan di Depan Salah Satu Gedung Sekolah Dasar
Madrasah Aliyah yang sarat dengan pohon dan penunggunya


Parahnya lagi, mereka juga melakukan penempelan atribut kampanye di pohon-pohon di depan sekolah. Atribut kampanye itu sudah barang tentu diletakkan di tempat yang salah. Meski saya bukan anggota dewan atau calon anggota dewan, tapi sekiranya saya tahu mana yang benar dan salah. Sampah-sampah visual itu selain mengganggu pemandangan juga membahayakan para pengguna jalan raya yang sudah rata rusaknya itu.
Wajar saja jika rakyat menjadi apatis. Politik uang sana-sini dan berbagai kelakuan keji sudah dianggap hal menjijikkan bagi sebagian masyarakat. Tidak heran jika Pemilu bukan lagi ‘pesta demokrasi’ bagi rakyat, melainkan pesta perayaan penderitaan rakyat periode berikutnya. Jika golput atau tidak mencoblos dikhawatirkan surat suaranya akan dicurangi, maka beberapa masyarakat memilih abstain. Mereka khawatir tidak bisa mempertanggungjawabkan apa yang dipilihnya dan belum siap sakit hati. Sudah cukup masyarakat kami dikibuli.
Sepuluh tahun kami menikmati jalanan rusak dan hingga kini fasilitas komunikasi pun sulit. Jika iklan di televisi saja bisa bicara bahwa internet sangat penting, desa kami bahkan minim jaringan. Untuk sekedar mengingatkan makan bagi saya diperantauan saja Ibu harus mencari sinyal di depan rumah, di kandang ayam, atau di pinggir jalan. Boro-boro Bapak bisa mengirimkan dokumen dan surat-surat via email, untuk mengirimkan SMS saja sulit. Bapak harus bolak-balik pergi ke Kecamatan atau Kota Kabupaten untuk mengurus kenaikan pangkat atau sekedar hal remeh temeh. Tidak jarang motor rusak, atau tidak sengaja Bapak juga pernah menabrak orang yang mengangkut kayu bakar menggunakan sepeda. Jalanan rusak dan mata yang rabun menjadi masalahnya.
Hal itu pun mempengaruhi tingkat kesehatan masyarakat kami. untuk mencapai Puskesmas atau klinik yang dikelola oleh bidan atau perawat, pasien harus menggunakan sepeda motor. Untuk merujuk pasien ke Rumah Sakit, kondisi jalan dan jauhnya jarak yang ditempuh memperparah sakit si pasien dan bahkan membuat pasien tak tertolong lagi diperjalanan. Beberapa minggu yang lalu, tetangga saya meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit dalam kondisi hamil delapan bulan.
Belum lagi masalah pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi. Kurangnya informasi dan komunikasi dengan dunia luar menyebabkan masyarakat kami menjadi terisolir. Hanya sedikit kawan saya yang menyelesaikan pendidikan tinggi. Hal ini menyebabkan tingginya angka perkawinan yang berdampak pada pertumbuhan penduduk. Fenomena ‘anak-anak punya anak’ di desa kami berujung pada kemiskinan dan minimnya tingkat kesehatan.  Hal ini kemudian yang memicu orang-orang di desa kami menjadi pahlawan penyumbang devisa, atau menjadi buruh di kota. Akibatnya tingkat urbanisasi di kota meningkat yang berkorelasi pada peningkatan angka kejahatan, kemiskinan dan gelandangan, juga pengangguran di kota.
Harapan kami tidak muluk-muluk. Kami hanya minta perbaikan jalan di desa kami. Kami hanya ingin menikmati manfaat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kami ingin mengenyam pendidikan yang layak, kreatif, dan berprestasi. Membangun jaringan dengan banyak pihak dengan lancarnya sistem komunikasi. Mencarikan resep kue untuk Ibu. Mengaplot foto Ibu-Ibu arisan. Membantu berjualan secara on line. Juga membantu Bapak mengirimkan dokumen lewat email. Saya ingin desa kami bangkit seperti pada program Desa Membangun. Saya ingin dunia ‘melihat’ kami.
Kami tidak tinggal di kawasan lindung. Kami bukan perambah hutan dan tinggal di kawasan konflik. apakah layak kami dimarginalkan? Semoga kami bukan merupakan korban pembiaran dan pembodohan yang sengaja dipelihara oleh negara. Kami hanya minta janji-janji yang telah terucap itu dibuktikan secara nyata. Jika memang mereka yang berjanji tidak takut dihantui oleh bayang-bayang penderitaan rakyat sampai mereka mati.

2 comments:

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<