Tuesday, June 10, 2014

Anatomi Rasa: Ranukumbolo

there is no one, compares with you,
and these memories lose thier meaning,
when I think of love, as something new
though I know I'll never lose affection,
for people and things, that went before
I know I'll often stop and think about them,
In My Life, I love you more
(In My Life, The Beatles)
Kamu tahu, Dear, kakiku hampir patah untuk mencapai ketinggian 2400 mdpl saja. Napasku tersengal. Aku patah arang. Aku sungguh tak ingin menggapai puncak Mahameru. Entahlah, aku benar-benar ingin pulang saat ini. Aku rindu kasur hangat, guling, dan boneka beruangku. Malam-malam seperti ini bukankah seharusnya aku tertidur pulas di bawah selimut? Bukan berkelana diantara jurang dan tebing seperti sekarang.

Kamu tahu, Dear, tubuhku menggigil. Bayang-bayang hipotermia membuatku takut mati. Sungguh aku ingin segera tenggelam dalam sleeping bag setelah meneguk segelas susu hangat buatanmu. Tapi aku tidak bisa, Dear. Tenda kami belum berdiri. Sementara hari sudah hampir pagi. 


Kamu pikir aku bisa tidur di tengah gigil dan putus asa ini? Tidak, Dear. Aku hanya membayangkan apa-apa yang belum kutuntaskan. Aku belum menyelesaikan hidupku. Maka aku belum pantas mati. 

Seketika itu kekuatanku hadir kembali. Seiiring dengan silaunya sinar mentari pagi ini. Ah, tapi aku masih enggan beranjak dari sini. Aku sudah cukup nyaman dibalut dua jaket, kaos kaki, dan kantong tidur di dalam tenda yang mulai hangat.

"Tapi kapan lagi kamu akan menikmati keindahan pagiku, Sayang? Belum tentu kekasihmu mau kau ajak ke sini," bisik Ranukumbolo sinis.

Rayuannya berhasil membuatku melangkah menyingkap pintu tenda.  Masyaa Allah... ternyata ia sungguh-sungguh sangat indah, Dear. Andai kamu ada di sini, aku akan mengajakmu berlari di antara lavender yang sedang mekar. Andai kamu ada di sini, aku akan mengajakmu berguling di antara padang savana yang terbentang. 

Ah, sayangnya kamu tidak ada di sini. Aku harus memendam rasaku sendiri. Emph... rasanya tidak. Aku tidak sendiri. Ranukumbolo sungguh baik hati. Ia bersedia menyimpan keindahannya untuk kita suatu saat nanti. Ia memberikan kesempatan kepada kita untuk kemari, Dear. Kamu mau, kan?

Sial! Aku diberi rasa sesal dan putus asa yang terlalu dangkal. Padahal aku, kan, wanita yang kuat. Aku ingin melawan bukit itu, Dear. Aku ingin melewatinya, lalu menyusuri lembahnya. Aku akan mendaki Tanjakan Cinta dan menginjakkan kakiku pada Lavender Oro-Oro Ombo. Aku akan kuat melawan suhu minus lima dan mendirikan tenda di Kalimati. Kemudian menjelang dini hari, aku akan berjalan dengan riang menuju puncak yang diidam-idamkan banyak orang.

Terlalu banyak godaan untuk menaklukkan Semeru, ya, Dear. Mungkin seperti berada di sampingmu, aku hanya perlu mengisi ulang keyakinanku. Tapi kamu selalu menguatkanku, Dear. Seperti angin Ranukumbolo yang memberiku kekuatan untuk menyingkirkan segala hal yang menghangatkan dan melenakanku. Keindahan Ranukumbolo yang mampu membuatku mengalahkan rasa dingin dan malas menghadapi pagi. Ranukumbolo seperti kamu yang selalu mampu membuatku bersemangat lagi.

Ya, bersamamu aku akan menaklukan Mahameru, Dear. Mungkin takdir belum mengizinkanku menggapai puncak tanpamu. Tapi nanti, aku pasti akan ke sana. Angin gunung dan bisikan Cemoro Kandang yang meyakinkanku, Dear. Aku harus kembali dan menggapai Mahameru suatu saat nanti.



Ranukumbolo, 2 Juni 2014

2 comments:

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<