Tuesday, July 1, 2014

Festival Buku Indonesia 2014: Surga yang Tak Sepenuhnya Ternikmati


Dikenal sebagai kota pelajar sekaligus kota wisata, Yogyakarta menjelma sebagaimana keinginan dan kebutuhan manusia-manusia di dalamnya. Pelajar, baik siswa maupun mahasiswa tentu tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan terhadap bacaan bermutu. Kebutuhan terhadap buku bagi masyarakat Yogyakarta, memicu menjamurnya penjual-penjual buku di daerah ini. Buku dapat ditemukan dengan mudah di sudut-sudut kafe, toko buku, bahkan kios pinggir jalan. Harga dan kualitasnya pun bervariasi. Mulai dari buku impor yang seringkali tak terjangkau, hingga buku bekas dan buku bajakan. Meski telah memasuki era digitalisasi, buku cetak tak kunjung kehilangan peminatnya. 


Saya sebenarnya sudah menyimpan agenda ini dari jauh-jauh hari. Setelah pulang dari seminar di Madura, berlibur di weekend, seninnya langsung seminar kemajuan tesis. Jadwal yang padat dua minggu kebelakang. Belum lagi akhir bulan yang memaksa saya untuk tetap memborong buku di dua tempat. Festival Buku Indonesia dan bazar buku di UGM Press. And you know... hasrat untuk membeli buku lebih susah dibendung daripada menahan kentut pada saat ujian skripsi! Trust me!


Rangkaian kegiatan di Festival Buku Indonesia 2014 dari @FestivalBukuIND
Rencananya, tahun ini Festival Buku Indonesia diselenggarakan dua kali. Periode pertama sedang berlangsung saat ini sejak 25 Juni lalu (hingga 3 Juli 2014). Periode kedua akan dilaksanakan pada 28 Agustus-7 September 2014.  Kegiatan Festival Buku Indonesia 2014 yang diselenggarakan atas kerjasama Balai Perpustakaan dan Asip Daerah, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mitra kerja Ikatan Penerbit Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta (IKAPI) dengan Potensindo Global Production tentu saja menjadi salah satu momen pesta buku yang saya tunggu-tunggu.

Tahun lalu, festival yang digelar ditempat yang sama mengharuskan kita membeli tiket. Tapi tahun ini gratisss..tiss..tiss... sstt.. sponsornya banyak kali yah :) Saya juga ingin hadir di beberapa aktivitas diskusi, tapi selalu saja tidak bisa :( maka saya cukup menggalau akibat kicauan admin @FestivalBukuIND yang juga selalu galau. Agaknya admin yang ramah banget ini lagi jomblo :p #skip Berikut beberapa rekaman peristiwa kece di TKP

Dalam opening Festival Buku Indonesia, Afrojava Percussion dan Tarian dari IPM Kepulauan Riau, Yogyakarta
Pak Idham Samawi membahas tugas pemerintah mencerdaskan kehidupan bangsa, Perpajakan perbukuan dan penulis! (Sumber : @FestivalBukuIND)
Adik-adik dari Panti Putri Giwangan sedang menikmati buku-buku dari Perpustakaan Keliling BPAD DIY
Fajar Merah (Sumber : @FestivalBukuIND)

Saya sempat hadir dua kali, lho dalam kegiatan ini. Keduanya merogoh kantong sampai benar-benar kering kerontang. Ohhh... sampe dikatain sama Mbak Ferial dan temannya dan dikasih bonus kupon. Oh, ya, setiap kita belanja buku Rp. 50.000, kita akan mendapatkan kupon yang akan diundi pada tanggal 3 Juli nanti. Ini berlaku kelipatannya. Sebenarnya, bukan seberapa besar nilai hadiah yang didapat, sih, tapi lebih kepada pemikiran saya bahwa belanja buku itu 'menyembuhkan'. Ya, mungkin menyembuhkan stress, menghadirkan kegembiraan, keceriaan bersama orang-orang baru yang ramah-ramah di sana. Tapi tidak dipungkiri, setelah menengok rekening bank di ATM, langsung bisa stress lebih fatal lagi. Kok curhat, sih?!

Tadi siang, saya kebetulan datang tidak bertepatan dengan ramainya orang-orang. Jadi saya bisa bebas memilih dan mengobrol dengan penjaga booth masing-masing. Eits, sungguh-sungguh brainstorming, lho, karena mereka adalah orang-orang yang telah lama berkecimpung dalam dunia 'perbukuan'. Saya sebagai orang yang 'baru ingin masuk' -dalam dunia itu- harus banyak belajar dari siapapun. Yes, saya ingin sekali punya toko buku. Sebagai perwujudan dari Proyek Monumental 2014. Turut seta dalam upaya mencerdaskan bangsa. Toko buku yang terjangkau harganya di kampung saya dan berkualitas. Cita-cita yang mulia, bukan?! :D maka dari itu saya selalu antusias dalam momen seperti ini. Saya harus belajar apapun dari siapapun.
 

Suasana booth Mizan: Obral abis!
Bicara mengenai peserta pameran, sejujurnya saya tidak tahu pasti berapa jumlahnya. Tapi sepertinya jumlahnya lebih sedikit dari tahun sebelumnya. Diskon yang ditawarkan juga tidak terlalu fantastis. Sebenarnya saya ingin membeli beberapa buku Gramedia, hanya saja saya urungkan karena diskon berkisar 10% saja.

Kalau kita mau jeli dan sabar mencari, buku-buku bagus dan langka sangat banyak tersedia di sini. Tapi ya itu, manusia, kan banyak tidak sabarnya. 


Oh ya, ada yang baru nih dari kawanbuku.com, mereka bareng dengan Diandra Publisher menyediakan beberapa buku bekas langka dan buku yang bertandatangan penulisnya.
Salah satu sisi Booth kawanbuku.com yang paling 'menggoda'

Saya lebih tertarik kepada buku bekasnya saja. Kebanyakan buku-buku sastra yang memang sudah hilang dari peredaran. Tapi harganya cukup mahal karena bukan hanya buku-buku itu saja yang mau dibeli :D Mereka juga menyediakan jasa pra-cetak (desain dan layout) hingga cetak dengan harga yang lumayan miring, lho. Ini sih membuka peluang untuk penulis-penulis amatir agar bisa mewujudkan impian mereka untuk menerbitkan sendiri bukunya. Benar-benar sarana untuk berkembang yang tidak boleh dilewatkan.

Kalau penerbit lainnya mungkin sudah biasa dan buku-bukunya dapat dengan mudah kita temukan di toko-toko buku sekitar kita, penerbit yang satu ini agak lebih susah ditemui. Ya, apalagi kalau bukan Komunitas Bambu alias Kobam, eits, bukan mab*k, lho. 

Booth Kobam
Sejak 1998, sejumlah mahasiswa dari lingkungan Fakultas Sastra UI Depok telah memilih jalan kebudayaan.masih membiarkan diri terbakar apinya, yaitu api semangat “Gali dan Kenali Bangsa”. Mereka menerbitkan buku-buku bertema ilmu pengetahuan budaya dan humaniora. Sepuluh tahun lebih menjalani ujian api memang bukan hal mudah, tetapi sepuluh tahun dibakar apinya, disengat baranya dan dikelilingi orang-orang yang datang berdiang di sekitarnya telah mengajarkan banyak hal agar bagaimanapun kami mesti berupaya bertahan. Sebab dengan demikian maka kita semua telah tidak membiarkan bangsa ini menjadi sejenis bangsa kepinding yang gemar hidup bergelap-gelap. Filosofis banget, kan? Selanjutnya kunjungi saja rumpun bambunya di http://komunitasbambu.com/.


Pertama kali berkenalan dengan komunitas ini, prinsip kami langsung bertaut. Berpagut. Kami menolak mati-matian yang namanya pembajakan. Sebagaimana kita ketahui, terlebih di Yogyakarta, buku-buku banjakan bertebaran di mana-mana. Saya sendiri pernah mengalami pengalaman buruk terkait buku palsu. Maka dari itu, sebagai salah seorang yang turut ingin mencerdaskan bangsa, kami langsung mengajak Kobam bekerja sama dalam hal penyediaan buku-buku bermutu untuk perpustakaan maupun toko Vito Buku yang belum lama kami rintis. Kunjungi saja blognya, fanpage Vito Buku dan twitter @BukuVito untuk pemesan buku-buku bermutu tanpa palsu! Ada yang menarik dari booth ini,  lho. Buku langka yang saya sendiri tidak tahu bagaimana cara membacanya ini ditawarkan hanya Rp. 250.000. Ah, seandainya saya pandai membaca aksaranya :(


Babad Tanah Mataram
Oh, ya, kita juga bisa sekalian menyampul buku-buku yang baru saja kita beli. "Agar terawat dan tidak cepat rusak", kata gadis berkerudung biru itu :) Harga yang ditawarkan juga tidak mencekik leher, eh, dompet. Cukup Rp. 6000 saja untuk empat buah buku.


Semoga saja Festival Buku 2014 chapter II nanti pengunjungnya semakin banyak, buku dan kegiatannya makin bervariasi, serta yang tidak kalah penting adalah minat baca masyarakat kita juga meningkat. Sayang sekali jika rangkaian kegiatan yang sudah disusun semenarik mungkin oleh panitia masih kurang dilirik oleh pengunjung. Mahal juga lho harga sewa booth selama pameran. Katanya, sih, mereka harus membayar jutaan rupiah untuk satu booth selama festival berlangsung.

Ah, sungguh tidak ada habisnya jika kita bicara mengenai buku, apalagi diskon buku. Bagi saya, Festival Buku Indonesia 2014 ini adalah bagian dari surga yang tak sepenuhnya dapat saya nikmati. Hasrat melangit, apadaya perencanaan hidup harus tetap di bumi. Shortly, kegiatan semacam ini wajib kita dukung dan manfaatkan untuk membeli buku-buku berkualitas yang asli, buku langka, apalagi buku diskon. Bagaimanapun, buku adalah perwujudan dari kerja keras penulis dan beberapa pihak di belakang layar produksinya.

Saya pribadi mencoba seminimal mungkin untuk tidak melakukan "tolong-menolong" dalam kejahatan dalam bentuk apapun. Terlebih untuk sebuah atau ribuan eksemplar buku. Saya sangat mengagungkan buku sebagai perwujudan intelektualitas dan buah pikir penulisnya. Saya juga tidak rela jika suatu saat nanti karya yang saya buat dengan susah payah dan pengorbanan dibajak dan dijual murah. Berilah penghargaan meski sedikit. Mencari rejeki dengan jalan halal insyaallah memberikan keberkahan turun temurun. Lebih baik menabung, mengencangkan ikat pinggang, datang dan nantikan pameran-pameran buku, serta berburu buku bekas, daripada memborong buku ilegal. Dengan demikian, ilmu yang kita peroleh dari dalamnya juga berkah, rejeki untuk penjual bukunya juga berkah. Semoga bermanfaat :)

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<