Wednesday, July 2, 2014

Jamu: Local Wisdom Goes Global

Prolog
Pertengahan Juni lalu saya diundang untuk menyampaikan makalah hasil penelitian pada kegiatan seminar nasional di Universitas Trunojoyo Madura. Pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di pulau itu. Saya pergi seorang diri. Dari Yogyakarta pesawat saya mendarat di Bandara Juanda sekitar pukul setengah lima sore. Padahal seharusnya kami sudah tiba di Surabaya sejak satu jam sebelumnya. Jalanan macet. Sidoarjo banjir. Hari beranjak malam ketika Bus Damri kami tiba di Terminal Bungur Asih Surabaya. 

Saya menimbang-nimbang apakah saya tetap akan menuju Bangkalan via penyebrangan laut, atau menumpang bus via Jembatan Suramadu. Akhirnya setelah berdiskusi dengan petugas keamanan di terminal itu, saya memutuskan untuk naik bus via Suramadu. Hujan hebat dan saya tetap cinta Indonesia, saya bersyukur hanya ada bencana banjir karena hujan. Bukan badai hebat hingga badai api seperti yang terjadi di negara lain. Saya bersyukur tinggal di Indonesia.



Macet dan banjir, kombinasi yang sangat INDONESIA
Hujan semakin lebat ketika bus ekonomi yang saya tumpangi melaju menembus kemacetan kota hingga mencapai pintu tol. Saya merasa bingung jika ada orang yang bertanya, atapun jika saya ingin bertanya mengenai daerah yang ingin saya tuju. Bahasa dan logat mereka terlalu sulit untuk saya mengerti. Hingga akhirnya saya bertemu dengan dua orang lelaki tengah baya yang juga akan pergi ke Bangkalan. Artinya, kami akan turun di tempat yang sama.

Bus semakin padat. Tapi sopir dan kondektur tidak mau rugi dan terus menaikan penumpang di sepanjang jalan. Di luar hujan masih mendera, tapi keringat yang keluar juga tak kalah hebat. Bagaimana tidak? Bus kami terus diisi, sementara jendela harus ditutup agar air hujan tidak masuk. Saya menangis seketika. Seorang laki-laki berbadan besar tiba-tiba terjerembab di depan saya. Penumpang oleng karena tidak ada pegangan. Hati saya perih, beginikah pelayanan moda transportasi massal di negeri ini? Saya ingin pulang.

Saya turun di perempatan Tangkil bersama dua orang laki-laki yang juga akan pergi ke Bangkalan. Di sana tidak ada lagi angkutan umum ceri (mobil carry) yang seharusnya saya tumpangi sebagaimana petunjuk pihak hotel yang telah saya booking dan terus saya teror dengan telpon pertanyaan-pertanyaan seputar rute ini. 

"Ndak ada lagi angkutan, dek. Kalo adek mau naik ojeg mahal. Apalagi Ndak kenal. Kita tunggu saja pick up sebentar lagi," upaya menenangkan diri saya yang sia-sia oleh seorang laki-laki paruh baya itu.

"Apa, Pak? Kita naik apa?" saya terbelalak.

"Naik pick up saja, dek, aman," tidak berapa lama kemudian saya melihat sebuah pick up yang mengangkut beberapa orang di baknya. Duh, Gustiiiii... kirim saya kembali ke rumah, saya sudah ngantuk dan capek. Saya berdoa di sepanjang perjalanan hingga saya benar-benar tiba di hotel. Sampai di kamar saya pun tidak bisa tidur. Antara sedih, lelah, dan nervous menghadapi presentasi esok hari. Saya bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang masih satu kewarganegaraan tapi bahasanya bahkan tak mampu saya pahami. Saya bersyukur negeri ini kaya dari segala sisi.


Berkenalan dengan Potensi Jamu Indonesia 
Saya tiba di lokasi seminar tepat saat acara pembukaan. Saya masih pilu lantaran menyimpan kisah miris perjalanan semalam. Tapi saya mencoba fokus dan melupakan itu semua dengan keyakinan bahwa itu semua akan terbayarkan.

Seminar ini membahas potensi hayati Negara Indonesia yang sangat besar, menempati urutan kedua terbesar di dunia setelah Brasil yaitu 15,3% dari keanekaragaman hayati  dunia. Namun potensi tersebut masih sebatas 5% yang digunakan. Oleh sebab itu perlu adanya optimalisasi potensi keanegaragaman hayati Indonesia untuk mendukung kesejahteraan masyarakat. Dari Sekitar 38.000 spesies tumbuhan obat di Indonesia, contoh yang intensif telah diidentifikasi sebanyak 1.845 sifat obat dan 283 spesies telah dieksplorasi senyawa bahan aktif yang terkandung di dalamnya.

Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2013 menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk Indonesia naik 1,49% per tahun. Hal tersebut memerlukan perhatian yang cukup besar dari seluruh sektor dan lapisan masyarakat. Pertumbuhan jumlah penduduk tersebut akan memunculkan masalah-masalah baru seperti meningkatnya kebutuhan pangan dan kesehatan. Oleh sebab itu perlu ada langkah konkrit dalam mengatasi permasalahan tersebut, salah satunya dengan optimalisasi potensi keragaman hayati yang dimiliki. Optimalisasi potensi tersebut perlu penanganan yang serius mulai dari hulu sampai hilir (agroindustri).

Prof. Dr. Mangestuti Agil, MS., Apt.
Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Mangestuti Agil, MS., Apt. (Dept. Farmakognosi Universitas Airlangga), seorang pakar jamu Madura. Menurutnya, langkah pertama dalam upaya pengembangan Jamu Madura adalah standarisasi bahan baku nabati. Standarisasi bahan baku nabati jamu adalah serangkaian tindakan yang bertujuan untuk mendapatkan bahan baku yang terstandar. Menurut beliau, langkah standarisasi bahan baku nabati jamu diawali dengan mapping, yaitu kegiatan penetapan lokasi yang paling sesuai bagi budidaya tanaman untuk mendapatkan hasil yang bermutu prima di kawasan Pulau Madura. Mapping akan menghindari terjadinya pemilihan lokasi yang salah, yang mengakibatkan dihasilkannya bahan baku yang mutunya di bawah standar. Selain itu, melalui mapping akan terhindar kepunahan tanaman obat yang potensial dimana Kabupaten Sumenep adalah salah satu kabupaten penghasil jamu tradisional ramuan madura. Jamu tradisional ramuan madura sangat terkenal sejak jaman nenek moyang dan diwariskan secara turun temurun.  

Prof. Mangestuti memaparkan betapa kayanya Indonesia dengan beragam jenis tumbuhan, terutama tumbuhan yang juga terdapat di Madura seperti semanggi, kunyit dan cabe jawa. Ia mengkhawatirkan bahwa tidak lama lagi, kekayaan itu beberapa jenis akan punah. Beberapa jenis tanaman yang mulai langka tersebut adalah pule pandak (Rauwolfia serpentine), bidara upas (Merremia mimosa), jati belanda (Guazuma umifolia), pulasari (Alyxia reindwartii), kemukus (Piper cubeba), dan gadung (Dioscorea hispida).

Salah seorang warga melaporkan bahwa ada suatu tanaman yang mampu mengobati penyakit tuberkulosisnya yang bahkan sudah divonis tidak akan sembuh. Jamu itu langsung bekerja sejak pertama kali diminum. Prof. Mangestuti bahkan belum mengetahui nama latin dari tanaman tersebut. Ia juga belum menemukan adanya tanaman sejenis di lokasi lain. Ini berarti, tanaman itu hanya tumbuh di Madura, tepatnya di sekitar rumah pihak yang melaporkan. 

Tukang jamu gendhong yang penampilannya sangat khas dengan kebaya dan jarik, serta bertelapak tangan warna kuning bekas kunyit juga hanya ada di Indonesia. Penampilannya sopan dan sangat Indonesia. Mbok jamu gendhong yang meayani konsumennya dengan tulus meski dengan berjualan jamu saja entah kapan mereka jadi kaya. Bicaranya halus meski mungkin ada yang tak lulus Sekolah Dasar. Mereka juga loyal dengan teman-teman se-profesinya yang bersama-sama berjuang demi meningkatkan perekonomian keluarga. Sayangnya mereka juga kini sudah semakin langka. Saya juga suka minum jamu. Jamu beras kencur dan kadang-kadang juga kunyit asam. Selain itu saya belum pernah berani mencoba. Dan terakhir kali saya beli jamu adalah sebulan lalu, di Pasar Apung, Museum Angkut Kota Batu.
Mbak Jamu Gendhong (Sumber: www.republika.co.id)
Belum selesai kekaguman saya terhadap tumbuhan yang dipaparkan oleh sang pemateri, ia menghadirkan kegelisahan baru dalam benak kami para peserta seminar. Bahwa dari beberapa rimpang tanaman obat yang ditelitinya, sudah sampai ratusan paten yang diakui milik negara Jepang. Juga beberapa negara lain seperti Korea dan Cina yang getol melakukan penelitian mengenai tanaman obat yang bahkan tidak terdapat di negara mereka. Tanaman itu hanya ada di Indonesia. Kekayaan alam Indonesia. Namun penelitian dan pengembangan produk dan pertanian tanaman-tanaman itu tidak terlalu menarik bagi bangsa kita sendiri. Bukan mustahil, kita tidak akan menuai apapun dari kekayaan alam Indonesia kecuali kita hanya bisa gigit jari.

Rupasampat Wahyabyantara
 
Fransiska Devi
Pemateri kedua tidak kalah fantastis lagi, Fransiska Devi dari PT Martina Berto, Tbk menjelaskan mengenai perusahaannya yang sampai saat ini tetap eksis dan terus mengembangkan produk perawatan dan kecantikan tubuh. Martha Tilaar terus berupaya mencari dan menggali potensi alam Indonesia melalui rangkaian riset dan observasi guna mencari bahan baku untuk produk kosmetik yang sampai saat ini produksi-nya digemari masyarakat Indonesia bahkan dunia. 

Ia memaparkan bahwa strategi perusahaannya terfokus pada keunikan brand dan konsep pengembangan bisnis yang dipengaruhi oleh nilai-nilai adat ketimuran dan didesain dengan penggunaan teknologi modern. Kepulauan Indonesia kaya dengan keragaman flora yang saling terintegerasi dengan kebudayaan eksotis dan peradaban kuno.Dalam bahasa Jawa kuno, prinsip itu disebut sebagai Rupasampat Wahyabyantara. Konsep Rupasampat Wahyabyantara menyimbolkan ilmu pengetahuan, kecantikan wanita, keyakinan pada Tuhan, dan harmoni, sementara bunga Lotus adalah simbol ketabahan dan kekuatan moral. Bahkan bangsa kita sudah memegang teguh prinsip dalam pengembangan dan pengelolaan kekayaan alamnya bagi kemaslahatan manusia. Lalu salah siapa jika keanekaragaman hayati kita malah dikeruk oleh bangsa lain? Saya meringis. Hati saya menjerit.


Kampoeng Djamoe Organik Martha Tilaar
Salah satu wujud nyata dari kepedulian PT Martina Berto Tbk terwujud dalam pendirian Kampoeng Djamoe Organik (KaDO) di kawasan Kota Cikarang. Pendirian lahan hijau seluas 10 ha ini pun sejalan dengan salah satu dari 4 pilar Value of Martha Tilaar Group, yaitu Beauty Green. Tujuannya termasuk upaya pelestarian kekayaan alam Indonesia, khusunya TOKA (Tanaman Obat, Kosmetika dan Aromaterapi). Indonesia memiliki 33 ribu spesies flora yang bisa diteliti untuk kepentingan kecantikan dan kesehatan. KaDO sudah memulai dengan mengkonservasi dan membudidayakan lebih dari 500 jenis TOKA.

KaDO ini juga merupakan Cikal bakal sebuah pabrik yang hijau dan ramah lingkungan. Saat ini, KaDO memanfaatkan windmills (kincir angin) serta solar panel (panel surya) untuk menghasilkan tenaga listrik. Sumber tenaga yang ramah lingkungan ini nantinya akan diimplementasikan pada pembuatan pabrik di Cikarang secara bertahap.

Selain itu, harapannya bahwa KaDO dapat menjadi sarana edukasi para petani untuk menanam secara organik. Lebih dari 117 ketua kelompok tani dari berbagai provinsi di Indonesia telah dilatih di KaDO sejak tahun 2000 melalui kerjasama dengan Kementrian Pertanian. Mulai dari penanaman, panen, hingga pengeringan hasil panen untuk kemudian dijadikan ekstrak. 'Kembali ke Alam' seharusnya memang bukan hanya sebuah slogan yang dipampang pada billboard besar di jalanan. 'Kembali ke Alam' harus dijadikan sebagai prinsip dan filosofi hidup bagi bangsa besar di negeri yang kaya raya ini.

Local Wisdom Goes Global

Negeri saya ini semakin tampak seperti wanita cantik yang terlalu banyak operasi plastik. Saya sadar bahwa kurang berkembangnya industri jamu termasuk penelitian terkait potensi hayati Indonesia salah satunya adalah karena peraturan-perundangan obat tradisional yang kurang menunjang di Indonesia. Sampai matahari terbit dari barat pun, jamu tidak akan pernah digunakan dalam pengobatan modern jika undang-undang tidak mengatur semua itu. Kita terus saja dirongrong oleh produk sintetis dan impor. Peran serta dan keseriusan pemerintah merupakan strategi utama untuk mempromosikan jamu Indonesia. Dengan demikian, perilaku masyarakat tentang obat tradisional akan berubah secara berangsur-angsur. Demikian juga dengan fokus pada penelitian farmakologi memanfaatkan potensi hayati dan memasukkan kurikulum terkait ke dalam pendidikan tenaga kesehatan. 

Budaya minum jamu merupakan local wisdom yang telah sejak berabad-abad silam mengakar pada bangsa Indonesia. Telah tercatat dalam cerita Sangkuriang bahwa  kala itu Dayang Sumbi senantiasa terlihat muda dan kulitnya bersih dan cantik. Ternyata Dayang Sumbi rajin mengonsumsi temulawak, temu kunci, dan lain sebagainya. Berdasarkan beberapa penelitian bahwa temu lawak mengandung zat aktif yang berguna sebagai oral care, anti kanker, anti bakteri, anti jamur, dan lain sebagainya.

Menurut data Direktorat Budidaya dan Pascapanen Sayuran dan Tanaman Obat (2013), ekspor tanaman obat setiap tahun ke Hongkong adalah 730 ton. Selanjutnya adalah Jerman dengan ekspor sebesar 155 ton setiap tahun. Negara tujuan lain adalah Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Malaysia. Jenis tanaman obat yang yang merupakan komoditas ekspor adalah jahe dan kunyit, baik dalam bentuk segar, kering, maupun olahannya. Mereka bergantung pada produksi tanaman obat Indonesia. Mereka tidak mempunyai potensi sebesar potensi kita. Apa jadinya jika Indonesia berhenti mengekspor bahan-bahan obat bagi industri di negara-negara itu? Makanya, hidup di Indonesia saja! Eh, bukan. Saya lebih senang jika bahan-bahan baku untuk industri obat yang diekspor itu diolah pada industri hilir di Indonesia. Jadi nilai ekonominya lebih tinggi, petani dan produsen dalam negeri yang diuntungkan, serta tidak ada istilah "bocor...bocor..." lagi untuk pendapatan negara. Kalau bahan-bahan itu diekspor dalam bentuk setengah jadi seperti itu, kemudian kita mengimpornya lagi dari luar negeri dalam bentuk produk akhir, kan mereka yang jadi untung banyak. *sigh*



Ada benarnya perkataan Mas AniesBaswedan. Tapi tak dapat saya pungkiri bahwa kekayaan alam indonesia adalah sangat luar biasa. Termasuk kekayaan alam hayati, potensi tambang, juga manusianya. Manusia Indonesia termasuk saya, kan? Saya adalah bagian dari kekayaan Indonesia yang harus dioptimalkan bagi kemajuan bangsa ini.

Semakin hari Tuhan semakin menampakkan maksud-Nya kepada saya. Kenapa saya lolos SMPB di pilihan ketiga? Lalu kenapa beasiswa master degree saya ke luar negeri selalu gagal? Dan kenapa saya mempelajari ilmu di Teknologi Industri Pertanian di dalam negeri? Kenapa saya harus mendampingi masyarakat? Dan kenapa saya harus pergi ke Madura seperti halnya saya harus pergi ke tempat yang teramat asing bagi saya yang lainnya? Oh, ternyata akar permasalahan Indonesia tidak maju-maju adalah karena potensi industri pertaniannya yang luar biasa masih belum diberdayakan secara optimal. Masih harus banyak perbaikan dilakukan disana sini. Dari segi teknis di lapangan hingga tataran kebijakan. Semuanya saya pelajari di kampus. Di Universitas Gadjah Mada, masih di Indonesia! Ini berarti Indonesia masih menunggu peranan tangan saya untuk turut membuktikan kecintaan saya pada bangsa ini. Bukan sekedar ungkapan cinta selorohan gombal belaka. Bukan sekedar visi misi Capres yang menjadi penting, tapi juga upaya nyata setiap diri anak bangsa.


Sumber bacaan: 
1. Handout Seminar Nasional "Optimalisasi Potensi Hayati Untuk Mendukung Agroindustri   Berkelanjutan” di Universitas Trunojoyo Madura 18 Juni 2014;


5 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan :Aku Dan Indonesia di BlogCamp
    Dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih, Pakde. Salam hangat kembali dari Yogyakarta manise

      Delete
  2. Harapan itu tetap ada, bahwa Indonesia ini akan maju, besar sebagaimana yang kita inginkan, kitalah yang akan mewujudkannya dengan satu alasan, karena kita cinta Indonesia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yesssss!! Bangkitlah, bangsaku, harapan itu masih ada. Terimakasih atas kunjungan dan jejaknya, kak

      Delete
  3. WOW Keren nie artikernya
    Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
    Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<