Wednesday, July 2, 2014

Yogyakarta, Kota Pelajar yang Belum Siap Disebut Jagat Buku

Dikenal sebagai Kota Pelajar sekaligus Kota Wisata membuat Yogyakarta terus menjelma sebagaimana kebutuhan orang-orang di dalamnya. Pelajar, baik itu siswa maupun mahasiswa tentu tak dapat dipisahkan dari kebutuhan akan bacaan bermutu. Kebutuhan terhadap buku bagi masyarakat Yogyakarta, memicu menjamurnya penjual-penjual buku di daerah ini. Buku dapat ditemukan dengan mudah di sudut-sudut kafe, toko buku, bahkan kios pinggir jalan. Harga dan kualitasnya pun bervariasi. Mulai dari buku impor yang seringkali tak terjangkau, hingga buku bekas dan buku bajakan.
Meski telah memasuki era digitalisasi, buku cetak tak kunjung kehilangan peminatnya. Kecanggihan teknologi membuktikan bahwa dunia memang tak hanya selebar daun kelor. Penyebaran informasi yang cepat dari segala penjuru dunia menjadikan fungsi buku cetak lambat laun tergantikan.


Mahalnya buku cetak menjadi pertimbangan beberapa orang untuk rela atau tidak rela merogoh kocek mereka. Hal itu mendorong bermunculannya e-book yang dapat dengan mudah bahkan gratis diunduh dari internet. Beberapa pihak yang “kreatif’ juga berupaya menggandakan buku dengan dalih Print On Demand (POD) daripada mengakui bahwa buku yang dijualnya adalah buku bajakan.
Meski Yogyakarta merupakan surga buku yang banyak dielu-elukan banyak orang, namun kota ini tidak lantas menjadi pantas untuk disebut “jagat buku”. Yogyakarta terlalu cepat puas. Selain toko buku, ada pihak-pihak lain yang menjadi penting bagi terbangunnya sebuah jagat buku.

Pembaca, merupakan unsur terpenting bagi industri perbukuan setelah penulis, penerbit, dan distributor. Yogyakarta telah mampu menunjang bagi tumbuh dan berkembangnya dunia penulisan. Di Yogyakarta, dunia penulisan tumbuh subur, tapi daerah-daerah lain di Indonesia juga tak kalah berkembang dalam hal ini.

Umar Kayam, Emha Ainun Nadjib, Y.B. Mangunwijaya, Sindhunata, Rendra, dan Sapardi Djoko Damono pernah tinggal di Yogyakarta. Selain faktanya sebagai kota pendidikan dan kota kios buku, Yogyakarta juga melahirkan sejumlah penulis-penulis andal. Sebut saja Tasaro GK yang bangga menempelkan embel-embel “Gunung Kidul” di akhir nama tenarnya.

Yogyakarta juga memiliki banyak penerbit buku. Seperti tagline Festival Buku Indonesia tahun lalu, musik, buku, dan kopi merupakan perpaduan yang tak dapat dipisahkan. Ketiganya tumbuh subur di Yogyakarta. Pemusik-pemusik kenamaan banyak yang lahir dari rahim kota gudeg ini. Juga yang tidak kalah trendi adalah lahirnya kedai-kedai kopi yang semakin menjamur. Yogyakarta ternyata telah bicara kualitas untuk menerbitkan buku dan menantang siapapun untuk menaklukan kota ini dengan buku bermutu. Ditemani musik yang asyik dan segelas kopi memang diakui beberapa orang sebagai sumber inspirasi.

Kota lain, Bandung misalnya, Pemerintah Kota-nya berencana menjadikan ibu kota Jawa Barat ini sebagai World Book Capital 2017. Hal ini dilakukan untuk menjadikan Bandung sebagai pusat intelektual serta kota terpelajar dunia.

Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional (HBN), Disdik dan Kapusarda Kota Bandung menggelar acara "Menuju Bandung Sebagai Ibu Kota Buku Sejagat 2017" di Lapangan Tegallega. Dalam acara tersebut dilakukan pembagian buku massal secara gratis. Kegiatan tersebut berhasil memecahkan rekor Muri, salah satunya rekor wakaf buku terbanyak sebanyak 48.614 buku (republika.co.id, 8/6/2014). Upaya yang tidak main-main dari Pemerintah Daerah setempat untuk benar-benar mewujudkan Bandung sebagai Kota Buku Sejagat.

Kota Buku Sejagat atau Book World Capital City adalah gelar yang diberikan oleh UNESCO kepada sebuah kota sebagai pengakuan atas kualitas program untuk mempromosikan buku dan membaca serta dedikasi dari seluruh pelaku di industri buku. Sejarahnya bermula dari keberhasilan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia yang diluncurkan pada tahun 1996. Hal ini mendorong UNESCO untuk mengembangkan konsep Book World Capital City. Kota Madrid terpilih sebagai kota buku sejagat pertama tahun 2001. Lagi-lagi acara ini sukses dan Konferensi Umum UNESCO memutuskan untuk membuat penunjukan World Book Capital City secara tahunan.
Selain harus menjadi penghasil para penulis-penulis berkualitas, minat baca juga harus terus ditingkatkan sebagaimana peningkatan minat menulis. Selain itu, fasilitas-fasilitas membaca harus tersedia di sudut-sudut strategis kota, termasuk menyediakan fasilitas pendukung yang nyaman dan ramah terhadap warganya. Sebagaimana kita ketahui bersama, di Bandung telah semakin serius dibangun ruang-ruang publik seperti taman dengan fasilitas pendukungnya yang memberikan kenyamanan bagi warganya untuk berekspresi dan terus mengeksplorasi diri.
Bandung memiliki potensi untuk berkembang sebagai kota buku. Di Bandung terdapat penerbit-penerbit besar nasional, seperti Mizan, Grafindo Media Pratama, Sygma, Ganeca Exact, dan beberapa lagi. Di Bandung pula kali pertama berdiri pendidikan formal khusus bidang perbukuan yaitu Program Studi D3 Editing Unpad. Padahal Yogyakarta juga tidak kalah. Ada Bentang Pustaka, Diva Press, Pro-U Media, Stiletto, dan lain sebagainya yang juga terus maju dan berpacu.

Menurut Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, daerah ini memiliki minat baca yang masih rendah yaitu 0.049, artinya dari 1000 orang yang membaca buku hanya 49 orang saja. Sebagai kota Pelajar, tentu saja peningkatan minat baca penting untuk terus digalakkan. Terlepas dari ketertinggalan Yogyakarta untuk layak diakui sebagai Kota Buku Sejagat, kualitas generasi penerus bangsa yang terus menurun akan lebih berakibat fatal.

Minat baca yang dapat diartikan sebagai kecenderungan hati yang tinggi pada seseorang kepada suatu sumber bacaan tertentu. Minat baca yang dikembangkan dalam keluarga terutama sejak usia dini selanjutnya dapat dijadikan landasan bagi berkembangnya budaya baca.

Selama dua tahun penulis berdomisili di Yogyakarta, mendapati perpustakaan-perpustakaan diisi oleh orang-orang yang kebanyakan sedang mengerjakan tugas akhir. Sedangkan di jalan-jalan dan halte bus, masih warga asing yang mendominasi aktivitas membaca buku untuk membunuh waktu. Tak heran, banyak juga buku-buku bermutu di kawasan wisata seperti Jalan Prawirotaman dan Sosrowijayan. Hal ini dikarenakan para wisatawan sangat haus akan buku-buku bermutu.
Sebagai kota tujuan wisata, tentu penting pula bagi Yogyakarta untuk memberikan fasilitas pengembangan diri bagi warganya. Taman-taman yang nyaman lengkap dengan wifi sebagai tempat membaca buku dan berdiskusi. Udara yang nyaman dengan adanya ruang terbuka hijau akan menjadi penghilang stress dari hiruk pikuk mulai padatnya aktivitas warga dan lalu lintas di kota ini.
Masih terlampau tingginya harga buku bisa jadi merupakan akar permasalahannya. Hal ini pula penyebab larisnya buku-buku bajakan. Tentu saja keluarnya buku-buku ilegal ini tidak terdaftar sehingga tidak terhitung sebagai buku yang diterbitkan oleh penerbit resmi dan dibaca bahkan diresapi oleh warga Yogyakarta. Angka kelahiran buku-buku dan penulis bermutu diimbangi dengan maraknya pembajakan. Ironis memang, tingginya tingkat pembajakan artinya penghargaan terhadap suatu karya intelektual masih sangat rendah. Ini merupakan pekerjaan rumah bagia kita semua agar kesadaran intektual masyarakat terus meningkat seiring peningkatan minat baca. Bukan demi pengakuan internasional sebagai jagat buku, tapi lebih kepada peningkatan harga diri dan kualitas bangsa.

Catatan: Pernah diikutkan dalam Lomba Esai Festival Buku Indonesia 2014 di Yogyakarta




 

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<