Sunday, August 31, 2014

Twiries: Menyelami Sekelumit Dunia 'Kloning'

Sudah lama sebenarnya saya ingin 'menceritakan' pengalaman pribadi saya menyelami alam kembar yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Saya juga sudah mencari dan menelusuri beberapa toko buku di Jogja dan di Bandar Lampung, tapi memang agak susah menemukannya. Hingga akhirnya, pada suatu sore ketika saya tengah menahan rasa sakit di perut karena serangan asam lambung, saya menemukan buku hijau nan mentereng itu di salah satu sudut Kota Jogja.

BTW, selamat, ya Dear Twin Evil atas kelahiran karya bersamanya. Pertama nonton book trailer-nya yang terbayang adalah "niat banget ternyata ini nggarap bukunya!" dan ketika tahu bahwa di Twiries ada komiknya, it doesn't make a sense, sih. Saya kan nggak suka komik. Itu pernyataan sombongnya saya dulu, beberapa bulan lalu. Tapi begitu dibaca, ternyata komiknya malah saya pantengin dan bikin kaku perut.  

 



Tanpa buang waktu, menjelang senja setelah sampai di #KerajaanKecilVita saya langsung ambil kacamata dan berpose #ups salah... mengambil posisi ternyaman membaca buku hijau ini. Bagaimanapun saya harus 'mengagungkan' karya yang harusnya telah ada sebelum saya merantau ke Kota Gudeg ini. Perjalanan panjang dan berbagai kisah heroik behind the scene penulisan buku sangat layak untuk dihargai. Meski pada akhirnya, setelah membaca beberapa halaman, kening saya berkerut,

"Hih, apa banget, sih, suruh beli curhatan beginiiii... harusnya kan dengerin aja mereka bercerita menjelang gue tidur... zzz... ," tapi jangan marah dulu, dong, itu hanya candaan, lho.

So far, buku ini lebih jauh dari ekspektasi saya. Saya benar-benar dibuat masuk ke dunia Teh Eva dan Evi. Eva kloningan Evi, atau Evi kloningan Eva? Whatever! Walaupun saya belum pernah bertemu dengan teh Eva, tapi sedikit banyak saya sudah bisa membedakan diantara keduanya. Sok... mangga... berani dites lah... :D

Sebelum membaca buku ini, saya membayangkan sosok Teh Eva sebagai seorang 'kakak' yang let's say... kemayu gitu. Rambut panjang dan dagunya juga agak panjang (...nggak sih?) dan gaya bertutur yang sedikit berbeda dari Teh Evi yang jumpalitan dan heboh. Habisnya di whatsapp kalau ngobrol juga suka gitu, nggak ada 'jaim' atau gengsi-gengsian. Orangnya blak-blak-an. Mungkin memang karakternya lebih kasual daripada Teh Eva kali, yah. #CMIIW itu cuma tebakan saya pribadi, loh. Kalau salah ya, jangan disuruh hormat di depan tiang bendera. 

 Dulu, duluuuuu... banget waktu zaman saya masih kecil dan imut-imutnya, saya pengen banget punya kembaran. Alasannya nggak jauh beda sama yang udah diceritain Teh Eva dan Evi. Biar bisa saling 'jadi cermin', penyemangat, dan tuker-tukeran sekolah. Lambat laun, setelah punya adik dan adiknya sudah agak besar, nggak kepingin lagi punya kembaran. Lagi-lagi alasannya seperti yang terungkap di Twiries ini. Nggak rela dibanding-bandingkan adalah alasan yang menempati posisi pertama. Yah, dengan begitu kan kita jadi lebih berterimakasih sama Tuhan atas apa yang udah dianugerahkan sama kita. Ngapain juga berandai-andai.

Ngomong-ngomong soal anugerah, saya paling suka bagian yang membahas tentang KECANTIKAN. Ada satu postingan saya yang A must read  banget di blog ini, nih. Aku Istimewa adalah representasi dari uneg-uneg yang awalnya tidak pernah saya risaukan. Kemudian menjadi penting untuk saya tulis ketika masalah fisik semakin diperdebatkan. Saya berpikir bahwa saya harus  menguatkan diri saya sendiri di tengah terpaan badai hinaan... aduh... nggak sampai berbentuk hinaan juga, sih. Palingan saya sendiri yang suka merasa minder. Dan tulisan saya ini menguatkan saya sendiri.

Semacam penutup dari postingan saya itu berbunyi,
"... Tapi masa iya lantas aku tidak patut dipertahankan?! Banyak perempuan sempurna diluaran sana. Tapi aku juga tahu, pasti ada perempuan-perempuan yang ingin menjadi aku. Dengan segala keberuntunganku. Aku cukup menjadi istimewa. Itu saja. Ya, jadi cantik juga mau sih suatu hari nanti. Asal tidak melawan takdir dan mengubah pemberian dari Allah.Yang penting, aku istimewa, beda, dan berbahaya!"

Terimakasih Teh Eva dan Evi yang juga menguatkan banyak orang di luaran sana yang mungkin memiliki masalah yang serupa tapi tak sama. Tidak sekedar membaca curhat kalian, boleh dong saya sekalian curhat... hehe... 

Membaca bagian itu di Twiries membuat saya semakin kagum dengan kalian. Ya, dua orang yang sebenarnya berbeda tapi selalu saling mendukung. (Saya pikir) selalu berkompetisi tapi tidak lantas menjatuhkan. Walaupun dengan seperempat hati mengucapkan selamat atas kemenangan kembarannya, sekaligus memecundangi diri sendiri dengan tersenyum sumringah ketika melihat kembaran jingkrak-jingkrak kegirangan. Kecuali ada bagian paling membuat saya ngakak ketika membaca adegan-adegan drama percintaan Eva-Evi-Eli-Kadi. Hadeuh... khayalan kalian tingkat tinggi sekali. Wajar saya mengagumi Love Puzzle dan CineUs yang membacanya saja bikin bergidik sekaligus mengeryitkan kening. Dasar Si Kembar Tukang Menghayal!

Bagian itu dan seterusnya mulai membuat konsentrasi saya fokus dan perut saya mulai bergejolak karena tertawa. Beruntung pacar saya sedang sibuk sendiri sehingga absen menelepon pada jam-jam darurat telepon itu. Saya juga sampai tidak menyahut panggilan Si Mbak Poni, asisten di Kerajaanku ini. Saya pikir akan berabe urusannya jika saya membukakan pintu, kemudian Mbak Poni masuk ke dalam kamar, bercerita ini-itu sampai panjang dan tak terpotong lagi... lah kapan saya menyelesaikan membaca drama percintaan yang jauh dari mirip dengan drama Korea ini?! Maka saya memilih bergeming dan meminta maaf dalam hati sambil berbisik, " Mbak, kita ngobrolnya besok aja, yah...."

Membaca surat Teh Eva, diksinya selalu mampu menghanyutkan perasaan saya. Saya juga sering, loh, BW ke blog-nya Teh Eva. Saya merasa bahwa surat-suratnya juga ditujukan kepada saya. Dan dalam buku ini, ketika Teh Eva bicara mengenai mimpi, saya merasa ikut ke dalam arus emosinya. 

"... Sayangnya kita pemimpi yang bodoh. Kita seringkali tidak bisa membedakan antara impian dan keinginan. Kita memilih menggapai keinginan-keinginan yang menyaru jadi impian. Hingga kita tak pernah fokus, lalu baru menyadari waktu telah lama berlalu... "

Pernyataan itu so... gue banget, gitu! Saya merasa tertampar berkali-kali. Semakin dibaca semakin membuat saya sadar. Bahwa ternyata bermimpi bukanlah penyakit gila nomor sekian. Tapi bermimpi adalah hal lumrah yang dimiliki banyak orang. Namun mengejar keinginan yang seolah-olah terpampang sebagai mimpi itu seperti penyakit langganan semacam flu bagi saya. Tapi kemudian, saya merasa tidak lagi sendirian. Ada kalian yang selalu percaya bahwa "... tak ada yang sia-sia di dunia ini. Semua pengalaman itu bisa kita jadikan bahan cerita, meskipun terdengar seperti alibi."

Malam hari, sebelum membaca surat Teh Evi, saya pergi ke  toilet. Agak bergidik bulu kuduk saya karena untuk mencapai toilet, saya harus keluar dari kamar dan melewati tali-tali jemuran ditemani desir angin Jogja Bulan Agustus. Ya, Juli hingga September Jogja menjadi lebih lembab dan dingin. Tiba-tiba dalam benak saya ada kontemplasi video klip Danur-nya Sarasvati. Kenapa kalian menggunakan lagu penuh klenik (menurut saya) itu sebagai soundtrack surat cinta kalian? Saya terus berpikir sambil sesekali membuang bayang-bayang. Tahukan kalian, ketika jantung saya memompa darah semakin cepat dengan percepatan tak beraturan, seekor kucing melompat dari tiang jemuran. Mata saya menyapu langit Jogja yang berkabut dari lantai dua Kerajaan ini sambil bergegas tenggelam dalam selimut.
"Derap langkahku terseok... Amar harap elok... Badik sayati relungku...Pijarmu memaku..." Hiyaaaa... ada Peter!

Saya tidak lebay! Trust me!

Last but not least, Twiries terlahir sebagai suatu karya yang benar-benar freak! Mulai dari gaya bahasa sampai alurnya. Aduh, saya tidak tahu seperti apa membahasakannya, tapi yang jelas buku ini unik dari segala sisi. Baik isinya, maupun drama di balik proses lahirannya yang mungkin sedikit mirip peristiwa lahirnya Teh Evi. Hebat, ya, bisa memadukan dua jenis tulisan Teh Eva dan Evi jadi sesuatu yang gokil dan enak dipahami sekaligus pesan moralnya meresap sampai ke relung hati. Terimakasih, ya, Kembar yang Terkutuk. Terkutuk jadi pribadi yang inspiratif dan berprestasi. Semoga kita segera bertemu, Teh Evi dan keluarga barunya, Teh Eva dan Rasi... kalian semua freak!



http://www.smartfren.com/ina/slide-detail/7201112013092452/




http://myfairytalemytale.blogspot.com/2014/06/lomba-sharing-your-moment-with-twiries.html

2 comments:

  1. Terima kasih sudah berpartisipasi dalam "Sharing Moment with TwiRies" ^_^

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<