Tuesday, September 9, 2014

GBHM Alias Adean Ku Kuda Beureum

 "Nda, punya kerudung warna kayak gini, nggak, sih?" tanya sepupu saya sembari menunjukkan baju pesta yang baru dibelinya.

"Tau, cari sendiri aja di lemari!" jawab saya sambil bermalas-malasan di depan tivi. saya juga sebal karena dia nggak juga selesai berdandan.

Mendengar jawaban yang seperti pembiaran itu, sepupu saya pasti akan langsung merasa mendapatkan lampu hijau. Dia bebas memilih jilbab mana yang menurutnya cocok. Kemudian dia akan datang lagi kepada saya setelah dressing up dan siap pergi ke pesta.

"Nda... gimana? Cocok, nggak?" saya masih cuek dan asyik dengan Masha and the Bear.

"Eh, aku pinjem sepatu kamu sekalian, yah, kayaknya chic banget gitu sama gaya aku hari ini!" sambil berandai-andai mendapat pujian, tuh, pastinya.

"Whatttttt...?"suaranya langsung bisa mengalihkan dunia saya.

"Sepatu yang baru kamu beli kemaren, ih, pas pulang dari Kalimantan," dan saya harus mengelus dada karena sepatu itu sudah nempel dengan manis di kakinya.

Oh... Gosh... gue aja belum pernah pakeeee... :( 

"Iya, iya... kamu mah.... adean ku kuda beureum!!!"
"Wew..." sepupu saya langsung melotot dengan mata bulatnya yang hampir keluar. "Pokoknya kamu jangan bocorin, ya, kalo aku minjem punya kamu. Demi aku, please!"

"Yah, bahasa gaulnya, sih... GBHM... Gaya Boleh Hasil Minjem!"


Fenomena pinjam-pakai ini ternyata juga terjadi pada seorang Kate Middleton. Berbeda dengan kita yang sering merasa bangga dengan barang pinjaman, fakta tentang Sang Putri ini justru menunjukkan sifat rendah hatinya. Seperti dikutip dari lifestyle.liputan6.com, pada tahun 2012, media menyorot gaya berbusana Kate saat ia pertama kali menyampaikan pidato publiknya sebagai Duchess of Cambridge. Yang menjadi perhatian publik bukan hanya tentang gaun birunya yang sangat bangsawan. Gaun itu ternyata juga pernah dipakai sang ibu, Carole Middleton pada tahun 2010. Sebagian kita mungkin merasa malu untuk pinjam-meminjam baju tapi tidaklah demikian dengan Kate yang bergelimangan harta dari kerjaan Inggris.

Pinjam-pakai gaun antara Kate Middleton dan ibunya (sumber: lifestyle.liputan6.com)

Terkadang bukan sekedar  berdasar keikhlasan, tapi ada kesepakatan


Istilah "pinjam pakai' sering kali bukan menjadi istilah yang asing bagi keseharian kita. Pinjam-pakai bukan hanya tanah, bangunan, atau kendaraan yang dapat dinilai dengan uang atau dengan mudah digadai atau dijual. Dalam kehidupan sehari-hari pinjam-pakai pakaian sudah sangat lazim dilakukan. Bisa karena kebutuhan, atau sekedar ingin terlihat lebih keren dengan barang milik orang lain. Misalnya saja yang sering terjadi pada keluarga kami. Jika saya membeli baju baru, bisa saja yang memakainya pertama kali bukan saya. Demikian juga anggota keluarga yang lain. Biar nggak ada keributan, ada syarat yang harus dipenuhi, nih.
  • Izin terlebih dahulu. 
Didalam sebuah riwayat dikatakan bahwa ada sebagian dari ummat Rasulullah SAW yang dibangkitkan oleh Allah dari Alam Kubur ketika hari kiamat dengan tangan terbelenggu ke bawah lalu salah satu sahabat bertanya "Siapa mereka Ya Rasulullah?" kemudian Rasulullah SAW menjawab, "mereka adalah orang yang suka melakukan ghoshob yaitu orang yang meminjam dan memakai barang milik orang lain tanpa seizin yang memiliki barang."   

  • Jangan meminjam barang yang amat sangat disayang dan punya kedekatan emosi dengan pemiliknya, penuh kebanggaan, atau hadiah yang sangat berharga.
  • Jangan ada cacat ketika mengembalikan barang pinjaman, kalaupun ada, bisa kita bilang baik-baik dan berusaha memperbaiki atau menggantinya. Pengembalian barang harus dalam keadaan baik dan rapi, apalagi baju.
  •  Harus saling bisa diandalkan, dong. Jangan pelit. Suatu saat kita butuh pinjam barang juga.
  • Jangan mengaku memiliki barang pinjaman itu. Ini biasanya berlaku dalam arisan ibu-ibu yang sering memamerkan perhiasan, ketika konkow ABG sering memamerkan motor atau mobil pinjaman. Bahkan kadang ada juga yang mengaku-ngakui pacar orang. Gawat! Ini berpotensi konflik. 


Nah, yang terakhir itulah yang dimaksud dengan Adean ku kuda beureum. Kata-kata itu adalah salah satu peribahasa Sunda yang artinya punya adik kuda merah. Agak kurang nyambung sih dengan makna kiasannya yang kurang lebih mirip "berlayar di atas angin" dalam Bahasa Indonesia. Arti lengkap kiasan ini adalah agul ku banda batur atawa ginding ku beunang minjeum. Jadi, ini bisa berlaku pada orang yang bangga dengan berlebihan terhadap sesuatu yang dipakai atau dibawanya, padahal itu milik orang lain. 
Kalau ini sih memang sudah kandel kulit beungeut alias tidak punya malu :D
Di era yang semakin digital dan sarat sentuhan teknologi ini, fenomena GBHM semakin gampang ditemui. Tidak jarang orang sekedar nebeng berfoto di depan mobil mewah, menunggangi motor besar, kemudian mengaplotnya ke media sosial agar menuai pujian, decak kagum, dan lain sebagainya. Terkadang hal semacam ini menyisakan rasa sakit hati pada pemilik aslinya. Seolah-olah ia tak dianggap dan merasa tidak lagi mempunyai sense of belonging terhadap barang yang dipinjamkannya tersebut.

Sudah menjadi fitrah manusia untuk selalu berkompetisi. Termasuk berlomba untuk bisa 'dilihat' dan diakui oleh masyarakat luas. Baik dari segi penampilan, gaya hidup, bahkan sampai teman hidup. Oleh sebab itu berbagai cara akhirnya ditempuh untuk mendapatkan pengakuan. Padahal pengakuan dari manusia hanyalah bersifat sementara. Hingga akhirnya muncul istilah 'Gaya Boleh Hasil Minjem' atau 'Gaya Boleh Hasil Nebeng'.

Salah satu kutipan dari salah seorang penulis favorit saya, John Green dalam novelnya The Fault in Our Stars, kurang lebih intinya begini:
"Kita selalu ingin dikenang oleh banyak orang (dunia). Oleh sebab itu kita harus berbuat sesuatu untuk dunia, meski memaksakan diri ditengah keterbatasan agar dunia 'melihat kita'. Tapi dia (Hazel, salah satu tokoh dalam cerita; penderita kanker) berbeda. Dia telah menemukan kebenaran. Dia tidak ingin dikenang oleh banyak orang, cukup dikenang oleh seseorang yang dicintainya. Dia tidak ingin dicintai oleh semua orang, tapi cukup oleh seseorang. Adakah yang lebih indah daripada itu?" (Kata Agustus Waters dalam suratnya).


 

2 comments:

  1. Klo Mbak Kate yang GBHN mungkin karena pada dasarnya orangnya humble ya, ga neko-neko he he, pernah baca kalau dia belanja bajupun ga harus mahal mewah bermerk

    ReplyDelete
    Replies
    1. perasaan udah nda replay, deh... hadeuuhhh... Iya, kalo Kate, kan low profile, kalo Mama Rayyan gimana? :p

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<