Sunday, November 30, 2014

Aruna dan Lidahnya: Mengajarkan Bahwa Makanan juga Punya 'Nyawa'

Aruna dan Lidahnya among Ayam Taliwang, Plecing, Mint Tea, Kerupuk and Wedang Uwuh ( cred @vitarinda ; lokasi; Kerajaan Kecil Vita)



Judul                          : Aruna dan Lidahnya, Sebuah Novel tentang Makanan, Perjalanan dan Konspirasi
Penulis                       : Laksmi Pamuntjak
Desain Sampul        : SOSJ Design Bureau & Consultancy
Ilustri sampul          : Barata Dwiputra
Foto Pengarang       : Nona soetirto
Harga                         : Rp. 78.000
Format                       : Soft Cover
ISBN                           : 6020308529
ISBN13                        : 9786020308524
Tanggal Terbit          : 27 November 2014
Penerbit                      : Gramedia Pustaka Utama
 
Ia hanya tersenyum karena ia memang pelit kata.
Tapi aku tahu jawabnya: ia jarang salah karena ia pengunjung restoran yang tak kenal lelah. Insting hanya bisa datang dari pengalaman; ia tak jatuh dari langit, atau menyelusup seperti jin ke dalam tubuh, yang dengan baik hatinya mengarahkan panca indramu untuk membuat pilihan-pilihan yang paling jitu.
(Halaman 42)

Aruna Rai, 35 tahun, belum menikah. Pekerjaan: Epidemiologist (Ahli Wabah), Spesialisasi: Flu Unggas. Obsesi: Makanan.

Bono, 30 tahun, terlalu sibuk untuk menikah. Pekerjaan: Chef. Spesialisasi: Nouvelle Cuisine. Obsesi: Makanan.

Nadezhda Azhari: 33 tahun, emoh menikah. Pekerjaan: Penulis. Spesialisasi: Perjalanan dan Makanan. Obsesi: Makanan.

Ketika Aruna ditugasi menyelidiki kasus flu unggas yang terjadi secara serentak di delapan kota seputar Indonesia, ia memakai kesempatan itu untuk mencicipi kekayaan kuliner lokal bersama kedua karibnya. Dalam perjalanan mereka, makanan, politik, agama, sejarah lokal, dan realita sosial tak hanya bertautan dengan korupsi, kolusi, konspirasi, dan misinformasi seputar politik kesehatan masyarakat, namun juga dengan cinta, pertemanan, dan kisah-kisah mengharukan yang mempersatukan sekaligus merayakan perbedaan antarmanusia.

Aruna is in her mid-30s and happily and proudly single. She is an epidemiologist but her real passion is eating. She thinks and obsesses about food 24/7. When she is dispatched to investigate curious cases of Avian Flu in eight cities in the Indonesian archipelago, she brings along her two best friends, the quirky, US-trained chef Bono, and the impossibly chic food and travel writer Nadezhda to eat along with her. Insights on food, local history, religion and Indonesian politics merge as they find out more than what they bargained for in cities as diverse as Surabaya, Bangkalan and Pamesan (Madura), Palembang, Medan, Banda Aceh, Pontianak, Singkawang and Mataram. (laksmipamuntjak.com, 2014)
 
Aneka jenis kuliner yang dicicipi mereka melahirkan kisah-kisah untuk dibawa pulang. Filosofi yang dimiliki oleh setiap bahan pangan, cara meracik rempah hingga terhidang di meja makan bukan hanya mengakrabkan satu sama lain, tapi juga menimbulkan diskusi yang debatable.

Novel yang dibuat ‘hanya’ dalam waktu satu setengah tahun ini ternyata tidak kalah menarik dari Amba yang butuh sepuluh tahun untuk menyusunnya. Ide penulisan yang berlatarbelakang merebaknya kasus flu unggas di tahun 2005 tidak lantas membuat ceritanya ketinggalan zaman. Untuk menulis novel sedemikian detil dengan sisi keilmiahan dan istilah-istilah, saya yakin Laksmi tidak main-main dalam melakukan riset.

Melalui novel setebal 427 halaman ini pembaca dibuat lebih mengenal indonesia dari sisi yang tidak biasa. Kearifan lokal dari beberapa tempat yang berbeda dituliskan secara unik, tidak terkesan lompat-lompat, dan tidak dibuat-buat. Dengan ribuan suku yang mendiami ujung barat hingga timur indonesia, tentunya tafsir kebiasaan mereka pun memperkaya wawasan kita. Makanan, hanyalah salah satunya.

Laksmi berhasil mencapai tujuannya untuk mengawinkan tema makanan dengan budaya daerah hingga budaya korupsi. Isu flu unggas merupakan ide cerdas untuk mengungkap sesuatu yang satire.

Setelah membaca Aruna dan Lidahnya saya mulai mengait-kaitkan filosofi makanan dengan kepribadian manusia. Menelisik sifat dan karakteristik bahan pangan hingga seperti kembali mengikuti mata kuliah Penanganan Pasca Panen hingga Ilmu Gizi Pangan. Meski menguak luka lama karena tidak berhasil mendapatkan nilai A, baru sekarang saya merasa enjoy dalam menyerap sisi teoritisnya, sisi ilmiahnya. Bahwa dari karakteristik itulah kita tahu bagaimana suatu bahan pangan harus diperlakukan, bagaimana ia harus dihidangkan, dan dalam suasana seperti apa.

Laksmi juga mengajarkan saya tentang Sampanye dan Popcorn, seperti filosofi Mars dan Venus. Ah, tapi tidak sama. Jelas yang ini berbeda. Banyak ilmu dan kesadaran baru yang terbangun setelah membaca novel ini. Saya jadi lebih merasa sebagai manusia.

... Tapi, juga sebagaimana sampanye, untuk setiap Nadezhda ada saat yang paling pas. Ketika hari masih terang, ia ringan, renyah, kanak. Sesuai dengan kategorisasi seorang penulis wine yang sering dikutip-kutip Nadezhda, saat makan siang, ia rose: ranum, merekah, semburat merah. Menjelang malam, ia blanc de blanc. Putih di atas putih, bagaikan kelibat kilat ujung gaun penari terakhir sebelum ia raib dari panggung, laksana cahaya terakhir yang mengiris petang... (Halaman 90-91).

Ah, diksinya terlalu luar bisa. Contoh di atas hanyalah salah satunya. Laksmi ternyata sangat cerdas mendeskripsikan seperti apa Nadezhda dari kacamata seseorang yang hanya layak diibaratkan seperti popcorn.
Kopi, Laki-laki dan Burung Juara  (cred: @vitarinda; lokasi @BlackboneCoffee)
 ... Di Ulee Kareng, di Warung Kopi Solong yang tersohor itu, laki-laki bertebaran seperti biji-biji kopi Gayo andalan. (Halaman 310)

Aku gagal paham, kenapa Laksmi memilih Aceh? Kenapa Laksmi memilih kopi Gayo? Tentu saja aku tahu seperti apa rasanya kopi yang terkenal itu. Aku pun sangat ketagihan. Ada yang bilang beberapa diberi ganja. Ada juga yang bilang, memang begitulah karakteristik kopinya. Lalu aku berencana membuka lagi materi kuliah Kopi dan Kakao. Lalu kenapa Laksmi memilih kopi Robusta? Sedangkan Indonesia Barat juga punya kopi Arabika yang sedikit asam dengan aroma yang kuat dan selalu menimbulkan semangat. Pertanyaan terakhirku, kenapa Laksmi memilih Aceh? Bukan Lampung, kampung halamanku yang terkenal dengan kopi Liwa atau kopi  luwaknya. Di sana ia juga bisa sekalian mencicip hidangan seruit dan durian yang mantap rasanya. Di sana juga ada pempek, tak perlu jauh-jauh ke Palembang. Bukan pula Belitung, sebagai nyata-nyata Pulau Seribu Kedai Kopi?

Beberapa 'Onggok' Kopi (Cred: @vitarinda ; lokasi: @BlackboneCoffee)

Saya rasa ia punya alasan yang tepat, seperti juga kenapa ia memilih menyebutkan soto Bangkalan atau Sumenep. Bukan soto Betawi atau soto (coto) Makassar. Dan Laksmi ternyata tahu persis bagaimana caranya membuat sajian bebek yang membuat penikmatnya ‘mau matiii... gilaaaaa’, sementara saya hanya tahu bahwa Bebek Sinjay di Bangkalan itu memang beda daripada bebek di Yogyakarta.

Ah, tak ada habisnya mengomentari kecerdasan penulis yang satu ini. yang jelas, ia berhasil membuat saya lebih banyak belajar dan tersadar. Seperti doktrin yang saya terima setelah membaca Amba, yang membuat saya merasa harus membaca Mahabarata dan Serat Centhini yang luar biasa susah didapatkan, kali ini saya merasa harus lebih banyak belajar mengenai ‘jiwa’ dalam setiap makanan. Dan parahnya lagi, hingga saat ini saya masih dibuat penasaran dengan The Question of Red: A Novel dan Perang, Langit dan Dua Perempuan yang mungkin mengharuskan saya melakukan perjalanan ke barat untuk mencari dan mendapatkan kedua buku yang (saya kira juga) luar biasa itu.



4 comments:

  1. Baca reviewnya jadi kepengin baca novelnya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, terimakasih Teh Eva. Artinya berhasil membuat penasaran. Jadi semangat belajar mengulas :)

      Delete
  2. Bagus nih novelnya, thanks reviewnya :)

    www.fikrimaulanaa.com

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<