Tuesday, November 11, 2014

Daun-daun Hitam; Suara Bagi yang Terinjak, yang Terlupa


Oleh

Rinda Gusvita

 


 Judul Buku                  : Daun-daun Hitam

Penulis Cerpen            : Yuli Nugrahani

Pembuat Sketsa           : Dana E. Rachmat

ISBN                           : 978-602-1534-35-9

Penerbit                       : Indepth Publishing dan Caritas Tanjung Karang

Korektor                      : Yulizar Fadli

Desain cover               : Devin Nodestyo

Layout isi                    : M. Reza

Tanggal Terbit             : Cetakan Pertama, Agustus 2014

Tebal                           : 90 halaman + x

Dimensi                       : 14 x 21 cm



Daun-daun hitam hanyalah onggokan sampah sisa pembakaran. Kadang dimain-mainkan angin, diinjak orang yang lalu lalang, kemudian hilang begitu saja dari ingatan. Tanpa kesan.

Yuli Nugrahani menyatukan hal yang sangat sederhana itu dalam 12 cerpen dan 12 sketsa hasil kolaborasinya dengan Dana E. Rachmat. Apakah sketsa-sketsa itu merupakan penggambaran cerpen dalam bentuk nyata? Mungkin saja iya. Mungkin juga tidak.

Melalui kumpulan cerpen dan sketsa Daun-daun Hitam pembaca diajak untuk menghormati dan mengabadikan kesejatian manusia dengan keragaman cara pandang, budaya, etnis, dan keyakinan. Buku ini juga menyadarkan pembaca akan hal-hal sepele yang mungkin tak akan pernah dilirik sebelumnya.



Daun-daun sudah terbakar sebagian. Api mengubah daun-daun menjadi hitam jelaga dengan gurat-gurat daun yang masih tersisa. Pikiranku menghablur pada kenangan lereng Betung, Istriku ingin ke sana. Bapak pun ingin kembali ke sana. "Aku mau dikuburkan di kampungku sendiri." Kata-katanya jelas diucapkan beberapa kali saat sakit mulai menderanya dulu. "Lebih baik jika aku pulang sebelum mati, sehingga kau tak perlu mengusung kerandaku. Biar aku jalan sendiri dan pulang." 

Bapak, ya, sepertinya kita harus pulang.

Aku meninggalkan daun-daun hitam yang teronggok mengepulkan asap. Gerimis akan memadamkan baranya, biar saja. Aku mencuci tangan dan segera menuju kamar bapak. Batuknya terdengar terus menerus, parau dan sakit. (Daun-daun Hitam, hal. 1-6).

Tokoh “bapak” dalam cerpen “Daun-daun Hitam” seperti menguak konflik batin dan mewakili kondisi masyarakat yang sudah lama tinggal di Gunung Betung sebelum kawasan tersebut ditetapkan sebagai kawasan hutan raya. Ketika itu rakyat dipaksa untuk meninggalkan tempat tinggal dan lahan garapannya. Proses pengosongan yang tidak lepas dari konflik, dan tentunya tidak lepas dari benak mereka.
Walaupun penuh kenangan pahit, kampung halaman selalu mempunyai magnet untuk menarik kita pulang. Sejatinya konflik batin yang pernah tercipta justru memperkuat “bapak” untuk bercita-cita tutup usia di sana. Setidaknya di sana ada ketentraman bersama pepohonan, beruk, air terjun, serangga, dan sebagainya.
Masih bercerita tentang sengketa, cerpen “Belum Kalah” (hal. 42-47) menguak konflik penguasaan tanah seperti yang kerap terjadi di beberapa wilayah di negeri ini. Konflik kepemilikan tanah ini hanyalah sebagaian kecil dari akibat bobroknya tata hukum agraria di Indonesia. Tanah juga memiliki makna dari sisi ekonomi, sosial, politik, maupun budaya. Maka itu semua mendorong manusia untuk berusaha menguasai, ataupun sekedar mengambil manfaatnya.
Sikin tua yang keras kepala dalam cerita itu bersikukuh mempertahankan tanah yang sudah secara turun-temurun dikelola oleh keluarganya. Sikin tetap tidak mau menerima uang ganti rugi. Berbeda dengan warga lainnya yang kemudian ingin ikut-ikutan berjuang untuk membebaskan tanahnya dari tangan Sang Kepala Desa, namun sudah mengantongi uang jutaan rupiah sebagai pengganti tanah mereka.
Selain itu, Yuli juga mengetengahkan nasib seorang “Mak Unti” (hal. 49-57) yang jadi bulan-bulanan strategi kampanye politik di kotanya. Padahal ia hanya butuh tempat yang layak untuk buang hajat, hingga menjadi santapan empuk politikus di sana untuk meraup simpati warganya. Sang politikus pun hanya ingin menyediakan fasilitas MCK untuk orang-orang seperti Mak Unti. Tim suksesnya terus mencari Mak Unti untuk mendapatkan fotonya sebelum masa kampanye tiba. Sampai-sampai mereka juga memperkarakan hilangnya Mak Unti sebagai dugaan bentuk sabotase dari pihak lawan.
Seolah tahu betul bagaimana rasanya menjadi politikus, Yuli kemudian menyajikan fenomena selepas ajang perebutan ‘kursi panas’. Dalam cerpen “Pasien”, Yuli memaparkan kondisi psikologis seorang “Adel” (hal. 8-13). “Adel” yang berjuang menghilangkan pikiran kalah menang, desakan pimpinan, tumpukan amplop, rapat, bendera partai, rencana politis, penghitungan suara, dan juga Dandri. Aktivitasnya dalam dunia politik justru menjadi pemicu perpisahannya dengan Dandri. Pilihan yang justru menghadirkan mimpi-mimpi buruk dalam kehidupan Adel selanjutnya hingga ia merasa harus menjadi seorang “pasien”.
Hal yang nyaris serupa juga diceritakan Yuli dalam cerpen “Penghakiman” (hal. 29-34). Cerpen ini menceritakan seorang presiden yang tengah menjadi pesakitan di meja hijau dan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Siksaan mimpi buruk yang dialami seorang presiden nampak begitu nyata.
Cerpen-cerpen Yuli mengungkap harapan masyarakat ketika ada pergantian pemimpin suatu daerah atau negara. Salah satunya adalah adanya perubahan skema pemerintah dalam mengelola lingkungan dan sumber daya alam. Misalnya persoalan tata kelola lahan yang menyisakan derita hingga usia senja dalam “Daun-daun Hitam” dan “Belum Kalah”. Di beberapa wilayah, konflik ini muncul akibat kebijakan justru tidak mampu mengakomodir kepentingan masyarakat.
Cerpen-cerpen berikutnya menjadi semacam peringatan kepada pemerintah, dan juga siapapun yang percaya adanya hari pembalasan. Ini menjadi tuntutan agar setiap pemimpin segera menuntaskan janji-janji politisnya terkait keadilan pengelolaan sumber daya alam. Mereka harus melunasi janji kepada rakyat, atau rela dihantui mimpi-mimpi buruk tentang pengadilan setelah kematian, bahkan sebelum kematian itu datang.
Hakim membalik buku itu mundur, agak ke depan, di halaman depan, lalu melanjukan bicara. “Kau tak punya hati. Dalam catatan ini, hatimu itu senantiasa kau tutup telinganya dengan kucauan aturan. Lama-lama hatimu kering, dan akhirnya hilang, tak tersisa. Kini tak ada waktu lagi. Seluruh buku ini sudah mencatatnya. Aku akan membacakan putusan terakhir.” (Penghakiman, hal. 33).
Sementara itu, dalam sketsanya Dana E. Rachmat menyajikan lukisan kedekatan antara manusia dengan alam sekitarnya. Misalnya dalam sketsa “Pak Lik Wagimin” yang berdiri di Puncak Betung dengan tongkat yang menopangnya. Sketsa ini terkesan memperkuat cerpen “Daun-daun Hitam” dengan tokoh “Bapak” dengan kerinduan terhadap kampung halamannya. Demikian juga pada sketsa “Pohon Mati yang Berkaki” yang mengajak pembaca berimajinasi pergi ke lokasi Pantai Pasir Putih, Kiluan yang amat eksotis.
Yuli Nugrahani menghadirkan cerita yang ‘menggantung’dalam ke-duabelas cerpennya. Demikian juga Dana E. Rachmat yang membiarkan pembaca menduga-duga. Pembaca hanya harus menikmati, mendedah amarah dan emosi, kemudian membuka kembali ruang-ruang rasa yang sebelumnya mungkin telah mengeras.
Kita terbiasa terjebak dan mendambakan happy ending dalam setiap cerita, termasuk dalam kehidupan nyata. Sayangnya, kita tidak hidup dalam layar FTV, sinetron, teenlit, atau semacamnya. Situasi-situasi klimaks terkadang memaksa kita untuk bertahan tanpa bisa menekan tombol ‘cut’, ‘pause’, bahkan ‘rewind’. Pun ketika pesta pemakaman kita telah usai, kehidupan ini justru hanya akan terasa seperti persinggahan. Yuli dan Dana mengajarkan kita untuk berpikir dan merenung serta keluar dari kungkungan ‘happy ending’. Akhir dari kisah dalam cerpen maupun sketsa di buku ini tidak bisa dengan gampang diterjemahkan, atau ditebak apakah semua berakhir dengan bahagia (atau menderita?).
Buku antologi dengan kaver hijau dan kombinasi hitam dalam tulisannya ini terlihat begitu sederhana. Daun-daun hitam yang dibentuk ibarat penggambaran terbangnya ruh seorang manusia dari raga. Ruh manusia dalam bentuk daun-daun hitam yang tak berharga, yang bernilai sampah, yang berwarna jelaga. Lalu apa yang bisa kita banggakan dalam kehidupan kita sebagai manusia tanpa kepekaan tiada tara? Selamat membaca.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<