Friday, November 21, 2014

Ibu, tak Sekedar Seorang Perempuan

Wanita pertama yang dekat denganku sejak aku belum mengenal dunia itu bernama Sri Lestari. Biasa dipanggil 'Bu Guru' di kampungku. Kami memang tinggal di kampung yang jaraknya sekitar dua puluh kilometer dari ibu kota kabupaten. Aku sendiri dibesarkan di sana sampai aku SMA. Baru kemudian aku merantau dan tinggal bersama Nenek ketika kuliah. 

Ibuku adalah makhluk paling sabar yang pernah kutahu. Mungkin karena kesabarannya itulah Ia selalu diamanahi tugas sebagai pengajar kelas 1 SD. Mungkin juga kesabarannya selalu terasah dan teruji di sana. Di kelas, jangan bayangkan siswa yang sudah kenal huruf dan sudah terdidik nalarnya. Mereka adalah anak-anak yang ditinggal orangtuanya setiap hari ke sawah. Mungkin orangtuanya juga terlalu lelah jika malam hari harus mengajari anak-anak mereka, atau menyiapkan segala sesuatu sebelum anaknya pergi ke sekolah.

Ibu seperti mendidik anak kandungnya sendiri di sekolah. Mereka belum kenal angka dan huruf, karena di kampungku baru beberapa tahun terakhir ini saja ada PAUD dan Taman Kanak-kanak. Sebelumnya mereka baru mengenal dunia pendidikan ketika mereka masuk SD. Mereka menangis, mengompol, berkelahi, bahkan buang air besar di dalam kelas. Ibuku sabar sekali menghadapi semua itu.
Pahlawanku di kelas satu
Beruntung tahun ini Ibu 'naik kelas'. Ia ditugaskan mengajar siswa kelas tiga. Setidaknya kondisi siswanya sudah jauh lebih baik. Aku juga sangat bersyukur dengan itu. Paling tidak Ibu tidak lagi bertindak sebagai 'baby sitter'. Aku tahu Ibu terlalu lelah.

Di rumah, Ia mengerjakan kebanyakan pekerjaan rumah sendirian. Bapak seorang kepala sekolah yang juga banyak sibuk di luar. Bapak harus sering pergi ke kantor kecamatan atau kabupaten yang jaraknya jauh dengan kondisi jalanan yang rusak. Oleh karena itu, jika sampai di rumah mungkin Bapak sudah sangat lelah. Biasanya Ia hanya memberi makan ikan sekaligus mengobati stress. Kadang juga Bapak menyapu halaman, pergi ke sawah, atau berkebun di pekarangan rumah.

Kami empat bersaudara, dan aku adalah anak yang pertama. Aku dan adik laki-lakiku yang tertua merantau untuk kuliah. Sementara adik perempuanku juga mengontrak di kota untuk menempuh pendidikan SMA. Di rumah hanya ada Bapak, Ibu, dan adik bungsuku yang laki-laki. Dia sangat suka bermain game di komputer, atau bermain bola dan bersepeda dengan teman-temannya. Mungkin ia juga terlalu lelah untuk sekedar membantu Ibu.

Pulang sekolah, Ibu biasanya makan siang kemudian tidur. Setelah itu ia akan memasak sambil mencuci pakaian. Beruntung Bapak telah melunasi kredit mesin cuci, sehingga pekerjaan Ibu sedikit lebih ringan. Malam hari digunakan Ibu untuk menyiapkan bahan ajar, menyetrika pakaian, atau sekedar melipat pakaian sambil menonton TV dan mengawasi adikku mengerjakan PR. Biasanya pagi hari di rumah kami, semua orang akan terserang morning sick. Mulai dari bangun kesiangan, baju dan PR adik-adikku yang belum disiapkan, sampai rebutan kamar mandi dan menunggu ojeg jemputan ke sekolah. Semuanya membuat stress Ibu.

Beruntung Tuhan menganugerahi hati seluas samudera kepada wanita berambut perak itu. Oh... ya... rambut Ibu hampir semuanya berwarna putih, tidak seperti Bapak yang rambutnya masih sehat karena katanya tidak memakai shampoo berbahan kimia. Ibu selalu menutup kepalanya dengan hijab sampai ke dada. Ibu juga sekarang jadi lebih akrab dengan Tuhan. Mungkin itu sebabnya kesabaran dan hatinya selalu terjaga.

Satu hal yang membuatku sedih adalah ketika Ibu sakit. Ibu menderita hipertensi sejak lama. Penyakitnya bertambah setelah Ia melahirkan adikku yang kedua. Sekarang kondisinya jadi semakin melemah, sering sakit, dan gurat-gurat kurang tidur yang begitu nyata di wajahnya. Dalam kondisi seperti itu, Ibu masih sempat memijat-mijat kakiku yang kelelahan seusai mendaki gunung bersama teman-teman. Ketika aku sakit, Ia juga melayaniku tanpa pernah mengeluh. Namaku juga selalu ada dalam doa-doanya, meskipun aku sedang kesal dan terkadang ngambek. Ibu adalah sesempurnanya perempuan dengan keajaiban jiwa yang tak kasat mata.

Ibu bukan saja pahlawan bagiku, atau bagi keluarga kami. Ibu adalah pahlawan bagi kampung kami. Ia telah merantau memenuhi surat tugas mengajarnya di kampung kami sejak 1985. Lima tahun setelah Bapak tiba di kampung yang katanya dulu masih sangat tertinggal. Mereka mengajar di Sekolah Dasar dengan gaji yang sangat sedikit. Semasa aku kecil, Ibu bangun jauh sebelum subuh. Ia membuat kue setiap pagi dan dititipkan di warung-warung. Biasanya pelanggannya adalah orang-orang yang akan pergi ke sawah.

Kami tinggal di rumah geribig sejak usiaku lima tahun. Sebelumnya kami tinggal di perumahan inventaris sekolah. Bapak masih menarik ojeg hingga aku SMP. Ketika itu Bapak baru bisa membeli motor Jet Colet yang akhirnya kukendarai sendiri untuk pergi ke sekolah. Waktu itu aku sudah duduk di bangku SMA di ibu kota kabupaten. Karena aku tidak betah mengontrak di kota, maka Bapak membeli motor bekas secara kredit untuk pergi mengajar. Kedua motor itu masih ada hingga kini. Bapak tak pernah berniat menjualnya karena benda itu bernilai sejarah. Sejarah perjuangan Bapak untuk mendapatkannya, mungkin.

Dengan kondisi ekonomi keluarga yang seperti itu, aku terdidik untuk hidup prihatin selayaknya teman-temanku di kampung. Aku biasa membantu Ibu dan Bapak berkebun dan menjual sayuran ke warung. Didikan mereka untuk selalu belajar dan bekerja keras itulah yang membuatku memiliki rentetan mimpi yang selalu kucoba perjuangkan di kemudian hari. Meski jauh dari toko buku dan arus informasi perkotaan, hidupku tak pernah jauh dari buku. Orang tuaku yang menyediakan semua itu. Dan Ibu adalah orang pertama yang membuatku berani bermimpi dan menggapai prestasi lebih tinggi.

Ibuku tak sekedar perempuan. Bukan 'hanya' ibu rumah tangga yang menyiapkan empat jenis telur setiap pagi untuk keempat anaknya yang selalu berbeda selera. Bukan juga pejuang kebersihan dan kerapian rumah. Lebih dari itu, Ibu adalah udara yang memberi kami kehidupan. Gajinya yang tak seberapa bisa dibagi-bagi untuk keperluan rumah tangga hingga menambah biaya sekolah anak-anaknya. Ibuku juga bukan 'hanya' guru bagi kami ketika kami merengek demi PR yang tak bisa terselesaikan. Ibu juga guru kehidupan yang mengajarkan kegigihan perjuangan dan kesabaran. Ibu juga pahlawan. bukan 'hanya' pahlawan penyambung hidup keluarga dengan menyediakan makanan enak di rumah. Ibu juga pahlawan yang membuka cakrawala anak-anak di kampung kami. Perempuan sabar yang memperkenalkan alfabet hingga mereka bisa lebih mengenal dunia. 
Untuk senyumnyalah aku bertahan dan melejitkan pencapaian
Ibu adalah jelmaan malaikat berwujud manusia. Ia dianugerahi keluasan hati melebihi samudera dan persediaan maaf yang tak kenal defisit. Jiwanya tak pernah kenal mengeluh, teramat keras melebihi baja. Kelembuatan hatinya jauh melebihi cream cake yang hanya enak di mulut, harum ketika dicium, dan indah ketika dipandang. Ibu bukan sekedar seorang perempuan yang ditakdirkan menjadi pengikut arus dunia. Lebih dari itu, Ibu adalah pembentuk harmoni dunia itu sendiri. Perempuan yang mengenalkan keindahan di balik fananya kehidupan. Semoga Tuhan senantiasa menjaganya dalam kebahagiaan.

Diterbitkan oleh: Sixmidad

4 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih, Pakde :)
      Salam sejuk dari Jogja

      Delete
  2. Guru seperti ibunya Rinda sudah langka ya sekarang, at least kalau di kota besar & di 'sekolah favorit', rata-rata maunya murid masuk kelas 1 SD sudah bisa baca tulis he he.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, Hen. Perjuangan puluhan tahun, belum lagi urusan keterbatasan informasi... hahaaa... Nda aja nggak betah krn g ada sinyal :D

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<