Thursday, December 11, 2014

Demi Kemanusiaan, Manusiakanlah Asistenmu

Rinda,
Lima teman saya di Medan disiksa melebihi budak. Endang, Anis dan Rukmini selamat dan lapor polisi. Tapi Cici dan Yanti, tak sempat. Mereka tewas mengenaskan
Diduga akibat perlakuan majikan sekaligus agen penyalurnya, Syamsul Anwar, yang sudah ditangkap. Tapi selesaikah masalahnya? 
Masalahnya, sampai sekarang tidak ada perlindungan hukum untuk Pekerja Rumah Tangga (PRT)! Sudah 10 tahun RUU Perlindungan PRT dicuekin DPR. Artinya, sampai sekarang PRT tidak dianggap sebagai pekerja. Karena ini, ribuan bahkan jutaan PRT lain akan mengalami hal yang sama. 
Seperti Anda, saya, Cici, dan Yanti adalah manusia, pekerja, memiliki hak dan membutuhkan perlindungan. PRT adalah pekerjaan penting. Jutaan orang bergantung padanya. Ia ikut menjaga roda kehidupan negeri ini. 
Bersama-sama ayo kita ubah kekejaman, penunggakan, dan perbudakan; menjadi penghargaan sesama manusia. 
Salam,

Wagini, PRT tinggal di Medan

Hari itu, sebuah email dari change.org masuk ke akun gmail saya. Awalnya saya tak acuh. Kemudian tidak sengaja saya membaca berita di beberapa surat kabar on line. Kemudian saya baru ngeh mengenai surat tentang petisi tertanda 'Wagini' yang masuk ke email saya.
Saya tidak mengenal Wagini. Terlebih lokasinya jauh di Medan sana. Tapi saya kira saya paham kondisinya, kondisi teman-teman se-profesinya. Bukan hanya PRT di luar negeri saja yang diperlakukan semena-mena. Sudah banyak cerita juga  PRT di dalam negeri juga bernasib demikian. Di setrika badannya karena tak mengerti perintah majikan. Di sudut tubuhnya karena lengah dalam pekerjaan. Bahkan tak diberi makan berhari-hari tapi dipaksa bekerja siang dan malam. Tidak sedikit dari mereka juga yang tidak digaji berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Aturan resmi tentang PRT, ... ah, tunggu, saya tidak suka sebutan PRT, alias Pembantu Rumah Tangga, mari kita menyebutnya 'asisten'. Asisten saja, bukan asisten Rumah Tangga. 

Aturan resmi mengenai asisten ini sangat penting, bukan hanya bagi keselamatan dan kesejahteraan asisten, tapi juga sang atasan. Bagaimana membuat asisten taat terhadap peraturan, dan tidak membangkang.

Saya sendiri mengenal beberapa asisten yang sempat dekat dan berjasa dalam hidup saya. Setidaknya dalam dua tahun terakhir, ketika saya harus mengontrak di Kerajaan Kecil Vita. Dulu, ada seorang asisten yang usianya masih muda, wajahnya manis-manis khas Jawa, badannya kecil, karena memang dia masih seorang dewasa muda. 

Kami memanggilnya Mbak Susi. Dia sudah lima tahun tinggal di rumah kontrakan saya. gajinya hanya Rp. 500.000. Dia mengerjakan semua pekerjaan rumah. Memasak, bersih-bersih, mencuci, bahkan membersihkan kontrakan kami. Dia sudah tinggal bersama Ibu pemilik kontrakan sejak lulus SMP.Di kampungku, biasanya beberapa orang mempekerjakan assten usia sekolah dan membiayai sekolahnya. Tugas yang dibebankan juga tidak terlalu berat. Sekedar bantu-bantu tuan rumah. Semacam GN-OTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) seperti yang diterapkan orangtua saya.

Tapi Mbak Susi bernasib lain. Dengan gaji yang sangat kecil, ia harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Lima tahun berbakti kepada majikannya ternyata tidak lantas membuat hati majikannya melunak. Makan bersama dalam satu meja saja tidak pernah. Makanan Mbak Susi selalu di sisihkan di dapur. 

Akhirnya setelah Mbak Susi 'sadar', ia mengundurkan diri. Gantinya seorang wanita paruh baya. Kami memanggilnya Bude Karsilah. Bude Karsilah orang yang sangat cekatan. ia tidak bisa diam dan selalu ada saja yang dibersihkannya. Sang majikan 'menemukannya' dari sebuah yayasan penyalur asisten rumah tangga. Bude Karsilah digaji Rp. 750.000. Angga yang terbilang kecil untuk seorang ibu yang harus membiayai anak-anaknya. Tapi ia pandai bernegosiasi, akhirnya gajinya naik jadi Rp. 800.000. Melihat kebaikan dan ketulusannya, saya berniat menambah uang sakunya dengan meminta tolong kepadanya untuk mencucikan baju-baju saya. Dia sangat senang. Dia juga sering berbagi makanan, bercerita, dan menganggap saya seperti saudaranya sendiri.

Lambat laun majikannya tahu bahwa ia mencucikan baju-baju saya. Dengan bahasa kiasan berbumbu manis, majikan tersebut mengatakan kepada saya agar tidak mempekerjakan Bude Karsilah. Saya menurut. Tapi Bude Karsilah tidak. Ia meminta kenaikan gaji setelah bulan ketiga ia bekerja. Manjikannya menolak. Bude Karsilah pun akhirnya mundur.

Sang Majikan kelimpungan mencari pengganti. Ia tidak pandai memasak. Pun tubuhnya sudah terlalu tua untuk sekedar membersihkan got di rumahnya. Ia juga tak punya waktu menyapu halaman karena harus pergi arisan, senam, dan pengajian.

Beberapa bulan kemudian, datanglah seorang perempuan. Tubuhnya jauh lebih tua dari usianya. Pekerjaannya sebelumnya adalah pencari kayu bakar di kebun tetangga. Suaminya enggan bekerja. Ia sudah terbiasa bekerja keras di kebun, demi dia, suami, dan orangtuanya. Saya bahkan belum tahu siapa namanya. Ia nampak seperti ada keterbelakangan mental dan susah berkomunikasi, khususnya dalam bahasa Indonesia. Aku sering memergokinya melamun jika sudah lewat jam sembilan malam. Ia rindu keluarganya. Ia sering tidak dapat tidur, dan menyendiri melihat langit malam di bawah tiang jemuran.

Sang majikan sering kesal dengan asistennya itu. Selain tidak bisa mengangkat telepon, ia juga tak terlalu pandai memasak. Ia juga tidak betah dan sering menangis. Tidak sampai dua bulan, asisten yang digaji Rp. 500.000 itu akhirnya pulang.

Majikan yang amat mengagungkan kehormatan itu lagi-lagi kelimpungan hingga Mbak Poniyem datang. Perempuan asli Wonosari bertubuh subur itu bisa dibilang asisten paling tahan banting. Jika dirasa badannya sudah lelah, ia akan berhenti mencuci atau menyetrika. Jika rindu dengan anak bungsunya, ia akan pulang untuk sekitar tiga hari. Ia juga sering jajan di luar sehingga kami bisa menitip makanan ketika enggan keluar rumah. Selera makanan majikannya terbilang payah, jadi jika ia bosan lebih baik ia pergi membeli makan di warung, atau masak agak banyak untuk dimakan bersamaku. Ia juga sangat pandai berkomunikasi dan berpikiran maju.

Sayangnya, karena masalah perselingkuhan suami dan masalah lain dalam keluarganya, ia harus pulang setelah kurang lebih setahun bekerja.

Tak lama kemudian, daanglah Mbok Jum, atau Mbak Marjum. Sebenarnya belum terlalu tua, katanya lahir tahun 1968. Tapi gurat-gurat kesusahan di tubuhnya membuat usianya tampak jauh lebih tua. Janda yang ditinggal kawin lagi oleh suaminya itu berasal dari Magelang. Agak sulit berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia, tapi masih bisa ditoleransi. Sang majikan mendapatkannya dari sebuah yayasan dengan membayar Rp. 600.000.

Yayasan itu bukanlah tempat pendidikan para calon asisten, melainkan hanya penyalur saja. Saya lebih melihat fenomena ini seperti 'menjual' orang yang ingin bekerja kepada majikan yang butuh asisten. Tanpa dididik, asisten ini lantas disalurkan kepada majikannya. Mereka tidak bertanggungjawab terhadap apa-apa yang terjadi di kemudian hari. 

Mbak Marjum, sepertihalnya Mbak Susi dan yang lainnya harus tidur di kamar di samping toilet. Tanpa dipan, hanya kasur tipis yang keras saya memisahkannya dari dinginnya lantai. Naik-turun tangga yang curam harus dia lakoni setiap hari. Tidak jarang dia mengeluh asam uratnya kambuh dan sulit berjalan.

Mencium gelagat ketidakbetahan asistennya, sang majikanpun memberikan ancaman. Jika Mbak Marjum hanya betah tinggal dengannya selama satu bulan, maka dia tidak akan digaji. Hal itu dikarenakan ia sudah membayar 'mahal' kepada yayasan untuk bisa membawanya pulang. 

Hati Mbak Marjum sangat sedih. Ia merasa lebih nyaman pergi ke sawah dan tinggal di rumah geribig yang di kontraknya di desa. Ia kadang kelelahan dan kesakitan. Belum lagi ia selesai makan makanan yang disisihkan majikannya di sebuah mangkok kecil, ia sudah disuruh menyikat lantai kamar mandi. Belum lagi selesai ia mencuci baju dengan tangan di lantai atas, sudah di suruh turun dan menyiapkan air panas untuk mandi majikannya. 
Ia tidak seperti Mbak Poniyem yang berani menolak jika tubuhnya sudah kuwalahan. Mbak Marjum jarang sekali berada di kamarnya. Kadang saya melihatnya terkantuk-kantuk duduk di lantai dapur menunggui majikannya yang sudah tertidur sejak maghrib untuk makan malam. Ia tidak akan naik ke kamarnya jika Sang majikan belum memberi isyarat pekerjaannya telah selesai. 

Di tempat sebelumnya, Ia digaji Rp. 900.000 untuk tanggungjawab membersihkan rumah. Teman kerjanya ada tiga orang. Mereka diberi tanggungjawab berbeda-beda. Ada yang khusus memasak, membersihkan kebun, dan mencuci. Sementara di tempat majikannya yang baru ia ditugasi mencuci baju sampai memotong rumput dari sebelum subuh hingga pukul sepuluh malam dengan gaji Rp. 850.000. Ia enggan pulang, karena itu artinya ia tak mendapat sepeserpun uang.



6 comments:

  1. Betul banget. kasian mereka, gaji kecil, kerjaan banyak :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeayyy... betul. Penyiksaan bukan semata fisik dengan setrika, tapi juga mental.

      Delete
  2. Sebenarnya fenomena ART sungguh rumit. Penyiksaan terhadap ART memang sedang marak, tetapi tindak kriminal oleh ART juga tinggi. Hukum di Indonesia memang perlu banyak diperbaiki

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, betul. Terlebih kasus penganiayaan Balita oleh ART. Maka dari itu kita butuh hukum yang tegas mengatur semuanya.

      Delete
  3. Sebuah pemaparan cerdas ttg realitas asisten yg terkadang luput dr perhatian kita. Pdhl jujur roda rmh tgg kita sgt tergantung pd mereka. Slm knl mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, Mak. Salam kenal juga. Terimakasih atas kunjungannya, ya, Mak. Di sekitar saya banyak ART yang tertindas. Saya sendiri belum pernah menemui kasus ART jahat kecuali di media. Semoga segera ada tindakan tegas yang nyata mengadili semuanya.

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<