Friday, January 9, 2015

Be Yourself

Tulisan ini terinspirasi dari hasil ngepoin akun instagram @riaricis, adiknya Oki Setiana Dewi (OSD) yang fenomenal itu. Saya langsung jatuh cinta dengan gaya 'liar' gadis bernama Ria ini. Seperti namanya, nampaknya dia selalu ceria dan menebarkan kebahagiaan di sekelilingnya. Itu sih menurut pandangan saya yang awam, ya.

Ria, meski sudah menutup kepala dan mulai menjulurkannya sampai ke dada, tetap saja sering dibanding-bandingkan dengan kakaknya. OSD yang berpenampilan ayu, tampak lemah lembut, dan berpakaian sangat longgar jelas beda dengan adiknya yang tomboy, kocak, dan kadang-kadang masih pakai celana jins ketat. 


Kelakuan @riaricis
Dia sampai berkali-kali mengatakan bahwa dia nggak suka dibanding-bandingkan atau disamakan dengan siapapun. Ya, iyalah, siapa juga yang mau dibanding-bandinkan? Emang kita model cover buku tulis jaman dulu yang judulnya "carilah 5 perbedaan...!"???

"To be honest, I don't care, people judge and talk about this and that, regardless, I'm still going to be me. #beYOU #GreatThingsTakeTime." @riaricis

Saya sendiri juga pernah ngerasa kesel banget sampe pengen screaming di depan muka orang-orang yang selalu nyinyir macam itu. Dulu, waktu SMP saya punya sahabat. Sebenarnya sahabat dari kecil karena orang tua kami juga ditakdirkan bersahabat dan bekerja di tempat yang sama. Kami dibilang mirip. Entah bener atau enggak. Tapi dulu kami memang sama-sama berambut panjang. Mereka sering membicarakan kami. Udah sih gitu aja.

Sewaktu kuliah, saya dibanding-bandingkan dengan sepupu yang kebetulan kuliah di jurusan yang sama. Dia dua tingkat di atas saya. Otomatis, teman-temannya adalah senior yang 'bertugas membantai' angkatan saya. Sepupu saya itu kira-kira...yaa... 11:12 lah sama OSD. Lembut, keibuan, jilbabnya lebar dan sangat sabar juga pintar. Wah, istri-able banget, deh. Dia dapat anugerah dari teman-temannya dan mendapat panggilan "Mami". Sementara aku? Houbf... minimal banget :(

Aku kesel banget, sampe aku harus membuktikan bahwa aku berbeda. Minatku berbeda. Dan aku harus bikin sesuatu yang beda dan berbahaya. Aku jadi semakin membuat batasan antara aku dia. Aku membuktikan bahwa aku nggak kalah 'layak' darinya. Aku harus jadi sosok yang patut diperhitungkan. Duh... semoga dia nggak baca postingan ini, deh, ya... bisa besar kepala atau malah saya yang kena getahnya :(

"Muda, beda, dan berbahaya!"
 
Dia aktif di Lembaga Dakwah Sekolah. Bahkan menjadi 'petinggi' di sana. Sementara saya memilih mempersembahkan diri kepada Palang Merah Indonesia, Jurnalisme, dan LSM lingkungan. Cukup beda aliran, kan?! Bukan sekedar aktif, saya juga selalu berusaha 'tampil' dan membuktikan bahwa saya nggak kalah dari dia. Dan saya bangga menjadi diri saya sendiri dengan segala kemampuan dan prestasi yang saya miliki. Mungkin juga itu yang ada dipikiran Ria adiknya OSD karena mereka memang benar-benar berbeda. 

Terkadang kita juga tanpa sadar membanding-bandingkan orang lain. Saya pun demikian. Saya juga sering dibanding-bandingkan. Mungkin dalam benak saya, hal semacam itu menjadi lumrah. Saya pikir ini ada hubungannya dengan 'tekanan psikologis' 'korban' perbandingan. Ada kemungkinan gitu nggak sih?

Saya sering membandingkan adik saya yang rajin bantu-bantu ibu dengan yang malas. Ibu juga sering membandingkan semangat belajar saya dengan adik bungsu yang bahkan sakit setiap pagi dan setiap sore dia bisa aktif main bola. Sehingga dia nggak pergi ke sekolah. Saya juga sering membandingkan kasih sayang bude-bude saya terhadap saya. See, saya memang membandingkan, tapi saya jarang sekali nyinyir. Ah, pembelaan.

Jadi perbandingan yang meng-geuleuh-kan ini memang sudah lumrah terjadi di antara kita. Bahkan pada diri kita sendiri. Seandainya masing-masing diri instrospeksi dulu sebelum mengeluarkan statement. 

Gimana yaa...perasaan gue kalo gue dibilang urakan, sementara kakak gue dipuji dn dielu-elukan? 

Gimana ya terbakarnya hati gue kalo orang-orang itu nyinyir dan ngebanding-bandingin gue di belakang?

Gimana, ya, kalo orang yang gue banding-bandingin itu sakit hati, terus dia sampe down dan malah nangis, stress, trus bunuh diri? 

Males banget dong gue kalo disama-samain sama dia. Dia kan jerawatan, kudisan, item, idup lagi!

Berdosakah gue?

Salahkah gue?!

Bercermin. Lagi-lagi kita emang harus masang cermin di berbagai sisi. Biar selalu sadar dan enggak seenaknya sendiri ngejeplak dan bikin orang sakit hati. Tulisan ini buat pengingat diri saya juga, sih. Diri saya yang jadi korban sekaligus pelaku yang membanding-bandingkan. Diri saya yang selalu bangga jadi diri saya sendiri dan lebih suka menempuh jalan indie dan anti-mainstream. Beda itu anugerah. Beda itu potensi untuk bisa dilirik 'pasar'. Jadi inget kuliah Marketing.

"Aku.... aku jauh dari kata sempurna. Aku blm bisa jadi orang yang benar-benar baik. Aku di kategorikan ke dalam perempuan yang jauh dari kata feminim. Sedikit bocoran tentangku sejak kecil dan dari dulu bahkan hingga saat ini, aku sangat tomboy (sebenarnya). Aku hobi bermain panas-panasan. tidak terlalu suka memakai rok, high heels dan barang2 perempuan pada umumnya. Dari sd kakak ku sudah mengajariku modeling, masuk smp, aku coba bergabung di tari tradisional dan belajar alat musik yang anggun juga mulai 'genit' belajar make up. Hingga duduk di bangku SMK sekitar kurang lbh 200 trophy di bidang kesenian sdh ku dapati. Aku rasa cukup. Namun seiring berjalannya waktu, lambat laun semua berproses menjadi jauh lebih baik. Aku sudah mulai terbiasa memakai rok, dan hijab. Ya. Termasuk perkara tdk mudah utk memutuskan berhijab. Satu yang sulit aku capai hingga saat ini : menjadi perempuan feminim dan kalem. Aargghhh tapi menurutku cukup membuat orang sekitar tertawa, itu sdh lbh dr cukup dan berusaha tdk terlihat 'rapuh' di depan mereka. keep calm, hidup ini di penuhi dgn belajar. Kita bisa bljr dr bola bekel yang ketika di jatuhkan, akan bangkit lbh tinggi😊 Terus berusaha dan mencoba. Diam, dan buktikan. hal baru dan masalah baru akan selalu ada. HADAPI! Buka sayap mu! Lupakan yang lalu, kita sambut yang baru. Buka mata. Jangan takut, kita tdk pernah sendiri! Bismillah, Langkahkan kaki! Gapai mimpi mu! Ingat, great things take time, sabar. Allah is always with us. Terus berusaha, semangat dan JANGAN PERNAH MENYERAH! #beyou" @riaricis

8 comments:

  1. Saya juga nggak suka dibanding-bandingkan. Menurut saya seseorang itu punya ciri khas tersendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yesss,,, dan orang-orang bisanya cuma ngasih nilai meski mereka nggak punya kewajiban nulis raport di akhir semester, ya ;)

      Delete
  2. kayaknya cuma proses deh mak, seluruh wanita akan menjadi terlihat keibuan pada waktunya... walaupun sebelumnya tomboy, pecicilan, centil, atau bahkan berisik. hehehe....

    @riaricis kan lebih muda dari OSD, jadi wajar sih kalau jiwanya masih merasa bebas, ingin banyak tahu, ceria, lebih berani. Saya juga dulu pecicilan, sampai tiba akhirnya ketemu cowok yang bikin bertekuk lutut, ajakin hubungan serius, pecicilannya jadi berkurang deh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cieee... jadi penasaran sama sosok yang bikin Mak Widy berteekuk lutut #gagalfokus

      Delete
  3. sebetulnya memang ngga perlu membandingkan seseorang dg orang yg lain sih.. karena emang sudah dasarnya berbeda. :) ngga usah dengerin kata orang yg penting dengerin kata Tuhan & ortu (juga kata suami, kalo sudah menikah) :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaainiii... dengerin kata hati sendiri juga paling penting tuh, Mak! Jangan sampe malah kehilangan jati diri :)

      Delete
  4. Baru tau adiknya Oki. Mirip banget sama Oki ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoi, Maakkk... Nda juga g sengaja buka2 explore di instagram, trus nemuin dia, deh. Lucu banget ternyata anaknya :D

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<