Tuesday, January 6, 2015

Rinduku padamu, Malaikat Berambut Perak



:Dear Mbah Putri
Ini adalah malam ke-dua ratus dua puluh satu  tanpamu lagi. Harusnya aku sudah bisa move on dan hanya mendoakanmu di sana bahagia bersama Mbah Kakung, Nenek, Mbah Bandar, dan yang lainnya. Aku justru semakin kehilangan dan sangat butuh kehadiran Mbah Putri dalam keseharianku. Terlebih karena berbagai urusan yang membuatku lelah fisik dan pikiran.

Ingatkah dulu, Mbah Putri akan dengan senang hati mendengarkan curhatku, meski mungkin Mbah Putri tidak paham dengan duniaku dan apa-apa yang kuceritakan. Tapi menatapku serius mendengarkan kisahku dengan sesekali meluncurkan nasehat maut andalan sudah cukup melegakanku. Apalagi jika ditambah pijatan lembut di kakiku. Ah, aku rindu sambutan hangat dibalik pintu menjelang dini hari. Sambil terkantuk-kantuk, Mbah Putri masih sempat menawariku makan. Padahal Mbah Putri tahu, yang kuinginkan hanya bantal dan selimut tebal.


Memang dulu aku sering sebal karena Mbah selalu mengomentari seabreg aktivitasku, bajuku, kamar yang berantakan, makanan yang tidak habis, aku sebal dengan semua itu. Tapi bukan berarti aku tidak sayang. Kini aku merindukan semuanya, termasuk saat-saat aku kesal padamu. Maafkan aku, ya, Mbah. Maafkan cucumu yang cantik, manja, dan cerdas luar biasa ini.

Mbah, bagaimana rasanya menahan sakit yang tak berkesudahan selama berbulan-bulan? Bagaimana bisa Mbah sampai berucap, "Aku sebenarnya ya sudah ikhlas kalau mau 'diambil' sekarang, tapi kok Rinda lagi ujian di Jogja sana....”

Tahukah, Mbah, perasaanku tak menentu menerima semua kabar itu. Cepat-cepat aku menyusun rencana untuk melanjutkan penelitian di Lampung. Di sana aku bisa mengobati aneka macam sakit hati yang kupendam sendiri di perantauan. Pulang kampung adalah ide terbaik untuk memberikan jawaban kenapa berat badanku susut hingga sepuluh kilogram.

Seminggu lamanya aku tidur bersama Mbah Putri yang napasnya tersengal-sengal. Badanmu tipis seperti menempel dengan kasur. Kulitmu keriput tanpa daging. Wajahmu kuyu meski selalu berusaha tersenyum, tapi Mbah masih mampu berjalan kala itu. Ke kamar mandi sendirian kemudian beristirahat sejenak dan duduk di kursi mengatur napas. Sesekali memperhatikan dan mengomentari aku yang sedang mencuci baju. Atau mengomentariku yang berangkat ke laboratorium pukul setengah tujuh pagi dan kembali pukul setengah tujuh malam. Masih seperti dulu, hanya bedanya aku  tidak lagi pulang pukul sembilan malam, bahkan pukul dua pagi karena turun lapang. 

Mbah Putri tidak mampu lagi membuatkanku segelas susu dan sarapan. Juga menyiapkan air hangat untuk mandi ketika aku pulang larut. Ada Bude yang menggantikan. Mbah Putri juga tidak lagi menungguku pulang, matamu terpejam kapanpun kau mau. Meski ragamu tidak sepenuhnya tidur, matamu sering kupergoki tengah terpejam.

Menjelang dini hari waktu itu, tepat seminggu setelah kepulanganku dari Jogja,  Mbah putri benar-benar menungguku, ya, ternyata. Aku capek, Mbah, malam itu. Seperti dulu waktu aku masih kuliah S1 hingga aku bekerja, semuanya diladeni olehmu. Kala itu aku selesai berkencan dengan laptop nyaris jam sepuluh malam. Kupikir Mbah Putri sudah tidur. Tapi ketika aku berbaring di sampingmu, memunggungimu dan lebih memilih memeluk gulingku, Mbah malah masih sempat menyelimutiku.

Perlahan aku pun terlelap diiringi suara napasmu yang tersengal-sengal. Terdengar menyakitkan, hingga aku berusaha untuk tak mendengarnya karena toh aku tak mampu melakukan apapun untuk membantumu melegakan napas. Tidak lama kemudian, tangan ringkihmu menarik tanganku  kuat-kuat. Napasmu memburu hingga dadamu bergerak tak beraturan. Tangan dan kaki kirimu bergeming sementara kaki kanan terus menghentak. Apalagi yang kubisa selain menangis dan berteriak? Aku tidak ingin Mbah Putri pergi sebelum menyaksikanku belajar memasak di keesokan paginya.

Pagi hari semua anak, menantu, dan cucumu berkumpul, mendoakan, menangis. Sementara organ badan sebelah kirimu lunglai seperti tak bertulang dan tak mampu digerakkan. Mulutmu juga tak bisa lagi berucap. Wajahmu pucat pasi. Ketika itulah tangisku pecah lagi. Bukan karena aku sadar hidupmu takkan lama lagi. Tapi aku tidak ingin Mbah Putri mengalami penderitaan. Hidup sehat lagi seperti tak mungkin, meninggal pun tidak. Bukankah masa lalu Mbah Putri telah sarat dengan derita meski tanpa mengeluh kepada kami? Aku tidak rela jika menjelang ajal, Mbah masih harus berjuang sekeras itu. Aku merasakan sakitmu hingga kini, Mbah. 

Masih lekat dalam benakku, dua hari berikutnya, Mbah Putri divonis koma. Sehari kemudian selang oksigen dicabut dari hidung karena sudah tidak dapat direspon lagi oleh tubuh rentamu. Selama itu pula aku tidak pergi ke laboratorium. Dan di hari berikutnya aku baru pergi karena mengkhawatirkan keadaan sampel penelitianku. Aku pun diizinkan pergi oleh Ibu yang selalu ada di sampingmu tanpa pernah berpaling. Ibu, bidadariku, juga satu-satunya putrimu mengajarkanku salah satu bentuk bakti kepada malaikatnya, kepada Mbah Putri yang teramat kami sayangi.

Aku sedang menangani delapan puluh satu sampel di atas meja, dan berita duka itu pun datang pada waktu yang tidak kuduga sebelumnya. Lagi-lagi aku marah kepada Mbah Putri, kenapa harus pergi ketika aku tidak berada di rumah? Kenapa pergi ketika sampelku menanti untuk dianalisis. Ketika Ibu dan Widi sudah tiga hari tidak pergi ke sekolah. Ketika Bapak sudah ada di sana sejak sehari yang lalu, tanpa Ratri yang sedang menghadapi ujian di sekolahnya. Tanpa Adi yang sedang mempersiapkan proposal untuk skripsi dan memperjuangkan kuliahnya meski nilainya sangat payah.

Aku berusaha meraba semua perih tapi aku tidak menangis. Aku juga tidak meraung. Aku dengan santai mengambil motor di parkiran dan menjemput Adi di kampusnya. Kami tidak menangis, tapi hati kami tersayat. Ketika itu aku berpikir aku tidak perlu lagi terburu-buru, karena Mbah Putri sudah pergi. Mbah tidak mau menunggu kami. Mbah Putri sudah tidak mungkin lagi mendengar keluhku. Aku juga tidak mampu mencegah malaikat maut yang merenggutmu dari kami. Kami hanya bisa berpasrah, berdoa, dan fokus pada lalu lintas jalan raya yang semakin semrawut.

Mbah Putri dulu sangat cerewet dengan gayaku mengendarai sepeda motor. Tidak bisa pelan dan tidak kenal rem, katamu. Tapi aku masih akrab dengan Tuhan, setidaknya Tuhan masih akan selalu melindungiku. Tak usah mencemaskanku lagi dari surga sana, ya, Mbah. Mbah Putri hanya perlu menghemat energi karena tak perlu lagi menguliahiku tentang aturan lalu lintas setiap pagi. Juga tak perlu lagi merapal doa hingga aku pulang meski sudah lewat jam sembilan malam. Jangan kuatir lagi soal itu.

Di sini, Mbah, di perantauan, setiap pagi aku merindukanmu memperhatikanku yang tergesa-gesa memburu waktu. Ketika aku bangun pagi dalam keadaan segar, aku merasa Mbah Putri memijit kakiku semalaman. Kemudian sembari menyiapkan sarapan, jutaan nasehat masuk ke dalam kuping kiri dan hanya dalam hitungan detik keluar lagi melalui kuping kananku. Kadang aku menghibur diri, berpura-pura Mbah Putri sedang pergi ke warung untuk membeli sayuran yang akan dimasak siang nanti.

Kemudian aku sadar bahwa aku harus pergi sendiri ke warung makan untuk membeli sarapan pagi. Tidak ada telur dadar ataupun segelas susu tersaji di mejaku. Tanpa sadar aku mulai tertegun di sudut kamar. Aku terkadang lupa atau berusaha menepis fakta bahwa sudah lama sekali Mbah Putri tak ada.  

Malaikat rentaku, bila orang mengartikan tangisan sebagai ekspresi rasa cinta, mereka tidaklah salah. Demikianlah adanya, meski juga tidak selamanya. Dalam pandanganku, terkadang sebaliknya, cinta tak harus menangis. Mbah Putri, Mbah Kakung, Nenek, Mbah Bandar, dan semuanya yang sudah damai di sisi Tuhan tidak membutuhkan tangisan kami, ratapan kami. Yang kalian harapkan adalah keikhlasan, keridhaan serta doa-doa dari kami. Tegurlah aku bila aku salah, Mbah. Cereweti aku seperti biasa, seperti dulu kala.

Ada banyak hal yang kupikir masih dapat kulakukan untuk menunjukkan rasa cinta kepadamu, kepada kalian yang telah pergi. Menerima takdir ini dengan penuh keikhlasan, keridhaan dan mendoakan kalian di setiap kesempatan. Menyelesaikan kewajiban serta menjaga dan menjalankan amanah yang kalian tinggalkan. Aku hanya tak rela jika ungkapan cinta, tangisan dan ratapan justru membebani langkah-langkah kalian menuju bahagia yang tak lagi fana.

Mbah Putri yang teramat kusayangi, kadang kata-kata lebih tajam daripada pedang. Menyakiti sampai ke relung hati paling dalam. Dan sulit sekali untuk disembuhkan. Entah Mbah Putri mendengarku atau tidak ketika dalam keadaan koma, hingga saat ini aku meminta maaf atas segala kebandelan dan kebebalan yang telah kulakukan.  Sadar atau tidak, aku pasti sering sekali melukaimu.

Maafkan aku yang sering kali kasar, tanpa pernah berpikir ulang kalau memberi komentar atas nasehatmu, atau ketika aku membuat Mbah Putri tidak nyaman. Maafkan aku yang arogan, yang menyebalkan, yang sering sekali dengan sengaja membuat Mbah Putri yang kesabarannya lapang melebihi sahara jadi kesal. Juga maafkan aku yang selama tinggal denganmu dan jauh dari Bapak Ibu memenuhi masa tuamu dengan kisah-kisah menyedihkan. Membuat Mbah Putri kebingungan sampai tak jarang hipertensimu kambuh. 

Mbah, dalam dekapan angin Bulan September, di sela-sela rima doa, aku rapalkan juga curhatan seperti dulu kala. Agar kelak kisah kita menjadi saksi betapa aku pernah menjadi cucu yang paling berbahagia di dunia.

Malam ini, dua ratus dua puluh satu hari kepergian Mbah Putri, ada rindu yang terselip, ada doa yang terus mengalir. Ketika seluruh keluarga telah berkumpul untuk berdoa bersama-sama di hari keempat puluh, aku malah tengah kisruh dalam pelatihan di sebuah hotel berbintang. Ketika mereka berdoa untukmu di hari keseratus, aku tengah berjuang untuk seminar tesisku di perantauan. Mbah, kelak aku segera pulang ke kampung halaman. Mengunjungi pusaramu tanpa tangis duka lara, karena aku yakin Mbah Putri tenang berada di istana yang telah kau cicil sejak di dunia. Bersanding dengan Mbah Kakung sambil bercerita tentang romantisme kalian di masa muda. Di sana, di sisi Tuhan yang begitu menyayangimu jua tempatku kelak berpulang. Pulang ke sisi Tuhan adalah pilihan terbaik, karena dunia hanyalah tempat untuk patah hati.

Mbahku yang berambut perak,  kalau kacau bahasaku menceritakan riak hatiku, aku harap Mbah Putri maklum. Hari ini aku sampai kembali kepada titik paling palung, ketika kesedihan senantiasa membelah diri tanpa henti. Aku tenggelam di dalam tangisku sendiri. Tunggu aku pulang, ya, Mbah. Sambut aku di depan pintu seperti dulu. Tunggu aku dengan beragam kisah petualanganku.

Love and hugs,
Cucumu yang cantik, manja, dan cerdas tiada tara.



Foto: nulisbuku.com

Diterbitkan oleh: Nulisbuku
dalam antologi Surat untuk Penghuni Surga Buku Satu

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<