Thursday, April 30, 2015

Andai Mereka Tak Perlu Lagi Menyerahkan Nyawa



Masih ingat kisah Tuti Tursilawati yang muncul pada 2011 lalu? Tuti adalah TKI yang menjadi pekerja rumah tangga asal Cikeusik, Sukahaji, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Berangkat ke Arab, pada 5 September 2009, bekerja di Kota Thaif, Provinsi Mekkah Barat. Tuti kerap mendapatkan pelecehan seksual oleh majikannya. Hingga dia harus bertanggungjawab atas meninggalnya majikan tersebut. Dia melarikan diri dan malah diperkosa oleh sembilan orang Arab. Malangnya, dia justru divonis bersalah oleh Pengadilan Arab Saudi dan di hukum Pancung. Selama persidangan, dia tidak mendapatkan pembelaan dari seorang pengacara pun. 

Nasib Tuti memang tak sebaik Darsem. TKI yang berhasil lolos dari kematian terencana karena pada akhirnya keluarga majikan mengampuninya. Ketika itu, dia harus membayar ‘uang darah’ yang akhirnya terkumpul atas solidaritas masyarakat Indonesia. 
Bandingkan dengan kisah Mary Jane yang hukuman matinya ditangguhkan di Indonesia. Meski belum sepenuhnya berarti bisa bebas, setidaknya ada upaya berbagai pihak untuk ‘memaafkan’ Mary Jane yang konon hanya dinilai sebagai korban. Saudara sebangsanya dulu, Sarah Balabagan yang menjadi TKW di Arab dan terbebas dari hukuman mati untuk mempertanggungjawabkan kematian majikan yang ingin memperkosanya. Pemerintah negaranya membela Sarah habis-habisan hingga pada akhirnya dia bisa kembali ke Filipina.


Kalau kita mau membuat kliping koran bertema Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mayatnya susah dipulangkan kepada keluarga, pasti mampu mengiris perasaan siapapun yang membacanya. Berapa banyak TKI  yang menunggu detik-detik kematiannya di negara orang? Adakah pemerintah kita memperjuangkan nasib mereka habis-habisan, setidaknya untuk keringan hukuman atau bahkan agar mereka mendapatkan kebebasan seperti Sarah? Atau sekedar beruntung seperti Darsem?

Saya Hidup di Kampung BMI

Tenaga kerja Indonesia, tenaga kerja wanita, buruh, pembantu rumah tangga atau siapapun yang saat ini masih mengharap gaji di luar negeri lebih akrab disapa sebagai Buruh Migrant Indonesia (BMI). Jumlahnya tak bisa sekedar dihitung dengan jari. BMI bukan sekedar sebutan bagi  asisten rumah tangga, mereka yang bekerja di industri juga disebut buruh. Mereka juga BMI. Meski berbagai masalah kemudian kebanyakan muncul di kalangan Asisten Rumah Tangga (ART) yang diperlakukan semena-mena. Saya pikir tidak ada gunanya berpanjang lebar tentang data karena semua sudah terpampang jelas di media. Semua tentang BMI telah jelas dipaparkan di buruhMigrant.or.id. Tentang penderitaan, prestasi, dan all about BMI semuanya ada di sana. Tidak perlu saya berkoar-koar lagi di sini.
Saya dibesarkan di sebuah kampung bernama Bumi Restu. Letaknya di bagian selatan Provinsi Lampung. Sebuah kampung kecil dengan akses ke Ibu Kota Kabupaten yang harus melalui jalan rusak parah sepanjang 20 km. Kepada lahan pertanian padi dan jagunglah masyarakat kami menggantungkan kehidupan. Sayangnya, upah yang harus diterima para buruh tani tak sebanding dengan tuntutan biaya hidup mereka. Pemilik lahan pun tak bisa banyak berbuat. Mereka juga membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit untuk mendatangkan bibit, pupuk, hingga transportasi hasil panen yang dibeli tidak dengan fair trade
Para sponsor TKI menganggap ini sebagai peluang. Mereka pun memberikan janji-janji manis. Akibatnya, orang-orang yang bahkan tak cukup memakan bangku sekolahan merasa tergiur untuk bekerja sebagai buruh migrant. Negara sudah tidak lagi dianggap mampu memberikan jaminan kehidupan bagi warga kecil seperti mereka. Warga yang memberanikan diri menjadi BMI di kampung saya pun meningkat secara linier seiring berjalannya waktu. Kebanyakan dari mereka adalah kaum perempuan.

Perempuan dinilai lebih gampang mendapatkan pekerjaan. Cukup diberi tugas mengurus domestik rumah tangga saja mereka bisa. Tidak seperti laki-laki yang kebanyakan diperjakan sebagai buruh pabrik di luar negeri. Syaratnya pun mudah, tidak perlu mengeluarkan uang dengan nominal mencekik untuk mengurus proses ini-itu terkait pemberangkatan ke luar negeri. Mereka cukup dijanjikan: POTONG GAJI dan BUKAN POTONG LEHER. Mereka sudah bahagia sekali. Mereka bahkan tidak peduli apakah mereka dikirim secara resmi, dijual, atau bahkan diselundupkan. Yang mereka tahu adalah bayang-bayang masa depan yang lebih baik di kemudian hari. Nasib anak yang kelak bisa sekolah tinggi, utang orangtua kepada rentenir yang akan cepat terlunaskan, derajat hidup yang kelak bakal terangkat. Bayang-bayang kebahagiaan dan masa depan gemilang yang ada di kepala mereka. Para wanita perkasa itu pun tega meninggalkan anak yang masih bayi merah kepada orangtua. Meninggalkan suami yang kelak hanya tinggal memetik hasil keringat istrinya.

Dulu saya senang sekali mendapatkan titipan surat dari luar negeri. Sebelum maraknya pemakaian ponsel di kampung kami, surat memang menjadi penyambung lidah yang sangat berarti. Ya, para BMI itu kerap menitipkan surat untuk keluarganya melalui Bapak. Seorang guru yang dianggap sebagai orang penting dan sangat di hormati di kampung kami. Setiap Selasa saya bisa menerima setidaknya lima buah surat berperangko luar negeri. Setelah perangkonya saya copoti untuk dikoleksi, baru kemudian berkeliling bersama Bapak untuk mengantar surat-surat itu kepada keluarga yang terkadang tidak bisa baca-tulis. Ada haru ketika kami harus mengantarkan rindu dan mungkin kabar semu dari anggota keluarga mereka yang berada di negara yang letaknya entah di mana.

Tidak jarang, keluarga yang ditinggalkan bukannya merasa senang, justru seperti terabaikan. Padahal kiriman uang dari luar negeri kerap mereka terima dan terserah ingin digunakan untuk apa. Begitu juga para suami yang bertahun-tahun ditingalkan istrinya. Sebut saja Budi. Tetangga di samping rumah saya yang kepergok warga sedang berasyik-masyuk bersama wanita lainnya. Budi sudah dua tahun ditinggal istrinya ke Hongkong dan selalu menerima gaji hasil perasan keringat istrinya. Bukannya berterimakasih, dia justru menghinakan diri dengan berkhianat dari istri yang rela membanting tulang demi keluarganya. Tidak sedikit Budi-Budi yang lain yang saya tahu. Budi yang tidak seharusnya merana jika saja negaranya dianggap mampu menjamin hidup keluarga mereka.

Latar Pendidikan Para BMI

Orangtua saya adalah guru Sekolah Dasar. Selama tiga puluh tahun mereka telah mengabdikan diri di kampung kami. Mereka cukup paham dengan latar belakang dan jenjang pendidikan, hingga pola pikir warga di kampung. Mereka bukan tidak ingin mengenyam pendidikan tinggi. Mereka malah seperti tidak berhak bermimpi bersekolah tinggi-tinggi. Cukup lulus SD atau SMP dan naluri untuk memnuhi kebutuhan hidup sudah terpatri dalam diri mereka. Menjadi BMI memang bukan satu-satunya pilihan, tapi apalagi yang harus mereka lakukan jika sawah tak bisa diharapkan, dan Jakarta sudah penuh sesak dengan derita yang tak kalah seramnya.

Lantas mereka yakin dengan tekad mengabdikan diri sebagai BMI. Jangankan membaca peta buta, ada di benua negara yang ingin di tujunya saja mereka tidak tahu. Kebanyakan dari mereka pasrah. Mereka cukup yakin dengan yayasan yang mengurus pemberangkatan mereka ke luar negeri. Jangan heran jika keluarga yang ditinggalkan juga tidak mendapatkan informasi sejelas-jelasnya mengenai BMI itu. Sehingga tak ada yang mampu mereka perbuat bila hal buruk menimpa anggota keluarganya yang jadi tulang punggung dengan mengabdi di luar negeri.

Masih ingat Wati? BMI yang dijanjikan pekerjaan di Taiwan. BMI yang diberangkatkan setelah pihaknya membayar sebanyak 12 juta rupiah kepada sponsor sekaligus harus menanggung 9 bulan potongan gaji. Kasusnya mencuat pada pertengahan 2014 lalu karena Wati dipekerjakan tanpa pelatihan. Bahkan sekedar pelatihan Bahasa Taiwan pun tidak dia dapatkan. Memangnya di sana dia bisa pakai bahasa isyarat? Masih bagus majikannya tidak lantas menggilasnya dengan setrika panas. Atau menyiramnya dengan air mendidih. Dia ditipu hingga akhirnya bisa di pulangkan ke kampungnya di Indramayu.

Lalu bagaimana dengan pengetahuan para BMI dari kampung saya tentang negara tujuannya? Apa mereka pernah membaca peta seberapa jauh jarak antara Cina-Hongkong-Saudi Arabia? TIDAK. Para BMI sendiri bahkan tak jarang baru mendapat informasi (yang tidak lengkap) tentang tugas dan kewajiban, juga negara tujuannya ketika berada di penampungan. Saya sering mendengar cerita-cerita yang melejitkan tanya dalam benak saya. Sekalipun masih SD atau SMP, setidaknya saya sudah pandai membaca peta buta. Tapi sayangnya tidak dengan mereka, pengadu nasib di luar negeri sana.

Kenapa Harus Jadi BMI?

Memang tidak semua BMI bernasib buruk. Ada yang disayang oleh majikannya hingga sense of belonging antara majikan dan ART-nya tinggi. Misalnya peristiwa seorang ART menyelamatkan majikannya dari bahaya kebakaran di Hongkong. Tidak sedikit juga BMI yang pulang dengan membawa prestasi. Sebut saja Kak Anazkia yang kini saya ketahui sebagai aktivis humaniora. Ada juga Heni yang pulang dengan gelar sarjana. Ada lagi Siman dan Sutoyo yang sukses menjadi pengusaha. 

Tidak sedikit jasad tanpa nyawa yang bahkan tak punya hak pulang. Tidak sedikit juga yang merana di negera orang. Tidak sedikit yang terputus hubungannya dengan keluarga. Tidak sedikit pula yang menanggalkan kewajibannya sebagai orangtua, anak, dan suami-istri. Alangkah baiknya jika mereka bisa ‘mencari makan’ tanpa perlu pergi memasrahkan nasib di wilayah hukum orang.Terlebih sebagai budak yang tampak punya lebih banyak kewajiban dibandingkan hak.

Jika saja negara mampu menjamin kesejahteraan warganya, tak perlu ada jual-beli orang di Malaysia. Tidak perlu ada perempuan-perempuan yang menyerahkan nyawa sebagai budak di negara Arab dengan hukum yang membuat orang-orang kita terjebak. Tidak perlu ada perempuan-perempuan yang hidup di dunia hiburan Hongkong yang ditunggu kiriman uangnya tiap bulan. Tidak perlu ada BMI tanpa bekal pengetahuan yang matang tentang segala hukum dan informasi terkait negara tujuannya.

Nyatanya menjadi buruh di negeri sendiri pun tidak menjamin kehidupan yang lebih baik. Perdagangan manusia juga marak terjadi di dalam negeri. Asisten rumah tangga juga tidak sedikit yang menderita. Seperti yang saya kemukakan di artikel Demi Kemanusiaan, Maka Manusiakanlah Asistenmu dan Perempuan yang Bekerja di Rumah-rumah. Keprihatinan saya terhadap tenaga kerja, khususnya di bidang rumah tangga meningkat seiring peningkatan kasus yang menimpa ART yang kerap terjadi. Bahkan di depan mata saya sendiri. Saya punya mimpi untuk memberikan edukasi bagi orang-orang yang bersedia mendedikasikan dirinya sebagai ART. Setidaknya, saya ingin memberikan jaminan bahwa mereka bekerja sebagai asisten yang baik kepada majikan yang baik pula. Saya juga ingin berperan dalam menjamin dan memberikan bantuan hukum dan pendampingan bagi para ART. Sehingga tidak ada lagi ART yang nasibnya tertindas tanpa mampu berbuat apa-apa. Saya serius dengan misi ini.
 
ART yang harus dikuatkan posisinya (Sumber: Merdeka.com)
Pendidikan memang menjadi fokus paling penting dalam memperbaiki nasib bangsa ini. setidaknya pengetahuan akan membuka cakrawala berpikir sehingga tidak terjebak dengan fokus hidup untuk rela-bekerja-apapun-demi-membayar-tagihan-hidup. Seolah-olah hidup hanya untuk membanting tulang demi membeli oksigen untuk bernapas. Seolah hidup hanya demi uang, bukan untuk menjalankan perintah Tuhan. Setidaknya dengan pengetahuan dan keterampilan, BMI dapat pergi dengan jaminan mampu menjaga dan membela diri tanpa perlu bertaruh nyawa.  

Saya memang belum menjadi siapa-siapa. Saya seorang anak yang mendambakan keluarga-keluarga berkumpul, bercengkrama, dan hidup wajar adanya. Tanpa perlu ada kasus ayah mengagahi putrinya lantaran ditinggal ibunya bertaruh nyawa di negeri orang. Tak perlu ada bayi kekurangan gizi yang dirawat oleh neneknya yang sepuh dan ditinggal orangtuanya menjadi BMI. Tidak perlu ada anak yang tak terpantau perkembangannya karena orangtua yang bercerai dengan dalih tak terpenuhinya hak suami-istri. Tanpa perlu ada cerita orangtua tidak pernah tahu anaknya melacurkan diri dengan dalih bekerja sebagai SPG. Tidak perlu ada 264 BMI yang menunggu malaikat penjemput nyawa yang sengaja diundang untuk menjemput mereka.

Saya mendambakan tak ada lagi orang-orang malang yang justru dianggap berjasa sebagai pahlawan devisa. Saya mendambakan desa-desa hijau dan subur dengan andil tangan-tangan para kaum muda yang kreatif. Tangan-tangan yang mampu memberdayakan kemurahan Tuhan berupa anugerah tak terkira bagi negeri ini. Sehingga mereka tak perlu lagi menyerahkan nyawa. Agar kita tak perlu lagi disebut bangsa yang manja. Bangsa yang terlena. 


Emancipate yourselves from mental slavery
None but ourselves can free our minds – Bob Marley



4 comments:

  1. tulisan yang bagus mbak. saya juga tinggal di kampung BMI. paling sedih kl ada yang pergi ke LN meninggalkan anak dan suami bertahun-tahun padahal di sini sudah ada sumber penghasilan.
    barangkali juga harus diubah cara pandang 'sukses'. selama ini sukses itu kalo punya rumah, punya tanah dsb. sedangkan anak terlantar suami terbengkalai belum jadi keprihatinan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. YAP! Benar kata Bob Marley, yang harus diubah mentalnya. Jangan lagi bermental budak. Terimakasih sudah mampir, maaf pisang gorengnya sudah habis :D

      Delete
  2. Dalemm. Sedih..di Ponorogo orang2 kaya di kampung rata2 karena jadi TKI, makanya byk yg keblinger kerja di luar. Tapi mereka memang ke luar negeri ada skill. Ga asal ke luar negeri tanpa pembekalan. Makanya bisa sukses.

    ReplyDelete
    Replies
    1. *kasih saputangan* Iya, Mbak. Kalo ada skill, kemampuan komunikasi oke, rasaingin-tahu-nya tinggi kemungkinan emang bisa 'jadi orang'. Tapi berapa banyak yang kayak gitu dari ribuan BMI?

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<