Friday, May 1, 2015

I Write My Life

Okay, karena saya enggak mahir menggambar, so saya nggak akan mungkin nekat ngambil tantangan I draw my life. Dan bagi siapapun yang baca ini HARUS menuliskan kisah hidup kalian sendiri. SEDETIL-DETILNYA!!! Yaaa... siapa tau aja kisah hidupmu menginspirasi orang lain daaaannn... jadi nambah fans, deh. Nggak sih, pastinya bisa saling kenal aja. Kalo saya mah apa atuh, hidup saya cenderung datar dan enggak berwarna. Tapi tak mengapa, yang penting berani nulis dan mengakuinya.

 Baca juga: Aku Istimewa.

Well, saya lahir pada 20 Agustus 1988 di sebuah rumah sakit pemerintah di Kota Bandar Lampung. Katanya nama ruangannya: angkasa. Tapi entah gimana ceritanya saya enggak dinamai Angkasa. Nama Rinda Gusvita yang terdengar modern (sediain ember) berarti pemberian Bapak saya. Kalo ada yang berbau Sanskerta, berarti pemberian Mbah Kakung. Hihi... kerinduan akan kehidupan baru di Bulan Agustus, begitu kira-kira yang ada di benaknya. Bapak saya, Petrus Suratno adalah seorang guru. Begitu juga Ibu saya yang hatinya seluas samudera, Ibu Sri Lestari. Kemudian saya dibesarkan di sebuah desa terpencil (duh malangnyaaaaa) yang sangat jauh dari aura kota. Desa Bumirestu, namanya. Saya dan keluarga lebih senang menghabiskan liburan di rumah Mbah Kakung yang suasananya lebih-kota.


Semasa TK yang saya tempuh hanya setahun karena bosan, saya sempat parno dengan laki-laki. Pasalnya saya pernah dikejar dan dicium oleh seorang teman. Setelah itu saya masuk SD dan diajar oleh Ibu saya sendiri. Saya merasa berkuasa dan bebas melakukan kejahilan apapun meski tetap berakhir di tiang hukuman. *devillaugh*

Sahabat saya sedari TK (eh sedari dalam kandungan) selalu bersama hingga sekarang kami sama-sama ada di Yogyakarta. Saya selalu ranking satu dan ketika itu nyaris ikut ujian kelulusan meski baru duduk di kelas lima. Tapi akhirnya saya menyerah pada mood karena merasa malas berpusing-ria dengan soal ujian. Saya masih senang menari dan pentas beberapa kali untuk modern dan traditional dance waktu itu.

Lalu saya masuk SMP Negeri 2 Palas. Saya naik sepeda ke sekolah sejauh kurang lebih 5 km dengan track aspal rusak dan jalan bebatuan naik-turun. Hingga kelas tiga saya terus berada di kelas unggulan dan bertahan di urutan tiga besar. Saya punya sahabat perempuan waktu itu. Kami selalu dibilang kembar dari segi penampilan, gaya rambut, hingga wajah kecuali saya yang lebih sering memakai rok (sangat) pendek ke sekolah. Di sanalah terungkap bahwa kami ternyata menyukai lelaki yang sama. Hahaaa... itulah masa muda. Hingga ada pacar teman saya yang justru melirik saya. Sementara saya sangat ngefans dengan kakak tingkat. Sempat bertemu dengan kakak tingkat itu dan bertanya-tanya, idih kok bisa sih dulu lo keliatan kece? Haha...belum pakai kacamata sih saya.
Tampak Depan Sekolah (Sumber: ikelas.com)

Prestasi semasa SMP adalah BOLOS EKSKUL PRAMUKA. Saking enggak punya hal yang bisa dibanggakan. Abisnya saya nggak suka Pramuka, eh malah diwajibkan. Jadi mending saya kabur aja dan tetep hadir pas ekskul pencak silat. Saya juga pernah mengikuti lomba joget dangdut dan lomba baca puisi. Cukup bisa dibilang prestasikah? Haha... Sumpe deh itu gokil dan saya masih nggak percaya I made it. Waktu itu saya goyang inul dan membaca Karawang Bekasi-nya Chairil Anwar. Prestasi yang bertolakbelakang. 

Saya pernah memenangi tantangan dari Kepala Sekolah. Errrr... jadi itu semacam taruhan dan saya bisa mendapatkan nilai ujian nasional Bahasa Inggris lebih dari angka 80. Hadiahnya cuma kamus kecil, tapi berkesan banget dan masih ada sampai sekarang. Saya membawakan tarian minang di acara perpisahan waktu itu. Tari payung yang gerakannya tentu saya sudah lupa, dong. *udah lupa, bangga lagi*

Kemudian saya galau ketika harus masuk SMA. Semua jauh lokasinya dari rumah. Hingga akhirnya Bapak mendaftarkan saya ke SMA N 1 Kalianda dan saya berhasil masuk kelas unggulan tanpa tes. Saya lupa tentang urutannya. Tapi masa paling galau emang masa putih-abu-abu, ya?! Saya ikut ekskul ini-itu tapi nggak ada yang serius. Hingga saya menambatkan hati pada Rohis dan PMR dengan fokus pada majalah dinding juga. Saya hanya menjabat sekretaris bidang di Rohis dan Wakil Ketua di PMR, hingga tahun berikutnya didaulat jadi ketua. Waktu itu saya sempat mengikuti Olimpiade Komputer, khususnya Pascal. Tapi sekarang malah gaptek -____- Saya beberapa kali ikut kompetisi Bahasa Inggris tapi lebih banyak menang (is semalam).
Dulu di belakang situ ada pohon beringin cinta (Sumber: @sman1kalianda)
Waktu itu saya (semacam) dicomblangin oleh seorang guru Bahasa Indonesia dengan teman sekelas saya. Tapi saya mengincar seorang kakak tingkat yang nampak begitu keren di mata saya. Apalagi kalauuu... ah, sudahlah. Hingga pada akhirnya hati ini luluh juga di tangan teman saya itu. Tapi ketika itu, saya adalah seorang cupid pemanah cinta yang andal. Sehingga saya tidak pernah memikirkan diri saya sendiri, tapi orang lain. Nyomblangin orang adalah prestasi saya waktu itu. Saya bisa diandalkan dalam hal ini.Ckckckck...

Kala itu, saya pergi ke sekolah bersama Suzuki Jet Colet kesayangan yang usianya hampir sama dengan saya. Asapnya mengepul hingga sering diteriaki KEBAKARAAAAAN!!! Tapi bukan saya jika krisis percaya diri. Bahkan saya berani pulang lomba pukul satu dini hari menempuh perjalanan 20 km dari sekolah ke rumah. Orangtua saya berpikir bahwa saya menginap di kota, karena memang rencananya demikian. Tapi bukan Rinda namanya kalau tidak membuat kejutan. Secuil kisah masa SMA ada di sini: PANTAD.
Saya yang mana, yaaaa... haha
Semasa SMA ini saya punya geng yang masih terkenal sampe ke generasi adek perempuan saya yang sekarang sekolah di sana juga. Namanya FISIST alias Five Sisters. Anggotanya ada Selina yang sekarang udah jadi bidan dan Ibu Rumah Tangga (IRT), Yuli yang udah punya anak dua, Suci yang jadi bidan dan IRT juga, saya sister keempatnya yang sekarang masih asyik jadi mahasiswa, dan yang bungsu Tiara yang kerja di Kementrian Keuangan dan udah punya anak satu. Kami merayakan aniversarry setiap 9 Agustus dan waktu itu terbentuk pada 2004. Kami punya perjanjian bahwa kami nggak boleh pacaran atau mau dapat hukuman. Hukumannya apa? ya nanti bisa dibicarakan bareng-bareng.

Tapi perjanjian itu musnah sudah ketika kami berpencar dan jarang ketemu lagi meski masih suka kontek-kontekan. Ah, masa SMA yang indah meski saya sempet berantem sama seorang sister. Gara-gara cowok. Haha... kompleksitas remaja banget sih yaaa... iya jadi cowok yang ditaksir sister saya itu deket banget sama saya sampe sekarang. Dia kakak tingkat yang udah kayak abang sendiri. Ada juga temennya yang udah kayak abang saya sendiri juga dan nggak berubah sampe sekarang. Senangnyaaaaa... hidup tanpa virus jengkol kala itu.

Bersama Kak Yuli, Kak Cici, dan Abang Igo di pernikahan Tiara-Adi
Masa kuliah diawali dengan kecelakaan memilih jurusan. Kegalauan apakah akan diteruskan atau tidak memaksa saya untuk lanjut karena bentuk syukur. Kala itu teman-teman tidak lulus SPMB 2006. Kecelakaan yang manis itu membuat saya bangkit dari IP 2,5 di semester pertama Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. 
Bersama kawan-kawan aikido dojo Perguruan Tinggi Teknokrat Lampung

Setelah dekat dengan seorang senior dan menyadari bahwa THP itu seru, IP saya melesat jauh melewati angka tiga pada tahun kedua. Kala itu saya sudah kenal organisasi dan mengutamakan organisasi daripada kuliah. Saya yang sangat Nihon Freak seperti menemukan jalannya ketika bertemu orang-orang sesama pecinta kebudayaan Jepang. Saya menonton festival hingga berlatih aikido di kampus lain.


Hingga suatu waktu hati saya (lagi-lagi) mentok kepada seorang kakak tingkat hingga bertahun lamanya. Errrr... tidak. Saya tidak pernah sampai pacaran. Saya cenderung nyaman pada kakak-adik-zone. Hahaaa... ya, dan ketika itu saya semakin menderita big brother complex karena saya anak sulung dari empat bersaudara dan sangat mendambakan kehadiran seorang kakak.  Dari dulu saya suka meleleh kalo ada cowok tinggi dan good-looking berdiri nyandar tembok dengan kaki sebelah diangkat, terus tangan dimasukin ke kantong. Jiaaahhh... comical banget. Duh, semoga HB nggak baca yang begini-begini. *blushing*

Kala itu saya mulai yakin pada passion di dunia jurnalistik. Saya pun mengikuti berbagai agenda jurnalisme di dalam dan luar kampus. Saya sangat bersemangat dan IP saya terus naik. Saya memenangi beberapa kali lomba menulis dan majalah dinding.

Pada 2009, saya ditawari untuk ikut pemilihan Mahasiswa Berprestasi. Tapi saya kalah dan dibuat tampak seperti pecundang. Saya berusaha tegar. Hingga masalah datang lagi ketika saya ditendang dari lokasi Praktek Umum di Nestle. Padahal saya sudah dealing judul dan sudah dapat jadwal dari perusahaan itu. Ternyata seorang kawan saya yang PU di sana. Beruntung saya mempunyai sahabat-sahabat yang baik hatinya. Akhirnya saya bisa PU si tahun itu bersama Ikke, Mukhani, Ana, Firman, dan Rindo di LIPI Subang. Di sanalah saya kemudian bertemu sahabat dari jurusan,sebelah, 3 muskeeters, Erwin, Bravo, dan Toni. Hingga kelak Erwin selalu menjadi salah satu sahabat terbaik hingga kini.

Ketika PU itulah saya berkesempatan mendapat undangan bertemu dengan indie band favorit saya. Mocca. Yaayyy... Saya diundang oleh Presiden Swinging Friend, Agung, dan menemui Mocca di Hotel Savoy Bandung. Pengalaman pertama mengembara dan mendapat julukan SF nekat.
Swinging Friends kolo semono (tertanda Agustus 2009)

Pulang dari PU, saya seperti terlahir sebagai Rinda yang baru. Yang penuh dengan semangat untuk melesat maju. Saya berkesempatan untuk menjadi perwakilan daerah sebagai relawan PMI untuk tanggap darurat pasca bencana gempa Sumatra Barat. Di sana saya banyak membantu di dapur, bermain bersama anak-anak, pergi ke Pantai Gondoriah, dan ke pasar setiap pagi mengendarai ambulance. Saya juga banyak berinteraksi dengan relawan luar negeri karena berlaku sebagai penerjemah. 

Meski bolos kuliah lebih dari sebulan, saya tetap bisa mengikuti UAS. Alhamdulillah, yah, nilai saya B semua sehingga dapat IP 3 :( nggak saya nggak sedih. Saya justru banyak bersyukur.
Bersama para relawan di posko Pariaman, Sumatera Barat

Pulang dari Sumbar, kehidupan saya terus berubah. Saya kembali mengikuti  pengajian yang lama saya tinggalkan. Saya diberi kesempatan mengikuti seleksi Mahasiswa Berprestasi lagi. Waktu itu saya diberi tenggat dua hari untuk menyusun makalah 30 halaman. Itulah satu-satunya pengalaman saya tidak tidur sama sekali karena waktu itu saya juga jadi panitia acara untuk seminar nasional. Alhamdulillah saya melenggang hingga seleksi tingkat nasional. Meski tidak membawa pulang gelar juara, tapi saya bahagia.Kala itu pertama kalinya saya naik pesawat sendirian dan tinggal di hotel mewah. Sahid Hotel Jakarta. Hohhoho... terserah kalo mau dibilang kampungan, deh.Pada tahun yang sama, sama bisa jalan-jalan ke Jawa Timur atas undangan sebagai peserta Sampoerna Best Student Visit (SBSV) 2010. Horeeeee...!!!
Mawapres and their Ancol holiday

Ketika makin asyik dengan dunia jurnalistik, saya ditawari untuk bantu-bantu sebagai staff Humas salah satu partai. Saya yang jiwa pembelajar dan penasarannya tinggi banget nggak pake mikir panjang lagi. Saya ambil kesempatan itu dan alhamdulillah banyak pelajaran dan pengalaman yang saya ambil. Terimakasih Umi Detti, dan empat sekawan yang sekarang bertaburan dimana-mana. Rindu Una yang belum lama lepas masa lajang, Ima Ummu Arkan, Bintun Ummu si kembar Azmi-Adli.

Karena skripsi dan saya memilih fokus untuk jadi relawan di Walhi Lampung, aktifitas di partai itu persis berhenti sama sekali. Hingga saya lulus pada Maret 2011 sebagai wisudawan terbaik 1 Fakultas dengan masa studi terlama (4 tahun 7 bulan) dan IPK terendah. Saya terus bertahan di Walhi dan menikmati aktivitas blusukan dan perjalanan-perjalanan yang membuka mata dan paradigma saya. Iya saya emang nggak suka ngelamar kerja. Mikirnya nanti takut bosan dengan aktivitas yang monoton. Tapi akhirnya saya melamar di PTPN 8 dan harus bolak-balik Bandung-Lampung dan sakitnya cuma sampai tahap tes kesehatan. Ketika itu mulai tau sama HB meski cuma sekilas-sekilas dan enggak berbekas. Hihi...

Desember 2011 saya melewati tahapan tes sebagai reporter di salah satu surat kabar. Penantian yang hampir setahun lamanya dan saya akhirnya menerima gaji pertama saya sebagai reporter dengan pekerjaan yang benar-benar repot muter-muter di awal 2012. Kala itu saya ditawari beasiswa oleh Pembimbing Skripsi tapi saya nggak lolos karena cuma diambil satu orang. Saya menangis di tengah hujan dari kampus sampai kantor Walhi. 

Perjuangan berikutnya ketika saya ditawari beasiswa Gifu University di Jepang dan mengharuskan saya mengurus segala keribetannya. Hingga akhirnya saya resign meski sangat berat  karena saya sangat bersemangat berprofesi sebagai reporter. Saya juga merasa nggak enak karena belum mencapai satu tahun berkarir di sana. Dan ternyata lagi-lagi saya gagal :(
Bergembira di peringatan Hari Bumi 2012

Saya akhirnya fokus pada aktivitas di Walhi sebagai staff. Saat itu saya diminta jadi penerjemah untuk seorang food technology expert dari Belanda. Mr. Rinus namanya. Kerjaan saya bolak-balik rumah nenek (saya tinggal di rumah nenek), ke pabrik keripik pisang, lalu menjemput Mr. Rinus, sampai malam hari mengantarkan Mr. Rinus kembali lagi ke hotel. Pak Andi dan keluarganya, pemilik pabrik keripik pisang itu sangat baik dan hubungan kami sudah seperti saudara hingga sekarang.
Kawan Backpacker Jogja
Saya lulus seleksi mahasiswa pascasarjana di UGM sekaligus lulus sebagai penerima beasiswa Unggulan dari Kementrian Pendidikan Tinggi. Pertengahan tahun 2012 saya resmi merantau ke Yogyakarta meski beberapa minggu sekali pulang ke Lampung atau ke Jakarta karena menyelesaikan penelitian dan penulisan buku bersama kawan-kawan penggiat lingkungan di sana. 
Bersama teman-teman kuliah

Ketika itulah saya mulai lebih kenal dengan HB setelah berbagai wajah hilir-mudik di hadapan saya. Hanya HB yang berani menambatkan jangkarnya pada akhir 2012. Ciyeeehhh... 

Sampai saat ini saya belum berhasil menyelesaikan kuliah saya. Orang-orang pikir saya terlalu sibuk pacaran. Orangtua saya pikir saya terlalu banyak kegiatan seperti yang sudah-sudah. Padahal pacaran paling sebulan sekali, pernah juga empat bulan baru ketemu. Haha... drama banget deh pokoknya. Yang jelas kesehatan saya terganggu karena mungkin pola makan yang berubah, pola hidup sehat yang semakin terabaikan, dan stress yang tak berkesudahan.

Pengobat stress saya terhadap tesis yang tak kunjung usai adalah lingkungan baru saya. Kawan-kawan Kumpulan Emak-emak Blogger dan Komunitas Blogger Jogja yang selalu memberikan aura positif dan semangat untuk maju.

Selain itu saya dan kawan-kawan juga merintis sebuah tour organizer yang kami beri nama Joglo Picnique.

Harapannya, pertengahan tahun ini saya bisa menyelesaikan kuliah saya yang sudah masuk semester keenam. Dengan begitu saya baru terbebas untuk memulai hidup saya yang baru dan bertanggungjawab pada hidup saya sendiri. Saya juga ingin memberikan peran bagi kemajuan taraf hidup masyarakat. Doakan, ya...!

2 comments:

  1. Detil banget mbak.... Eh, SMA Kalianda ya...kalo ga salah Kalianda tuh salah satu destinasi wisata Lampung yg terkenal sampe luar negeri itu kan.. (Oot lagi)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi ada ide untuk berkenal-kenalan, Mbak. Hihihi... iyaaaa... terkenal, yaahhh... pantainya kece-kece loh di sana :D Ayoooo... mampir!

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<