Sunday, April 19, 2015

Perempuan yang Berjuang di Rumah-rumah

Mbak Marjum namanya. Wanita yang berparas lebih tua dari usianya ini berasal dari desa kecil di Magelang sana. Lahir tahun 1967 dan ditinggalkan oleh suaminya yang tergoda oleh wanita lain saat anak keduanya masih balita. Dia terbiasa hidup sebagai Asisten Rumah Tangga (ART).

Perjumpaan pertama kami adalah sepulangnya saya dari Rumah Sakit beberapa bulan lalu. Dia yang membantu saya mengambilkan makanan dari kurir dan membawanya ke kamar saya. Menjadi teman curhat dan pelipur lara. Ibu kos mengambilnya dari sebuah yayasan. Bukan. Jangan bayangkan sebuah yayasan pendidik para calon ART. Menurut saya, itu adalah semacam yayasan yang menjual ART. 


Dengan upah Rp. 600.000, yayasan mengirimkan Mbak Marjum dan membiarkan Ibunya tinggal sendirian di rumah kontrakan di kampungnya. Perjanjiannya, dia akan digaji Rp. 900.000 per bulannya. Gaji yang terlalu kecil untuk gunungan tugas rumah tangga yang tak pernah ada habisnya.

Pagi hari dia harus menyapu halaman, mengepel lantai, menyiapkan sarapan, air panas untuk mandi cucu majikannya, lelu mencuci pakian, menyetrika, dan berberes yang tak pernah usai. Suatu ketika dia menangis dan datang kepada saya. Majikannya meyuruhnya menyikat lantai kamar mandi sementara dia baru saja selesai makan. Tak pelak semua yang dia telan tumpah seketika.

Dalam kesempatan lain, majikannya menyuruh dia menyikat pagar depan rumah. Jangan sampai ada debu, pesannya. Bahkan debu pun tak boleh hinggap di pagar pinggir jalan. Tugas yang berat untuk seorang Marjum yang ringkih.

Namun dia begitu sayang dengan saya. Dia merasa kasihan jika dia pulang dan tak ada seorang pun yang mengurusi saya. Maka dia selalu mengurungkan niatnya untuk mundur dari pekerjaanyang memerasnya. 

Hingga sebulan lalu dia benar-benar harus pulang. Ibunya yang sudah renta lebih membutuhkan bantuannya daripada saya dan majikannya yang luar biasa tega di sini. Saya mengizinkannya dengan janji bahwa saya akan sering menghubunginya. Lalu dia tampak berbinar bahagia. Dia meminta saya untuk menemaninya membeli pakaian untuk cucu semata wayangnya. Ya, dia buta aksara. Bahkan dia tidak tahu bahwa tiga puluh tujuh ribu rupiah dan tujuh puluh ribu rupiah itu lebih mahal yang mana. Bahkan dia sering meminta saya untuk menerjemahkan harga ke dalam Bahasa Jawa. Ya, dia terlalu polos untuk bekerja dengan majikan yang super tega.
Mbak Marjum dan Menantu Kesayangannya
 Pengganti Mbak Marjum tidak lebih baik nasibnya. Namanya Marini, tapi lebih akrab disapa Mbak Rini. Lahir pada tahun 1984. Seharusnya masih muda. Tapi parasnya sudah seperti wanita berusia kepala empat. Tubuhnya gempal dan mungkin karena itu pula suaminya mengkhianatinya. Suami yang dinikahinya sejak usia 13 tahun itu lebih memilih seorang wanita kaya raya. Tinggalah Mbak Rini bersama putri semata wayangnya bersama orang tua di Wonosari, Gunung Kidul.

Semula dia bekerja dengan seorang majikan yang baik hati dengan gaji Rp. 1.100.000. Tugasnya pun tak banyak, menurutnya. Dia masih bisa menghandle pekerjaannya dan mengatur waktu untuk berkencan dengan pacarnya. Ya, dia telah dipinang oleh Mas Agus. Seorang pedagang bakmi yang melapak di seputaran UGM.  Tapi suatu ketika anak majikannya berotak mesum dan mendatanginya yang sedang sholat maghrib di dalam kamar. Tanpa menunggu lama, dia segera pergi dari rumah itu dan enggan kembali lagi.

Di rumah ini, Mbak Rini digaji Rp. 800.000. Jauh lebih sedikit daripada gaji sebelumnya dengan beban kerja yang jauh lebih berat. Tapi dia ikhlas. Demi anaknya, katanya.

Maka dia pun bertahan ketika dia belum makan seharian karena sudah empat hari sang majikan tidakmemerintahkan untuk memasak nasi. Ketika nasi itu telah basi, disuguhkanlah kepada Mbak Rini. Keesokan harinya lagi-lagi dia harus makan dengan nasi dan sambal kecap. Dia memang memasak untuk majikannya. Tapi semuanya serba tanpa garam, gula, dan hanya sedikit cabai. Suatu ketika dia amat senang saya ajak membeli mi ayam. Dia bercerita kalau dia diberi kepala ikan gurame lengkap dengan tulangnya. Dia hanya berkata lirih, "saya bukan kucing, Mbak."

Seminggu setelah dia bekerja di sini, dia sakit. Tubuhnya kejang. Sesekali dia menggigil. Sesekali dia kepanasan. Dia juga pingsan dan muntah berkali-kali. Dia tidak mau kami bawa ke rumah sakit. Sore itu, hanya ada saya dan cucu majikannya yang ada di rumah. Kami kebingungan menggotong tubuh besarnya. Akhirnya dia pulang keesokan paginya. Majikannya menyuruhnya pulang.

Tak berbeda nasib mereka dengan Mbak Poniyem. ART sebelum Mbak Marjum datang. Dia pulang karena memilih untuk mengurusi anak bungsunya yang sakit-sakitan. Meski masih mempunyai suami, Mbak Poniyem harus berjuang sendiri. Bahkan untuk menghidupi keluarga mertuanya. Sementara suaminya malah lebih suka main gila dengan beberapa wanita.

Mereka perempuan-perempuan yang tak sempat mengenyam pendidikan seperti seharusnya. Tapi kewajiban membuat mereka harus terus berjuang. Bahkan ketika tak ada lagi kepala keluarga yang bisa diharapkan. Ketika rumah tangga benar-benar tak mampu lagi dipertahankan. 

2 comments:

  1. mereka pejuang rumah tangga ya... meskipun saya sampai hari ini masih kekeuh tanpa ART *_* semogaa BISA!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya pekerjaan ART bisa tergantikan oleh teknologi dan pembagian tugas di rumah, kan, ya, Mbak :)

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<