Monday, May 11, 2015

Hidup Sehat ala Anak Kos

Kehidupan di perantauan sangat jauh berbeda dengan kondisi di rumah yang serba ada dan mudah. Saya tinggal di sebuah kamar dengan balkon kecil yang  saya manfaatkan untuk bertanam sayuran dan bunga. Sirkulasi udara yang baik adalah syarat utama meski tanpa dapur dan kamar mandi pribadi. Hingga saya sampai pada fase sadar bahwa saya mendambakan kehidupan yang seimbang dan bisa jadi #HealthAgent.

Selektif Memilih Warung Makan

Salah satu warung makan di seputaran kampus
Di seputaran tempat tinggal saya, bertebaran warung-warung makan yang memang murah. Mereka tidak mencuci bersih sayurannya, menggunakan minyak berulang-ulang, dan sendok-sendok yang menghitam di lekukan-lekukannya. Mereka terkesan memaksakan diri karena adanya permintaan. Mayoritas pelanggan dari kalangan mahasiswa butuh makanan yang mudah dan murah, tidak bicara kualitas. Dalam hal rasa, beberapa warung bahkan tidak bisa diandalkan. Jika saja konsumen berpikir untuk lebih aware dengan kualitas, tentu produsen juga tertantang melakukan perbaikan.


Konsumsi Buah dan Sayur

Saya sarapan buah bersama madu dan perasan jeruk nipis dalam segelas air hangat. Saya belum sampai pada fase food combining, tapi saya sadar bahwa saya harus mengombinasikan apa-apa yang masuk ke dalam tubuh sesuai kebutuhan. Buah memang mahal, maka saya makan pisang, pepaya, atau jambu biji. Sesekali saya makan anggur, apel, dan buah bit untuk meningkatkan kadar hemoglobin saya yang memang kurang.

Saya bergantung pada sayur bayam yang disediakan oleh dua warung di sekitar saya. Ada juga yang menyediakan cah brokoli dan kangkung dalam sajian yang lumayan berkualitas tapi harganya agak mahal. Pintar-pintar saya saja dalam hal merotasi jadwal kunjungan ke warung-warung tersebut. Walau belum bisa sepenuhnya lepas dari bahan tambahan makanan berbahaya, setidaknya mengurangi. Melakukan puasa sunah juga sangat baik bagi tubuh.

Olah Raga dan Rasa

Saya senang menari, menari menghadirkan keseimbangan dalam tubuh saya. Meski saya malas tidak punya waktu untuk jogging, saya menari. Ada perpaduan olah raga dan rasa dalam tubuh saya ketika menari. Dengan biaya yang jauh lebih murah daripada yoga, saya mendapatkan manfaat yang juga tak terkira.
Selaras alam, jogging dan menghirup udara segar di Candi Plaosan

Selain itu saya bersepeda untuk pergi ke kampus dan sekitarnya. Saya bisa bersepeda menuju lokasi yang agak jauh, misalnya Malioboro. Di sini juga ada event Jogja Last Friday Ride (JLFR) yang bisa dimanfaatkan setiap jumat malam di akhir bulan untuk bersepeda dan saling sapa dengan sesama pesepeda. Berolahraga sekaligus bersilaturahmi yang menghadirkan keceriaan penghilang stress.

Diet Kantong Plastik

Semua tahu bahwa kita darurat sampah. Saya juga tidak ingin senyawa dalam plastik masuk ke makanan saya. Saya juga tidak ingin mengotori bumi yang renta.

Anak Kos (tidak) Identik dengan Instan

Saya dulu mengonsumsi segala sesuatu yang serba instan. Tapi saya tidak fanatik dengan mi instan. Tidak seharusnya tubuh saya dicekoki terlalu banyak bahan-bahan tambahan. Saya mencoba mengurangi asupan gluten bagi tubuh saya. Pengen coba mi instan sehat dari Nutrifood juga yang katanya sehat. Usus sudah terlalu lelah bekerja dan untuk kebaikan saya sendiri saya harus mampu mengatur apa yang harus dan tidak saya lakukan. 
Health Enough?!

Hidup sehat bukan sekedar ‘gaya’, tapi sudah menjadi kewajiban manusia sebagai makhluk Tuhan dengan penciptaan paling sempurna. Segala sistem yang ada dalam tubuh manusia sudah diprogram sedemikian rupa agar memberikan kemudahan dalam merawatnya. You are what you do, you are what you eat!


Tulisan ini diikutsertakan dalam #HealthAgent "Sharing Inspiration" Blog Contest Nutrifood


16 comments:

  1. jaman saya jadi anak kos dulu, hidup yg penting bisa survive. belum berpikir mana sehat mana engga

    baru sekarang2 ini mulai peduli betapa penting hidup sehat :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu dulu, Mas. Berabad-abad lalu kan pastinya? Sekarang mah musti banyak mikir, Mas. Nuwun :D

      Delete
  2. dulu ada panduan hidup sehat yang sederhana, Hidup Sehat a la Hembing. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apa itu kakak? Btw, saya mau follow blognya tapi kok nggak nemu pintunya, ya? Apa saya yang dudul karena kurang makan brokoli?

      Delete
  3. hebat nih mba anak kos tapi bisa manfaatkan sekitar untuk bertanam sayuran dan bunga :)
    patut dicontoh nih

    ReplyDelete
  4. Dulu zaman masih ngekost, saya sukanya makan nasi bungkus demi ngirit beli minum hehehe Kalo dipikir makan dikaki lima banyak yang ngga higienis, kayak gambar diatas baskom air untuk cuci piring yang dipake berulang-ualang :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya suka nggak jadi beli kalo lupa bawa misting, kadang juga langsung makan di tempat. Biar irit karena nggak nyuci piring hahaha...

      Delete
  5. Aq cm pernah ngekos 2x.zaman PKL di surabaya dan zaman jd pengantin baru di jakarta. Kesimpulanku, setengah mati nyari warung yang lidahku cocok-_-.kalo di surabaya sih masih mending, byk pilihan enak dan terjangkau. Nah di jakarta, alamak, yg rasany enak dan bersih jelas hargany 2xlipat. Trs cari kontrakan deh yg ada dapurnya..biar bs masak sendiri:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, sayang banget tempat Rinda gda dapur. Soalnya kalo yg ada dapur kebanyakan kayak asrama gitu. Rame banget. Ih, males banget dah ngekos tempat kayak gitu. Di Rinda kamar yang dikontrakin cuma 4, Mbak :D

      Delete
  6. Foto air cucian nya sereeeem....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha... itu masih 'rajin', Mak! Ada yang lebih serem lagiiiiii hihiihi

      Delete
  7. anak kost emang harus sehat :))
    anak kost bukan melulu tentang mie instant.
    tapi, jarang sih keliatan anak kost yang hobi olahraga... selektif milih warung makan juga jarang. asalkan harga makanan di warungnya murah, ya hantam aja..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Percaya atau nggak, ada teman kons saya yg mau beli makan ke depan gang sekitar 300m dari rumah aja rela ngeluarin motor daripada jalan. saya juga jd (sok) hidup sehat gara2 pernah tumbang :v

      Delete
  8. Kayak kata Jev, selektif sih milih warung makan, tapi milih yg murah. xD tapi mau bagaimana pun juga, kesehatan itu memang perlu banget diutamain. kalo udah sakit di kosan, beh, susah. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo saya emang selektif, karena nggak suka makanan jogja yg kebanyakan citarasanya manis dg aroma khas.

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<