Sunday, June 14, 2015

Mi Tropicana Slim, ‘Cause Being Healthy and Fit Isn’t A Trend


Siapa sih sebenernya yang layak dikambing-hitamkan kalo saya jadi seorang noodles freak saat ini? Bukan salah Ibu saya, soalnya beliau lebih sering ngasih sarapan telur ceplok instead of mi instan buat sarapan kalo kesiangan. Bukan juga salah nenek saya yang selalu mengenalkan slow traditional food meski saya doyan hang out yang pastinya juga sering nongkrong di warung junk food.
Piramida makanan (Sumber: www.stroke.ie)
 
Di rumah, saya jarang banget makan mi instan. Pertama karena emang Ibu nggak memasukkan mi instan dalam shopping list bulanan. Paling kalo lagi pengen aja beli di warung atau di minimarket. Kedua, saya udah terlahir dengan kepekaan lumayan tinggi untuk mengenali Bahan Tambahan Makanan (BTM) ‘asing’. Jadi ‘alarm’ di tubuh saya langsung respon kalo ada BTM berbahaya seperti vetsin, pewarna, pemanis buatan masuk ke tubuh saya. Ketiga, dunia industri pangan baik yang punya nama atau pun belum udah begitu berani ngeluarin produk berbahaya demi profit melimpah semata.


Belakangan muncul isu di media mainstream bahwa ada beberapa produk mi instan di negara tertentu yang mengandung logam berbahaya. Ada juga hoax yang bilang bahwa air rebusan mi yang warnanya kuning keruh itu karena adanya lapisan lilin. Nggak masuk akal sih menurut saya. Yakali mi instan disamain dengan buah impor yang perlu dikasih lilin! Masyarakat kita emang udah punya karakteristik baru, yaitu mudah mengambil kesimpulan dari berbagai hoax dan serta-merta menyebarkannya secara viral tanpa dipikir dan dikonfirmasi ulang.

Kondisi Kesehatan yang Beresiko

Kakaknya Ibu adalah penderita diabetes yang harus benar-benar menjaga pola makannya. Meski kondisinya semakin membaik, tetep aja beliau nggak bisa cheating karena bakal langsung turun kondisinya sekalipun cuma makan nasi putih. Beliau tetep harus makan umbi-umbian yang enggak jahat dan mengontrol semua asupan makanannya.

Sementara Ibu dan nenek adalah penderita hipertensi. Penyakit ini sebenernya udah akrab banget sejak masa kecil saya. Mereka harus selalu minum obat, nggak boleh makan daging, dan nggak boleh terlalu banyak garam. Duh, hidup tanpa gula kayaknya masih mending deh. Hidup tanpa garam tuh bakal hampa banget! Apalagi hidup tanpa kamu, dear!

Adiknya Bapak juga korban kejahatan penyakit yang harus memilah-milih asupan makannya, bahkan asupan udara yang beliau hirup. Pasalnya baru-baru ini beliau divonis menderita kanker nasofaring. Kanker dihidung yang bikin suka mimisan dan suara jadi nggak jelas. Sementara Bapak adalah seorang perokok berat. Sehingga sudah bisa dipastikan bahwa keluarga kami adalah perokok pasif dengan resiko kesehatan tinggi.


Foods, health risk, and cure (Sumber www.foods4betterhealth.com)

Saya sebagai seorang well educated ciyeee... harus bisa mengedukasi (minimalnya) keluarga agar membiasakan pola hidup sehat. Bukan sekedar mengikuti trend hidup sehat kayak para seleblog, selebgram dan sebagainya. Lebih dari itu, kesadaran untuk menjaga keseimbangan dalam hidup adalah suatu keharusan. Karena disadari atau enggak, lingkungan kita juga udah sakit. Polusi ada dimana-mana. Di udara dengan berbagai emisinya. Di air dengan munculnya berbagai fakta bahwa kita darurat air layak konsumsi karena telah tercemar. Hingga dalam bahan pangan yang kita konsumsi sehari-hari.

Why Tropicana Slim Low Fat Instant Noodles?

Kehidupan saya jadi berubah sekitar 150 derajat ketika memulai hidup sebagai anak kos sejak pertengahan 2012 silam. Kalo dulu saya cuma makan handmade noodles kayak mi ayam, mi goreng, bihun, kwetiau dan kawan-kawannya, pas ngekos saya jadi sering beli mi instan. Nggak terlalu suka sih sebenernya, bahkan kadang saya cuma kepengen gara-gara nyium aroma dahsyatnya mi instan yang lagi dimasak hingga terhidang di warung makan atau di kereta. Sialnya, di kosan saya nggak ada dapur jadi nggak bisa masak mi pake kompor kecuali pake water heater jadi nggak bisa nambahin macam-macan bahan kayak sayuran dan telur. Rasa mi yang saya masak pun ‘nonjok’ banget vetsin dan kawan-kawannya. Alasan nggak ada dapur ini juga yang bikin saya jadi susah untuk hidup sehat karena nggak bisa menyiapkan makanan sendiri.


Bumbu minimalis menghasilkan rasa yang pas (Dokumen Pribadi)

Belakangan saya tahu kalo air rebusan mi yang keruh itu adalah akibat dari kandungan lemak berlebihan dalam mi instan. Mi instan goreng keluaran salah satu pabrik ternama misalnya, mengandung lemak total 14 gram atau 23% AKG. Itu kan gilak! Udah gitu kita sering nambahin lagi telur sampe dua butir. Nah, itu itung sendiri berapa lemak dan kolesterol dari telurnya aja! 


Bisa nambah telur dan sosis karena mi-nya low fat

Sebagai mahasiswa yang pernah dapet kuliah Ilmu Gizi Pangan tentunya saya jadi gelisah, dong. Mi instan sebagai sumber karbohidrat beda dengan kwetiau. Apalagi masyarakat kita sering banget mengonsumsi mi bareng nasi putih yang juga rajanya karbohidrat. Bukan hanya kandungan karbohidrat dan lemaknya aja yang lebay. Natriumnya bahkan mencapai 1070 miligram atau 47% AKG, karbohidratnya 54 gram atau 18% AKG dan gula 8 gram. Sisanya ya kandungan gizi standar semacam vitamin A, B1, B6, B12, niasin, asam folat, asam pantotenat, zat besi, dan serat yang bukan diperkaya tapi emang udah wajar kalo ada. Sementara mi instan andalan orang sejagat itu beratnya cuma 85 gram.

Faktanya, mengonsumsi garam berlebih berarti resiko hipertensi juga meningkat. Dan kalo udah hipertensi, resiko kena penyakit jantung juga meningkat. Nah, kebutuhan garam kita sehari itu cuma 6 gram per hari dengan kandungan natrium ± 2000 miligram. Sementara itu, natrium bukan hanya masuk ke tubuh kita dalam bentuk garam dapur. Kalo kadarnya udah tinggi di dalam darah dan nggak bisa disaring oleh ginjal, volume darah meningkat dengan tekanan yang meningkat juga. Duh, udahlah jadi ngeri ngebayanginnya.

Nah, semua itu saya bandingkan dengan mi instan favorit saya yang baru kalo beasiswa baru cair. Mi Instan Tropicana Slim yang harganya tiga kali lipat mi instan goreng yang saya ceritain di atas. Saya paling suka varian Mi Kering Tropicana Slim Ayam Bakar dengan lemak total cuma 5 gram dan natrium cuma 480 miligram. Air rebusan Mi Tropicana Slim ini enggak keruh karena konon proses pengeringannya dipanggang, bukan digoreng.
Kuah rebusan mi yang tidak terlalu keruh (Dokumen Pribadi)

Jadi keingetan dengan seorang kawan dari Shanghai. Dia kecewa dengan rasa mi instan yang dia makan di warung dekat hotelnya di Jogja. Tapi begitu nyoba mi ayam, dia suka. Dia suka handmade noodles, dan Mi Instan Tropicana Slim ini teksturnya lembut mirip-mirip handmade noodles. Mi instan Tropicana Slim ini juga much better dari mi lainnya dalam soal rasa. Bentuknya tipis dan rasanya enak. Kuahnya juga mantap. Nggak terlalu asin juga. Padahal biasanya saya nggak suka kuah-kuah kayak bakso, soto, dan kuah mi instan, lho!

"Enak banget, Nonk, rasanya. Maulah aku makan mi ini tiap hari!"kata HB sambil ngunyah Mi instan Tropicana Slim di seberang telepon. HB perutnya juga udah buncit karena males olahraga, dan hobinya makan coklat sama nasi goreng plus kopi yang paling parah. Tapi belum terlambat lah ya kalo mau tobat dan beralih ke hidup sehat. Kalo udah ngerasain bahwa untuk hidup sehat juga bisa tetep makan makanan enak kan jadi termotivasi deh.
 
Boleh lah ya nanti kalo pulang kampung nyetok mi instan yang dapet anugerah Women's Health Best Choice 2014 ini buat di rumah. Sekali-sekali cheating dengan makan mi instan sehat. Sekalian biar bisa diolah dengan aneka bahan tambahan lainnya. Brokoli, wortel, kangkung, jamur. Apalagi kalo ditemani sama Milk Tea dan Cafe Latte dari Tropicana Slim juga. Semua anggota keluarga juga bisa makan. Nggak perlu pilih-pilih. Nggak ngerasa berdosa deh makan yang ‘aneh-aneh’ karena nggak akan dikenali tubuh sebagai benda asing yang menggangu keseimbangan metabolisme. Di kemasannya juga tertulis safe for diabetics, jadi nggak perlu was-was lagi. waaaahhh... udah ngiler ngebayanginnya dari sekarang. Sabar... nggak lama lagi mudik lebaran. *lah, puasa aja belom, cyin!*

 
Mi kesayangan saya lagi diskoooooonnnn! (Dokumen Pribadi)

 Oh... iya, saya nemu cara baru untuk hidup lebih sehat dan hemat. Hemat adalah salah satu karakteristik anak kos, ya! Jadi dalam mengupayakan hidup sehat pun tetap harus hemat. Instead of just a trend, being healthy and fit is a lifestyle. Dan saya beli beberapa kebutuhan bulanan dan persiapan bulan puasa yang aman dan sehat di Nutrimart. Kopi, madu, susu, selai, dan sebagainya harganya lebih irit dibandingan dengan di tempat belanja mainstream. Dan Mi Kering Tropicana Slim andalan saya itu emang nggak tersedia di minimarket dekat kosan. Jadi demi ngirit ongkos dan biar nggak berkontribusi terhadap emisi di jalanan, mending biar sekalian nambahin penghasilan si Bapak Kurir. Dengan belanja instan ini, saya tinggal nunggu aja kiriman dateng ke kosan.

5 comments:

  1. Tapi semoga gak ada yang kena diabetes ya biar ga sampe makan mie fitri tropika :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebelum kena diabetes dll, makanya makan mi kering tropicana slim ini :D Thx for coming to my home.

      Delete
  2. Dulu waktu mahasiswa hampir tiap malem saya mie instan. Puasa pun tak jarang hanya berbuka air putih, nanti tengah malam mie instan (ini berbuka puasa yg berupa makanan sekaligus diniati sahur), hehe...

    Hmm..., boleh juga tuh Mi Kering Tropicana Slim, saya belum pernah iniiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak, loh, Om. agak mihil tapinya... hihi... Rinda bukan anak kos mi instan garis keras aja udah bermasalah perutnya, gimana kalo doyan mi :D

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<