Saturday, September 5, 2015

Kisah Perjuangan Berat Dunia Pendidikan oleh Seorang yang Putus Sekolah



Judul Buku      : Orang Jujur Tidak Sekolah
Penulis             : Andri Rizki Putra
Tahun Terbit    : Cetakan pertama, Oktober 2014
Penyunting      : Pratiwi Utami
Desain Sampul: Bara Umar Birru
Pemeriksa Aksara: Chalida N.A. & septi Ws.
Penata Aksara : Adfina Fahd
Foto Sampul & Isi: Koleksi Pribadi Penulis
Penerbit           : PT Bentang Pustaka
ISBN               : 978-602-291-062-6
Harga              : Rp. 49.000


“Pada dasarnya semua anak terlahir istimewa. Orang tua dan lingkungan berperan dalam pembentukan kecerdasannya. Anak-anak hanya butuh dukungan untuk menemukan aneka kejutan unik priceless dalam diri mereka.”


Sinopsis
Rizki yang awalnya menaruh harapan besar kepada sekolah yang mampu mengajarkan banyak hal, seketika patah hati. Hanya karena menolak lembar sontekan jawaban ujian yang beredar di kalangan para siswa, Rizki dianggap aneh. Belum lagi gara-gara keterlambatannya membayar SPP setiap bulan, Rizki nyaris menjadi sasaran sindiran para tiap pengambilan rapor tiba.
Diskriminasi yang terjadi berkali-kali membuat Rizki mengambil keputusan besar: berhenti dari sekolah. Ia memilih belajar dengan caranya sendiri. Menciptakan sistemnya sendiri.
Lewat jalur ujian kesetaraan, Rizki mampu menamatkan SMA dalam waktu satu thaun, bahkan diterima masuk kuliah di PTN terkemuka di Indonesia. Tak berhenti sampai di situ, ia bertekad menyebarkan sistem pembelajaran yang ia temukan. Lewat Yayasan Pemimpin Anak Bangsa yang ia dirikan, Rizki berhasil mengajak anak-anak jalanan, pembantu rumah tangga, office boy, tukang becak, dan segenap kaum miskin kota untuk mencicipi manisnya pendidikan berlandaskan kejujuran.
***
Pertama bertemu dan mendengar celoteh dari mulutnya secara langsung, saya berpikir bahwa Rizki adalah seorang anak yang super keras kepala. Tidak sepenuhnya salah, setelah membaca buku ini pun saya semakin yakin bahwa dia sangat keras kepala. Bakatnya sebagai ‘pembangkang’ sudah muncul sejak balita. Hingga kakek-neneknya (mungkin) benar-benar sudah tidak sanggup mengawasinya dengan jiwa yang penuh api kenakalan sekaligus keingintahuan.
Buku ini menceritakan hanya sebagian kecil kondisi anak-anak di Indonesia. Anak-anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarga broken home dan menjelma menjadi anak nakal yang selalu merasa ingin bebas. Bukan salah kondisinya. Bukan juga salah sang anak. Meski pada akhirnya tidak sedikit anak-anak yang kehilangan kesempatan dalam mewujudkan jawaban atas keingintahuannya, proses penemuan jati dirinya, hingga proses tumbuh-kembang ‘se-normal-normalnya’.
Dibalik kenakalan masa kecilnya, Rizki sebagai salah satu gambaran kondisi anak-anak yang labil menyiratkan kecerdasan yang luar biasa. Kecerdasan yang pada akhirnya menemukan muaranya meski ia harus mengambil keputusan yang tidak biasa bagi anak seusianya.
Keputusan untuk berhenti dari sekolah yang diambil oleh anak-anak lain mungkin akan ditentang oleh orangtua yang mungkin malu dicibir hingga dianggap aneh oleh lingkungannya. Mungkin juga orangtua-orangtua lainnya justru senang dan merasa lega bahwa di tengah kesulitan ekonomi anak mereka memutuskan untuk putus sekolah. Anak yang berada di dalam keluarga seperti inilah yang berpotensi untuk tumpul kemampuannya. Anak-anak yang inisiatifnya harus dipancing dulu dan butuh dukungan tentu tidak akan bisa berdiri di atas kakinya sendiri seperti Rizki.
Faktanya, tidak sedikit anak-anak dari keluarga kurang mampu yang justu ogah-ogahan pergi ke sekolah. Enggan berangkat ke sekolah tanpa uang jajan yang lumayan. Ada juga anak-anak yang kerjanya hanya keluyuran. Tak heran prestasi mereka di sekolah hanya pas-pasan. Bahkan ada juga yang bisa naik kelas karena belas kasihan. Padahal jika mereka mau sedikit saja berusaha belajar lebih giat, ada banyak program beasiswa yang tentu dapat membantu mengubah jalan hidupnya. Terkadang anak-anak justru hanya menunjukkan aksi protes mereka akibat tidak terpenuhinya kebutuhan uang jajan, biaya les ini-itu, hingga perhatian orang-orang terdekatnya. Belum lagi dilengkapi dengan kondisi orang tua yang belum bisa berpikir merdeka. Akibatnya, anak akan jadi pemberontak.
Rizki hanya salah satu contoh pemberontak yang mampu mengelola emosi dan keinginannya pada jalur yang ‘nyaris’ benar. Saya katakan ‘nyaris’ karena jika saja Rizki gagal dalam ujiannya, bisa saja dia menjadi gila seperti kata tetangga-tetangganya. Jika Rizki tidak mendapat dukungan dan pengertian yang begitu besar dari ibunya, mungkin saja dia hanya akan lontang-lantung di jalanan. Jika saja Rizki tiba-tiba kehilangan akal sehatnya dan memilih untuk berhenti berjuang, mungkin saja tak akan ada buku dengan kisah inspiratif yang begitu mendebarkan.
Buku bersampul kuning ini tidak mengajarkan anak-anak untuk menentang guru mereka terang-terangan. Bukan mengajarkan untuk ramai-ramai drop out dari sekolah formal yang penuh dengan sandiwara kejujuran. Buku ini hanya memberikan teladan tentang keberanian seorang anak yang menjunjung tinggi kejujuran dan berketeguhan hati untuk melakukan perubahan pada sistem pendidikan. Buku setebal 260 halaman ini memberikan gambaran nyata porak-porandanya sistem pendidikan. Buku yang menyimpan impian terwujudnya reformasi sistem pendidikan yang membawa kemajuan Indonesia di masa depan.
Tak heran, meski telah terbit sejak hampir setahun silam buku ini masih tetap terasa segar dan membuka wawasan. Dengan gaya bercerita khas remaja, Rizki berhasil membuat pembaca merasa seperti sedang mendengarkan kisah sahabatnya. Kisah seorang sahabat yang menyadari pentingnya pendidikan meski ditempuh lewat jalur di luar sekolah formal. Buku ini merupakan kisah perjuangan seorang Rizki yang mungkin saja pola pikirnya kelak berubah, jalan hidupnya berubah, dan mungkin saja kisah ini hanya berlaku pada saat sekarang saja. Tapi tak ada salahnya untuk memetik semangat dari seorang Rizki ini.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<