Sunday, November 29, 2015

yang Terserak dari Kelas Inspirasi Serang #1




Haihaiiiii... ini sebenarnya tulisan nostalgia. Soalnya bukan reportase yang aktual tapi lebih kepada ingatan saya yang terus membekas tentang Kelas Inspirasi. Ciyeee...

Ada yang belum tau Kelas Inspirasi (KI)? Wah kayaknya... sorry to say, kudet banget deh! LOL. Saya kenal KI sejak 2012 lalu. Waktu itu saya cuma stalking-stalking. Nah, di 2013 saya pengen banget ikutan, tapi saya kan belum punya profesi. Saya cuma mahasiswa yang punya angan-angan sama mimpi. Sebenarnya saya pikir saya bisa menginspirasi anak-anak SD seperti yang lainnya dengan semangat saya bersekolah.

So, saya pede banget mendaftar KI Bandung waktu itu. Saya dibuat bingung sewaktu menulis esai aplikasinya. Saya mah da apa atuh? Hanya mahasiswa biasa. Remahan kece kalo istilahnya Manda, Mbak Diba, sama Kakak Rian. Dan hasilnya udah ketebak, SAYA ENGGAK LOLOS!!! Hahahahaaaa...

Di 2015, keinginan saya semakin membuncah untuk ikutan sebagai inspirator bagi penderita sesak napas siswa SD.Waktu itu, saya ngeliat pengumuman pembukaan aplikasi KI Serang. Saya pun ngobrol-ngobrol dengan Kak Anazkia. Akhirnya saya mendaftar KI Serang #1 dengan profesi sebagai RELAWAN. Agak rancu, ya. Lha wong para inspirator, dokumentator, dan fasilitator KI aja udah disebut relawan kok ini ada lagi profesi relawan?! Ah, nggak apa-apa... yang penting saya bisa ikut memotivasi anak-anak untuk membentuk pribadinya sejak dini. Kata Om NH, sih gitu. Yang penting pembentukan karakter. Dan SAYA LOLOS kali ini! Thank God!
Foto: Pak Hadi Dong :)
Niatnya sih saya pengen ngajari anak-anak supaya punya jiwa penolong, ikhlas dalam hal apapun, termasuk ketika membantu orang tua, teman, dan ketika belajar. Semuanya harus dikerjakan dengan riang gembira. 

Badly, property games saya ketinggalan di rumah. Saya emang lagi (sok) sibuk ketika persiapan KI Serang itu. Bahkan saya belum pulang ke rumah sejak awal September. Roadshow Bandung-Jogja-Jakarta ceritanya hingga pada 27 September saya harus berangkat ke Serang. Saya aja berangkat ke Serang dari Gunung Madu. Abis kondangan, bok! 

Beruntung fasilitator kami di sana supeeerrrr baiiiikkkk banget! Saya dapat tumpangan nginep di rumah Kak Intan. Bahkan mereka rela nungguin saya yang nyampe serang nyaris tengah malam. Dan super excitingnya lagi, saya ketemu Kak Nashar mantannya Musdalifah , rekan waktu masih beraktivitas ke-Humas-an di salah satu kantor dulu, dan dia bayarin saya bus sekaligus nungguin saya dijemput. Bahkan Wak gengnya KI Serang ikut njemput dan ngebonceng saya ke rumah Kak Intan. Aaaakkk... kalian baik banget, sih! Makasiihhhh...yaaaa... Kak Intan, Kak Ana Rizki... SUPER MELTING! 

Saya kebagian menginspirasi di SD N Kaloran. Bareng Kak Janiar, Kak Yanti, Kak Hizti, Kak Fahri, Kak  dan fotografer yang kece badai Bapak Hadi Dana dan sebagainyaaaaa!

Tragedi di Dalam Kelas

Parahnya saya lupa memperhitungkan tentang karakter anak. Jadi tugas saya di jam pertama adalah DI KELAS SATU. Saya enggak berhasil menguasai kelas. Saya langsung ngadu sama Pak Dana Hadi yang kebetulan mendokumentasikan aktivitas kacau di kelas saya. Saya pengen nangis saat itu juga. Tapi saya ya malu, dong! Rasanya pengen banget cepat-cepat gantian. Rasanya time flies so slow banget gitu. Dan saya udah kayak larva kejepit di atas tebing, diterpa hujan badai sekaligus kilat dan petir yang menyambar-nyambar. Huhuuu...

Jadi anak-anak lari ke sana kemari. Mahkota yang saya pasang pada lepas. Yang di sudut kiri manggil saya, yang ujung kanan manggil saya juga. Pas main ice breaking semuanya mau maju. Pada teriak-teriak. Nggak ada yang mau ngalah. Bola yang harusnya buat gantian dengan kelas lainnya pengen diminta. Ada yang nangis gara-gara dinakalin temennya. Macem-macemlah. Huhuu... apa kabar ngurusin daycare, ya? Setres adek, Bang!

Beruntung mereka segera mereda ketika saya cerita. Iya, saya cerita dan memancing interaksi mereka dengan bertanya tentang keseharian mereka bermain, belajar, apapun. Alhamdulillah semua under control. Ternyata hanya saya yang salah settingan. 

Pas masuk ke kelas tiga dan empat, saya sudah lebih bisa menguasai keadaan. Beruntung nggak ada jatah di kelas dua. Kelas dua gantian ruangannya dengan kelas satu, jadi saya nggak kebagian. Meskipun di akhir hari inspirasi saya tetap masuk ke kelas dua karena jadwal rotasi gurunya kacau. Saya enggak masuk ke kelas enam karena Kak Yanti asik banget di kelas itu dan mengambil jatah waktu saya. Ih, Kak Yanti korupsi, tuh. Tapi setidaknya saya sudah bisa haha hihi.

Di kelas empat dan lima, saya sudah berada di atas angin. Sombong! Saya sudah tahu triknya, bercerita dan tertawa. Pasti anak-anak juga senang dan ikut aktif di dalam kelas. Bahkan saya nggak ngasih ice breaking di kelas empat. Mereka ngajarin saya mainan a la a la mereka. Jadi judulnya kita jadi main bareng. Sekaligus cerita tentang bencana ekologis yang mengancam jaminan keberlanjutan kehidupan. Lha wong di depan sekolahnya aja ada gunungan sampah, gimana mereka nggak terancam kesehatan sekaligus gagal dalam pembentukan karakter pribadinya.

Di kelas lima, malah ada yang curhat. Saling bully tentang cinta monyet. Tentang idola mereka, Si Kembar anak ibu guru yang katanya paling kece badai di kelas enam. Jadi di sini saya berperan sebagai relawan konsultasi cinta monyet sekaligus curhatan tentang orangtuanya yang nggak pernah ngasih hadiah sepeda pas bagi rapor. Yaiyalah, nilainya aja nggak mencapai target. Haha. Mereka janji, untuk belajar dengan ikhlas tanpa mengharapkan hadiah dari orangtua mereka. Saya memberi contoh kisah Hafalan Sholat Delisa yang hafalan demi sebuah kalung. Dari cerita itu, saya jadi cerita tentang kerelawanan pasca bencana alam. CUCOK!

Inspirator yang Terinspirasi

Honestly, ikut kegiatan ini justru membuat saya semakin semangat untuk berbuat banyak bagi orang lain. Kakak-kakak lainnya sudah sering banget ikut aktivitas beginian.

Misalnya Kak Jainar, penulis yang meski punya kekurangan tapi justru dia punya kelebihan yang tumpah ruah. Bukan kekurangan, sih. Saya lebih senang menyebutnya perbedaan. Perbedaan kan yang membuat segalanya jadi indah dan berwarna. Ah, dengar cerita tiga jam tentang Kak J ini enggak ada bosan-bosannya sama sekali. Sungguh. Bahkan saya jadi banyak belajar. Belajar tentang kemanusiaan, belajar tentang keikhlasan, ketegaran, sampai public speaking.
Ini Kak Jainar (Foto: Pak Hadi)
Iya, Kak J ini seorang penyiar yang tentunya udah jago banget public speakingnya. Seorang penulis yang menebarkan inspirasi dan semangat hidup lewat tulisan-tulisannya. Seorang perempuan super yang bangkit dari keterbatasan kondisi masa kecilnya. Seorang tante kos yang baik banget sama anak-anaknya. Seorang pengajar di sekolah luar biasa yang melahirkan anak-anak berprestasi. Seorang traveler yang banyak dapat berkah jalan-jalan gratis sebagai sebutir debu bayaran dari segala jerih payahnya untuk orang banyak.

Ah, nggak ada habisnya, deh. Shortly, saya ngefan mendadak sama kakak satu ini. Sayangnya, saya belum sempat untuk kontak lagi dengan beliau. Saya nggak pengen kontak lewat aplikasi chatting. Saya pengennya ketemu langsung. Seharian pasti bakal berasa satu jam bersama Kak J. Someday, ya, kak. Kalau saya berkunjung ke Bandung.

Keajaiban lainnya datang ketika saya dan kawan-kawan makan siang. Jadi ceritanya saya emang nggak makan dari siang hari sebelumnya. Ajaibnya, saya emang nggak laper, nggak sakit perut, nggak sakit kepala. Kami makan di Ibu Ciganea. Rumah makan yang udah ada dimana-mana.

Ternyata, kelompok-kelompok KI lainnya juga makan di sana. Pas lagi sholat, saya ketemu IBU DONNA IMELDA. Iya, emak blogger yang suka saya kepoin. Ahahhaha... saya ngefan juga nih sama beliau. Semua aja lo idolain! LOL.

Ngobrol ngobrol sebentar sama Ibu kece ini saya jadi laper. Jadi ngobrolnya dilanjut pas sesi refleksi. Sesi ini digelar di Kantor Gubernur Banten yang lama dan sekarang jadi museum. Gedungnya kuno, megah, tapi rada gothic. Mirip jaman Belanda gitu. Ini semacam sesi evaluasi sekaligus ajang cari jodoh perkenalan satu sama lain gitu deh. Nah, di sini saya juga ketemu Om NH. Pertemuan ketiga dengan Om NH sejak 2010 silam. Om satu ini juga nggak pernah berhenti memberikan inspirasi. Apapun tingkah polahnya yang kadang geje pun bisa jadi inspirasi, loh. Apa saya yang terlalu ngefan, ya?


Ah, semoga silaturahmi dengan orang-orang hebat selalu terjalin hangat, ya! Meski tanpa tegur sapa kan kadang saya juga hadir di laman mereka. Bukan sengaja ngepoin, tapi yang namanya belajar itu kan dari manapun. Termasuk dari pengalaman orang lain. Kadang ketika blog walking, saya banyak ketemu dengan hal-hal baru yang seru. Meski saya jarang meninggalkan jejak, tapi saya sering membuka halaman-halaman mereka. Ya, maklum, jarang OL di netbuk. Hoho.
Relawan dan Para Guru (Foto: Pak Hadi)
Banyak banget keuntungan yang saya dapat dari kunjungan perdana saya ke Kota Serang ini. Kota yang gedung-gedungnya masih berciri kerajaan. Mirip sebagian kecil Jogja. Cuma beda karakter manusianya, sepertinya. Banyak banget yang pengen saya ceritain di sini satu persatu. Semuanya menyenangkan. Dan saya nggak ingin berhenti untuk menebar inspirasi sampai di sini. Ternyata, berbagi itu benar-benar nggak harus nunggu kita jadi ‘sesuatu’ dan punya segalanya. Bahkan saya yang pengangguran begini pun bisa ikut kelas inspirasi. Semoga saya cepat punya profesi, ya. Dan saya mau keliling Indonesia untuk berbagi dan menjadi kaya dengan inspirasi dan semangat hidup. Sumpah, kelas inspirasi ini nagih banget. I’m addicted to you!

6 comments:

  1. Kelas INspirasi?
    Hemm...saya juga pengen bisa ikut berpartisipasi dalam KI. Rasanya sesuatu banget tiap kali baca ulasan KI, spt yg srg di share oleh Om Nh itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap! Cobain deh, Mak sensinyaaa nagih banget!

      Delete
  2. duh, tersanjung ada nama aku... thanks Rinda.. keep sharing, keep inspiring

    ReplyDelete
  3. kakaaaa :D, keep inspiring :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. haihai kakak hiztiiiii... kok bisa mampir dimariiii hihi. Thanks yaaa :*

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<