Tuesday, December 22, 2015

[Resensi] Critical Eleven, Monster of Tears




Judul Buku   : Critical Eleven
Penulis          : Ika Natassa
Tahun Terbit : Cetakan Ketujuh, November 2015
Penyunting   : Rosi L. Simamora
Desain Sampul: Ika Natassa
Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN               : 978-602-03-1892-9
Tebal              : 344 halaman; 20cm
Harga             : Rp. 79.000

Kata adalah jembatan yang terbakar habis setelah kita lewati sehingga kita tak pernah bisa kembali lagi.


Sinopsis

Aldebaran Risjad dan Tanya Baskoro memutuskan untuk hidup bersama setelah setahun saling mengenal satu sama lain. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk keduanya merasa ‘klik’ sejak pertemuan pertama mereka di pesawat menuju Sydney.
Hingga akhirnya badai datang menyerang rumah tangga mereka. Lima tahun setelah peristiwa di pesawat itu, mereka justru dihadapkan pada pilihan-pilihan keputusan yang memberatkan. Tetap bersama-sama dan menghapus kenangan pahit di antara keduanya, atau justru memilih untuk amnesia sebagian dan mereka harus benar-benar saling melupakan.

Hanya karena delapan baris kata yang terlontar dari mulut Ale, membuat Anya sukses menghindar selama enam bulan. Menganggap Ale tak ubahnya seperti meja, kursi, atau bahkan lalat di hadapan Anya.

Dalam dunia penerbangan, ada sebelas menit paling kritis dalam pesawat. Critical eleven. Tiga menit pertama setelah take off dan delapan menit sebelum landing. Begitu pula dalam hal bertemu orang-orang. Ada tiga menit pertama yang merupakan penentu terbentuknya kesan, dan delapan menit sebelum perpisahan yang menentukan kemungkinan pertemuan selanjutnya.
***
Seperti biasa, Ika Natassa sukses menyajikan cerita dari seorang sahabat dekat pembaca. Mungkin juga saudara dekat. Bahkan mungkin cerminan diri pembaca itu sendiri.

Aldebaran Risjad, entah inspirasi darimana yang membuat Ika memutuskan sebuah nama seorang petroleum engineer yang aneh sekaligus sulit diucapkan untuk tokoh utamanya. Seperti juga nama tengah Tanya Baskoro. Saya lebih suka menyebutnya Ale dan Anya. Well, lebih mudah diingat, simpel. Tapi nama panjang mereka harus diakui unik.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk merasa jatuh cinta pada kisah sederhana ini. saya pikir, Critical Eleven mengalahkan posisi novel Ika yang lainnya dalam hati saya. Bahkan saya sama sekali nggak merasa menyesal dulu pernah antri PO Critical Eleven pakai emosi dan nangis-nangis pas nggak dapet. Yap! Buku ini berhasil sold out dalam sebelas menit. Entah penulisnya yang gila, atau pembacanya yang terlalu royal dan loyal. Apalagi pembaca setia yang sampai nangis-nangis dan nyalahin pacar karena gagal PO kayak saya.

Bertutur secara hangat, itu khasnya Ika Natassa. Konfliknya juga sederhana. Dekat sekali dengan kehidupan real manusia. Meski bukan kehidupan real saya, karena tokoh-tokoh yang dibangun Ika Natassa selalu saja kalangan jetset. 

Baca juga: Twivortiare #2: Kehidupan Modern dalam Kicauan @alexandrarheaw.

Walaupun alur cerita maju-mundur bolak-balik saya sama sekali nggak merasa pusing dan bingung. Sudut pandang Ale dan Anya yang saling bergantian bercerita juga nggak membuat bosan. Saya pikir, kalau text book diceritakan dengan gaya begini pasti akan lebih mudah dicerna. Ada bagian-bagian yang diulangi tapi nggak membuat bosan dan justru membuat ceritanya makin lekat di ingatan.

Saya cuma agak bingung di bagian awal. Di halaman 26 Anya bercerita tentang Ketoprak Ciragil, ciuman pertama mereka dan kenyataan bahwa mereka terlalu cepat jatuh cinta. Kemudian di paragraf baru langsung diceritakan tentang Ale yang baru pulang dari offshore tengah malam. Saya belum ngeh tentang alur novel ini jadi saya sedikit bingung. Atau mungkin cuma saya aja yang enggak nyambung bahwa itu cerita ketika mereka sudah menikah. Entahlah.

Yang saya bingung lagi adalah Ika Natassa kan belum menikah, bahkan kata orang dia belum punya banyak pengalaman, tapi dia sangat pintar memilih kata tentang percintaan, romantika, even seks. Ya itu juga kerap dia ceritakan di media sosialnya sih. Jadi saya nggak perlu mengulas yang beginian. Juga tentang manajemen waktu yang dia lakukan sehingga bisa sangat produktif dalam hidupnya. Bahkan saya pikir dia bisa jadi relationship consultant. Cerdas, ya. Tapi saya pikir, pembaca setianya itu banyak yang masih muda banget. Terlalu muda bahkan. Apa nggak jadi makin labil? Saya aja jadi pengen cepet nikah. Ups!

Baca juga: My Little Zero Waste Party.

Emosi. Itu yang selalu diaduk-aduk oleh Ika. Saya dapat novel ini setelah perjalanan panjang dan selalu gagal karena stok dimana-mana selalu kosong. Hingga saya nggak sengaja ke Gramedia Botani Square Bogor dan mendapati ratusan stok Critical Eleven. Pengen langsung borong rasanya biar orang-orang ngerasain sulitnya saya nyari buku ini. Di antara workshop saya di Bogor, nggak mungkin saya bisa baca. Lelah rasanya. Tapi saya selalu pengen buka buku ini. Akhirnya saya baca ketika mau tidur selembar, habis itu dalam kereta menuju Jakarta yang harus terhenti karena keretanya raja tega. Commuter line di Jakarta itu gila, mengubah orang jadi teri dalam mustofa terus dikemas dalam kaleng sambil dipadatkan. Itu loh, sambal kering yang isinya teri kecil, kentang, dan kacang tanah. Hingga akhirnya saya lanjutkan lagi pas saya lagi nunggu Pak Dolly Lesmana di kantornya.

Nah, ini lagi kelebihan novel-novel Ika. Bisa dibaca dimana aja. Nggak perlu mikir berat bahkan sampe gugling istilah dan teori di dalamnya. Kalo ada yang sedikit aneh atau ilmiah, Ika selalu menjelaskan maksudnya.

Awalnya saya membaca ini biasa aja. Lebih tepatnya untung biasa aja. Jadi saya nggak terlalu emosi. Tapi pas saya baca di waiting room Bandara Soetta, saya nangis bombay. Malu, asli! Tapi masa bodoh, saya terus membaca sampai nggak terasa saya harus sudah boarding. Saya boarding pada panggilan terakhir penumpang menuju Lampung. Bacaan yang mengaduk-aduk emosi saya teruskan di pesawat. Biasanya saya tidur, tapi ini enggak. Sama sekali nggak tidur, nggak takut pas take off dan landing juga. Dan sampe nggak rela menghadapi kenyataan saya udah sampe Lampung karena mata saya bengkak dan bacaan belum kelar.

Saya bukan Anya apalagi Ale. Tapi saya seperti merasakan duka mereka yang begitu dalam. Duka kehilangan anak yang bahkan belum sempat ditimang. Anak yang dengan susah payah dan mempertaruhkan nyawa dilahirkan untuk kemudian hilang. Kebimbangan untuk melepas kerinduan akan kebersamaan atau dendam yang masih menghujam. Duka yang mengharuskan mereka berada pada posisi sulit karena mempertahankan ego masing-masing. Entah. Perasaan saya seperti tercabik-cabik. Saya merasakan sakit yang teramat ketika cerita tentang Aidan diputar ulang.

Saya merasakan seorang Anya dengan kesibukannya selama hamil. Bahkan saya juga sangat paham dengan kondisi Anya yang cemas karena Aidan nggak nendang-nendang. Hingga akhirnya Anya hanya bisa menangis pasrah menahan sakit lahir dan batin mempertaruhkan hidup demi melahirkan buah hatinya yang tak lagi bernyawa. Hingga jauh setelah kejadian itu, Anya bahkan menganggap Aidan seperti ada. Di kamarnya, juga di kaos kakinya yang kerap disimpan di dalam handbag Anya.

“Apakah seorang ibu yang melahirkan anaknya dalam keadaan meninggal akhirnya bisa mendengarkan tangis anaknya, memeluk dan membesarkan anaknya? Apakah kalau aku masuk surga, Aidan sudah menunggu di gerbangnya untuk akhirnya dipeluk ibundanya? ... bagaimana seandainya kamu masih hidup? Bagaimana seandainya Mama bisa menjaga kamu lebih baik di dalam perut Mama dulu?...” – halaman 256.

Goooddd, perih hatiku!

Entah karena apiknya permainan diksi dan olah kalimat Ika, atau karena hal lain membuat saya sangat mengapresiasi karya ini. Antara menyesal karena telah membaca kemudian berderai air mata atau bahkan ingin mengulang membaca lagi dan ingin tahu kelanjutan cerita kehamilan kedua Anya.

Oh ya, ending buat saya kurang seru. Saya bahkan ingin tau kelanjutannya sampai mereka jadi kakek-nenek. Atau bahkan ketika sudah berkumpul dengan Aidan di surga. Saya juga ingin tahu, apakah anak-anak yang tak sempat dilahirkan kemudian dipakaikan baju bayi itu akan benar-benar mendoakan orangtuanya, menunggui mereka, dan menolong orangtuanya dengan cara mereka sendiri?

Masalah serupa terkadang membuat beberapa pasangan berakhir tragis. Orang-orang yang belum dikaruniai anak hingga usia pernikahan ke sekian. Atau bahkan yang ceritanya sama, kehilangan calon buah hati dan saling menyalahkan. Kadang juga yang sok menyalahkan adalah pihak keluarga, utamanya mertua. Mungkin mertua kalian bisa dikasih baca novel ini, ya! Saya jadi gatel buat mention beberapa orang. LOL.

“Death is not the greatest loss in life. The greatest loss is what dies inside us while we live.”
--Norman Cousins dalam Critical Eleven

Sayangnya kutipan penutup novel ini absolutely right! Seringkali yang kita tangisi adalah apa yang telah pergi, tapi kita jarang banget mengevaluasi dampak dari kedukaan bahkan pemberontakan kepada takdir Tuhan. Terkadang ada yang justru hilang, karena kita terlalu larut dalam kesedihan.

Disclaimer:
Saya bukan ahli bahasa, nggak pernah mendalami ilmu tentang sastra. Jadi beginilah bentuk review saya. Suka-suka saya :)


8 comments:

  1. sepertinya bukunya menarik...lama ngga baca karya-karya kereen penulis Indonesia yang makin banyak

    ReplyDelete
  2. pernah liat di toko buku sama ada temen yang beli, jadi penasaran juga sih sama ceritanya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbaakkk sekarang udah baca belum? Maaf baru tau ada komennya 😂

      Delete
  3. Saya belum pernah baca buku itu, jadi penasaran

    ReplyDelete
  4. Apa saya baca novelnya aja ya? Kalau nonton kan susah ada anak yang selalu nempel sama ibunya. Hahaha. Tapi kalau bukunya sedih gitu aku bacanya jam berapa ya biar gak kelihatan anakku bahwa aku ini bisa menangis. Huaahahaha.

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<