Friday, December 11, 2015

Serat Centhini, Cinta dan Pengabdian Elizabeth D. Inandiak




Hari itu berkah hujan melimpah ruah di Bogor seharian. Kami duduk-duduk di beranda Footprint Bed and Breakfast selepas makan malam. Saya merasa bahwa saya harus bicara dan mengulik apapun tentang Elizabeth D. Inandiak ditemani Pak Isyanto dan Nora. 

Sebelumnya saya kurang ngeh bahwa dia adalah seorang sastrawan Perancis. Saya hanya ingat bahwa namanya tidak begitu asing. Hingga malam sebelumnya ingatan saya melayang pada petualangan saya dalam menggali kisah Centhini. Saya pernah membeli satu potongan novel Centhini, seri kedua Minggatnya Cebolang dan seri terakhir Nafsu Terakhir. Dan betapa beruntungnya saya bisa berada satu atap dengan penulisnya kini.

Perkenalan Bu Eli dengan Centhini berawal dari tulisan seorang Perancis tentang Jawa. Dia menemukan dua lembar kisah Centhini. Hanya dua lembar dan kisahnya masih sangat general. Akhirnya Bu Eli bertekad untuk melakukan riset tentang Serat Centhini dan benar-benar mengabdi untuk kisah ini.

Mungkin seperti yang saya alami. Bu Eli tersihir oleh Centhini hingga mendedikasikan hidupnya untuk riset ini-itu hingga menerbitkan bukunya sendiri pada 2002 silam, Le Livre de Centhini ou Les chants de l'île à dormir debout. Hingga akhirnya buku itu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh sebuah lembaga pada 2008. Gayung bersambut, begitu banyaknya apresiasi karya Bu Eli ini membuat Gramedia pun akhirnya menerbitkan Serat Centhini, Kekasih yang Tersembunyi pada September 2015 silam.
Saya sendiri mengenal Serat Centhini lewat Novel Amba karangan Laksmi Pamuntjak. Tidak banyak yang dia tulis di sana tentang Centhini, tapi itu menyihir saya untuk terus mencari tahu. Bahkan saya sampai mencari tahu tentang Bapak Sunardian Wirodono. Penulis Centhini di Yogyakarta yang kelak akan diterbitkan dalam tiga jilid. Saya baru punya dua jilid Serat Centhini versi Sunardian lengkap dengan tembang asli dalam Bahasa Jawa. Saya juga membaca Serat Centhini versi beberapa penulis lainnya, termasuk Nafsu Terakhir karya Ibu Eli.

Menurut Bu Eli, karya ini sangat universal. Meski berasal dari Jawa, karya ini bisa diterima dimana pun. Bahkan di Eropa. Dia merasa bahwa sebagian karakter Centhini ada dalam dirinya. Bahwa sebagai manusia dia harus mengabdi. Itulah yang membuatnya betah tinggal di Jawa selama seperempat abad terakhir. Di tempat yang berbeda dengan negara asalnya yang sangat mengagungkan emansipasi.

Kisah di dalamnya juga tidak kuno. Bahkan susuai dengan realitas kehidupan saat ini, dan kapanpun. Tentang perjalanan Cebolang, misalnya. Remaja saat ini pun sama, mereka dalam proses pencarian jati diri. 

“Jika hal ini dibiarkan, maka proses pencarian jati diri akan terus berlangsung hingga usia 50-60 tahun. Kenapa saya terlahir begini, dalam keluarga ini. Bukan itu... dan sebagainya,” papar Bu Eli.

Uniknya, Serat Centhini bukanlah kisah yang happy ending. Tokoh utamanya, Among Raga gagal dalam proses pencarian Tuhan. Dia mencari Tuhan dari ‘atas’ sehingga dia menjadi sombong dan lupa duniawi. Itulah pentingnya pembimbing spiritual dalam proses pencarian akan Tuhan sehingga kita tidak tersesat. Dalam diri Amongraga ada bibit dendam atas kematian ayahnya. Hingga dia terus berzikir dan akhirnya dilahirkan sebagai Amangkurat IV dan menjadi raja yang sangat jahat. Inilah ‘nafsu terakhir’ yang dimaksud oleh Bu Eli. Nafsu akan kekuasaan.

Serat Centhini mengajarkan kita untuk membersihkan diri dengan sangat dalam. Menurut Bu Eli, yang berhasil dalam proses pengabdiannya adalah Centhini yang sungguh-sungguh diam dan mengabdi. Centhini sebagai seorang abdi bisa benar-benar menyatu dengan suluk (tembang). Abdi yang sangat rendah hati sehingga menurut Bu Eli, sebutan Serat Centhini adalah penghormatan untuk pengabdiannya yang tulus. 

Proses kreatifnya dalam menyadur dan menuliskan kembali tembang-tembang dalam Suluk Tembangraras melibatkan sangat banyak orang dan melalui proses yang berat dan panjang. Bu Eli harus merekam tembang itu dan mendengarnya berulang-ulang untuk mencari gaya menulis yang dalam. Dia juga membaca karya-karya Victor Hugo, sastrawan Perancis untuk memperkaya bahasa dan kreativitasnya. Hingga akhirnya Bu Eli bisa menerbitkan Serat Centhini versi Bahasa Perancis.

Selama sekitar lima tahun dia memahami karya sastra kuno ini, dia hanya benar-benar fokus dan tulus. Delapan bulan terakhir dipergunakannya hanya untuk menulis dan mengurus anaknya yang masih sangat kecil. Dia bertanya kepada orang-orang pintar, seorang ahli bahasa dari Keraton Solo, ahli agama,  hingga sekelas Landung Simatupang dan tiga penyair terus membersamainya. Salah satunya adalah seorang legenda bernama Ronggo Warsito.

Bu Eli mengakui, ajaran islam sufi dalam Serat Centhini kacau. Ketiga penyair yang membantunya tidak menguasai Bahasa Arab. Sedangkan pada awal abad ke-20 orang Perancis banyak menerjemahkan naskah sufi ke dalam bahasa mereka. Bahasa Arab dan Jawa yang terdapat dalam Serat Centhini merupakan bahasa yang sangat sulit dipahami. Bu Eli menebak bahwa dalam penulisannya dulu, mereka mempertimbangkan rima dan irama kata-kata sehingga menghasilkan tembang yang indah dan enak didengar.

Apresiasi karya Bu Eli yang orang asing ini sangat jauh dari perkiraan. Awalnya Bu Eli ragu bahwa karya dan jerih payahnya akan diakui. Hingga suatu waktu dia pernah pentas bersama Alm. Slamet Gundono di Taman Budaya Solo. Mereka sangat bangga dan memberikan applause terhadap karyanya. 

Menurutnya, ajaran dalam Serat Centhini memang sudah seharusnya diterima di masyarakat meski ada beberapa versi. Sepertihalnya Mahabharata yang diambil oleh dalang dan diolah kembali. Tokoh Bima namanya menjadi Werkudara, dan sebagainya. Esensi ajaran Serat Centhini tetap ada karena adaptasi sesuai perkembangan ‘Centhini abad 21’. Bahkan Centhini hadir dalam buku-buku sejarah Perancis tentang pengembaraan orang yang tidak puas.

Banyak juga orang yang menilai bahwa Serat Centhini adalah Kamasutranya Indonesia. Hal ini dikarenakan banyaknya cerita tentang seksualitas di dalamnya. Bu Eli sendiri tidak pernah menarik pembaca melalui sisi seksualitasnya. Karena ajaran dalam Serat Centhini bahkan lebih agung daripada sekedar sempitnya isu seksualitas.
“Alm. Gusdur pernah bilang bahwa Alquran adalah ajaran yang paling porno. Sama saja dengan Serat Centhini ini. dari empat ribuan halamannya, tentu sangat porno jika yang diambil adalah bagian seksnya,” kata Bu Eli.

Saya sangat sepakat dengan ini. terlalu banyak orang yang berpikiran sempit terhadap sesuatu sehingga mengabaikan hal yang sesungguhnya sangat esensial. Saya memang hanya membaca saduran beberapa orang yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia (juga beberapa Bahasa Inggris) tapi saya berani menjamin bahwa Serat Centhini tidaklah sesederhana itu. saya bahkan belum mampu memahami tembang asli yang ditulis oleh Pak Sunardian. Saya hanya menikmati keindahan bahasanya. 

Meski Bu eli sendiri mengakui bahwa dia menuliskan secara gamblang tentang seks. Saya membacanya pada Nafsu Terakhir. Aslinya, semua cerita itu berbentuk tembang, jadi tidak kasar tutur bahasanya. 

“Pornografi artinya punya niat kotor. Niat jelek. Sedangkan kita tahu dalam Serat Centhini bukan hanya itu. Kadang lucu, bahkan Naif. Amongraga yang sangat setia kepada istrinya, tapi tidak dengan ketiga adiknya yang meskipun mereka tak bernafsu dengan perempuan-perempuan tua, jelek, dan bau mereka merasa sayang untuk melewatkan kesempatan. Perempuan-perempuan itu menggoda ketiga lelaki yang akan sangat menyesal jika mereka mati dalam keadaan belum pernah menikmati hubungan suami-istri,” jelas Bu Eli.

Yes!!! Seks bebas bukanlah isu masa kini. Sangat salah jika banyak orang menggap ini adalah kemunduran generasi. Nyatanya, perzinahan, perselingkuhan, seks bebas sudah ada sejak tahun 1800-an ketika tembang-tembang ini disusun. Bahkan telah ada sejak zaman nabi, toh?! Maka, sangat disayangkan jika pembaca kurang bijaksana dalam memetik makna empat ribuan halaman tembang yang hanya diambil bagian seks-nya saja. Mungkin otak mereka yang porno. Memperlakukan perempuan dan laki-laki hanya sebagai objek belaka.

Lantaran saya dan teman-teman kehabisan buku ini di Gramedia Botani Square, maka saya belum bisa menceritakan apalagi meresensi karya terbaru Bu eli ini. kita tunggu saja gebrakan-gebrakan selanjutnya dari Bu Eli yang konon akan tandem dengan Garin Nugroho untuk menyuguhi kita sebuah teater yang ciamik. Siapa sangka, perempuan lima puluh enam tahun ini dulu juga menulis naskah film di Perancis. Dia juga menulis lepas untuk majalah-majalah di sana. 

Satu lagi, untuk bisa memetik hikmah dan mencegah tersesatnya para pembaca apalagi pembaca muda, saya pikir sebaiknya digelar bedah buku daripada sekedar membaca dan menyimpulkan sendiri. Khawatirnya, akan tersesat seperti Amongraga yang berkelana tanpa penunjuk arah.

Time flies. Angin malam makin menusuk tulang dan hujan makin deras turun menghujam. Sayangnya kami harus menyudahi obrolan seru dan sarat makna itu. Saya dan Nora harus pergi keluar sementara Ibu Elizabeth harus beristirahat dan menyiapkan perjalanannya ke Jambi pada Kamis dini hari. Saya menanti karya novel based on true story anda tentang Gunung Merapi Maret nanti. Madam, Au revoir!

5 comments:

  1. Obrolan yang seru ya mba..Saya sendiri tidak begitu familiar dengan Serat Centhini tapi salut dengan dedikasi beliau untuk sebuah karya asli dari tanah Jawa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Exactly, Mbak Indah! Beliau benar-benar mengabdi untuk ini.

      Delete
  2. Exactly, Mbak Indah! Beliau benar-benar mengabdi untuk ini.

    ReplyDelete
  3. Wow!
    Aku tercerahkan sama postingan ini, dek.
    Makasih ya, nanti mau cari bukunya ah.. belum sempet2 nih.
    Sayang bgt melewatkan obroaln seru malam itu ya...huhuhu.
    Dan aku tertarik sama informasi di paragraft terakhir.. Klo Bu Eli mau nerbitin novel lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeaaayyy!!! Kita tunggu novel berikutnyaaaaa!

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<