Sunday, January 17, 2016

CSMJ 2, Kitab Komunikasi dengan Pasangan




Judul Buku   : Catatan Sang Mantan Jomblo 2 : Merajut Kebahagiaan Pernikahan
ISBN               : 9786021493939
Penulis          : Fathonah Fitrianti
Editor             : dr. Zulaehah Hidayati
Tipe                : Soft cover
Penerbit        : Yayasan Cinta (Cahaya Insan Pratama)
Terbit             : Cetakan Pertama Juni 2015

“Salah satu konsep tasawuf, pernikahan itu dipandang proses untuk mengubah diri. Ubahlah diri kita maka pasangan kita akan berubah, bukan sebaliknya. Jika fokus kita mengubah pasangan, yang muncul adalah egonya. Pasangan kita adalah refleksi dari diri kita. ketika pasangan ada masalah, bisa jadi itu pertanda dalam diri kita ada yang perlu diubah.” – Suaminya Teh Ine.
 Baca juga: CSMJ, Memantaskan Diri Bertemu Jodoh Idaman.

Sinopsis
Mengucap janji setia dalam pernikahan tak jarang berlandaskan harapan akan dimulainya hidup di antara bunga-bunga dan dipenuhi madu. Tapi tidak sedikit pula mereka yang dulunya saling mencintai berubah jadi saling menyakiti. 

Perselisihan dalam rumah tangga sudah pasti menimbulkan keburukan dalam berbagai sendi kehidupan. Apalagi jika sampai berpisah, karena menikah bukan sekedar penyatuan dua insan. Melainkan penyatuan ego, kebutuhan, dan harapan dari dua keluarga besar. Adakah sesuatu yang salah dalam pernikahan yang karam?

Ine menulis buku ini sebagai pencegahan karamnya bahtera rumah tangga. Rumah tangga yang awalnya dibangun dengan harapan dan bunga-bunga cinta. Melanjutkan buku pertamanya, Catatan Sang Mantan Jomblo 1 - Menjemput Jodoh Idaman Ine kembali menguatkan modal mental bagi para pembaca bukunya melalui buku ini.
 
Mempertahankan lebih sulit daripada sekedar meraih

Ya, setidaknya ungkapan fenomenal itu bukan saja berlaku untuk urusan prestasi, tetapi juga untuk urusan asmara. Dalam buku setebal 127 halaman ini Teh Ine memaparkan sudut pandangnya yang mungkin berbeda dari buku-buku sejenis lainnya. Buku-buku itu tentunya tetap harus dibaca sebagai pelengkap wawasan kita. Karena Teh Ine pun mengakui bahwa dia bukanlah ahli agama, bukan pula psikolog. Semua yang ditulisnya berdasarkan pengalaman pribadi.

Teh Ine merangkum fenomena yang kerap terjadi dalam kehidupan berumahtangga dalam 15 bab di buku ini. Diawali dengan bab Merawat Cinta dan kebahagiaan, dilanjutkan dengan Pria dan wanita Berbeda, So What?, Langkah Sederhana Membahagiakan Istri, Langkah Sederhana Membahagiakan Suami, Karena Wanita Ingin Dimengerti, Pria Juga Perlu Dimengerti, Bersabar dalam Kehidupan Pernikahan, Mendengarkan, Langkah Awal Membangun Komunikasi dengan Pasangan, Istriku Tiba-tiba Nangis dan Marah. What Should I do?, Akar Masalah, Diamnya Pria Belum Tentu Tanda Marah. Kita ini Pasangan yang “Menyejukkan Hati” atau “Mengesalkan Hati”, Emosi dan Cara Berkomunikasi, Memilih Ber”amal” atau Mengikuti Ego, dan diakhiri dengan bab “Menjaga” Pasangan.
Menurut saya, buku ini sangat baik dibaca dan diamalkan oleh semua orang, tanpa kecuali. 

Saya pikir apa-apa yang dipaparkan Teh Ine merupakan teknik berkomunikasi dan menjaga hubungan baik dengan pasangan. Pasangan apapun. Pasangan bisnis, pasangan kerja kelompok, pasangan politik, bukan sekedar pasangan suami istri. Setiap ‘pasangan’ yang saya maksud di atas butuh untuk saling mengungkapkan keinginan, harapan, pemikiran, atau sekedar mengekspresikan emosi senang, sedih,atau bahkan marah.

Kalau sudah baca buku ini sih pasti nggak akan ada lagi yang update status “nyalahkeun saha? Da urang nu salah” sebagai ungkapan kekecewaan dan salah paham akibat pola komunikasi yang salah.

Seperti dikatakan dalam buku ini, ketika pasangan melakukan hal yang menyebalkan/melukai hati sangat wajar bila kita cepat emosi. Tapi bersabar bukan berarti berdiam diri. Tidak sedikit pasangan yang memutuskan untuk berpisah setelah berpuluh-puluh tahun bersama karena tidak sehatnya komunikasi di antara mereka. Kebanyakan dari mereka berdalih bahwa mereka sudah sangat sabar dengan perilaku atau kondisi pasangannya yang dinilai kurang menyenangkan di hati. Lalu apa pasangan bisa tahu kekurangan mereka hanya dengan kita bersikap cuek, ngambek setiap saat, marah kepada anak. YAP! Lagi-lagi anak yang jadi korban.

“Menahan uneg-uneg tanpa mengomunikasikan dan menyelesaikan masalahnya hanya akan membuat hati kita menjadi sensitif dan mudah marah, lebih parah lagi ini menjadi seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja”- hal. 55

So, sebelum semua itu terjadi, bahkan sebelum saya membina rumahtangga sudah sepantasnya saya pun memantaskan diri. Mempersiapkan diri baik fisik, mental, maupun material agar saya pun dapat merajut kebahagiaan pernikahan, mencapai tujuan mulia dari pernikahan itu sendiri. 

Pada halaman 59 disampaikan bahwa setelah menikah berarti kita siap menerima pasangan dan menyukuri apa-apa yang terdapat dalam diri pasangan kita. Karakter, pemikiran, kebiasaan semua itu dipengaruhi oleh pendidikan dan pembiasaan keluarga, lingkungan, pengalaman, dan ilmu. Maka saya pun berusaha untuk selalu menyampaikan segala perbedaan yang sekiranya sulit untuk saya toleransi dari calon suami. Kami mendiskusikannya, dan berusaha menemukan jalan tengah dan solusi agar terhindar dari keraguan dan ketidaknyamanan. Lagi-lagi, kuncinya adalah komunikasi.

Kelebihan buku ini adalah penuturan yang lugas dan tegas dalam setiap poin-poin yang ingin disampaikan oleh penulis. Disertai dengan tabel-tabel berisi contoh skenario yang mungkin terjadi dan poin-poin inti yang ditulis sangat menonjol sehingga lebih mudah untuk dimengerti. 

Sayangnya, ada beberapa hal yang ‘nampak’ diulang-ulang meski dengan pemilihan kata dan kalimat yang berbeda. Alih-alih mempertegas makna, saya justru merasa bosan karena lagi-lagi terjadi pengulangan. Dalam buku ini juga terdapat beberapa gambar yang diambil dari internet. Teh Ine tidak menyebutkan sumbernya. Saya pikir alangkah lebih baiknya jika gambar yang digunakan lebih mewakili kondisi hidup berpasangan yang sering terjadi di Indonesia. Apalagi jika gambar tersebut diambil dari foto asli. Infografis juga pasti akan membuat buku ini lebih menarik dan enak dibaca. Shortly, untuk urusan penyajian dan penjilidan saya lebih suka buku sebelumnya.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<