Sunday, February 28, 2016

GREEN MANUFACTURING, ETIKA INDUSTRI RAMAH LINGKUNGAN (Studi Kasus PT Semen Padang)




Pembangunan memang tidak bisa dipisahkan dari dampak buruknya berupa kemerosotan kualitas lingkungan. Hal itu banyak terjadi di sekitar kita. Pendeknya, untuk membangun rumah saja, tetua kita dulu menebang pohon, ada yang istilahnya tebas huma. Apalagi pemborong property saat ini banyak menamai proyeknya sengan sebutan green hills, green estate, green view dan aneka ‘green’ lainnya yang notabenenya di bangun di atas bukit yang tak lagi berpohon, lalu darimana ‘hijau’-nya?



Kita tak pernah dapat memungkiri hal itu.Pembangunan harus terus berjalan. Setidaknya  para pelaku industri bisa menerapkan konsep green manufacturing. Sistem Manajemen lingkungan dikembangkan untuk memberikan panduan dasar agar kegiatan bisnis senantiasa akrab dengan lingkungan. Kondisi lingkungan yang memburuk akibat kegiatan manusia (yang pada gilirannya akan merusak tempat hidup bersama) sudah waktunya untuk dikendalikan.

Baca juga: [GIVEAWAY] #BloggerPeduliMasaDepan



Program-program dan peraturan pro- lingkungan di Indonesia dirancang untuk dapat memenuhi keperluan masa kini dan dapat dikembangkan lebih lanjut untuk keperluan masa yang akan datang. Program ini juga untuk mengakomodasikan adanya perubahan situasi dan kondisi baik nasional maupun internasional. Program-program lingkungan di Indonesia yang dikoordinasikan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau Badan Pengendali Lingkungan Hidup di tingkat daerah. Program – program tersebut meliputi :

1. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL)

2. Pengembangan Audit Lingkungan

3. Rencana Aksi Nasional/Daerah untuk Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN/D GRK).

4. Pengembangan Sumber Daya Manusia dan di Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan, dan lain sebagainya.



Panduan Green Manufaturing
Konsep green manufacturing harusnya menjadi misi perusahaan untuk berkomitmen menerapkan  triple bottom line yaitu profit, pople and planet. Berikut ini adalah panduan Green manufacturing: 
1. Make products recyclable/membuat produk yang dapat didaur ulang
Contohnya banyak perusahaan saat ini mengembangkan kemasan yang ramah lingkungan dengan memproduksi atau memakai kemasan pakai ulang/recycled atau degradable packaging. 
2.  Use recycled materials

Contohnya pada perusahaan Fuji Xerox, produsen fotokopi yang menerapkan “inverse production”, yaitu produk yang sudah habis masa pakainya diambil kembali oleh perusahaan, kemudian dilakukan pemilahan pada partisi mesin yang masih baik kualitasnya dan diproses kembali menjadi produk baru. Proses ini dapat meminimalisasi bahan baku yang artinya juga meminimalisasi jumlah sampah. 
3. Use less harmful ingredients/menggunakan komponen yang tidak berbahaya

Hal ini akan melindungi atau meminimalisasi dampak aktivitas industri ke lingkungan dan juga bagi karyawan. Kecelakaan kerja juga dapat dikurangi jika perusahaan mengadopsi sistem manajemen lingkungan. Selain itu pelanggan akan merasa lebih aman dan lingkungannya terlindungi. Hal ini akan meyakinkan pelanggan bahwa produsen/distributor  peduli lingkungan dan mempunyai dokumen yang sesuai untuk

mendukung pernyataan tersebut.

Contohnya: adalah penggunaan pewarna makanan untuk produk pangan, bukan pewarna tekstil atau pewarna berbahaya lainnya. 
5. Use lighter components/menggunakan komponen yang lebih ringan. 
6. Use less energy/hemat energi

Saat ini telah banyak diproduksi aneka peralatan yang save energy, misalnya lampu, AC, dan perabot rumah tangga lainnya. Selain menghemat energi, diharapkan adanya inovasi ini juga akan mengurangi emisi yang ditimbulkan dari pengoprasian peralatan tersebut.



Penghematan energi ini juga dapat dilakukan oleh perusahaan dalam proses produksi. Misalnya pada industri tapioka, limbah cair yang dihasilkan diolah dengan cara dibuat biogas sebagai bahan bakar pada boiler yang digunakan pada proses produksi. 

7. Use less material/menggunakan bahan baku lebih sedikit

Dasar utama dalam penekanan biaya adalah mengurangi penanganan bahan kimia dan sisa-sisa/limbah lainnya. Lebih sedikit bahan kimia/limbah, akan semakin sedikit biaya dan semakin tinggi tingkat mutu air/tanah dan lingkungan sekitar. Hal ini juga dapat dilakukan dengan efisiensi penggunaan bahan baku, misalnya pada perusahaan konveksi.



Green Manufacturing di PT Semen Padang



Tidak perlu jauh-jauh sampai menganalisis proses produksinya, semen bubuk yang biasa kita lihat dalam pembangunan gedung pun seringkali menyebabkan penyakit ISPA. Namun semen sangat diperlukan dalam pembangunan kualitas hidup manusia. Maka dari itu, kita tidak bisa lepas dari pengaruh manfaat semen dalam kehidupan sehari-hari.



Sebagai produsen semen tertua, PT Semen Padang tentu sudah banyak berpengalaman dalam menghadirkan inovasi bagi kegiatan industrinya. Termasik dalam mengusahakan konsep industri yang berkelanjutan. Sesuai dengan komitmennya, “kami telah berbuat sebelum yang lain memikirkannya”.





PT Semen Padang didirikan pada 18 Maret 1910 dengan nama NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (NV NIPCM). Saat ini PT Semen Padang menjadi bagian dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk sejak tahun 1995. Pemerintah selaku pemilik saham terbesar atas 3 pabrik semen yaitu PT Semen Gresik (PTSG), PT Semen Padang (PTSP), dan PT Semen Tonasa (PTST), turut bertanggungjawab berdasarkan Surat Menteri Keuangan Republik Indonesia No 5-326/MK.016/1995. Bersamaan dengan itu, pabrik Indarung V milik PT Semen Padang dikembangkan dengan kapasitas yang lebih besar.



PT Semen Padang berkapasitas produksi 6,8 juta ton/tahun yang dihasilkan dari empat pabrik yang masih aktif, yaitu Indarung II-V. Pabrik Indarung I yang menggunakan proses basah telah dinonaktifkan sejak 1999 silam. hal ini dilakukan karena pertimbangan efisiensi dan polusi yang ditimbulkan dari aktivitas produksi di sana. Pada November 2016 mendatang ditargetkan pabrik Indarung VI akan mulai beroperasi sehingga PT Semen Padang akan mencapai total produksi 10-11 juta ton/tahun.



Harapannya, bertambahnya kapasitas pabrik ini juga akan meningkatkan market share PT Semen Padang karena kebutuhan semen selalu meningkat seiiring pesatnya pembangunan di segala bidang.



Pabrik PT Semen Padang Indarung VI ini dibangun dengan mengedepankan konsep green industry (industri yang ramah lingkungan). Hal ini terbukti dari komitmen perusahaan dengan melakukan kontrol terhadap emisi berupa gas dan debu. Targetnya, pabrik ini akan mampu mencapai emisi senilai 30 mg/nm3 atau berada jauh dari standar baku emisi nasional yang mencapai 80 mg/nm3.



Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG)



Proses pembakaran terak yang membutuhkan suhu tinggi akan menghasilkan panas buang yang dapat dimanfaatkan menjadi sumber tenaga penggerak generator yang mampu menghasilkan listrik untuk dapat digunakan sendiri untuk aktivitas di industri. PT Semen Padang berhasil mendapatkan bantuan dana dari Pemerintah Jepang, New Energy Technology Development Organization (NEDO) untuk membangun instalasi Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) di areal produksi Semen Padang.

Foto: Sumatra.bisnis.com


WHRPG telah memberikan banyak benefit bagi PT Semen Padang,  dalam bentuk penghematan energi, pengurangan emisi CO2, dan menciptakan green industry. Proyek ini juga bertujuan untuk menghemat energi dan meminimalkan emisi gas CO2 melalui mekanisme pembangunan bersih atau Clean Development Mechanism (CDM) sebagai implementasi dari Kyoto Protocol yang telah disepakati melalui UU No 17/ 2004 tentang pengesahan Kyoto Protocol To The United Nations Frame Work Convention On Climate Change (Protokol Kyoto Atas Konvensi Kerangka Kerja PBB Tentang Perubahan Iklim).



Dari pengoperasian instalasi WHRPG di PT Semen Padang, perusahaan mendapatkan pasokan listrik dengan kapasitas sebesar 8 MVA atau sekitar Rp 33 miliar per tahun untuk mengurangi kebutuhan suplai tenaga listrik dari PLN. Potensi penghematan yang dapat diperoleh dari operasional WHRPG tersebut sekitar 10 persen dari kebutuhan operasional unit listrik di pabrik PT Semen Padang dan mereduksi emisi gas CO2sebesar 43.000 ton pertahun.



WHRPG yang dibangun di pabrik Semen Padang telah diresmikan sejak 26 Oktober 2012 oleh Menteri Perindustrian MS Hidayat, yang sekaligus menandai keberhasilan Semen Indonesia Group dalam pembanfaatan panas gas buang sebagai sumber energi pembangkit listrik.



Setelah berhasil membangun WHRPG di Semen Padang, pada tanggal 23 Oktober 2013 di Hotel Shangrilla Tokyo, Jepang, ditandatangani MoU antara PT Semen Indonesia (Persero) Tbk dengan JFE Engineering Jepang untuk bekerjasama membangun WHRPG di pabrik Tuban dengan kapasitas yang sama dengan yang dibangun di pabrik Semen Padang. Dalam pembangunan WHRPG di pabrik Tuban tersebut, Pemerintah Jepang memberikan bantuan sebesar 50 persen dari total investasinya. Kapasitas listrik dari WHRPG di pabrik Tuban ini diperkirakan sebesar 26 MVA atau akan menghemat biaya operasional lebih dari Rp 120 miliar pertahun dan mereduksi emisi CO2 sekitar 140.000 ton pertahun.



PT Semen Indonesia (Persero) Tbk akan menggunakan WHRPG diseluruh pabriknya, termasuk pabrik di Rembang. Harapannya akan meningkatkan kemandirian penyediaan listrik sehingga supply listrik yang disediakan negara melalui PLN dapat dialokasikan untuk masyarakat luas diberbagai pelosok desa yang masih membutuhkan listrik. Jika seluruh pabrik dibawah grup PT Semen Indonesia sudah diterapkan WHRPG maka tidak ada energi panas yang terbuang percuma ke udara dan dapat digunakan meningkatkan efisiensi pabrik yang pada akhirnya meningkatkan keuntungan perusahaan. Pemerintah RI memiliki 51% saham, sehingga akan mendapatkan deviden yang besar. Pada tahun 2013 Pemerintah RI memperoleh deviden lebih dari Rp 1,2 triliun. Belum termasuk kontribusi dari PPN dan PPh (badan dan perorangan).



Kerjasama dalam pembangunan model proyek WHRPG di PT Semen Padang sebagai teknologi pemanfaatan gas buang ini merupakan yang pertama kali diterapkan pada industri semen di Indonesia. Seandainya konsep green manufacturing dan green industry ini mampu diterapkan oleh industri-industri lain tentu akan tercapai efisensi produksi dan penggunaan energi. Tidak hanya itu, penerapan green manufacturing tentu juga akan berdampak keberhasilan pada target Rencana Aksi Nasional Pengurangan Efek Rumah Kaca.



Referensi:
Heizer, Jay and Barry Render. 2009. Operation Management. Penerbit Salemba Empat.
merdeka.com

semenindonesia.com
semenpadang.co.id

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<