Monday, February 29, 2016

Kontemplasi Dini Hari di Akhir Februari

“Udah lama yah nggak chatting jam segini...” kata HB lewat Whatsapp.

Ya, sudah sangat lama. Begitu pun dengan hari ini. Sudah sangat lama sejak nggak ada tanggal 29 Februari. Dan ketika ada tanggal ini lagi, artinya Tuhan memberikan waktu lebih untuk bisa dimaksimalkan.

Terbangun, berpikir dan tergerak untuk mengambil air wudhu memang sudah sangat jarang terjadi di dini hari seperti ini. Kalau nggak gara-gara suhu udara terlalu dingin, pasti karena tubuh sangat capek. Kalau capek, itu tandanya ada pola yang benar dari keseharian. Harusnya, bangun tidur itu segar. Meski tidurnya sebentar, yang penting kualitasnya. So, tidur saya beberapa waktu ini nggak berkualitas? Lantas apakah dengan tidur yang nggak berkualitas itu hidup saya justru lebih berkualitas?


Saya jadi benar-benar mikir, gimana kalau Tuhan memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada saya untuk kuliah di luar negeri? Di negara empat musim yang dinginnya bisa kurang dari nol derajat. Apa saya nggak akan pernah wudhu lagi?
Sudah sangat lama ‘kekeringan’ ini saya rasakan. Terlebih beberapa bulan terakhir sepertinya Tuhan kembali merengkuh saya lewat tamparan keras di berbagai peristiwa.

Saya bisa apa? Saya hanya bisa memandangi gamis-gamis yang digantung di Pasar Baru Bandung. Meratapi harganya yang melambung. Hanya bisa bertanya kepada penjual pakaian online supaya saya bisa beli bajunya tanpa kerudung yang akan menenggelamkan saya. Pertanyaan yang sia-sia. Tanpa balas dan hanya terjawab lewat status penegasan prinsip dan mekanisme dagang mereka.

Hanya bisa berharap sebentar lagi saya bisa beli kain untuk membuat kerudung gaya saya sendiri. Kerudung trendi dengan ukuran tidak terlalu mini. Kemudian tanpa sadar tadi siang saya berkicau, “ Dear @DuaHijabT7 bisa kali yah besok2 kasih inspirasi hijab yang nggak mencekik leher. Kalo baik kan bisa ditiru. Thx.”

Sudah saya duga, twit saya tidak berarti apa-apa daripada twit fanbase mereka yang mengelu-elukan gaya berbusana ala mereka. Bisnis kok dilawan, berharap belas kasihan. Ah, rupanya saya sudah terlalu jengah dengan pemandangan di jalan-jalan, di mall-mall, bahkan di kampus dengan merebaknya wana-warni scarf musim panas itu. Juga jengah dengan tumpukan beberapa kain di lemari yang sama sekali nggak menjaga kehormatanku. Mudahkan rejeki hamba, Tuhan.

Sudah sangat lama, sejak saya kehilangan masa-masa kontemplasi dini hari. Ada pemberontakan di dalam dada ini. Tetiba semakin ingin mengetikkan pengumuman: Urgently needed! Adakah majelis pengajian yang jauh dari kesesatan atau sekedar partai dan perpolitikan?

Terimakasih Tuhan, untuk kesempatan merasakan 29 Februari lagi.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<