Sunday, February 21, 2016

“Maaf, Mbak. Kembaliannya kresek aja, ya!”


plastic pollution kills; before you make a purchase think about the waste you could create #eco:
Foto: Pinterest

Mungkin itu hanya kekhawatiran berlebihan saya. Atau mungkin imajinasi saya yang terlalu tinggi. Tapi kok saya takut kalau hal itu benar-benar jadi kenyataan. Faktanya, harga kantong kresek di minimarket lebih murah daripada permen yang biasa digunakan sebagai pengganti uang receh kembalian.

Semalam saya pergi ke sebuah minimarket yang menjamur dimana-mana itu lho. Sebelum ke kasir, saya mendengar ada seorang ibu yang berceramah bahwa pemerintah nggak becus untuk sekedar ngurusi sampah. Kemudian Si Mbak kasir yang memang sudah kenal dengan saya bilang, “Mbak, pasti udah bawa tas sendiri, ya?” sambil melirik ke ibu itu.

 “Masak kayak di luar (negeri) aja. Kresek aja harus bayar!” ternyata si ibu itu mantan TKW di luar negeri.


Belanja lebih dari dua ratus ribu, suruh bayar kresek nggak sampe 2,5 persennya aja ngomel-ngomel. Padahal aturan kantong kresek berbayar itu belum berlaku. Inilah penyakitnya, sudah ribut duluan sebelum ngerasain manfaat atau mudharatnya. Kata Coldplay, you never know if you never try! So, nikmati saja dulu.

Sampai di rumah, saya nonton tivi dan kuciwa mendadak. Lha kok harga kreseknya cuma Rp. 200-2.000 aja! Harga permen di warung sebelah aja seribu tiga. Saya mendadak jadi orang nyinyir terhadap aneka respon pemberlakuan UJI COBA kebijakan dari Kementeriannya Bu Baya yang sudah lumayan banyak bertindak daripada sekedar berwacana ini. Iya, baru uji coba.

Jujur saya adalah salah seorang yang berteriak kencang supaya aturan ini diterapkan. Termasuk dengan mengisi petisi dukungan di change.org. Tapi sayangnya saya kurang aware dengan harga kresek yang ditetapkan.

Kalau menimbang nominalnya, saya jadi agak sepakat dengan Pak Walikota Solo. Beliau bilang kalau upaya ini kurang efektif. Menurutnya, retailer harus menyediakan kantong belanja reusable bagi pelanggannya. Itu bisa diambil dari dana CSR perusahaan. Pak Walikota ada benarnya kalau mengingat kekhawatiran saya yang terpatri pada judul di atas.

Nggak sedikit juga yang rewel di media sosial dan nyinyirin pemerintah yang pengen dana tambahan supaya masuk ke kas APBN. Hellooo! Dana penjualan kantong kresek ini nggak akan masuk ke kantong negara, lho. Masuknya ke kas perusahaan retailer. Yang niat mulianya kelak supaya CSR perusahaan bisa bekerjasama dengan NGO atau semacamnya untuk pemberdayaan masyarakat dan melakukan kegiatan pemulihan kualitas lingkungan. Kalau sampai sini sih saya takutnya malah jadi ajang pencitraan si perusahaan aja. Banyak tho yang begitu? Ngaku!

Saya ini emang belum punya penghasilan. Saya masih nyari-nyari kerjaan. Mau buka usaha juga mentok di modal terus. Modal dana, lho maksudnya. Kalo modal ilmu dan niat apalagi semangat sih udah full tank (sekalian curhat). Tapi saya bangga karena cukup sombong dengan menganggap bahwa harga kresek itu terlalu murah. Harganya masih nggak sebanding dengan rentetan dampak yang ditimbulkannya. Faktanya, dalam proses produksinya aja kresek itu sudah membahayakan. Kalo nggak percaya gugling atau yahoing aja. Benerin kalau saya salah ya. namanya juga masih belajar.

Kalau menurut saya, oke aja kalau yang mau pakai kresek suruh bayar. Tapi kasih juga apresiasi untuk pelanggan yang pakai reusable bag. Kalau semua retailer menerapkan sistem diskon yang lumayan kayak di salah satu supermarket ‘itu’ sembari menerapkan sistem pembelian kantong kresek kayaknya dampaknya bisa lebih terasa nyata.

Be realistic, deh. Sampah yang menghantui kita bukan cuma kantong kresek yang bisa dengan mudah diatasi kalo kita niat tulus ikhlas mau bawa reusable bag saat berbelanja. Lambat laun, kita juga bakal ditimbun sampah kemasan produk. Tinggal nunggu waktu aja.

Saya ingat betul salah satu bahasan pada konferensi Indonesia Institute of Life Cycle Assesment (ILCA) di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gajah Mada pada September 2013 lalu. Seorang keynote speaker dari Jerman, Prof. Helmut Schmitz memaparkan tentang laut yang penuh dengan sampah plastik.

Menurut Prof. Helmut Produk-produk yang kita konsumsi pada akhirnya akan meninggalkan sampah kemasan, terutama plastik. Kita punya strong regulation, tapi dalam implementasinya hanya sebagian kecil saja yang dapat menyelesaikan masalah ini. Beliau melakukan kegiatan pemberdayaan para nelayan yang bekerjasama dengan NGO. NGO tersebut ada yang berfokus pada pemberdayaan mental para nelayan, ada juga yang fokus pada pengolahan limbah plastik dari lautan. Upaya itu cukup sukses mengurangi cemaran sampah plastik di lautan Jerman meski butuh waktu yang sangat lama untuk sekedar mengajak orang kepada kebaikan.

Saat ini ada plastik yang mudah didegradasi. Plastik jenis ini dapat digunakan sebagai kemasan. Namun tetap saja akumulasinya akan menyebabkan hazard. Banyak juga retailer yang mengampanyekan dukungan mereka untuk go green dengan memberikan plastik oxium. Tapi menurut saya, ini tetap aja nyampah. Plastik itu tetap membutuhkan waktu untuk terurai meski tak selama plastik konvensional. Sambil menunggu mereka terurai, sampai plastik go green ini mampu menampung air hujan yang lagi rame sekarang-sekarang ini. Nyamuk, lalat dan binatang-binatang lain jadi senang bersarang di sana. Akhirnya saluran air juga jadi mampet karena sampah itu baru dibuang tiga hari lalu. Jadi mau menyalahkan siapa kalau jadi banyak yang terserang DBD, malaria, sampai kudisan gara-gara lingkungannya enggak nyaman? Belum lagi korban banjir yang selalu menuntut pemerintah untuk mencari penyelesaian. Kemudian muncul bioplastic yang cukup membantu manusia, tapi sialnya biaya produksinya juga nggak murah.

Saya juga ikut menanggapi materi yang dipaparkan oleh Ibu Akiyama, keynote speaker lain dari Tetrapack. Ketika itu sedang musim algae blooming di kawasan pesisir Kota Bandar Lampung. Katanya, hal itu karena lautan tercemar sehingga menyebabkan alga tumbuh dengan sangat cepat. Banyaknya sampah pesisir selain menyebabkan gangguan kesehatan warga secara langsung juga mengganggu pemandangan. Hal ini terjadi beberapa kali di beberapa lokasi di Indonesia. 90% bagian dari bumi adalah lautan yang bergerak, inilah yang kemudian membawa limbah. Hal ini lebih sulit diatasi daripada sampah atau limbah di daratan.

Menurut Ibu Akiyama, sampah adalah tanggungjawab produsen. Konsumen nggak perlu kemasan, tapi hanya mengambil isinya aja. Maka dari itu Tetrapack mampu menarik sampah kemasan produknya yang ada di lingkungan dan mendaurulangnya. Beliau mengaku, Tetrapack bekerjasama dengan NGO setempat dan juga pabrik daur ulang di Jakarta. Mereka juga memperluas jaringan pengumpulan, bekerjasama dengan pemuluk, pelapak, dan bandar. Awalnya masyarakat tidak tahu bahwa segala jenis material ini memiliki nilai ekonomis. Kemudian dengan melakukan edukasi, perlahan-lahan sampah tersebut dikumpulkan, kemudian pabrik menggunakan bahan baku daur ulang tersebut. Ini membutuhkan waktu yang tidak singkat. Itu kata Bu Akiyama, lho.

Got it, Guys?! SAMPAH KEMASAN ADALAH TANGGUNGJAWAB PRODUSEN. Tapi produsen (dan juga saya sendiri) selalu menghitung kemasan dalam biaya produksi barang dagangannya. Alih-alih merasa bertanggungjawab dengan sampahnya, produsen justru makin membombardir kita dengan sampah atas dalih kemajuan teknologi dan kepraktisan. Beda dengan kemasan yang digunakan untuk produk rumah tangga yang kita pakai sehari-hari. Misalnya, minyak goreng atau deterjen yang masih bisa kita minimalisasi dengan membeli kemasan yang besar sekaligus. Selain harganya jadi agak hemat, kemasannya juga bisa kita fungsikan jadi pot untuk nanam cabai. Teknologi pengemasan masih bergantung pada kemasan plastik karena itulah yang paling ekonomis dan tepat guna untuk distribusi produknya sampai ke konsumen.

So, Nggak usah ngambil contoh kemasan ciki yang isinya angin doang, kedai-kedai kopi yang sering jadi andalan kalian konkow keren dan nampang di medsos juga nyampah. Mereka lebih memilih pakai paper cup daripada nyuci gelas. Bahkan pedagang-pedagang kaki lima juga ikutan latah. Pada pakai kemasan stirofoam untuk wadah seblak ceker super seuhah. Tukang dawet juga nggak mau kalah. Dia rela pesan plastic cup supaya ada label dan merek dagang yang memajang fotonya yang bergaya sambil pamer jempol. Biar keren dan level kegantengannya naik nol koma lima persen.

Pusing? Take it easy! Nyatanya memang membangun tanpa merusak itu susah. Tapi yakinlah kawan, upaya pemerintah ini juga pasti ada dampaknya. Meski kecil dan perlu waktu yang nggak sebentar, tapi kalau kita semua mendukung dan optimis pasti selalu akan ada jalan kalau kita benar-benar mau menjaga amanah kehidupan di bumi Tuhan ini. Tuhan memberkati niat yang lurus, lho.

Soal harga kantong kresek, dinikmati dulu aja. Ada yang bilang setelah masa UJI COBA ini berakhir, harganya ada kemungkinan dinaikkan. Entah juga kalau uji cobanya gagal.

Kabar baiknya, tadi pagi ibu saya mendapat pengalaman lumayan menyenangkan di pasar tradisional.

“Oh, pantesan Bu Sri kalo belanja nggak mau pake kresek!” kata beberapa pedagang sayuran.

Semangat, Bu! PR kita masih banyak. Nggak banyak kebaikan yang cukup ditebarkan semudah menolak kantong kresek rombengan dan bawa misting untuk wadah ikan.

Kalo kata jingle iklan rokok dini hari tadi:

Kalo marah-marah, malah tambah susah
Jangan marah-marah, ayo kita ramah-ramah

7 comments:

  1. kemarin suamiku bilang sama mbak kasirnya "Nggak usah pakai plastik mbak, mau dimasukkan ke dalam tas" yg ada sama kasirnya dipaksa disuruh pakai plastik mereka tapi ternyata tidak ada dalam nota pembayaran. Toko retail yg aneh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya pernah bikin blogpost ttg pegawai Ramayana yg marah-marah krn saya mau pk tas sendiri. waktu itu saya nggak jd belanja padahal udh masuk ke kasir. hahaha

      Delete
  2. Betul, PR kita masih banyak..
    Ini baru langkah awal *angkat gelas kopi*
    Sama sy juga kecewa, harganya kemurahan. Cuma kalo pada protes berarti segitu cukup. Let see ajalah

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg penting hukum supply-demand-nya cukup works, Mbak. Kalo suruh bayar, mungkin aja demand kantong kresek jd turun. semoga.

      Delete
  3. Tempo hari di salah satu supermarket, saya dapat 'cashback' Rp 200 karena bawa kantong belanja sendiri. Jadi kalau pakai kantong plastik dari toko kita mesti bayar Rp 200, mestinya kalau kita bawa kantong belanja sendiri, ya dapat 'cashback' juga dong, biar adil.
    Di kesempatan lain, ketika kita menolak kantong plastik, mestinya kita bisa minta ganti pake kardus bekas kali ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti ada lg yg komen, "kok cashback-nya cuma 200 perak? nggak kerasa" giliran suruh bayar plastik dg harga segitu dibilang kemahalan bla...bla..blaaa #crying

      Delete
  4. Sedihnya saat percobaan ini gagal, plastik mulai dihambur-hambur lagi, astaghfirullah

    Salam,
    Kesya.

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<