Monday, March 21, 2016

#BloggerPeduliMasaDepan Apa Kabar Lahan Anda? (Day 21)



Ketika topik tentang perkebunan atau pertanian diangkat pasti hal pertama yang muncul dibenak adalah perkebunan yang luas sampai berhektar-hektar seperti kebun teh, kopi dan semacamnya atau pertanian yang di kerjakan di sawah yang cukup luas. Membicarakan soal perkebunan dan/ pertanian berkelanjutan terlalu rumit untuk dijabarkan secara teoritis apalagi oleh orang-orang yang awam akan hal tersebut. Pada intinya yang terpenting dalam pertanian berkelanjutan itu adalah praktiknya. Secara sederhana, praktik pada pertanian berkelanjutan haruslah produktif, sehat, dan aman. Produktif yaitu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi urusan pangan manusia, sehat tanpa menggunakan bahan-bahan kimia seperti pupuk buatan, dan aman bagi lingkungan.

Kali ini saya akan membagikan praktik pertanian berkelanjutan di daerah tempat tinggal saya (Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang). Saya tinggal di daerah perkebunan kopi yang merupakan salah satu milik badan usaha negara. Tapi bukan perkebunan kopi yang ingin saya ceritakan disini melainkan cara masing-masing keluarga mempertahankan kebiasaan bercocok tanamnya. Tiap rumah memiliki lahan petak yang terletak di halaman depan yang luasnya berkisar antara 4m2 sampai 9m2. Tidak begitu luas memang, namun cukup ntuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.



Gambar 1: Lahan-lahan petak
 
Sekarang saya akan membahas satu-persatu tentang 3 poin penting pertanian berkelanjutan yang telah saya sebutkan diatas.

1.       Pertanian berkelanjutan itu “PRODUKTIF”

Agar produktif, hal yang harus diperhatikan adalah tanaman apa yang akan ditanam. Di lahan rumah kami biasanya kami menanam tanaman yang bisa digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti tomat, cabai, daun jeruk, dan bawang. Dengan menanam tanaman-tanaman tersebut bisa menghemat pundi-pundi rupiah untuk membeli bumbu dapur.

Gambar 2: Tanaman cabai dan tomat
 
Jenis tanaman produktif lainnya yang bisa ditanam adalah sayuran seperti bayam, sawi, bunga kol, terong, dan lain-lain. Kami biasanya memilih jenis tanaman sesuai musim untuk meminimalisir pembusukan dan memaksimalkan hasil. Harus pandai-pandai memilih jenis tanaman apa yang akan ditanam di musim penghujan dan apa yang akan ditanam di musim kemarau.

Ada pula komoditi buah yang bisa ditanam seperti rambutan, jambu, sirsak, mangga, dan nangka, yang selain menghasilkan buah apabila ditanam di tempat yang tepat bisa meneduhkan halaman saat cuaca panas. Buah-buahan tersebut bisa dikonsumsi dan membantu hidup sehat. Apabila pohon berbuah cukup banyak hasilnya bisa dijual.

Gambar 3: Pohon buah rambutan


Gambar 4: Pohon buah mangga
Selain memanfaatkan lahan, kami juga memanfaatkan pagar tanaman agar produktif. Pagar tanaman yang biasanya terbuat dari rangkaian bambu, kami ganti dengan daun katuk dan beluntas. Tentu sudah banyak yang mengetahui khasiat daun katuk dan beluntas, apalagi untuk ibu menyusui. Kedua jenis tanaman ini harus sering dipangkas agar tetap rapi dan memiliki tinggi sesuai yang diharapkan sebagai pagar.

Kami juga menanam tanaman hias di depan rumah untuk mempercantik lingkungan. Memang tanaman hias tidak bisa dikonsumsi, akan tetapi jika jumlahnya cukup banyak, tanaman sejenis kaktus dan euphorbia yang sangat digemari dan bernilai ekonomis ini bisa dijual. Saya juga menanam lidah buaya yang sangat mudah tumbuh dan cepat menghasilkan tunas-tunas baru. Lidah buaya juga bisa menjadi tanaman hias apabila ditanam pada media yang tepat. Selain terkenal akan manfaatnya untuk kesehatan rambut, lidah buaya juga bisa dikonsumsi.

Gambar 5: Tanaman hias di pot gantung dan pot pipa vertikal
 
Gambar 6: Lidah buaya yang mudah tumbuh

2.      Pertanian berkelanjutan itu harus “SEHAT”

Untuk menghasilkan tanaman yang sehat maka harus tepat dalam menanamnya. Banyak sekali hasil pertanian yang menggunakan pupuk buatan berbahan kimia dan obat pengusir hama seperti pestisida dan fungisida. Memang tanaman-tanamn tersebut akan bebas dari hama dan tak perlu khawatir merawatnya, akan tetapi tanaman yang bebas dari bahan kimia tentulah lebih kaya manfaaat kesehatannya.

Kami menghindari penggunaan pupuk-pupuk buatan dan menggantinya dengan pupuk alami, yaitu pupuk kompos dari daun-daun kering. Seperti yang disebutkan diatas bahwa salah satu tanaman produktif adalah buah-buahan seperti rambutan, mangga, dan nangka. Dari pohon-pohon rindang ini akan menghasilkan daun-daun yang berguguran. Nah, daun-daun inilah yang bisa dikumpulkan dan digunakan sebagai kompos. Semakin banyak pohon, makan semakin banyak kompos yang dihasilkan.

Gambar 7: Daun-daun kering untuk kompos
 Jenis pupuk alami lainnya adalah pupuk kandang yang berasal dari kotoran hewan ternak. Di daerah kami terdapat pusat kandang hewan ternak. Maksudnya, jika tiap keluarga memiliki hewan ternak seperti sapi, kambing, dan kerbau, maka akan dikumpulkan di kandang pusat ini sehigga jauh dari lingkungan rumah. Nah, dari kandang-kandang ini mampu menghasilkan banyak kotoran yang bisa dimanfaatkan sebagai pupuk kandang yang alami bagi tanaman.

3.      Pertanian berkelanjutan itu “AMAN” bagi lingkungan

Dalam rangka menciptakan lingkungan yang aman, aspek pertanian pun harus diperhatikan agar tidak berdampak buruk bagi lingkungan dan makhluk hidup sekitar. Pada masing-masing lahan tanaman pasti akan terdapat rumput-rumput liar yang mengganggu tanaman. Agar sayuran dan tanaman lain tetap sehat, tampak subur dan indah, selain rajin disiram juga harus sering menyiangi rumput yang ada. Penyiangan rumput bisa dilakukan secara manual. Hal ini tentu jauh lebih sehat daripada menggunakan zat penyemprot rumput. Meskipun zat kimia tersebut jauh lebih cepat untuk mematikan rumput, namun dampaknya buruk bagi lingkungan, terutama bagi tanaman yang ditanam.

Gambar 8: Rumput yang perlu disiangi diantara tanaman bawang
 Selain sayuran, ada pula komoditi buah-buahan yang mudah busuk karena dimakan oleh hewan pengganggu seperti kelelawar jenis pemakan buah. Daripada menggunakan zat kimia, kami lebih memilih membungkus buah yang mulai tumbuh cukup besar. Alat pembungkusya bisa berupa plastik atau kain. Hal  ini akan melindungi buah-buahan dari hewan pemakan buah serta aman bagi lingkungan.

Hasil dari pertanian berkelanjutan ini memang tergantung pada masing-masing individu yang menjalaninya. Semakin rajin dan teliti dalam merawat tanaman, semakin baik pula hasil yang didapatkan. Hal ini hendaknya diterapkan secara terus-menerus sampai musim berganti musim dan menentukan lagi tanaman apa yang hendak ditanam. Semakin sering-mengganti-ganti tanaman maka semakin kaya pula pengalaman individu tersebut.

Mari kita bercocok-tanam! Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan menghijaukan lingkungan dan membantu penyediaan pangan setidaknya untuk keluarga sendiri. Seberapa luas atau sempit tanah yang bisa kita tanami, disitu ada kesempatan menghijaukan lingkungan. Pintar-pintarlah tiap individu bagaimana mengolahnya agar produktif, bukan malah membiarkannya sebagai lahan pajangan.


Ratna Nur Oktavina Sari
@Happyfamily27

 

6 comments:

  1. Wah artikelnya bagus. Di tempat tinggalku sekarang juga masayarakatnya dah punya kesadaran tinggi untuk memanfaatkan lahan-lahan di samping, depan belakang rumah mereka.

    Lumayan banget loh. nggak usah keluar duit lagi untuk beli bumbu-bumbu, sayuran, ato buah semacam pepaya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak, pas mau masak, apa yang ada di lahan bisa tinggal ambil aja :-)

      Delete
  2. Wah, keren. Cocok tanam, berkebun, bahkan penghijauan hutan juga ada ilmunya yang mesti mempertimbangkan banyak aspek.
    Jadi teringat masa lalu, ketika di rumah di kampung masih ada kebun petik sendiri & pohon buah2an. Sekarang udah terlibas jamannya tanah dibeton :(.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa pakai pot gantung atau pot pipa vertikal untuk tanaman-tanaman kecil, Mbak, kalau pengen nanem-nanem lagi, hehe.

      Delete
  3. Lahan terbuka udah makin sempit aja. Makanya bumi jadi panas dan mudah kebanjiran. Di perkotaan disiasati dg biopori, siih... tapi di tempat tinggal saya syukurlah lahan terbuka masih ada banyak. Buat lahan perkebunan, tempat ibadah pun hanya ditanami rumput dan tanaman perdu

    ReplyDelete
  4. kalau lahan di rumah aku sempit banget, kanan-kiri udah pada padat tembok. aku cuma bisa menanam bunga beberapa pot tanaman bunga mawar di depan halaman rumah dan anggrek yang aku tempelin di pohon mangga.

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, silakan tinggalkan komentar, ya>.<